Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 54


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Di bawah naungan sinar Sang Dewi Malam, Randy dan Usman mengayun tungkai menuju kediaman Wijaya--menapaki jalan yang dipenuhi bebatuan dan ditumbuhi pepohonan rindang.


Randy terpaksa menitipkan mobilnya di halaman rumah orang tua Derana sebab roda kendaraan besinya itu tetiba saja bocor dan ia terlupa membawa ban pengganti.


Entah kebetulan atau sudah kehendak Sang Penulis Skenario, ban sepeda motor Usman pun bernasib sama dengan ban mobil milik Randy. Sehingga mau tidak mau, kedua pria berbeda generasi itu berangkat ke kediaman Wijaya dengan berjalan kaki.


Beruntung, jarak kediaman Wijaya tidak terlalu jauh dari rumah yang ditinggali oleh Usman dan keluarganya, sehingga mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai ke tempat tujuan.


Di sepanjang perjalanan, Randy dan Usman berbincang hingga tanpa terasa mereka telah sampai di kediaman Wijaya--Kepala Desa Janda.


"Alhamdulillah kita sudah sampai, Nak Randy," ucap Usman sembari menghentikan langkah dan Randy pun turut menghentikan ayunan tungkainya.


"Jadi, ini kediaman Pak Wijaya, Pak?"


"Iya, Nak Randy. Semoga, beliau belum sare (tidur)," tutur Usman seraya menjawab tanya yang dilisankan oleh Randy.


Usman lantas mengetuk pintu dan mengucap salam. Tanpa menunggu waktu lama, pintu pun terbuka diiringi balasan salam dari tuan rumah.


"Pak Usman, tumben datang ke gubug saya selarut ini? Kalau boleh saya tahu, panjenengan berdua (kalian berdua) ada keperluan apa?" Wijaya melisankan tanya dengan tutur katanya yang terdengar ramah.


"Begini Pak Wijaya, sebelumnya saya menghaturkan maaf, jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat Bapak. Sebenarnya, tujuan kedatangan kami selarut ini ingin merepoti Bapak --"


"Merepoti saya?" Wijaya kembali bertanya diikuti kerutan yang tercetak jelas di kedua pangkal alisnya yang sudah dipenuhi oleh uban.

__ADS_1


"Injih Pak. Saya ingin meminta tolong supaya Bapak berkenan mengijinkan Nak Randy untuk menginap di kediaman Pak Wijaya malam ini."


Wijaya membulatkan manik matanya dan menatap lekat-lekat wajah Randy--pemuda yang berdiri sejajar dengan Usman.


"Owh, jadi ananda ini ... Nak Randy? Kalau boleh saya tahu, ada hubungan apa Nak Randy dengan Pak Usman? Kerabat atau --"


"Nak Randy ini majikan Derana--putri saya, Pak. Sebenarnya, Nak Randy ingin langsung pulang ke kota malam ini. Namun karena kami khawatir jika di tengah jalan Nak Randy dihadang oleh begal atau klitih, kami meminta Nak Randy untuk bermalam di rumah kami. Selain itu, ban mobil milik Nak Randy tiba-tiba saja bocor dan kebetulan Nak Randy tidak membawa ban serep. Karena Nak Randy menolak bermalam di rumah kami, maka kami menawari Nak Randy untuk bermalam di kediaman Pak Wijaya," terang Usman--menjawab tanya.


Wijaya mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda bahwa ia mengerti maksud ucapan yang dilisankan oleh lawan bicaranya--Usman.


"Baiklah, saya mengijinkan Nak Randy untuk bermalam di gubug saya. Saya mengerti kenapa Nak Randy menolak bermalam di rumah Pak Usman. Pastinya, Nak Randy ingin menghindari persangkaan buruk dan kesalah fahaman yang mungkin akan timbul sebab di rumah Pak Usman ada dua perempuan yang bukan mahram--Derana dan Sukma," tebak Wijaya dan dibenarkan oleh Randy.


"Benar sekali, Pak. Saya memang ingin menghindari persangkaan buruk dan kesalah fahaman warga desa. Ditambah, suami Derana sedang tidak ada di rumah. Saya sungguh tidak ingin jika Farel--suami Derana berpikiran buruk terhadap Derana dan mengira kami mempunyai hubungan spesial," ujar Randy berterus terang.


"Saya sependapat dengan Nak Randy karena saya sangat tahu bagaimana sifat dan karakter Nak Farel. Kebetulan, dua cucu saya--Rafa dan Hastungkara juga bermalam di gubug saya. Nak Randy tidak keberatan 'kan jika tidur sekamar dengan Rafa?"


"Bagaimana, Nak Randy?" Usman ikut bertanya.


"Sebenarnya saya tidak keberatan, Pak. Hanya saja, di kediaman Pak Wijaya juga ada perempuan yang bukan mahram. Bagaimana pandangan warga desa jika saya menginap di kediaman Bapak? Apa mereka tidak akan berpikiran macam-macam terhadap saya dan Hastungkara?"


Wijaya terkekeh kala mendengar ucapan Randy. Ia pun lantas bertutur, "Nak Randy tidak usah mencemaskan hal itu! Insya Allah warga desa tidak akan berpikiran macam-macam. Seandainya ada yang berpikiran macam-macam terhadap Nak Randy dan Hastungkara, saya yang akan menjelaskan pada mereka."


Randy kembali terdiam dan sejenak berpikir sebelum mengutarakan keputusan.


"Baiklah Pak. Saya tidak keberatan. Tapi, bagaimana dengan Rafa? Dia keberatan tidak jika malam ini berbagi kamar dengan saya?" cecarnya setelah sesaat terdiam.


Wijaya mengulas senyum dan membalas perkataan Randy. "Insya Allah, Rafa tidak keberatan. Jika Rafa--cucu saya keberatan, Nak Randy bisa tidur di kamar saya dan saya bisa tidur di ruang tamu."

__ADS_1


"Lebih baik saya yang tidur di ruang tamu dari pada harus tidur di kamar Bapak. Tidak elok rasanya, jika saya membiarkan Bapak tidur di ruang tamu sementara saya bisa tidur dengan nyenyak di kamar Bapak. Jika Rafa keberatan, saya sungguh bersedia tidur di ruang tamu, Pak. Beralaskan tikar pun saya mau," ucap Randy bersungguh-sungguh dan sukses mencetak senyum di wajah renta Wijaya.


"Senyaman Nak Randy saja. Di mana pun Nak Randy ingin tidur, sumonggo kerso (terserah saja). Yang terpenting, jangan di kamar Hastungkara! Kalau Nak Randy ingin tidur di kamar Hastungkara, saya terpaksa meminta Nak Randy untuk menghalalkan cucu kesayangan saya itu malam ini juga," ujar Wijaya--melontarkan candaan diikuti gelak tawa.


"Semisal Bapak meminta saya untuk menghalalkan Hastungkara malam ini, saya sangat yakin ... Hastungkara tidak akan bersedia. Bahkan mungkin, dia akan menendang dan mengirim saya ke Planet Pluto, Pak." Randy mengimbangi candaan Wijaya dengan menyematkan seutas senyum.


"Saya tidak menyangka, ternyata Nak Randy bisa juga bercanda," sahut Usman disertai tawa yang mengudara.


Menit berikutnya--seusai tawa Wijaya dan Usman mereda, Usman kembali berlisan dengan disisipi candaan. "Alhamdulillah, saya merasa lega karena Pak Wijaya berkenan mengijinkan Nak Randy bermalam di sini. Untuk itu, saya mohon diri sebab ibunya Derana dan Sukma berpesan supaya saya ndak turut bermalam di kediaman Pak Wijaya. Istri saya itu berkata, ndak bisa tidur jika tanpa ditemani guling hidup."


"Wah, karena yang menjadi alasan Pak Usman adalah Bu Ratri, saya tidak bisa mencegah Pak Usman dan meminta panjenangan untuk turut bermalam di gubug saya. Bisa-bisa, Bu Ratri mengerahkan seluruh warga Desa Janda untuk menggulingkan saya dari jabatan Kepala Desa hanya karena saya menjauhkan Bu Ratri dengan guling hidup kesayangannya."


Usman dan Wijaya kembali mengudarakan tawa, sedangkan Randy hanya mengulas senyum setipis kertas.


Karena merasa tidak enak hati jika terlalu lama berada di kediaman Wijaya selarut ini, Usman pun undur diri dan mengucap salam sebelum mengayun tungkai--meninggalkan kediaman Wijaya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf baru bisa UP malam ini. 🙏🙏🙏


Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo 😉🙏


Setelah membaca tiap bab Cinta Untuk Derana, jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan 😉🙏


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2