Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 51


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Mas Rafa --" Hastungkara berteriak dan berlari ke arah Rafa. Namun karena kurang berhati-hati, kakinya tersandung sepatu yang dikenakan oleh Ranu. Beruntung, Rafa dengan sigap menangkap tubuh adiknya yang hampir limbung.


"Duh, Dek. Kau selalu sukses membuat mas-mu ini senam jantung. Untung kau nggak jatuh, Dek. Kalau jatuh, pasti hidungmu semakin mancung ke dalam," ucap Rafa seraya melontarkan candaan dan membuat Hastungkara mencebikkan bibir.


"Ish, Mas Rafa kalau ngomong suka ben --"


"Sudah jam sembilan malam, lebih baik kita berangkat sekarang!" Randy memangkas ucapan Hastungkara lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Ck, dasar manusia kutub menyebalkan," ujar Hastungkara sambil menghentakkan kaki. Kemudian ia menyusul Randy--masuk ke dalam mobil.


"Heh, siapa yang mengijinkanmu duduk di sini?" sentak Randy saat Hastungkara mendaratkan bobot tubuh di sampingnya.


Hastungkara merotasikan bola mata dan menepuk dahinya. Ia baru menyadari jika telah salah masuk ke dalam mobil Randy, bukan mobil yang dibawa oleh Rafa--kakaknya.


"Astogeh, aku salah masuk," gumamnya. Namun didengar oleh Randy.


"Bilang saja kalau kau ingin duduk di sebelahku! Aku akui, meski aku seorang duda, tapi pesonaku mampu menjerat kaum Hawa, tak terkecuali kau," tukas Randy dengan kepercayaan diri tingkat dewa.


Setiap berhadapan dengan Hastungkara, Randy selalu terpancing untuk mengeluarkan suara. Ia merasa puas jika berhasil membuat Hastungkara kesal dan melontarkan kata-kata yang terdengar menggelikan.


"Ck, percaya diri sekali anda. Meski semua orang mengatakan bahwa wajah anda gantengnya se-angkasa raya, aku nggak bakal terjerat. Yang bisa menjeratku hanya satu Adam. Dia Mas Zain. Pria tertampan sejagad jiwa," tandas Hastungkara lantas membawa tubuhnya beranjak dari posisi duduk tanpa memperdulikan ekspresi wajah Randy. Kemudian ia berpindah masuk ke dalam mobil milik Rafa.


"Kog pindah, Dek?" Rafa bertanya heran saat Hastungkara masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sebelah kemudi.


"Tadi salah masuk, Mas."


"Owh, mas kira ... kau memang ingin menumpang di mobil Randy, Dek."


"Nggak lah, Mas. Tadi, Rara benar-benar salah masuk."


"Kog bisa, Dek?"


"Mungkin mata kaki Rara lagi belekan, Mas. Jadi, asal melangkah dan malah membawa tubuh Rara masuk ke dalam mobil si manusia kutub," jawabnya asal dengan memasang raut wajah kesal.

__ADS_1


"Bukan karena kau --"


"Stop interviewnya, Mas! Mobil di depan sudah berjalan noh!" Hastungkara memotong ucapan Rafa dan menunjuk ke arah depan dengan gerakan dagunya.


"Siap Bos." Rafa menarik kedua sudut bibirnya dan mengacak jilbab Hastungkara--gemas. Lalu ia mulai melajukan mobilnya, mengikuti mobil yang dikendarai oleh Randy.


Tanpa terasa, dua jam telah berlalu. Mobil yang dikendarai oleh Randy, Rafa, dan Reno ... sampai di depan gerbang Pondok Pesantren Al Mizan.


Beberapa santri menyambut kedatangan Randy beserta rombongan. Kemudian memandu mereka untuk masuk ke dalam pondok.


Setelah menaruh mobil di parkiran, Randy dan rombongan dipersilahkan untuk masuk ke rumah utama--tempat tinggal Kyai Hasan beserta istri dan putrinya.


"Assalamu'alaikum, Kyai." Randy mengucap salam dan mencium punggung tangan Kyai Hasan dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam, putraku." Kyai Hasan menerbitkan senyum dan mengusap punggung Randy--putra angkatnya. Lalu ia mempersilahkan Randy beserta rombongan untuk duduk di atas tikar.


"Zahra, buatkan teh nasgitel gula batu untuk tamu-tamu kita!" titah Kyai Hasan pada putrinya--Zahra.


"Njih, Abi." Zahra mengangguk patuh dan bergegas menunaikan perintah sang abi.


"Begini Kyai, tujuan kami berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mizan malam ini ... untuk menemui Kyai. Tepatnya, ada hal penting yang ingin kami sampaikan kepada Kyai. Selain itu, kami juga bermaksud untuk bersilaturahim," tutur Randy seraya menjawab kalimat tanya yang dilisankan oleh Kyai Hasan.


Randy lantas menceritakan permasalahan yang tengah dihadapi oleh Derana dan keluarganya. Ia meminta agar Kyai Hasan memberikan saran supaya permasalahan yang tengah dihadapi oleh Derana dan keluarganya itu bisa segera terselesaikan.


Kyai Hasan meraup udara dalam-dalam dan sekejap memejamkan netra. Tampak pria paruh baya itu tengah berpikir sebelum kembali berlisan.


"Segala permasalahan yang tengah dihadapi oleh Derana dan keluarganya merupakan ujian dari Allah sebagai wujud rasa cinta-Nya. Allah menyentuhkan ujian kepada hamba-Nya bukan tanpa sebab. Sesungguhnya, Allah tengah rindu kepada hamba-Nya. Dia ingin agar hamba yang dikasihi dan dirindukan-Nya itu mendekatkan diri dengan cara menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya." Kyai Hasan menjeda ucapannya dan menatap lekat wajah Derana.


"Nak Dera, perbanyaklah dzikir di malam hari! Perbaiki ibadahmu! Tunaikan puasa sunah agar hati dan jiwamu menjadi bersih! Berpikirlah positif karena apa yang terjadi itu sesuai dengan apa yang kamu pikirkan!" sambungnya diikuti seutas senyum.


"Iya Kyai, saya akan menunaikan apa yang dituturkan oleh Kyai Hasan. Lalu, bagaimana cara menyadarkan ibu saya, Kyai?"


"Sepulang dari pondok kami, temuilah ibumu! Namun sebelumnya, sucikan badanmu terlebih dahulu dengan air wudhu! Kemudian, peganglah pucuk kepalanya dan bacakan ayat-ayat suci Al Qur'an! Insya Allah, jin jahat yang bersemayam di dalam tubuh ibumu akan pergi. Jangan takut dan yakinlah bahwa kebatilan akan terkalahkan!" tutur Kyai Hasan seraya menjawab tanya yang terlisan.


"Njih Kyai, sepulang dari pondok ini saya akan langsung menunaikan perintah Kyai."


"Insya Allah, saya akan membantumu dari pondok dengan cara melafazkan dzikir dan melangitkan pinta pada Illahi."

__ADS_1


"Matur nuwun, Kyai."


"Berterima kasihlah kepada Allah, Nak Dera! Karena kasih sayang-Nya, Nak Dera dipertemukan dengan Nak Randy dan orang-orang yang berhati baik."


"Injih Kyai. Mohon doanya, Kyai ... semoga ikhtiyar kami untuk menyelesaikan permasalahan keluarga kami diberi kemudahan oleh Allah," pinta Derana penuh harap.


"Tentu, Nak Dera. Saya akan mengajak para santri untuk mendoakan Nak Dera sekeluarga dan juga Nak Farel beserta keluarganya. Semoga Nak Farel dan keluarganya segera diberi hidayah oleh Allah SWT, sehingga mereka akan kembali ke jalan yang benar," tutur Kyai Hasan bijak.


Rasa haru menyentuh relung hati hingga tanpa terasa Derana menitikan air mata kala mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Kyai Hasan.


"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, Engkau telah mempertemukan hamba dengan orang-orang yang sangat baik dan tulus, sehingga cobaan yang Engkau sentuhkan ... kini terasa ringan," lirih Derana sembari mengusap air mata yang membasahi wajah.


"Monggo diminum dulu teh nasgitelnya!" Suara lembut Zahra mengalihkan perhatian, sehingga semua atensi tertuju padanya.


"Zah-ra --" ucap Rafa ragu. Ia merasa tidak asing dengan suara Zahra--putri Kyai Hasan.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Derana versi asli:


Derana di dunia nyata menjalankan puasa mutih dan melafazkan doa yang diberikan oleh kakeknya untuk menghilangkan ilmu sihir yang dihembuskan oleh keluarga suaminya.


Jika ada yang bertanya, apa sih puasa mutih itu?


Menurut artikel yang pernah author baca, puasa mutih adalah puasa di mana seseorang tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan selain yang berwarna putih.


Menurut pandangan orang Jawa (di masa lalu), puasa mutih mampu untuk membersihkan hati, jiwa, dan energi-energi yang jahat maupun negatif.


Pelaksanaan puasa mutih pun tidaklah bisa sembarangan. Tetapi ada yang mendampingi, yakni seorang guru maupun sesepuh yang akan membimbing proses puasa tersebut. Bahkan ada waktu maksimal pelaksanaannya.


Segini dulu Up nya Kakak-kakak terlove, authornya mau bocan 😉🙏


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏

__ADS_1


__ADS_2