Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 67


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Ranu terus memperhatikan pandangan netra Randy yang tak lepas dari wajah Derana. Ia semakin yakin jika putranya itu telah terpikat oleh pesona Derana--wanita berparas manis nan malang yang berasal dari Desa Janda.


Gelagat putranya saat ini, mengingatkan Ranu pada Reno, pria yang telah menyentuhkan bahagia di hidupnya.


Dua puluh delapan tahun silam, Reno--ayah Randy pun terpikat oleh pesona seorang wanita yang berasal dari Desa Janda. Wanita itu adalah Ranu--ibunda Randy.


Dengan ketulusan cintanya, Reno mampu meluluhkan hati Ranu yang semula beku. Dan dengan ketulusan cintanya pula, Reno berhasil menyembuhkan trauma yang dialami oleh Ranu--janda muda yang mampu memikat hatinya.


"Ehem --" Ranu sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi Randy yang sedari tadi tertuju pada Derana. Namun sayang, fokus Randy tetap tak teralihkan.


Ranu tak kurang akal. Ia lantas melontarkan kalimat sindiran dengan sedikit meninggikan intonasi suara sehingga tertangkap oleh indera pendengaran putranya.


"Rand, jaga pandangan, jaga hati! Jangan terlalu lama menatap seorang Hawa yang masih menjadi milik pria lain!"


Kalimat sindiran yang terlontar dari bibir Ranu mampu mengalihkan atensi Randy.


Duda muda berparas ganteng itu seketika membuang pandangan ke sembarang arah dan membenahi posisi duduk sebelum membuka suara.


"Siapa juga yang menatap Hawa, Bund? Di sini nggak ada Hawa, adanya Derana dan Bunda," sahutnya--berkilah.


"Ck, ck, pandai nian anak muda jaman now berkilah. Bunda perhatikan, pandangan netramu sedari tadi tertuju pada Hawa yang duduk di sebelahmu, Rand. Bukan pada menu sarapan yang tersaji di atas meja ataupun pada bunda. Kau pasti tahu, siapa Hawa yang bunda maksud."


Sekakmat. Ucapan Ranu sukses membungkam mulut Randy dan membuat putranya itu salah tingkah.


Sama seperti Randy, Derana pun terlihat salah tingkah.


Ingin rasanya, ia membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk lantas berlalu pergi dari hadapan Randy dan Ranu.


Kemudian membaur dengan Kartini dan Malikha yang tengah bermain di taman belakang. Namun rasa tak enak hati mengikatnya erat, sehingga tubuhnya tak kuasa untuk bergerak, apalagi beranjak.


"Sampai kapan kalian akan diam saja seperti ini dan menganggurkan nasi goreng yang sedari tadi sudah menunggu untuk dinikmati?" Ranu kembali melontarkan kalimat sindiran dan kali ini ia tujukan pada dua insan yang duduk di hadapannya. Siapa lagi jika bukan double R--Randy dan Rana.


Tidak ada sahutan dari Randy maupun Derana. Keduanya membungkam mulut rapat-rapat sembari memainkan sendok dan garpu di atas piring yang masih belum terisi.

__ADS_1


"Dera, ambilkan nasi goreng beserta lauknya untuk Tuan Randy!" titah Ranu memecah hening yang sejenak menyelimuti seisi ruang.


"Ba--baik, Nyonya." Derana mengangguk dan bersegera menunaikan perintah Ranu.


Dengan tangan gemetar, Derana mengambil piring kosong yang berada di hadapan Randy, lalu ia mengisinya dengan nasi goreng beserta lauk yang tersaji--telur mata sapi dan ayam goreng krispi.


Perlahan, Derana menaruh piring yang sudah terisi itu di hadapan Randy. Kemudian ia berganti mengisi piring milik Ranu, sebelum mengisi piringnya sendiri.


"Terima kasih, Dera --" ucap Ranu diiringi seutas senyum yang membingkai wajahnya yang masih terlihat cantik, meski tak lagi muda.


"Sama-sama, Nyonya," balas Derana tanpa terlupa menyematkan sebaris senyum.


Setelah melafazkan doa sebelum makan, ketiganya mulai menikmati menu sarapan yang tersaji.


Keheningan kembali menyelimuti seisi ruang. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring, menjadi nada pengiring.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ranu, Randy, maupun Derana sampai ketiganya menandaskan nasi goreng beserta lauk olahan Kartini yang terasa sangat lezat.


Usai menandaskan sarapannya, Randy meraih gelas berisi air putih, lalu meneguk airnya hingga tandas.


"Tuan, tamunya belum dimasukkan," cetus Derana sambil menunjuk pipi Randy dengan jari telunjuknya.


Randy mengerutkan dahi. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Derana.


"Tamu? Tamu apa?" tanyanya heran.


"Tamu yang menempel di pipi Tuan. Maksud saya ... nasi, Tuan. Di pipi Tuan ada nasinya --"


Refleks, Derana mengulurkan tangan dan mengusap pipi Randy dengan selembar tisu.


Perlakuan Derana yang terkesan sweet membuat Randy terkesiap. Ia sungguh tidak menyangka, Derana akan melakukan hal itu.


"Andai kalian pasangan halal, pasti adegan ini akan sangat sweet," gumam Ranu yang didengar oleh Randy dan Derana.


Sontak, Derana menjauhkan tangannya dan menundukkan wajah kala mendengar rangkaian kata yang digumamkan oleh Ranu.


Di dalam benak, ia merutuki dirinya sendiri yang telah lancang membersihkan nasi di pipi tuannya.

__ADS_1


"Maaf atas kelancangan saya, Tuan, Nyonya --" cicit Derana--penuh rasa sesal.


Ranu menarik kedua sudut bibirnya dan mengusap lembut punggung tangan Derana. "Tidak perlu meminta maaf, Dera! Lagi pula, kau tidak melakukan kesalahan."


"Oya, ngomong-ngomong, kapan kau akan kembali ke Desa Janda untuk mengurus proses perceraianmu dengan Farel, Nduk?" sambungnya--melisankan tanya.


"Insya Allah, setelah gaji saya terkumpul dan cukup untuk membiayai proses perceraian saya dengan Mas Farel, Nyonya."


"Mengenai biaya, kau nggak perlu terlalu memikirkannya, Dera! Berapapun biaya yang akan dikeluarkan, aku akan membantumu," sahut Randy--menimpali ucapan Derana.


Derana mengulas senyum lantas berkata, "terima kasih, Tuan. Tetapi maaf, saya sudah bertekad untuk membiayainya sendiri, tanpa membebani orang tua ataupun orang lain, khususnya Tuan Randy. Terus terang, saya ndak ingin terlalu berhutang budi pada siapapun. Prinsip saya, selama saya masih sanggup dan mampu, saya akan mengupayakannya sendiri --"


"Baiklah jika itu maumu. Aku nggak akan memaksa. Tetapi asal kau tahu, ketika aku mengulurkan tangan untuk membantu sesama, aku nggak pernah meminta balasan. Apalagi menagih hutang budi. Aku melakukannya ikhlas lillahi ta'ala, semata-mata hanya karena Allah. Bukan karena faktor lainnya atau pamrih--ingin mendapatkan sanjungan. Sama sekali bukan, Dera. Jadi, jika suatu saat nanti kau membutuhkan bantuanku atau bantuan orang lain, jangan pernah berpikir bahwa bantuan yang kami berikan adalah hutang yang membebanimu dan mesti kau bayar," ujarnya--memangkas rangkaian kata yang dilisankan oleh Derana.


Derana bergeming. Ia tak kuasa membalas ucapan Randy yang terdengar penuh penekanan.


Sepersekian detik kemudian, Ranu turut berlisan dengan menuturkan kata-kata bijak. "Bunda sependapat dengan ucapanmu, Rand. Bunda berharap, Dera tidak keberatan untuk menerima uluran tanganmu. Maksud bunda, bantuan darimu. Namun jika Dera memang sudah meneguhkan hati untuk tidak menerima bantuan darimu atau dari siapapun, kita hargai keputusan Dera. Lebih baik, kita membantu Dera dengan cara ... mengetuk pintu langit dan melafazkan pinta kepada Illahi, semoga semua permasalahan yang dihadapi oleh Dera segera dapat terselesaikan --"


Ucapan Ranu terpangkas saat terdengar suara teriakan Kartini. "Tuan, Nyonya, Non Malikha --"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. 😉🙏


Sambil menunggu UP Cinta Untuk Derana, yuk mampir ke karya author yang sudah end 😘



Bagi para pembaca setia yang bertanya-tanya, kenapa covernya diganti lagi, Thor?


Jawabnya, karena Mimin Ntun yang menggantinya. 😉


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2