
Happy reading 😘😘😘
Malikha menyambut kedatangan papa dan baby sitternya dengan senyum merekah diikuti rentangan tangan.
Bayi berusia delapan bulan itu melonjak kegirangan saat sang papa mengulurkan tangan lantas menggendongnya dan membawa tubuh mungilnya ke dalam dekapan.
"Pa-pa, Ma-ma, ma-ma," celoteh Malikha sambil menunjuk Derana dengan jarinya yang mungil.
"Ma-ma. Bubu-bubu," sambungnya.
Di usia delapan bulan, Malikha--putri semata wayang Randy sudah pandai berbicara. Meski kata-kata yang ia ucapkan belum terlalu jelas. Namun bisa dimengerti oleh kedua pengasuhnya--Derana dan Kartini.
Selain pandai berbicara, bayi cantik nan lincah itu juga sudah bisa berdiri dan merangkak. Sehingga Randy merasa teramat bersyukur sebab dikaruniai seorang buah hati yang pandai, cerdas, dan sehat.
"Ma-ma. Bu-bu." Malikha mengulang celotehannya.
"Ngomong apa sih anak papa yang comel? Papa jadi gemes, pingin nyium." Randy melabuhkan kecupan lama di pipi tembam Malikha sehingga kumis tipisnya membuat sang putri tertawa kegelian.
"Ma-ma, bu-bu," celoteh Malikha lagi dengan mengulurkan tangan mungilnya ke arah sang baby sitter.
Derana yang mengerti bahasa tubuh Malikha pun lantas membalas uluran tangan dan mengambil bayi cantik itu dari gendongan Randy.
Malikha kembali melonjak kegirangan, kemudian meyapu wajah Derana dengan kecupan sayang.
"Ma-ma, bu-bu. Ma-ma, bu-bu."
Derana menerbitkan senyum lalu melabuhkan kecupan di kening dan kedua pipi tembam Malikha.
"Non Likha mau bobo siang?" tanyanya kemudian.
Malikha menanggapi pertanyaan Derana dengan mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum nyengir--memamerkan dua gigi putihnya.
"Non Likha sudah maem dan minum susu belum? Kalau belum, sebelum bobo siang, Non Likha mamam dan minum susu dulu ya!"
"Non Malikha sudah makan dan minum susu, Nduk. Tadi yang nyuapin Nyonya Ranu," timpal Kartini--menyahut ucapan Derana.
"Loh, tadi bunda ke sini, Mbok? Sama ayah nggak?" sahut Randy.
"Dari kemarin, Nyonya Ranu menginap di rumah ini, Tuan. Nyonya Ranu datang sendiri, karena Tuan Reno sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan proyek yang sempat tertunda beberapa waktu lalu. Tadi, Nyonya Ranu pamit ke swalayan. Beliau bilang, nanti akan kembali lagi ke rumah Tuan Randy," terang Kartini--menjawab tanya.
"Mmm, saya pamit dulu, Tuan! Mau menina bobokan Non Likha," pamit Derana menginterupsi.
"Silahkan, Dera!"
Derana sedikit membungkukkan badan seraya memberi hormat pada tuannya. Kemudian ia memutar tumit dan membawa langkahnya menaiki anak tangga--menuju kamar Malikha.
"Mbok, saya mau istirahat dulu. Nanti kalau bunda sudah kembali, beritahu saya!" titahnya.
__ADS_1
"Njih siap 86, Tuan," balas Kartini sembari menegakkan badan dan melakukan sikap hormat.
.....
Mesin waktu berputar begitu cepat. Tanpa terasa, Sang Dewi Malam telah tiba menggantikan posisi Sang Raja Siang yang beberapa menit lalu kembali ke peraduan diiringi lantunan tasbih cinta para penduduk bumi.
Sama seperti para hamba yang merindu dekap kasih Tuhannya, Randy, Ranu, Derana, dan Kartini mensucikan diri dengan air wudhu, sebelum menunaikan ritual ibadah sholat fardhu untuk menumpahkan kerinduan dan sebagai wujud penghambaan insan kepada Robb-nya.
Di tempat yang berbeda, Farel tampak meringis dan merintih karena rasa ngilu di kaki kanannya semakin menjadi.
Karena rasa ngilunya itu, Farel tidak sanggup melanjutkan perjalanan--menuju Desa Ringin yang letaknya masih sangat jauh dari pusat kota--tempat ia berada saat ini.
Inginnya menghadang taxi atau memesan ojek online, tapi sayang ... tas berisi dompet dan handphonenya terbawa Suci. Ia berpikir, tidak ada pilihan lain untuk kembali ke Desa Ringin, selain membawa tubuhnya dengan cara ngesot.
Beruntung, seorang driver Go-Success datang menolong dan berniat membawanya ke rumah sakit. Namun Farel menolak dibawa ke rumah sakit dan meminta driver tersebut untuk mengantarnya ke kediaman keluarga Atmajaya yang berada di Desa Ringin.
Meski terselip rasa ragu, Kiyhosi--driver GO Success itu menyanggupi permintaan Farel.
Berbekal doa yang terlafaz di dalam benak, Kiyhosi melajukan sepeda motornya--menembus kegelapan hutan.
Tak lupa, Kiyoshi mengucap salam setiap berpapasan dengan penjaga hutan tersebut.
Farel menepuk pundak Kiyhosi dan memintanya untuk menghentikan laju sepeda motor tatkala sampai di halaman rumah.
"Sudah sampai ya, Mas?" tanya yang terlisan dari bibir Kiyhosi.
"Alhamdulillah. Mari saya bantu, Mas!" Kiyhosi membawa tubuhnya turun dari sepeda motor lalu mengulurkan tangan untuk membantu Farel.
Kemudian kedua pria itu berjalan perlahan menuju teras rumah.
Sesampainya di teras, Farel berteriak memanggil ibu, ayah, dan kakeknya.
Tanpa menunggu waktu lama, terdengar suara dari dalam rumah diikuti derit pintu terbuka.
"Farel --" ucap Arimbi sedikit berteriak.
"Bu --"
"Apa yang terjadi padamu, Le Cah Bagus?" Atmajaya turut bersuara.
"Panjang ceritanya, Kek. Intinya, semua ini gara-gara Derana. Wanita sialan itu bermesraan dengan seorang pria muda di depan mataku. Dia juga menertawakan kakiku yang cacat. Setelah puas menertawakanku, dia berlalu pergi tanpa menghiraukan aku yang jelas-jelas masih berstatus sebagai suaminya," jawab Farel dibumbui dusta.
Arimbi tampak murka kala mndengar jawaban yang terlontar dari bibir putranya. Giginya gemeretak diikuti kepalan tangan--seolah bersiap melayangkan bogem mentah.
"Dasar wanita ja-lang! Kurang ajar sekali dia. Awas saja jika dia kembali ke rumah ini, aku pastikan dia ndak akan bisa melarikan diri. Aku harus memberinya pelajaran, biar wanita udik itu ndak berani lagi bertingkah," sarkas Arimbi yang membuat Kiyoshi bertanya-tanya di dalam hati.
Sebenarnya, siapa Derana? Mengapa sepertinya, keluarga Mas Farel sangat membencinya? Atau jangan-jangan, ada yang nggak beres dengan keluarga ini. Monolog Kiyhosi di dalam hati.
"Sudahlah, Arimbi! Kendalikan emosimu! Lebih baik, kita ndak usah lagi berurusan dengan Derana dan keluarganya! Kalau perlu, Farel dan Derana segera bercerai. Satu dukun sudah menjadi korban. Jangan menambah korban lagi! Cukup Wira saja yang mengorbankan nyawanya demi membantu kita. Ketahuilah, Derana dan keluarganya tengah dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki ilmu dan kekuatan linuwih. Kita ndak bisa melawan mereka. Mengalah bukan berarti kalah. Tetapi mengalah demi menyelamatkan nyawa keluarga kita dan untuk mewujudkan ambisi yang sempat tertunda," tutur Atmajaya dengan suaranya yang terdengar lantang. Ia terlupa bahwa di tengah-tengah mereka ada seorang pria asing yang mendengar setiap kata yang terlisan dari bibirnya.
__ADS_1
"Tapi Kek, aku ndak ingin bercerai dengan Derana. Aku ndak rela jika Derana bahagia di atas penderitaanku --"
Atmajaya memangkas ucapan Farel dengan mengibaskan tangan ke udara dan melayangkan tatapan tajam.
"Cukup! Lepaskan Dera! Kau sudah mempunyai Suci yang bakal memberi kita keturunan, Rel. Jika Dera meminta bercerai denganmu, biarkan dia mengurus sendiri proses perceraian kalian. Kita ndak usah menghalangi apalagi membantu."
Farel bergeming, begitu juga Arimbi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sisi hati Farel membenarkan ucapan Atmajaya. Namun sisi hatinya yang lain, menolak titah sang kakek yang memintanya untuk melepas Derana.
Sesaat, suasana berubah hening. Hanya terdengar gesekan ranting diiringi suara binatang malam dan de-sah sang bayu.
"Tolong bawa cucu kakek masuk ke dalam ya, Le Cah Bagus!" pinta Atmajaya pada Kiyoshi seraya memecah hening.
Kiyhosi mengangguk patuh dan menuruti permintaan Atmajaya.
Dipapahnya Farel sampai di ruang tamu. Lantas didaratkannya tubuh Farel di atas sofa bludru berwarna merah maroon.
"Terima kasih, Le. Ini sedikit uang dari kami sebagai ungkapan terima kasih karena sampeyan telah menolong Farel," tutur Atmajaya sembari menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah.
Bukannya menerima uang tersebut, Kiyhosi malah menolaknya. Namun dengan tutur kata yang santun.
"Maaf Kek, bukannya saya menolak rejeki yang diberikan oleh Kakek. Tapi terus terang, saya menolong Mas Farel karena rasa empati dan tanpa mengharap imbalan apapun. Karena sudah larut malam, saya permisi, Kek. Insya Allah jika di lain waktu saya dapat orderan di Desa Ringin, saya akan mampir ke rumah Kakek untuk bersilaturahmi."
Atmajaya menarik kedua sudut bibirnya lantas berkata, "Yasudah kalau sampeyan ndak mau menerima uang ini. Kakek tunggu kedatangan Nak Mas di kediaman kami. Jika Nak Mas membutuhkan bantuan paranormal, khususnya ingin menaklukkan seorang gadis yang Nak Mas taksir, dengan senang hati ... kakek bersedia membantu."
Kiyoshi menerbitkan senyum dan mengangguk pelan. "Terima kasih atas tawaran Kakek. Saya pamit Kek, Bu, Mas Farel."
"Iya Mas, hati-hati ketika melewati Hutan Larangan! Di sana banyak dedemit," sahut Arimbi seraya menasehati.
"Injih, Bu. Saya akan berhati-hati. Assalamu'alaikum," ucap Kiyhosi sambil sedikit membungkukkan badannya. Namun ketiga tuan rumah tidak membalas salam yang diucapkan oleh pemuda bertubuh gagah itu.
Kiyoshi lantas memutar tumit dan keluar dari kediaman Atmajaya.
Di dalam kalbu, ia melangitkan pinta saat indera penglihatannya menangkap sesosok makhluk tak kasat mata tengah bertengger di atap rumah dan melempar tatapan membunuh ke arahnya.
Audzubikalimatillahi tammati min syarri maa khalaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan ciptaan-Nya.
Ya Allah, jagalah dan lindungi hamba. Serta, berikan petunjuk dan hidayah kepada keluarga Mas Farel, agar mereka kembali ke jalan-Mu yang lurus ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. 😉🙏
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana 😘🙏
__ADS_1