
Happy reading 😘😘😘
Seperti yang dititahkan oleh Randy, setelah menidurkan Malikha di kamarnya ... Derana menyusul Kartini ke kamar sang majikan untuk membersihkan barang-barang dan mengemasi pakaian Amel--mantan istri Randy, sebelum diberikan kepada pemulung atau orang yang membutuhkan.
Dahi Derana mengernyit saat mendapati foto-foto mesra Randy dengan mantan istrinya. Binar cinta terlihat jelas di manik mata keduanya. Sungguh sangat disayangkan, tautan cinta mereka terlepas hanya karena kehadiran pihak ketiga.
Titik-titik embun mulai membingkai kelopak mata ketika Derana melihat foto Randy mencium perut Amel yang buncit dengan penuh cinta. Terlihat jelas bahwa pria dingin itu teramat mencintai Amel dan memperlakukan pasangannya dengan sangat sweet.
Sebagai seorang wanita, Derana merasa iri. Ia pun ingin dicintai dan diperlakukan manis oleh Farel, pria yang masih berstatus suaminya.
"Andai Mas Farel mencintaiku seperti Tuan Randy mencintai Nyonya Amel, pasti aku akan merasa menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung di dunia ini. Dicintai oleh seorang Adam dengan setulus hati dan diperlakukan manis. Tapi sayang, Mas Farel sama sekali ndak mencintaiku. Aku hanyalah seorang istri sampah baginya," gumamnya sendu. Namun didengar oleh Kartini.
"Sabar ya Nduk! Yakinlah, suatu saat nanti, akan ada seorang pria yang mencintaimu dengan setulus hati. Dan pria itu pasti memperlakukan kamu seperti seorang ratu." Kartini menjeda sejenak ucapannya dan mengulurkan tangan untuk merengkuh tubuh Derana kemudian membawanya ke dalam pelukan.
"Ibu yakin, kelak suami kamu yang ndak ada akhlak itu akan sangat menyesal karena telah membuangmu. Ia akan tersadar, bahwa yang dibuangnya adalah batu permata, bukan batu kali. Jika suatu saat nanti suami kamu mengiba dan memintamu kembali, bersikaplah tegas padanya, Nduk! Jangan memberi kesempatan manusia berhati iblis yang ndak pantas dijadikan imam!"
"Iya Bu. Saya ndak akan memberi dia kesempatan."
Tangan yang semula menjuntai, diangkatnya untuk membalas pelukan Kartini bersamaan air embun yang mulai menetes dari kedua sudut netra.
Derana tak mampu menahan buncahan rasa yang menyiksa. Ia tumpahkan air duka untuk menghempas lara yang meraja.
"Yang kuat ya Nduk! Ibu akan selalu ada untukmu," tutur Kartini sambil mengusap punggung Derana dengan gerakan naik turun seraya mentransfer energi positif agar Derana merasa tenang.
Rasa haru menyentuh relung jiwa saat Randy menyaksikan dua wanita berbeda generasi itu tengah berpeluk diiringi suara tangisan yang menyayat hati.
Meski terlihat dingin dan tak acuh, hati pria berparas ganteng itu mudah terketuk. Ia akan mengulurkan tangan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan tanpa pamrih.
__ADS_1
"Ehem." Randy sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Derana dan Kartini sehingga keduanya seketika melerai pelukan.
"Tu-tuan Randy," ucap Derana dan Kartini bersamaan. Kedua wanita itu segera menyeka jejak air mata yang membasahi wajah dan bergegas beranjak dari posisi duduk.
"Ma-af, Tu-an --"
Randy memangkas ucapan Derana dengan mengangkat telapak tangan ke udara. Lantas ia mulai membuka suara seraya melontarkan titah. "Segera selesaikan pekerjaan kalian! Aku nggak ingin barang-barang dan pakaian milik Amel masih memenuhi kamar ini."
"Pekerjaan kami sudah selesai, Tuan. Semua barang milik Nyonya Amel beserta pakaiannya sudah kami packing."
"Yasudah, kalian boleh beristirahat. Jangan lupa, taruh semua kardus yang berisi barang-barang dan pakaian Amel di gudang! Besok pagi, kalian berikan kepada pemulung atau orang yang membutuhkan!"
"Baik Tuan. Tapi --"
Randy mengangkat satu alisnya dan menatap lekat wajah Derana. "Tapi apa?"
"Nanti selepas waktu isya', aku akan mengantarmu ke butik langganan bundaku. Kau bisa memilih semua pakaian yang kau suka."
"Tapi saya ndak punya uang, Tuan. Lagi pula, semua pakaian Nyonya Amel masih sangat bagus --"
"Ck, kau bisa membayarnya bulan depan dengan cara mencicil. Dan asal kau tahu, semua pakaian Amel nggak pantas kau kenakan. Pakaian-pakaian itu seharusnya aku bakar atau aku larung ke samudra --" ujarnya dengan intonasi tinggi.
Randy berusaha mengusai diri dengan mengepalkan tangan dan sejenak memejamkan netra.
Setiap mengingat pengkhianatan Amel, darah CEO muda berparas ganteng itu seketika mendidih. Ia teramat marah dan kecewa pada Amel, wanita yang masih bertahta di hatinya.
"I-iya Tuan."
"Mulai sekarang, jangan menyebut nama wanita itu!" titahnya dengan sedikit merendahkan suara, tetapi penuh penekanan disertai sorot mata yang menyiratkan luka.
__ADS_1
"Ba-ik Tuan. Saya ndak akan lagi menyebut namanya."
Kartini mengerti suasana hati Randy. Ia lantas mengajak Derana untuk segera keluar dari kamar dan Derana pun mengangguk setuju.
Sebelum mengayun tungkai, kedua wanita itu berpamitan pada Randy dengan membungkukkan tubuh.
"Tuan, kami permisi," pamit keduanya bersamaan.
Randy menanggapi ucapan Kartini dan Derana dengan mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah kedua wanita itu pergi meninggalkan kamar, Randy menumpahkan kekecewaan, amarah, dan lara hati dengan berteriak frustasi. Kemudian ia mengobrak-abrik kamarnya sehingga kamar yang semula rapi, kini menjelma seperti kapal pecah.
"Argggghhh .... Kenapa kau tega mengkhianati cinta kita? Apa kekuranganku sehingga kau lebih memilih pergi bersamanya --"
"Argggghhh. Aku sangat membencimu Amel --" Randy kembali berteriak dan membanting figura yang berisi foto keluarga kecilnya.
Puas menumpahkan rasa yang menyiksa jiwa, Randy meluruhkan tubuh dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
Pria yang terkenal dingin dan berwibawa itu terlihat sangat menyedihkan. Ia menangis tergugu--meratapi takdir cinta yang mendorongnya ke palung duka ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
Mumpung hari Senin, tampol author dengan vote atau gift, syukur-syukur ada yang berkenan menampol author dengan koin supaya author lekas narik gaji. Dan jangan lupa tinggalkan jejak like, agar author semakin semangat UP nya 🤗🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏
__ADS_1