
Happy reading 😘😘😘
"Akh Tuan --" Derana berteriak saat tanpa sengaja menabrak tubuh tegap sang majikan. Hampir saja ia limbung sebab sepasang kakinya tak mampu menopang tubuh mungilnya.
Beruntung, Randy dengan sigap mengulurkan tangan kekarnya untuk menopang tubuh mungil Derana yang hampir limbung.
Sementara tangan Derana refleks melingkar di leher Randy. Sungguh pemandangan yang tersaji saat ini membuat Ridwan dan kaum jomblo merasa iri hingga gigit jari.
Namun bagi sebagian Kakak-kakak terlove yang selalu mengawal kisah ini, mungkin tengah senyam-senyum sendiri dan berhalu tingkat dewi.
Seperti Derana di kehidupan nyata dan sang penulis kisah saat ini. 😍
Okey, lanjut ke cerita ....
Keheningan seketika menyelimuti seisi ruang saat dua pasang jendela hati saling mengunci. Hanya terdengar hembusan nafas hangat yang keluar dari indera penciuman sepasang anak Adam bersamaan degup jantung yang terdengar merdu, semerdu suara orkestra alam di malam ini.
Keduanya saling terpana menikmati pahatan yang teramat indah dan tanpa cela maha karya Sang Pencipta.
Dengan lancangnya kalbu mereka melafazkan kekaguman seiring gelenyar aneh yang tak mampu dijabarkan dengan rangkaian kata.
"Ehem --" Suara deheman menyadarkan Randy dan Derana dari mode terpana. Keduanya tampak salah tingkah saat menyadari posisi tubuh mereka saling bersentuhan.
Sontak, Randy dan Derana menarik tangan dan saling menjauhkan tubuh.
"Eng ... maaf Tuan." Derana berucap lirih sembari menundukkan wajah. Ia merasa amat malu untuk sekedar memperlihatkan wajah manisnya yang terlukis rona merah.
"Hmm." Randy menanggapi ucapan Derana--wanita berparas manis yang mampu membuatnya terpana dengan mengeluarkan suara yang teramat singkat--menyerupai dengungan seekor lebah.
"Cie ... cieeeee. Dugaanku benar 'kan Bro? Posisi Amel di hatimu sudah digantikan oleh Mbak Dera. Itu sebabnya sikapmu berubah tenang saat aku menyinggung kebusukan mantan istrimu. Hah, demi sahabat ... aku mengalah dan mundur alon-alon. Aku ikhlas jika kau menginginkan Mbak Dera menjadi ibu sambung Malikha. Tapi kau harus ingat! Status Mbak Dera masih istri orang. Sabarlah menunggu sampai Mbak Dera dan suaminya resmi bercerai!"
Celotehan Ridwan yang panjang kali lebar membuat Randy merasa kesal. Ia pun berdecak dan berlisan kata dengan sedikit meninggikan intonasi suara.
"Ck, jangan asal bicara!"
__ADS_1
Ridwan menarik sudut bibirnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Lantas dengan lantangnya ia membalas ucapan sang atasan. "Hey Bro, aku bicara sesuai fakta yang terlihat. Mungkin, kau dan Mbak Dera bisa menyangkal. Tapi, binar mata kalian nggak bisa berdusta --"
"Jangan sok tahu dan jaga bicaramu! Jika mulutmu itu masih asal bicara, aku nggak akan segan-segan memotong gajimu seratus persen." Randy melontarkan kalimat ancaman disertai sorot mata mengintimidasi sehingga sukses membungkam mulut Ridwan dan membuat pria berlesung pipi itu bergidik ngeri.
Pandangan Randy beralih pada Derana. Saat wajah manis Derana memenuhi ruang pandang, degup jantung duda muda berparas ganteng itu terdengar bertalu-talu.
Randy berpikir, jantungnya tengah bermasalah. Ia tidak menyadari bahwa penyebab jantungnya bermasalah itu adalah rasa yang indah. Rasa yang Illahi berikan sebagai anugerah.
Sebelum kembali membuka suara, Randy menormalkan degup jantungnya dengan meraup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia teramat gengsi sekaligus malu jika suara degup jantungnya didengar oleh Derana.
"Lain kali, kau harus berhati-hati! Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi!" titahnya dengan memasang raut wajah datar tanpa ekspresi.
Derana mengangguk dan membalas ucapan Randy tanpa berani menatap wajah rupawan majikannya itu. "Iya Tuan. Saya berjanji akan lebih berhati-hati."
Sama seperti Randy, degup jantung Derana terdengar bertalu-talu. Derana pun mengira, jantungnya tengah bermasalah dan harus segera diobati sebab ia tidak ingin mati di rumah orang yang telah berbaik hati.
Mungkin jika ia mati di rumah Randy, Farel akan meyebarkan fitnah yang sangat keji sehingga seluruh keluarganya akan menyalahkan sang majikan tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan apa yang ingin kau sampaikan!"
"A-nu apa? Kenapa kau suka sekali berkata a-nu? Nggak adakah kata lain yang lebih sopan dan manis selain a-nu?"
Ridwan yang sedari tadi membungkam mulutnya sebab takut dengan ancaman yang dilontarkan oleh Randy, kini tak mampu menahan tawa kala mendengar kalimat tanya yang mengalir deras dari bibir sahabatnya itu.
Otak Ridwan yang o-mes langsung mengartikan bahwa kata a-nu adalah kata yang bermakna tabu. Kata untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan ritual sepasang kekasih di atas ranjang.
"Pfffttt ... hhahha. Haduhhh, Rand. Umurmu sudah 27 tahun dan kau sudah pernah berumah tangga, masa nggak bisa mengartikan kata a-nu? Hey Bro, Mbak Dera itu ngasih kode. Dia bilang a-nu sebab ingin a-nu sama kamu."
"Ck, ngomong yang jelas! Jangan ona a-nu, Wan! Kalau kau bisa mengartikan ucapan Derana, jelaskan padaku!"
"Ehem." Ridwan berdehem dan menghela nafas panjang sebelum menuruti perintah Randy. Dengan kepercayaan diri tingkat dewa, ia pun menjelaskan kata a-nu yang dimaksud oleh Derana menurut definisi yang ia yakini.
Seusai Ridwan menjelaskan kata a-nu, Derana menggeleng kencang. "Bu-bukan itu maksud saya Tuan. Mas Ridwan salah faham."
"Masa sih Mbak?"
__ADS_1
"Sumpah demi Allah, bukan itu maksud saya Mas --"
Ridwan tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa sangat malu karena dengan PD-nya menjelaskan kata a-nu sesuai definisinya sendiri yang ternyata salah kaprah menurut Derana.
Sementara Randy, wajah pria itu terlihat memerah. Bukan memerah karena amarah. Namun karena rasa malu yang telah menjalar sampai ke ubun-ubun.
Dengan tanpa sopan, otaknya langsung travelling ketika Ridwan menjelaskan definisi a-nu.
Sungguh memalukan. Bisa-bisanya aku tertular virus piktor--makinya di dalam hati.
"Aku sudah bilang berkali-kali ... jangan asal bicara! Kau tahu 'kan akibatnya jika asal bicara?" Randy menutupi rasa malu yang tengah menghinggapinya dengan melontarkan kata-kata bernada tinggi sehingga suara baritonnya terdengar menggelegar dan membuat para cicak yang tengah bercengkrama seketika jatuh ke lantai.
"Ma-maaf Rand! Aku janji nggak akan mengulanginya lagi." Ridwan memberanikan diri menatap wajah Randy dan mengangkat kedua jarinya--membentuk huruf V.
"Kau sering mengucapkan janji yang sama. Tapi, kau juga sering mengingkarinya. Haruskah aku benar-benar membuktikan ancamanku agar kau memenuhi janjimu?"
"Ja-jangan Randy! Please, jangan memotong gajiku seratus persen! Jika kau memotong gajiku, bagaimana aku bisa mencukupi kebutuhan hidupku bulan depan? Kau pasti nggak tega 'kan jika sahabatmu terkasih kembali menjadi gelandangan?"
Ridwan terus mengiba dan bersimpuh di kaki Randy. Namun Randy tak acuh dan bersiap mengayunkan tungkai.
Namun sebelum tungkainya terayun, Derana mencegah. "Tunggu, Tuan! Ta-di saya hanya ingin menyampaikan bahwa kedua orang tua Tuan dan seorang wanita cantik, ingin bertemu dengan Tuan. Sekarang, mereka sedang menunggu Tuan di bawah --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 😊🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. 😉🙏🙏
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏
Sambil menunggu UP Cinta Untuk Derana, Kakak-kakak bisa mampir di karya author yang sudah end 😉
__ADS_1