Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
Boncap 7


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sang Dewi malam tersenyum malu kala menyaksikan dua insan tengah bercumbu di bawah naungan temaram lampu kamar. Dua insan itu adalah Randy dan Derana.


Keduanya saling menautkan jemari tangan dan menatap dengan tatapan penuh cinta.


"Sayang, kita rangkai kisah terindah di malam ini," bisik Randy lantas melabuhkan kecupan mesra di bibir Derana.


Sepasang netra Derana terpejam diikuti lengkungan bibir dan rona merah yang tercetak di kedua pipi kala hembusan nafas hangat menyapu seluruh wajahnya.


Perlahan, Randy membuka kain yang membungkus tubuhnya. Kemudian ia membuka satu persatu kain yang membalut tubuh indah istrinya seusai melafazkan doa sebelum bersenggama.


Netra Randy seketika berbinar kala tersuguh pemandangan indah yang halal dilihat olehnya. Hasratnya pun tak kuasa dicegah.


Dijamahnya tubuh sang kekasih halal dengan lembut dan penuh cinta, sehingga kekasihnya itu tenggelam dan terbuai.


Tak lupa, Randy melabuhkan ciuman di perut Derana yang sudah mulai membesar dan mengusapnya lembut sebelum membenamkan bagian tubuhnya yang menegang.


Nada-nada cinta mengalun merdu dari bibir sepasang anak Adam berpadu dengan nyanyian alam, mengiringi penyatuan raga bernilai ibadah.


Setelah puas melepas hasrat dan menyatukan raga, keduanya saling berpeluk di bawah selimut tebal.


"Pa, Ma. Buka pintu! Likha nggak bisa bobok." Ketukan pintu dan suara Malikha memecah atmosfer syahdu yang tengah tercipta.


Seketika Randy dan Derana saling mengurai pelukan lalu mengibaskan selimut yang membalut tubuh mereka.


Randy bergegas membawa tubuh beranjak dari ranjang. Kemudian memungut pakaiannya dan pakaian Derana yang terserak di lantai.


Dengan terburu-buru Randy mengenakan pakaian, begitu juga Derana.


"Papa, Mama. Kenapa lama sekali sih? Papa sama Mama udah tidul ya?" Malikha kembali memperdengarkan suaranya sehingga membuat Randy dan Derana gelagapan.


"Tunggu sebentar, Sayang!" Randy menanggapi ucapan putrinya dengan berteriak dan bergegas mengayun langkah, lalu segera membuka pintu kamar.


"Papa, lama amat! Huh!" Malikha melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang raut wajah kesal.

__ADS_1


"Maafin Papa ya, Sayang!" Randy menarik kedua sudut bibir dan sedikit membungkukkan tubuh. Direngkuhnya tubuh mungil sang putri dan dibawanya ke dalam gendongan.


"Papa, Likha nggak bisa bobok. Nenek Kalti ngoloknya (ngorok) keras sih."


"Ya sudah, malam ini Likha bobok bareng Papa dan Mama. Tapi nggak boleh ngompol ya!"


"Likha 'kan udah besal. Jadi udah nggak ngompol lagi, Papa. Gimana sih Papa? Ada-ada aja olang dewasa."


"Memangnya, usia Malikha sekarang berapa?"


Malikha mengangkat jari tangannya dan mulai menghitung satu persatu.


"Satu, dua, tiga. Udah tiga tahun, Papa. Udah besal, 'kan?"


"Owh iya. Ternyata putri papa sudah besar." Randy mencium pipi tembam Malikha dengan gemas, lalu mendaratkan bobot tubuhnya di pinggir ranjang dan menyerahkan Malikha pada Derana yang sudah mengulurkan tangan.


"Hai, putri kesayangan Mama," ucap Derana sembari memposisikan tubuh putri sambungnya di pangkuan.


"Hai, Mama."


"Kok belum bobok, Sayang?"


"Mungkin karena Nenek Karti kecapekan, Sayang. Jadi, Nenek Karti ngoroknya keras."


"Bisa jadi, Ma. Oya Ma, Likha boleh 'kan bobok di sini? Likha janji nggak akan ngompol. Kalena Likha 'kan udah besal."


"Tentu saja boleh, Sayang." Derana tersenyum dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala Malikha.


"Likha mau bobok di tengah atau di pinggir?" sahut Randy, menimpali obrolan Malikha dan Derana.


"Ya di tengah dong, Papa. Masa Likha di pinggil. Kalau jatuh bagaimana? Ada-ada aja sih, Papa."


Randy dan Derana terkekeh mendengar celotehan Malikha yang menggelitik telinga.


"Okey deh. Likha bobok di tengah, tapi jangan menendang perut Mama ya! Kasihan dedek bayi yang ada di dalam perut kalau kena tendang."


"Siap, Papa. Likha nggak akan menendang peyut Mama. Likha mau peluk aja."

__ADS_1


"Pinternya anak Papa --"


"Dan anak mama juga." Derana memangkas ucapan Randy dan melebarkan senyum.


"Iya, anak Mama juga." Randy turut melebarkan senyum, pun Malikha.


"Sudah larut malam. Yuk kita bobok!"


"Iya, Mama. Jangan lupa baca doa dulu!"


"Oh, iya. Bagaimana doanya, Sayang?"


"Doanya --"


"Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa," sahut Randy dan sontak membuat netra Derana berotasi sempurna.


"Doa apa itu, Papa? Itu doa mau tidul yang telbalu ya?" tanya Malikha polos.


"Eng, itu doa --"


"Papa salah mengucapkan doanya, Sayang. Coba sekarang Likha yang membenarkan! Likha lafazkan doa sebelum tidur yang benar!" Derana memangkas ucapan Randy dan meminta Malikha untuk melafazkan doa yang benar.


"Baik, Mama. Dengalkan baik-baik ya, Pa! Bial nggak salah lagi."


Malikha menengadahkan kedua telapak tangannya dan melafazkan doa sebelum tidur.


"Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut. Ya Allah, berikan kami mimpi yang indah. Aamiin."


Seusai melafazkan doa sebelum tidur, Malikha mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, diikuti oleh Derana dan Randy.


Ketiganya merebahkan tubuh dan mulai berangkat ke pulau mimpi dengan saling berpeluk.


Keluarga yang bahagia dan harmonis, adalah surga yang dirindukan oleh setiap insan di dunia ini ....


🌹🌹🌹🌹


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏

__ADS_1


Terima kasih teruntuk Kakak-kakak yang telah turut mendoakan almarhumah ibu saya. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita. Aamiin 🤲🙏


__ADS_2