
Happy reading 😘😘😘
Derana bergeming. Ia terlalu terkejut kala mendengar rangkaian kata yang dituturkan oleh Randy--tuan muda yang selama ini selalu disebutnya dalam doa.
Bagi Derana, apa yang terjadi saat ini seperti mimpi. Namun terasa begitu nyata.
"Dera --"
Suara bariton Randy memecah kaca lamun.
Derana tergagap dan tak tahu mesti berkata apa.
Randy mengulas senyum, lantas kembali berlisan, "Dera, aku ulangi lagi perkataanku. Bunga mawar putih ini adalah bunga yang melambangkan cinta suci, perasaan tulus, keagungan dan kemurnian dari sebuah cinta sejati. Jika kau bersedia menerima cintaku, terimalah buket bunga mawar putih ini! Namun jika kau nggak bersedia menerima cintaku, kau boleh membuangnya."
"Tuan, sa-saya --"
"Dera, kau berhak menerima cintaku ataupun menolaknya. Aku nggak akan memaksa."
"Tu-an, sa-saya. Maaf, saya ndak bisa --" Derana menggantung ucapannya dan menatap lekat manik mata Randy dengan tatapan tak terbaca.
Raut wajah Randy seketika berubah sendu dan binar di kedua netranya pun meredup saat mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Derana. Ia mengira, Derana telah menolaknya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Randy memutar tumit dan berniat untuk menjatuhkan buket bunga mawar putih dari genggaman tangannya.
Namun sebelum genggaman tangan Randy mengendur, Derana mencegah dengan menggamit lengan kekarnya.
"Tuan, saya ndak bisa .... Saya ndak bisa jika ndak menerima cinta Tuan, karena saya juga mencintai Tuan Randy."
Ucapan Derana bagaikan bait-bait cinta yang mengalun merdu. Menyentuhkan rasa bahagia di dalam kalbu dan menghapus sendu.
"Dera, kau --"
__ADS_1
"Maaf ... saya telah lancang mengagumi dan mencintai Tuan sejak pertama kali kita bertemu. Maaf ... saya telah lancang menyebut nama Tuan di setiap doa yang saya panjatkan. Maaf ... saya telah lancang karena teramat berharap, hanya saya yang Tuan cinta sampai di penghujung usia."
"Dera --"
"Tuan ... Tuan Randy bersedia 'kan memaafkan saya?"
Randy menerbitkan senyum dan mengerjapkan kedua netranya. "Iya, aku akan memaafkanmu, asal kau bersedia menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku, Derana Larasati."
"Tentu saja saya bersedia, Tuan. Tapi ndak untuk saat ini, karena saya baru saja menyandang status janda."
"Iya, aku tahu, Dera. Aku akan bersabar menanti. Tapi jangan lebih dari lima bulan ya!"
"Heem. Lima bulan lagi, datanglah ke rumah orang tua saya, Tuan!"
"Baiklah, Dera. Insya Allah, lima bulan lagi ... aku akan datang ke rumah orang tuamu. Bukan untuk mengkhitbahmu, melainkan untuk menghalalkanmu," ucap Randy diiringi senyum yang terkembang.
Semua orang yang menyaksikan adegan sweet Randy dan Derana seketika beranjak dari posisi duduk dan bertepuk tangan serta bersorak-sorai.
Detik berikutnya, sebuah helikopter melintas di atas rooftop cafe. Terlihat dua orang tengah menebarkan ribuan kelopak bunga mawar putih dari dalam helikopter itu sembari melempar senyum ke arah Derana dan Randy.
Derana sungguh tidak menyangka bahwa hari ini akan bertabur kejutan yang membuatnya merasa menjadi seorang wanita yang paling bahagia di dunia.
"Dera --" sapa Randy dengan suaranya yang terdengar lembut di telinga.
"Ya, Tu-an --"
"Mulai detik ini, jangan memanggilku 'Tuan'!"
"Tapi --"
"Tidak ada kata tapi!"
"Lalu, saya harus memanggil Tuan dengan sebutan apa?"
__ADS_1
"Panggil aku, 'Mas'!"
"Ma-Mas."
"Hehem. Ulangi lagi!"
"Mas."
"Mas Randy!"
"Mas Ran-dy."
"Terima kasih, Sayang." Randy menarik kedua sudut bibirnya dan mengusap lembut jilbab yang dikenakan oleh Derana.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Mas. Karena Mas Randy telah sudi mencintai saya, meski saya seorang janda, bukan pera-wan yang masih suci."
"Kita sama, Dera. Kau janda dan aku duda. Meski kau bukan yang pertama bagiku, insya Allah ... kau-lah yang terakhir untukku. Semoga, Allah meridhoi cinta kita dan menyatukan kita dalam ikatan yang halal."
"Aamiin, Ya Robb." Derana meng-amini doa tulus yang terlisan dari bibir Randy. Begitu pun semua orang yang berada di rooftop cafe, tak terkecuali Usman dan Ratri.
Kedua paruh baya itu menitikan air mata bahagia saat menyaksikan kebahagiaan Derana--putri mereka.
Di dalam benak, Usman dan Ratri tak henti-hentinya melafazkan kalimat syukur atas kasih sayang Illahi yang telah menyentuhkan bahagia di hidup Derana setelah ujian hidup yang teramat berat memaksa putri mereka berkawan dengan duka ....
"Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan." - HR. Tirmidzi
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP nya pendek dulu ya Kakak-kakak terlove. Beberapa hari ini author diberi nikmat sakit oleh Allah SWT dan terkadang tidak bisa menatap layar hp terlalu lama. Insya Allah, besok author sambung lagi 🙏
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏