
Happy reading πππ
βDan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).β (QS. An-Nuur: 42)
Setiap insan pasti punya rencana. Allah juga punya rencana. Namun, sehebat apa pun seorang insan merencanakan sesuatu, tetap rencana Allah adalah sebaik-baiknya rancangan. Dan kita sebagai makhluk-Nya, hanya bisa menerima dan menjalani dengan ikhlas hati.
Langit bertudung awan hitam, seolah menyiratkan bahwa semua penduduk langit turut berduka.
Ahmad Zain, ustadz sekaligus dosen muda--pria tertampan sejagad jiwa bagi Hastungkara ... kini telah tiada.
Zain menghadap Illahi dengan senyum manis terlukis di wajahnya setelah melafazkan kalimat syahadat. Ustadz muda itu pergi membawa segenggam harap dan impian yang telah terbang bersama sukmanya.
Wahai kasih, bidadari surga telah menantimu. Doa mereka diijabah oleh Allah, karena cinta para bidadari itu mungkin lebih besar dari pada rasa cintaku kepadamu. -- Hastungkara --
Berkali-kali Khadijah--ibunda Zain jatuh pingsan kala menyaksikan jenazah putranya dimakamkan. Sementara Hastungkara, gadis belia itu berusaha tegar meski air duka sedari tadi sudah menganak di pelupuk mata dan raganya seakan tak lagi bernyawa.
"Ra, ayo kita pulang sayang! Ikhlaskan Zain! Insya Allah, Zain sudah tenang di alam sana. Jika Zain melihatmu bersedih seperti ini, pasti dia akan ikut sedih," tutur Nofia sambil mengusap lembut jilbab putih yang dikenakan oleh putrinya.
Hastungkara mengulas senyum tipis dan menggeleng pelan. "Lihatlah Bund, Rara nggak nangis 'kan? Rara masih bisa tersenyum. Itu artinya, Rara nggak bersedih. Insya Allah Rara ikhlas. Karena Rara nggak berhak dan nggak bisa mencegah Allah untuk mengambil kembali milik-Nya. Ustadz Zain, Rara, dan semua yang ada di dunia ini milik Allah. Dan akan kembali kepada-Nya."
Hastungkara menghela nafas panjang lantas kembali melanjutkan ucapannya yang sejenak ia jeda. "Rara ingin di sini dulu, Bund. Ada yang ingin Rara sampaikan pada ustadz Zain. Nanti, Rara ingin berkunjung ke rumah paman Abdhullah dan bermalam di rumah kakek. Jadi, kalau Ayah dan Bunda ingin pulang ke kota sekarang ... nggak pa-pa."
"Baiklah Sayang. Tapi, jangan berlama-lama di tempat ini. Langit sudah mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Bunda tidak ingin putri kesayangan Ayah dan Bunda kehujanan dan jatuh sakit."
"Iya Bund."
"Kami pulang dulu ya Sayang. Assalamu'alaikum," ucap Zaenal dan Nofia sembari memeluk singkat tubuh putri mereka.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam --" Hastungkara berucap lirih seraya menjawab salam yang dilisankan oleh kedua orang tuanya.
Dengan berat hati, Zaenal dan Nofia melangkah pergi meninggalkan putri mereka yang masih ingin berada di pemakaman--berbincang dengan sang bayu yang mungkin akan menyampaikan setiap kata yang terlisan kepada Zain.
Setelah kedua orang tuanya berlalu pergi, Hastungkara meluruhkan tubuh di samping pusara.
Diusapnya tanah merah bertabur bunga diiringi lantunan doa teruntuk sang kekasih hati yang telah pergi.
"Assalamu'alaikum Ustadz --" Suara Hastungkara tercekat. Air duka yang menganak di pelupuk mata hampir saja tertumpah. Namun Hastungkara segera menghalaunya dengan menengadahkan wajah ke langit dan menghela nafas panjang.
"Ustadz, lihatlah ... saya nggak nangis 'kan? Saya baik-baik saja. Saya bukan lagi gadis yang cengeng. Saya kuat. Saya seorang gadis yang tegar. Jadi, teruslah melangkah! Jangan menoleh ke belakang! Saya --"
"Sa-ya akan mengabadikan nama Ustadz Zain di sini. Di dalam kalbu. Nama yang terlanjur terpahat, nggak akan mudah terhapus --" Hastungkara kembali menghela nafas panjang dan menekan dadanya yang terasa sangat nyeri karena lara hati.
"Ustadz Zain ingin agar saya memanggil Ustadz ... Mas 'kan? Baiklah, mulai saat ini, detik ini, saya akan memanggil Ustadz ... Mas. Mas Zain --"
Hastungkara sekejap memejamkan netra dan mencium papan yang terukir nama Ahmad Zain. Lantas dipeluknya papan itu, seolah ia tengah memeluk tubuh sang kekasih.
"Ra, ayo pulang! Hujan semakin deras dan hari sudah menjelang senja. Jangan sampai kau sakit! Jika kau sakit, pasti ustadz Zain akan bersedih di alam sana," ujar Derana memecah hening.
"Derana --" lirih Hastungkara. Perlahan ia melepas papan dari pelukannya lantas menoleh ke arah asal suara.
"Kau masih di sini? Bukankah, tadi kau sudah pulang bersama bapak dan ibumu?" tanya yang terlisan diikuti kerutan di antara kedua pangkal alis.
Derana menerbitkan senyum dan memandu Hastungkara untuk berdiri. Kemudian ia menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh sahabatnya itu. "Tadi, aku memang sudah pulang. Aku pulang hanya ingin mengambil payung. Aku tahu, kau pasti masih di sini --" Derana menjeda ucapannya dan mengusap lembut bahu Hastungkara seraya mentransfer energi positif.
"Sabar dan ikhlas ya, Ra! Aku mengerti, pasti teramat sulit melepas kepergian ustadz Zain," sambungnya dan dibalas anggukan oleh Hastungkara.
"Iya Ran. Aku sudah ikhlas --"
__ADS_1
"Kalau kau benar-benar sudah ikhlas, kita pulang sekarang Ra."
"Heem --"
Hastungkara dan Derana mengucap salam teruntuk semua penghuni kubur sebelum mengayun tungkai--meninggalkan gundukan tanah yang tersiram air langit.
Selamat jalan Mas Zain, Insya Allah akan kubawa cinta ini sampai ke surga ....
....
Selesai membersihkan badan dan menunaikan ibadah sholat maghrib, Hastungkara dan Derana berkunjung ke rumah Abdhullah untuk menemui kedua orang tua Zain.
Khadijah tampak lebih tegar dan ikhlas. Begitu pula dengan Abdhullah.
Kedua paruh baya itu mempersilahkan Hastungkara dan Derana untuk duduk di sofa sebelum mulai bercerita tentang Zain--putra tunggal mereka ....
"Zain teramat bahagia ketika kami memberikannya restu untuk mengkhitbahmu, Ra. Zain--putra kami, sudah mempersiapkan rumah baru untuk tempat tinggal kalian setelah kamu dan Zain menikah." Khadijah menjeda sejenak ucapannya dan mengusap air mata yang tetiba jatuh membasahi wajahnya.
"Banyak yang Zain rencanakan, terutama membangun desa ini. Salah satunya mendirikan masjid dan sekolah. Zain ingin ber-amar makruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah perilaku buruk atau menyimpang dari ajaran agama. Namun, rencana yang telah ia rancang, kini hanya tinggal rencana. Zain pergi sebelum semua rencana dan impiannya tergapai --"
Khadijah kembali meneteskan air mata. Sekuat apapun ia berusaha tegar. Namun ketika teringat almarhum putranya, dinding ketegaran yang ia bangun seketika roboh ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mohon maaf UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love, karena si kecil sakit lagi π₯Ίππ
Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo. πππ
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang berkenan mengawal kisah Derana hingga end ππππ