
Sapaan dari Derana di dunia nyata (I-M)
"Terimakasih untuk pembaca setia Derana karya kak Ayu Widia. Terimakasih atas cinta dan doa kalian untuk saya. Saya sangat bersyukur, banyak sekali yang mendukung dan mendoakan saya. Sehat selalu untuk semuanya. Dan jangan lupa untuk selalu dukung karya Author kesayangan kalian semua ... π₯°π₯°π"
πππ
Happy reading πππ
Kelopak bunga-bunga cinta bermekaran indah di taman hati, seiring hadirnya kebahagiaan yang dihadiahkan oleh Sang Maha Kasih kepada hamba-hamba yang berpasrah dan berserah serta tabah menjalani ujian hidup.
Kini, Derana telah merengkuh bahagia bersama suami dan putri sambungnya. Begitu pula Rafa dan Zahra yang tengah duduk di singgasana pengantin.
Seolah tak mau kalah dengan Randy dan Rafa yang telah memiliki kekasih halal. Ridwan pun segera melamar Rani untuk dijadikannya calon istri.
Ridwan dan Rani berencana, dua minggu lagi mereka akan mengucap ikrar suci di hadapan penghulu dan para saksi.
Lantas, bagaimana dengan Hastungkara?
Hastungkara masih enggan membuka hati untuk Adam yang lain. Saat ini, ia ingin menikmati kesendiriannya dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi sesama.
Biarlah cinta yang akan menuntun Hastungkara untuk melabuhkan hatinya. Entah pada Kiyoshi atau pada sosok yang kelak akan hadir.
Selama hampir dua minggu, Randy merasakan tubuhnya teramat lemas. Setiap pagi ia selalu muntah dan tidak berselera makan.
Randy ingin selalu berada dekat dengan Derana dan sedetik pun tidak ingin jauh dari istri tercintanya itu.
"Yang, ikut aku ke kantor ya!" pinta Randy dengan memasang raut wajah memelas.
"Mas, kasihan putri kita kalau aku ikut bersamamu --"
"Please, Yang! Perutku mual setiap jauh darimu."
Derana mengulas senyum dan mengusap lembut wajah suaminya dengan jemari tangan.
"Mas Randy bisa menghilangkan rasa mual itu dengan meminum jus jeruk atau menghirup aroma buah jeruk seperti yang Mas Randy lakukan di rumah. Aku ndak enak hati, Mas. Masa setiap hari ikut denganmu ke kantor? Bukannya memotivasi Mas Randy supaya lebih giat bekerja, eh malah memancing ha-srat Mas Randy. Aku benar-benar malu, Mas. Setiap karyawanmu mengetuk pintu dan ingin menyerahkan hasil pekerjaan mereka, kita malah tengah bercu-mbu."
"Ya suka-suka aku dong, Yang. Kantor-kantor aku. Jadi terserah aku mau ngapain."
"Ish, ish, ish, ndak elok seorang pemimpin perusahaan berpikiran seperti itu! Sebagai seorang CEO, Mas Randy harus profesional dalam bekerja! Beri contoh yang baik untuk para karyawan!"
"Tapi, Yang. Aku beneran nggak bisa jauh darimu. Hanya aroma tubuhmu dan sentuhan lembut tanganmu yang bisa menenangkan aku."
"Mas Randy semakin pinter ngegombal."
__ADS_1
"Iya dong, 'kan belajar dariku," sahut Ridwan yang tetiba muncul dari balik pintu.
"Rand, hari ini ada jadwal meeting dengan klien. Kau harus berangkat ke kantor sendiri tanpa membawa serta istrimu!" ucapnya kemudian.
"Aku akan tetap membawa istriku," keukeuh Randy sembari memeluk tubuh Derana.
"Ck, kau ini seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Dengar, Rand! Klien kita kali ini terkenal mata keranjang. Banyak wanita yang terjerat dengan pesonanya. Bukan hanya tampan dan kaya, dia juga memiliki ilmu pemikat. Kau nggak takut, jika istri tercintamu juga terjerat oleh pesonanya?"
"Aku nggak takut. Nggak mungkin istriku terjerat pesona Bambang Wintolo. Dera nggak seperti wanita lain yang mudah terjerat pria selain suami gantengnya ini. Lagi pula, wajahku lebih handsome bila dibandingkan dengan si Bambang."
"Ck, percaya diri sekali anda."
"Ya harus percaya diri. Karena kenyataannya, aku memang lebih handsome."
Derana menggeleng kepala dan melengkungkan bibir kala mendengar celotehan suaminya yang menggelitik indera pendengaran.
"Mas, segeralah berangkat! Nanti siang, aku akan menyusulmu ke kantor bersama putri kita."
"Nggak mau, Yang. Aku maunya Sayang berangkat denganku sekarang. Titik nggak pake koma!"
Randy semakin mengeratkan pelukan dan menaruh dagunya di bahu Derana.
"Wes, angel tenan," gumam Ridwan sambil menepuk dahinya yang lebar.
Derana terus merayu Randy agar segera berangkat ke kantor bersama Ridwan. Namun Randy tetap keukeuh dan enggan melepas pelukannya.
Sontak, Randy melepas pelukan saat putri kecilnya itu berlari ke arah mereka diikuti oleh Kartini.
"Mama. Ayo kita main!" ucap Malikha setelah menghentikan ayunan tungkainya.
"Iya, Sayang. Sebentar ya!" balas Derana diikuti seutas senyum yang membingkai wajah.
"Apa Papa manja lagi, Ma?"
"Huum. Papa manja lagi, Sayang. Coba sekarang, Likha nasehati Papa, ya!"
"Baiklah, Mama." Malikha mengangguk patuh dan melakukan perintah Derana.
"Papa jangan manja lagi! Papa 'kan udah gede. Masa nggak malu sama Likha?"
Randy tersenyum dan merengkuh tubuh mungil Malikha lalu didudukannya di pangkuan.
"Papa nggak manja kog, Sayang. Hanya saja, Papa sedang kurang enak badan dan obatnya dimanja sama Mama."
"Sama aja, Papa. Papa kalau sakit itu halus diobati dengan minum obat! Nggak boleh manja kalena Papa udah gede! Likha aja nggak manja kog. Kasihan dedek bayi yang ada di peyut Mama kalau Papa manja."
__ADS_1
"Maksud Likha apa? Siapa yang bilang di perut Mama ada dedeknya?" Randy bertanya heran diikuti tautan kedua pangkal alisnya.
"Nenek Kalti yang bilang, Pa. Kata Nenek Kalti, kalau Papa setiap pagi muntah dan nggak selela makan, itu tandanya di peyut Mama ada dedek bayi--dedeknya Likha."
Randy dan Derana saling melempar tatap. Kemudian keduanya kompak mengalihkan pandangan netra ke arah Kartini seolah meminta penjelasan.
"Anu, Tuan, Nduk Dera. Maaf atas kelancangan saya! Saya ndak bermaksud menjadi seorang cenayang dan asal menebak. Tapi saya merasa, Tuan Randy tengah mengalami morning sickness karena setiap pagi Tuan Randy muntah dan ndak selera makan. Untuk membuktikan ucapan saya, lebih baik Tuan Randy dan Nduk Dera segera menemui Dokter Khanza untuk berkonsultasi dan memeriksa kandungan. Insya Allah, Nduk Dera memang benar-benar hamil," tutur Kartini seraya menjelaskan.
"Kalau saya benar-benar hamil, kenapa malah Mas Randy yang mengalami morning sickness, Bu?"
Kartini mengulas senyum lantas menjawab tanya yang dilisankan oleh Derana. "Nduk, morning sickness itu bisa juga dialami oleh suami. Bagi laki-laki, morning sickness bisa menjadi salah satu gejala dariΒ sindrom couvade. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk kehamilan simpatik ketika suami mengalami gejala kehamilan seperti yang dirasakan oleh istri tanpa benar-benar hamil."
"Woahhhh, Simbok cerdas banget. Bisa menjelaskan tentang morning sikcness dan sindrom couvade," timpal Ridwan.
"Yang cerdas itu bukan saya, Mas. Tapi sahabat saya, Mbah Go-gel. Tadi pagi, saya bertanya ke Mbah Go-gel mengenai gejala morning sickness yang dialami oleh Tuan Randy. Dan Mbah Go-gel langsung menjawab dengan cerdas," balas Kartini diikuti senyum terkembang.
"Jika benar yang Mas Randy alami ini adalah morning sicknes, lebih baik ... kita segera ke Rumah Sakit ICPA, Mas!"
"Iya, Yang --"
"Tapi, bagaimana dengan meetingnya, Mas?"
"Nggak usah dipikirkan, Yang! Meetingnya bisa diundur atau diwakilkan oleh Ridwan."
"Iya, Mbak Dera. Nggak usah dipikirkan! Saya yang akan mengaturnya," sahut Ridwan menimpali percakapan Derana dan Randy.
"Terima kasih, Mas Ridwan."
"Sama-sama, Mbak Dera. Ya sudah, saya berangkat ke kantor sekarang. Saya doakan, semoga Mbak Dera benar-benar hamil."
Randy, Derana, dan Kartini mengamini doa tulus yang dilafazkan oleh Ridwan.
Seusai mengucap salam, Ridwan pun berlalu pergi.
Selepas kepergian Ridwan, Randy dan Derana beranjak dari posisi duduk.
Randy menyerahkan Malikha pada Kartini dan meminta wanita paruh baya itu supaya membawa putrinya ke taman belakang untuk bermain.
Kartini pun menuruti permintaan tuannya. Ia segera membawa Malikha ke taman belakang agar Randy dan Derana bisa segera berangkat ke Rumah Sakit ICPA--rumah sakit yang dibangun oleh Abimana dan Kirana (Istri Comel Pilihan Abi).
πΉπΉπΉπΉ
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. π
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan.
__ADS_1
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-Kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. ππππ