Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 48


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Usman dan Sukma berdecak kagum saat mereka memasuki rumah megah milik Randy.


Seisi ruang tampak mewah. Tak terkecuali furniture yang berada di ruang tamu.


Randy mempersilahkan Usman dan Sukma untuk duduk di sofa. Lantas ia meminta Derana membuatkan minuman dan menyajikan makanan ringan untuk kedua tamu.


"Maaf Pak, saya tinggal sebentar," ucap Randy dengan memasang wajah datar tanpa menerbitkan senyum meski hanya setipis kertas.


"Iya Mas ... eh Tuan." Usman tampak kikuk. Ia merasa tidak enak hati karena telah memanggil majikan putrinya dengan sebutan 'Mas'.


"Mas juga boleh, Pak. Senyaman Bapak memanggil saya."


"Tapi Mas ... Eh Tuan. Akan terkesan kurang sopan jika saya memanggil njenengan 'Mas', karena Tuan Randy adalah majikan Derana dan seorang sultan."


Ucapan Usman sukses menarik kedua sudut bibir Randy, sehingga wajah yang semula terlihat datar dan terkesan dingin kini terhias senyum yang sangat menawan.


"Pak, saya bukan seorang sultan. Saya hanya rakyat biasa yang diberi kelebihan harta oleh Allah. Jadi, jangan merasa kurang sopan jika memanggil saya dengan sebutan 'Mas'! Jujur, saya malah kurang nyaman jika dipanggil 'Tuan'," sahut Randy berterus terang.


"Tapi Tuan --"


"Panggil saya 'Randy' saja, Pak! Nggak perlu ditambah 'Mas' atau 'Tuan'!"


"Eng ... Ran-dy. Nak Randy."


"Nah, saya suka dengan sebutan itu, Pak."


Randy kembali menarik kedua sudut bibirnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang tamu dan membawa langkahnya menaiki anak tangga.


Lantas, di mana Hastungkara saat ini?


Setelah keluar dari mobil, Hastungkara enggan masuk ke dalam rumah megah milik Randy. Ia memilih menunggu sang bunda di teras rumah sambil menikmati pemandangan yang tersaji--pohon tatebuya dengan bunganya yang mirip bunga sakura.


Karena terlalu fokus memandangi bunga tatebuya, Hastungkara terlonjak saat bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang. "Allohumma, demit mana yang nepuk pundakku?" pekiknya sembari memutar tubuh.


"Pfftttt ... hhahaha." Ranu tergelak saat menyaksikan ekspresi Hastungkara yang terkesan hiperbola. Sampai-sampai perutnya terasa kram.


"Ohhh, ternyata Tante Ranu. Hmmm ... bikin kaget aja, Te. Untung jantung Rara bukan made in manusia. Coba kalau made in manusia, bisa-bisa jantung Hastungkara langsung copot, Te --" celoteh Hastungkara yang menggelitik indera pendengaran sehingga Ranu kembali tergelak.


"Masya Allah, tante bisa awet muda kalau mempunyai menantu sepertimu, Ra."


"Dan Rara bisa cepet keriput kalau mempunyai suami seperti Pak Randy, Te. Maaf ya Te, Rara bener-bener dongkol sedongkol dongkolnya sama putra Tante," ujar Hastungkara berterus terang.


"Loh, kenapa dongkol sama calon suamimu, Sayang?"


"Allohumma. Please Tante, jangan berkata seperti itu! Saya nggak mau mempunyai calon suami seorang manusia kutub."

__ADS_1


"Rara sayang, meski putra Tante seperti manusia kutub, tapi dia itu penyayang dan setia lho. Seperti suami tante."


"Maaf Te, maaf seribu maaf. Saya nggak suka sama tipe pria dingin seperti Pak Randy. Saya lebih suka dengan tipe pria yang seperti Mas Za --" Hastungkara menggantung ucapannya dan sejenak memejamkan netra. Ia berusaha menghempas rasa yang menyiksa kala nama 'Zain' kembali terlintas di pikiran.


"Mas sapa, Ra?" Ranu bertanya heran diikuti tukikan kedua pangkal alisnya.


"Mas Zain, Te. Dia calon imam Rara --"


"Jadi, kau sudah mempunyai calon imam, Ra?"


Hastungkara mengangguk lemah. "Iya, Te."


"Sayang sekali ya, tante kira kau belum mempunyai calon imam, Ra. Sebenarnya, tante berniat untuk menjodohkanmu dengan Randy--putra tante. Tapi karena kau sudah mempunyai calon imam, tante nggak bisa memaksakan kehendak," tutur Ranu diikuti hembusan nafas berat. Pupus sudah keinginannya untuk menjodohkan sang putra dengan Hastungkara, sebab putri sahabatnya itu ternyata sudah memiliki calon imam.


"Tante berdoa, semoga kau dan calon imam pilihan hatimu ... segera disatukan dalam ikatan yang halal," sambungnya seraya melafazkan doa tulus untuk Hastungkara.


Tanggul yang dibangun oleh Hastungkara seketika roboh saat terlafaz doa tulus dari bibir Ranu. Air duka yang semula menganak di kelopak mata kini tertumpah seiring lara hati yang kembali hadir menyapa.


"Rara, kau kenapa Sayang?" Ranu melisankan tanya dan menatap lekat wajah Hastungkara yang telah basah.


Tak ada jawaban dari Hastungkara sehingga membuat Ranu dilanda rasa cemas.


"Rara Sayang, maaf ... bolehkah tante memelukmu?"


Hastungkara mengangguk seraya mempersilahkan Ranu untuk memeluk tubuhnya.


"Sttt ... tenangkan dirimu, Sayang! Katakan pada tante, apa yang membuatmu menangis!" pinta Ranu sembari mengusap punggung Hastungkara dengan gerakan naik turun seraya mengalirkan rasa tenang.


"Mas Zain ... dia --"


"Dia kenapa, Ra? Apa yang telah dilakukannya terhadapmu, Sayang? Katakan pada tante!"


"Mas Zain sudah tiada, Te. Calon imam Rara sudah tiada --" Tangisan Hastungkara semakin pecah dan tubuhnya pun berguncang hebat.


"Inna lillahiΒ wa inna ilaihi raji'un. Maafkan tante, Ra. Maafkan tante yang telah salah melafazkan doa. Kau menangis karena doa yang tante lafazkan. Maaf Sayang --"


Ranu merasa teramat bersalah karena tanpa sengaja melafazkan doa yang membuat Hastungkara kembali tenggelam ke dalam palung duka.


"Sudah, jangan menangis lagi Sayang! Ikhlaskan yang telah pergi dan terimalah calon imam yang akan menggantikan posisi almarhum di hatimu!" tutur Ranu sembari mengurai pelukan. Lalu diusapnya wajah Hastungkara yang basah oleh air duka dengan jemari tangan.


"Sampai kapan pun posisi Mas Zain di hati Rara nggak akan terganti, Te. Meski kelak, Allah menjodohkan Rara dengan seorang Adam," lirih Hastungkara.


"Sayang, meski posisi almarhum tidak bisa tergantikan, setidaknya dengan kehadiran seorang imam pengganti di hidupmu ... akan mewarnai hari-harimu dan akan menghapus air mata duka yang sering kau tumpahkan." Ranu menjeda ucapannya dan mengusap lembut wajah Hastungkara yang masih terbingkai sendu.


"Jangan menutup rapat-rapat pintu hatimu, Sayang! Sebab kita tidak pernah tahu pada siapa hati kita sebenarnya akan berlabuh. Tataplah masa depan dan goreskan kisah masa lalu dengan tinta sebagai pengingat! Namun, jangan jadikan kisah masa lalu sebagai penyebab tertumpahnya air matamu!" lanjutnya--melisankan kata-kata bijak.


Hastungkara meraup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dengan segenap ketegaran yang tersisa, ia berusaha membuka bibirnya untuk membalas ucapan Ranu. "Iya, Tante. Terima kasih atas nasehat yang Tante tuturkan."


Ranu mengulas senyum dan merangkul bahu Hastungkara. "Dari pada mewek terus, bagaimana kalau kita menyusul bundamu dan cucu tante--Malikha?"

__ADS_1


"Memangnya, bunda dan si cantik Malikha di mana, Te?"


"Mereka berada di taman belakang, Sayang. Kau mau 'kan menyusul mereka?"


"Iya Tante, tentu."


Ranu dan Hastungkara memutar tumit lantas kedua wanita berbeda generasi itu berjalan menuju taman belakang melewati pintu yang berada di sisi garasi.


....


Setelah berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya, Randy kembali ke ruang tamu untuk menemui Usman dan Sukma.


"Maaf Pak jika saya membuat Bapak menunggu terlalu lama," ucap Randy sambil mendaratkan bobot tubuhnya di sofa--berhadapan dengan kedua tamunya dan Derana.


"Ndak pa-pa, Nak Randy. Saya yang semestinya meminta maaf karena telah menyita waktu Nak Randy. Seharusnya Nak Randy bisa langsung beristirahat. Namun karena kedatangan kami, Nak Randy malah ndak bisa beristirahat. Oya Nak Randy, di mana Non Malikha--putri kecilnya Nak Randy?"


"Malikha sedang bermain di taman belakang bersama bunda, ayah, dan ibunda Hastungkara, Pak."


"Ngomong-ngomong, Nduk Rara di mana ya? Kog ndak ikut masuk ke dalam, Nak?"


"Mungkin dia masih ngambek, Pak. Jadi, biarkan saja dia! Setelah ngambeknya hilang, pasti dia mau masuk ke dalam."


"Tapi kasihan lho kalau Nduk Rara dibiarkan terlalu lama di luar. Bisa-bisa, Nduk Rara masuk angin."


"Dia kebal kog, Pak. Jadi anti masuk angin," sahut Randy asal.


"Ibu di mana, Pak? Kenapa, beliau nggak jadi ikut?" cecarnya kemudian seraya mengalihkan topik pembicaraan.


"Ibu di rumah, Nak Randy. Tadi, ibunya Rana ngotot ingin ikut. Tapi bapak melarangya."


"Kenapa dilarang, Pak?"


"Karena, kalau ibunya Rana ikut ... pasti dia akan mengacaukan niat bapak --"


Usman lantas bercerita mengenai Ratri--istrinya yang selalu memihak Farel dan menyudutkan Derana.


Sesekali Randy melafazkan istighfar kala Usman menceritakan bagaimana perlakuan Ratri yang teramat kasar terhadap Derana--putri kandung mereka.


"Bapak merasa, ada yang tidak wajar dengan kami, Nak Randy. Kami seperti terkena ilmu sihir sehingga kehilangan jati diri," tutur Usman--mengakhiri cerita.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo πŸ˜ŠπŸ™πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan agar author lebih bersemangat πŸ˜‰πŸ™πŸ™


Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2