Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 26


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Kau --" Farel menunjuk wajah Derana dan melayangkan tatapan nyalang. Namun Derana tak acuh. Ia lantas memutar tumit tanpa menghiraukan suaminya yang tengah dikuasai oleh api amarah.


Dasar wanita sombong dan bodoh! Aku pastikan, esok pagi kau akan menjadi gelandangan--umpatnya yang hanya terlontar di dalam hati.


....


Esok paginya, Derana dan Farel berpamitan pada Usman, Ratri, dan Sukma.


Usman tampak berat melepas kepergian Derana. Namun berbeda dengan Ratri yang bersikap biasa saja. Seolah wanita paruh baya itu sama sekali tidak peduli pada Derana, bahkan tidak juga merasa cemas sedikit pun seandainya sesuatu yang buruk akan menimpa sang putri.


"Nduk, sesampainya di desa Ringin ... jangan lupa hubungi bapak! Segeralah pulang jika keluarga Atmajaya berlaku jahat terhadapmu! Bapak pastikan, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu!" tutur Usman seraya berbisik agar tak terdengar oleh Farel dan Ratri.


Derana mengangguk pelan dan membalas ucapan ayahnya dengan melirihkan suara. "Inggih, Pak. Rana akan menghubungi Bapak sesampainya di desa Ringin. Rana akan segera pulang jika keluarga Atmajaya kembali berlaku jahat. Jaga kesehatan Bapak! Jangan terlalu memaksakan diri bekerja! Rana pamit ya, Pak."


"Iya Nduk. Perbanyak doa dan baca sholawat selama berada di perjalanan supaya kalian selamat sampai di desa Ringin!"


"Inggih Pak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Nduk --"


Setelah mengucap salam, Derana mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim. Tak lupa, ia juga mencium punggung tangan sang ibu dan memeluk singkat tubuh Sukma--adiknya.


"Buruan masuk Dera!" titah Farel dengan melembutkan suara. Lantas ia membukakan pintu mobil sebagai wujud perhatian palsunya dan mempersilahkan Derana untuk duduk di jok bagian belakang.


Meski terbesit rasa ragu, Derana tetap masuk ke dalam mobil dan mendaratkan bobot tubuhnya di samping Farel.


Tanpa Derana sadari, Farel menarik sudut bibirnya dan bersorak dalam hati sebab ia telah berhasil mengecoh Derana dan keluarganya.


Tujuan Farel yang sebenarnya bukan membawa Derana kembali ke desa Ringin untuk meminta maaf kepada keluarga Atmajaya. Tetapi, ia ingin membuang Derana di jalanan.


Selain ingin menjadikan Derana gelandangan, Farel juga berniat menyingkirkan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu sebab ia hendak menikah lagi dengan seorang wanita pilihan sang kakek tanpa mau mengurus proses perceraian terlebih dahulu.


Mobil yang membawa Derana mulai melaju dan Usman menatap mobil itu dengan tatapan sendu.


Sebagai seorang ayah, Usman sangat mencemaskan darah dagingnya. Ingin rasanya, ia mengejar mobil itu dan membawa Derana kembali karena sisi hatinya berbisik, sesuatu yang buruk akan menimpa sang putri.


Di dalam benak, Usman melangitkan pinta ... semoga putrinya selalu dalam penjagaan dan perlindungan Illahi, Tuhan Yang Maha Menggenggam Kehidupan.


....

__ADS_1


Selama berada di perjalanan, Farel dan Derana saling membisu. Keduanya tampak asik menikmati pemandangan yang tersuguh dari kaca mobil dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Tanpa terasa, dua jam telah berlalu. Mobil yang membawa Derana dan Farel berhenti di parkiran yang berada tidak jauh dari terminal, bukan di tempat tujuan--desa Ringin.


Derana merasa curiga saat Farel memintanya untuk keluar dari mobil. Namun ia segera menepis kecurigaannya kala Farel mengutarakan alasan yang bisa diterima--ingin mampir di warung makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


"Kau mau makan apa, Ra?" Farel melisankan tanya setelah mendaratkan bobot tubuh di bangku panjang, bersebelahan dengan Derana.


"Apa aja Mas," jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Farel.


"Gudeg mau?"


"Iya."


"Minumnya apa Ra?"


"Teh hangat aja, Mas."


"Oke. Tunggu sebentar ya Ra! Aku pesankan."


"Iya Mas."


Farel segera memesan dua porsi gudeg dan dua gelas teh hangat.


Tanpa menunggu waktu lama, seorang pelayan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang dipesan oleh Farel.


"Ra, aku mau ke toilet sebentar," pamitnya sembari membawa tubuh beranjak dari posisi duduk.


"Iya Mas."


Farel menarik sudut bibirnya dan berlalu pergi meninggalkan Derana tanpa membayar semua makanan dan minuman yang ia nikmati.


"Mampus kau, Dera!" gumamnya lantas masuk ke dalam mobil dan meminta driver untuk segera melajukan mobilnya.


Derana tampak gelisah setelah lebih dari satu jam menunggu Farel. Namun yang ditunggu tak juga menampakkan batang hidung.


Ia pun bergegas menyusul Farel ke toilet. Karena tidak menemukan suaminya di toilet, Derana membawa langkahnya menuju parkiran.


Tubuh Derana serasa lunglai saat tidak mendapati mobil avanza berwarna silver yang membawanya tadi.


"Mas Farel di mana? Kenapa di toilet ndak ada? Mobilnya juga ndak ada di parkiran. Apa, dia sengaja meninggalkanku di tempat ini?" Derana bermonolog lirih sambil menggigit bibir bawahnya. Ia mulai dihinggapi perasaan takut jika si pemilik warung menagih makanan dan minuman yang sudah dinikmatinya bersama Farel.


Derana bingung ... bagaimana harus membayarnya, sebab tas berisi dompet, pakaian, dan handphone-nya tertinggal di dalam mobil. Sementara, mobil yang membawanya sudah menghilang tanpa jejak bersama Farel--suami minim akhlak yang telah tega meninggalkannya seorang diri di terminal.

__ADS_1


"Mbak, cari siapa?" tegur si pemilik warung yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Derana.


"Sa-saya mencari suami saya Bu." Derana menjawab dengan terbata.


"Oh, mas yang bersama sampeyan ya?"


"Iya Bu."


"Loh 'kan dia sudah pergi dari tadi. Sebelum pergi mas-nya bilang, semua makanan dan minuman yang bayar sampeyan, Mbak."


"Ta-tapi, dompet saya ketinggalan di mobil, Bu. Sa-ya sama sekali ndak bawa uang --"


"Helehhhh alesan. Pokoknya saya ndak mau tahu, sampeyan harus membayarnya!"


"Sa-saya benar-benar ndak bawa uang. Bagaimana, kalau saya bayarnya dengan mencuci piring atau ikut membersihkan warung, Bu?"


"Ndak bisa, Mbak. Sampeyan harus membayarnya dengan uang. Saya ndak mau rugi --"


Dengan menanggalkan rasa malu, Derana terus mengiba dan mengatupkan tangan di depan dada.


"Saya mohon, Bu --" lirihnya diiringi air bening yang mulai mengalir dari kedua sudut netra.


Atensi semua pengunjung warung teralihkan pada Derana. Sehingga sebagian dari mereka merasa iba dan tergugah untuk mengulurkan tangan.


"Nduk, jangan menangis! Saya yang akan membayarnya," tutur seorang wanita paruh baya sembari mengusap lembut bahu Derana.


"Ta-tapi, Bu --"


Wanita paruh baya itu mengulas senyum dan menyeka jejak air mata yang membasahi wajah Derana dengan jemari tangan. Kemudian ia membayar semua makanan dan minuman yang mesti dibayar oleh Derana.


"Ayo Nduk, duduk dulu!"


"I-iya Bu." Derana mengangguk samar dan mendaratkan bobot tubuhnya di samping wanita paruh baya yang telah menolongnya.


Rasa takut semakin mendominasi kala pikiran buruk menari-nari di kepala.


Derana takut jika wanita yang menolongnya itu ternyata seorang muci-kari yang mungkin akan menjualnya dan menjerumuskannya ke lembah dosa ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf baru bisa UP 🙏🙏🙏

__ADS_1


Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Terima kasih dan love love sekebon untuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengikuti kisah Derana hingga end 😘😘😘🙏


__ADS_2