
Happy reading 😘😘😘
Tiga hari sejak jenazah Zain dimakamkan, Hastungkara memutuskan untuk pulang ke kota dan membuka lembaran baru.
Bibir bisa mudah berkata ikhlas. Namun hati yang mencinta, serasa sulit menerima kenyataan yang tak sejalan dengan angan.
Hastungkara tengah bergelut dengan rasa yang menyesakkan dada. Ia berusaha tegar meski hatinya hancur sehancur hancurnya karena pupusnya cinta pertama.
"Ran, maaf aku nggak bisa memenuhi janjiku untuk menetap di desa ini. Aku ingin melupakan mimpi-mimpi yang pernah terangkai indah. Aku ingin membuka lembaran baru dan menata masa depanku. Aku harus bisa move on dari mas Zain. Kamu tahu sendiri 'kan, perasaanku terlalu dalam padanya? Aku nggak yakin nama mas Zain yang sudah terpahat di hati ... akan terhapus meski kelak hadir seorang imam pengganti," tutur Hastungkara disertai raut wajah sendu.
Sebenarnya, Hastungkara teramat berat meninggalkan Derana sebab sahabatnya itu belum terlepas dari jerat para iblis--Farel dan keluarganya. Ia ingin membantu Derana. Namun apa daya, keadaannya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
"Iya Ra, aku tahu perasaanmu pada ustadz Zain teramat dalam. Bahkan sangat tahu. Apapun keputusanmu saat ini, aku bisa memaklumi dan menerima. Meski jarak akan memisahkan kita. Namun kau dan aku tetap dekat di hati. Jangan lupa, kabari aku sesampainya di kota!" ujar Derana seraya membalas ucapan Hastungkara.
Sama seperti Hastungkara, Derana pun merasa berat melepas kepergian sahabatnya itu. Namun Derana tidak bisa mencegah ataupun merayu Hastungkara untuk tetap tinggal di desa Janda. Sebab, Hastungkara butuh tempat untuk menenangkan diri saat ini dan menata masa depannya.
"Iya Ran, aku janji. Oya, ada amanah dari mas Zain yang harus aku sampaikan padamu."
"Amanah? Amanah apa Ra?" cecarnya diikuti tautan kedua pangkal alis.
"Begini Ran, saat aku sakit ... mas Zain datang menjenguk. Lalu kami berbincang. Di sela-sela perbincangan, mas Zain menitipkan amanah untukmu. Beliau berpesan agar kau memperbaiki ibadahmu. Perbanyak zikir, sholat wajib jangan sampai ditinggalkan, bersujud di malam hari, dan jalankan puasa sunah. Insya Allah jika kau menunaikan ke-empat ibadah tersebut, Allah SWT akan mengulurkan tangan dan menghadirkan sosok yang bisa membantumu."
Derana bergeming. Ia berusaha menelaah pesan yang disampaikan oleh almarhum Zain melalui Hastungkara.
Derana mulai tersadar, bahwa ibadahnya selama ini kurang sempurna. Sholat wajibnya terkadang bolong. Sholat sunah di malam hari dan puasa sunah juga terkadang ia tinggalkan.
"Ran, hanya dirimu sendiri yang bisa menyadarkan ibumu yang saat ini masih terkena ilmu takluk dengan cara semakin mendekatkan diri pada Illahi. Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil 'aliyyil adhiimi. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Jangan pernah takut melawan kekuatan jahat! Karena Allah selalu bersama hamba yang senantiasa menyebut asma--Nya," tutur Hastungkara memecah hening yang sejenak tercipta.
Derana mengangguk pelan dan mengulas senyum. "Iya Ra, terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa, Ran?"
"Untuk semua wejangan yang kau sampaikan tadi."
"Owh. Kirain terima kasih untuk kenangan yang pernah kita lalui bersama. Salah satunya, sewaktu aku menceburkanmu dan sepeda kesayanganmu ke dalam lumpur," ujar Hastungkara disertai tawa yang mengudara.
__ADS_1
Derana pun turut mengudarakan tawa kala teringat kekonyolan Hastungkara yang membuat mereka bermandikan lumpur.
"Sesampainya di kota, belajarlah mengendarai sepeda ontel dan sepeda motor! Jangan malu-maluin orang kota! Kau ndak mau 'kan kalah sama orang desa?"
"Ishhh ... ishhh ... ishhh, bukan hanya belajar mengendarai sepeda ontel dan sepeda motor. Aku juga bakal belajar mengendarai mobil. Tapi mobil bukan sembarang mobil --" Hastungkara sengaja menggantung ucapannya untuk memancing Derana supaya sahabatnya itu merasa penasaran.
"Memangnya, mobil apaan Ra?"
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?"
"Mau tahu banget lah. Mobil apaan sih? Buruan kasih tahu!"
"Mobil ... bom-bom car." Hastungkara terkekeh sementara Derana memasang raut wajah sebal bin kesal.
"Mobil jemputannya sudah tiba. Aku pamit ya Ran," ucapnya kemudian.
"Iya, Ra. Semoga selamat sampai tujuan. Salam buat om Zaenal dan tante Nofia."
"Insya Allah, nanti aku sampaikan salammu pada ayah dan bunda. Sekalian salam untuk mas Rafa nggak?"
"Mas Rafa belum punya calon istri, Ran. Aku malah berharap, mas Rafa berjodoh denganmu. Tapi, setelah kau dan Farel bercerai," candanya dan membuat Derana mencebikkan bibir.
"Secara ndak langsung, kau mendoakan aku menjadi janda --"
"Lebih baik menjanda, dari pada selamanya menjadi istri iblis berwujud manusia."
"Pffftt ... bener juga, Ra."
Hastungkara mengulas senyum lantas memeluk singkat tubuh Derana. "Sampai bertemu di lain waktu ya Ran. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Ra," lirihnya seraya menjawab salam Hastungkara.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Hastungkara mencium punggung tangan kakeknya dengan takzim.
Tatkala mobil yang membawa Hastungkara mulai melaju, Derana melambaikan tangan dan menatap sendu wajah sahabatnya itu. Hastungkara pun membalasnya dengan lambaian tangan disertai seutas senyum.
"Selamat jalan Ra. Semoga kelak, kita dipertemukan kembali --" lirih Derana diikuti air embun yang menetes dari telaga bening ....
__ADS_1
....
Setibanya di rumah, Derana disambut oleh Farel dan Ratri. Keduanya meminta Derana untuk duduk sebelum mereka membuka suara.
"Dera, besok pagi aku ingin membawamu pulang ke desa Ringin. Aku sangat berharap, kau mau pulang bersamaku. Kita harus meminta maaf pada keluargaku, terutama pada Shella yang saat ini masih trauma karena kelakuan konyolmu yang hampir saja mencelakainya," tutur Farel dengan merendahkan suara untuk menarik simpati dari Ratri--ibu mertuanya.
"Tapi --"
"Kau harus ikut bersama suamimu, Ran! Minta maaflah pada keluarga Atmajaya! Ibu teramat malu kalau kau ndak mau meminta maaf." Ratri turut bersuara.
"Tapi Bu, saya benar-benar ndak salah. Saya hanya berusaha membela diri dan ndak berniat melukai Shella. Saya lari dari kediaman Atmajaya karena mereka terus memaksa Rana untuk menyetujui keputusan ibu mertua. Beliau ingin menjual rumah dan meminta Mas Farel bekerja ke luar negeri --"
"Cukup!" Ratri memangkas ucapan Derana. Ia tidak pernah percaya pada kata-kata yang dilisankan oleh putrinya dan malah percaya dengan hasutan Farel.
"Bu --"
"Kalau kau masih menganggap ibu sebagai orang tuamu, kau harus ikut Nak Farel pulang ke desa Ringin dan meminta maaf kepada keluarga Atmajaya!" Ratri meninggikan intonasi suara dan melayangkan tatapan tajam yang menyiratkan ancaman sehingga Derana tak kuasa menolak.
"Baiklah, besok pagi ... Rana akan ikut Mas Farel pulang ke desa Ringin. Rana juga akan meminta maaf kepada keluarga Atmajaya supaya ibu ndak merasa malu."
"Itu baru istri penurut dan bukan istri durhaka. Nanti malam, siapkan pakaianmu! Ndak usah bawa pakaian terlalu banyak karena di rumah masih ada beberapa potong pakaianmu yang tertinggal!" Farel melontarkan cibiran.
Derana menghembus nafas kasar dan beranjak dari posisi duduk. Tanpa membalas cibiran yang dilontarkan oleh Farel, Derana lantas berlalu pergi.
"Ra, kau mau ke mana?" Farel berteriak dan berlari menyusul istrinya.
Seketika Derana menghentikan langkah lalu menjawab pertanyaan suaminya dengan malas. "Aku mau ke kamar mandi. Aku gerah setelah mendengar suaramu yang sumbang, Mas."
"Kau --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end 😘😘😘🙏
__ADS_1