
Assalamu'alaikum .....
Hai, hai .....
Apa kabar Kakak-kakak terkasih? Ada yang kangen nggak ya? π
Alhamdulillah, wasyukurillah, setelah lebih dari satu bulan hiatus, saya--Ayuwidia diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali menyapa dan bertemu dengan Kakak-kakak terkasih.
Mumpung masih di dalam suasana lebaran, saya mengucapkan, "Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Semoga kita semua dikaruniai kesucian di hari kemenangan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H. Mohon maaf lahir dan batin." ππ
Berikut saya selipkan bab pertama novel terbaru yang insya Allah akan rilis di awal bulan Mei.
Semoga novel tersebut bisa menghibur, mendatangkan manfaat, dan diterima oleh Kakak-kakak terkasih. Aamiin yaa robbal allamiin.
Naya dan Danish, dalam kisah ....
TERJERAT PESONA USTAZ MILENIAL
Bab. 1 Nikah Yuk!
Happy reading π
Sudah hampir satu jam Naya berjalan menembus kegelapan malam dengan hanya berbekal alas kaki dan pakaian yang dikenakannya saat ini.
Ia terus mengayun langkah tanpa tahu arah tujuan yang pasti.
Di sela-sela ayunan kakinya, Naya bermonolog dan merutuki dirinya sendiri yang terlupa membawa gawai kesayangannya.
"Sial! Dasar pikun, bodoh, ceroboh!" Naya menendang kaleng minuman yang tergeletak di jalan dengan sekuat tenaga sebagai pelampiasan kekesalannya.
Kaleng minuman itu terbang dan sialnya mendarat cantik di kepala seorang pria yang sedang menikmati minuman syaiton bersama teman-temannya. Sebut saja dia Jefry. Bukan Jefri Nichole atau Jeffry Reksa, melainkan Jefry Botak.
Jefry mengaduh sambil mengusap kepala botaknya yang benjol menyerupai bentuk lato-lato. Ia mengumpat dan mengabsen semua penghuni kebun binatang dengan berteriak.
Beruntung para penghuni kebun binatang tidak mendengar teriakan Jefry. Andai mereka mendengarnya, mungkin saja mereka akan datang dan meminta salam tempel pada Jefry karena saat ini masih dalam suasana lebaran.
"Woey! Sapa yang udah berani ngelempar pala gue pake kaleng? Awas aja! Kalau lu cewe, gue bakal jadiin lu istri kelima gue. Tapi kalo lu laki, gue bakal gebugin lu tanpa ampun. Kalo perlu gue patahin kaki lu, biar lu kaga bisa jalan!" Jefry melontarkan ancaman. Ia beranjak dari posisi duduk, lalu mengedar pandangan ke segala arah sambil berkacak pinggang.
"Itu noh orangnya, Jef!" Salah seorang teman Jefry mengacungkan jari telunjuknya ke arah Naya. Sebut saja dia Edwin. Anak seorang pejabat, tetapi kelakuannya sukses membuat kedua orang tuanya sering mengusap dada dan melafazkan istighfar.
Sontak, Jefry membuang pandangan netranya ke arah objek yang ditunjuk oleh Edwin. Manik mata pria berkepala botak itu seketika berbinar saat indera penglihatannya membentur wajah cantik Naya.
"Woah, cantik bener calon jodoh gue! Cocok banget kalo gue jadiin bini kelima." Jefry bermonolog dan menarik salah satu sudut bibirnya. Ia lantas membawa langkahnya mendekat ke arah Naya.
"Hiii. Gilani! Nggak sudi aku kalo beneran dijadiin bini kelimanya si botak." Naya bergidik ngeri. Terbayang olehnya jika Jefry benar-benar menjadikannya sebagai istri kelima.
__ADS_1
Sebelum Jefry tiba di hadapan, Naya bergegas melepas alas kaki, lalu berlari dengan sangat kencang tanpa menghiraukan teriakan Jefry.
"Woey! Tunggu, Yang! Jangan lari!" pinta Jefry pada Naya. Ia memaksakan diri berlari mengejar Naya meski kepalanya terasa sangat pening karena pengaruh minuman syaiton yang tadi dinikmatinya.
Sementara Edwin dan teman-teman Jefry yang lain, hanya menyaksikan sambil meneguk minuman syaiton yang masih tersisa.
"Kejar cewe lu, Jef! Pet rus jakandor! Pepet terus, jangan kasih doi kendor!" ujar Edwin diiringi tawanya yang mengudara seraya memberikan semangat pada Jefry.
Jefry menanggapi ucapan Edwin dengan menoleh sekilas sembari mengacungkan satu jempol tangannya diikuti lengkungan bibir yang membentuk senyuman. "Ogeh!" ucapnya kemudian.
"Ya Tuhan. Jangan biarkan si botak berhasil menangkap aku," lirih Naya sambil terus berlari.
Sial! Karena kurang berhati-hati dan tidak fokus melihat jalanan yang terbentang di depan, kaki Naya tersandung batu hingga ia jatuh terjungkal.
Naya mengaduh dan meringis. Kaki dan seluruh tubuhnya terasa sakit karena menghantam aspal.
"Gue bilang juga apa, Yang? Jangan lari! Lu sih, Yang. Kaga mau denger nasehat calon laki lu," ucap Jefry dengan melembutkan nada suaranya sembari berjalan menghampiri Naya.
"Please, jangan mendekat!" pinta Naya. Namun tidak dihiraukan oleh Jefry yang terus membawa langkahnya kian mendekat.
"Terima nasib lu, Yang! Lu udah ditakdirin jadi bini kelima gue."
"Nggak! Aku nggak sudi!"
Naya berusaha bangkit. Namun ia merasa kesulitan karena tubuhnya terasa kaku dan teramat sakit.
Naya pasrah, sebab ia merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk bangkit saja Naya sungguh tidak mampu. Apalagi untuk melarikan diri dari pria berkepala botak yang berniat untuk menjadikannya sebagai istri kelima.
Ya, Tuhan. Kenapa nasibku sial banget. Kabur dari rumah karena nggak mau dijodohin, sekarang malah ketangkep suhunya buaya. Naya berucap di dalam hati sambil memejamkan sepasang netra indahnya.
Sebelum kedua tangan Jefry berhasil merengkuh tubuh Naya, tiba-tiba seseorang menarik kaus yang dikenakan oleh Jefry dari belakang, lalu melemparnya dengan sangat kuat, hingga tubuh Jefry masuk ke dalam truk pengangkut sampah.
"Brengse*!" Jefry mengumpat. Ia berusaha bangkit dan turun dari truk. Namun sayang, roda truk pengangkut sampah itu mulai menggelinding dan membawa Jefry menjauh dari Naya.
Bye, Botak!
"Mbak." Suara lembut dan terdengar menyejukkan sukses membuat Naya terdorong untuk segera membuka sepasang netranya yang semula terpejam.
Naya terpana begitu ruang pandangnya dipenuhi oleh wajah rupawan pemuda yang telah menolongnya. Pemuda itu bernama Danish. Seorang ustaz milenial yang menjadi pujaan para gadis di negeri ini.
Atmosfer hening sesaat menyelimuti kedua insan. Hingga suara deheman memecahkannya. "Ehem." Danish sengaja berdehem dan memutus tautan netra mereka berdua.
"Enggg. To-long ban-tu aku!" pinta Naya ragu sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Danish.
Danish mengangguk pelan dan merengkuh lengan Naya yang terbalut kain, kemudian dengan sangat hati-hati membantu Naya untuk bangkit.
"Terima kasih." Dua kata yang terlisan dari bibir Naya setelah Danish mendudukkannya di atas trotoar.
__ADS_1
"Hem." Danish membalas ucapan Naya dengan menundukkan pandangan.
"Aku Naya. Siapa nama kamu?" Naya memberanikan diri bertanya pada Danish seraya memulai obrolan.
"Nama saya Danish."
"Danish? Danish Lim? Ustaz muda yang lagi naik daun dan digandrungi oleh para gadis?"
Danish menanggapi deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Naya dengan menyungging seutas senyum diiringi gelengan kepala.
"Bukan," jawabnya singkat.
"Lalu, Danish siapa?"
"Danish Arfa Rasydan."
"Owh. Nama kamu cakep banget. Secakep orangnya."
Danish kembali menyungging seutas senyum saat mendengar kalimat pujian yang mengalir tanpa beban dari bibir Naya. Ia merasa biasa saja dan tidak merasa berbangga hati, sebab sudah terbiasa mendengar kalimat pujian yang sama dari gadis-gadis yang mengagumi dan terpesona pada ketampanan wajahnya.
"Rumah kamu di mana?" Danish melontarkan tanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Buat apa kamu bertanya di mana rumahku?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Danish, Naya malah balik bertanya.
"Saya akan mengantar kamu pulang."
"Tapi aku nggak mau pulang."
Danish menarik satu alisnya ke atas dan menatap sekilas wajah Naya. "Kenapa kamu nggak mau pulang?" tanya-nya heran.
"Karena aku nggak mau dijodohin. Aku masih ingin bebas. Aku belum siap menikah. Aku belum siap jadi ibu rumah tangga yang capek ngurusin rumah dan nggak bisa bebas pergi ke mana pun." Naya menjeda sejenak ucapannya dan membuang nafas dengan kasar.
"Kata temen-temenku yang udah berumah tangga, menikah itu nggak enak. Kami para wanita harus berdiam di rumah dan tunduk patuh pada perintah suami. Kami bagaikan seorang budak. Sementara para suami seperti seorang raja," lanjutnya kemudian.
"Justru menikah itu enak. Laki-laki dan wanita yang sudah menikah insya Allah akan terhindar dari perbuatan zina. Mereka bisa saling mencurahi kasih sayang tanpa takut dosa, sebab sudah halal. Seorang suami yang baik bakal menjadikan istrinya sebagai seorang ratu dan memperlakukan wanita yang telah dinikahinya itu dengan penuh kelembutan. Dia akan mengawal dan menjaga istrinya, sehingga tidak akan ada pria lain yang berani bertindak kurang ajar terhadap istrinya. Seperti yang mungkin akan diperbuat oleh pria tadi terhadap kamu," tutur Danish diikuti sebaris senyum yang menjadikan ketampanannya kian bertambah.
"Benarkah menikah itu enak?" Naya bertanya pada Danish setelah sejenak terdiam.
"Ya. Asalkan kita menikah dengan pasangan yang tepat. Yang mengetahui serta memahami syariat agama kita."
"Kalau benar begitu, yuk kita nikah!"
Ucapan Naya sukses membuat Danish terkesiap. Ustaz muda dengan segudang pesona itu melongo dan tak mampu mengucap sepatah kata pun karena saking terkejutnya.
πΊπΊπΊ
Sampai bertemu kembali di karya baru. Wassalamu'alaikum .... βΊπ
__ADS_1