Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 29


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Dasar freezer!!!


Ridwan terus melontarkan umpatan di dalam hati sembari membawa langkah menyusul Randy--sahabat sekaligus atasannya yang dikenal dingin dan minim senyum.


Setelah bercerai dengan Amel--wanita yang sangat dicintainya, Randy semakin jarang tersenyum apalagi tertawa.


Randy hanya akan tersenyum ataupun tertawa bila tengah bermain dan bercanda bersama Malikha--buah cintanya dengan Amel. Selain itu, ia akan kembali menjelma menjadi manusia kutub.


Rasa kecewa terhadap istrinya yang telah tega menodai kesucian cinta, membuat Randy enggan kembali membuka hati meski ayah dan bundanya terus menerus mendesak agar ia menikah lagi dengan wanita pilihan mereka.


Bagi Randy, semua wanita sama. Tidak ada yang setia dan mencintainya dengan setulus hati.


Lebih baik menjadi duda abadi dari pada kembali dikecewakan dan patah hati. Itulah motto hidup Randy saat ini. Sebab patah hati lebih sakit rasanya bila dibandingkan dengan sakit gigi. Jika sakit gigi bisa disembuhkan dengan sentuhan tangan dokter ataupun obat. Sementara sakit karena patah hati, hanya bisa disembuhkan oleh diri sendiri.


Bagi yang tidak bisa menyembuhkan patah hati, maka dia akan menjadi gila bahkan bisa juga memaksa nyawa terlepas dari raga dengan cara gantung diri, minum racun, atau potong nadi. Naudzubillah. Jangan sampai itu terjadi sebab malah akan merugikan diri sendiri.


Namun jika harus memilih sakit gigi atau sakit hati, Randy dan semua orang di dunia ini pasti tidak akan memilih salah satu ataupun keduanya. Sebab jika sudah sakit gigi, makan apapun serasa jauh dari kata nikmat ....


Gludak


Suara mainan yang dilempar oleh Malikha menyadarkan Randy dari lamun. Duda berparas ganteng itu pun lantas menerbitkan senyum dan mencium pipi tembam putri kecilnya.


"Mainannya jangan dilempar ya Sayang! Biar awet dan nggak cepat rusak. Malikha sayang 'kan sama mainannya?" tutur Randy dengan suaranya yang terdengar lembut tanpa memudar senyum.


Seolah mengerti dengan kata-kata yang dilisankan oleh papanya, Malikha pun mengangguk dan tersenyum nyengir--memperlihatkan gigi atasnya yang mirip gigi kelinci. Tiga kata untuk Malikha saat ini--lucu, imut, dan menggemaskan.


"Aku heran, kau bisa bersikap lembut pada Malikha. Kenapa dengan Derana dan yang lain sikapmu sangat berbeda? Jangan bersikap dingin dan berkata kasar pada Derana! Aku perhatikan, sepertinya dia takut padamu. Jangan sampai Derana merasa nggak nyaman dengan sikap dan caramu berbicara," ujar Ridwan sambil mendaratkan bobot tubuhnya di bibir ranjang.


Randy masih tak acuh seakan ucapan Ridwan hanyalah dengungan seekor lebah. Masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.


Karena sedari tadi tak diacuhkan, Ridwan merasa semakin kesal bin sebal pada Randy. Ia lantas kembali berlisan kata, tetapi dengan meninggikan intonasi suara.

__ADS_1


"Rand, telingamu masih bisa berfungsi untuk mendengar 'kan? Please, dengarkan aku dan tanggapi perkataanku!"


Ucapan Ridwan yang bernada tinggi membuat Malikha ketakutan sehingga bayi cantik itu menangis histeris.


"Cup Sayangku! Jangan menangis Nak!"


Randy berusaha menenangkan putri kecilnya agar berhenti menangis dengan cara menggendong dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.


Ridwan tampak merasa bersalah dan teramat menyesal. Gegas, ia meminta maaf dan berusaha membantu menenangkan Malikha.


Namun usaha kedua pria itu gagal dan tangisan Malikha malah semakin menjadi.


"Gara-gara kau, putriku menangis histeris. Awas aja, gajimu bulan depan benar-benar aku potong lima puluh persen!" ancamnya disertai tatapan menghunus dan Ridwan tampak pasrah, sebab kali ini Ridwan mengakui bahwa dirinyalah yang salah.


Mendengar suara tangisan Malikha yang tak kunjung berhenti, Kartini bergegas masuk ke dalam kamar sang majikan dan disusul oleh Derana yang baru saja selesai membersihkan badan.


"Apa yang terjadi pada Non Malikha, Tuan? Kenapa tangisan Non Malikha kencang sekali dan ndak berhenti-berhenti?" Kartini menghujani tuannya dengan pertanyaan diikuti uluran tangan mengusap lembut pucuk kepala Malikha agar bayi berusia delapan bulan itu merasa tenang dan menghentikan tangisannya.


"Malikha nggak kenapa-napa, Mbok. Malikha hanya kaget mendengar suara Ridwan yang seperti guntur."


"Saya bukan pemangsa bayi Mbok, tapi pemangsa janda." Ridwan berucap ketus seraya menyahut ucapan Kartini, tetapi tak diacuhkan oleh wanita paruh baya itu.


"Sini ikut eyang uti, Nduk!" Kartini mengulurkan tangan. Namun Malikha menolak dengan menggeleng kepala.


Kartini, Randy, dan Ridwan tampak menyerah. Ketiganya seolah kehabisan cara untuk menenangkan Malikha.


Derana tidak tinggal diam. Diulurkan tangan disertai kerjapan mata meniru boneka Susan dan tarikan kedua sudut bibir ke atas menyerupai bulan sabit.


"Bagaimana kalau ikut mbak Rana? Adek cantik mau 'kan?" Derana melembutkan suara.


Seketika Malikha berhenti menangis dan menganggukkan kepala serta menyambut uluran tangan Derana.


"Ma-ma, Ma-ma." Malikha memanggil Derana dengan sebutan mama dan menghujani wajah baby sitternya itu dengan kecupan.


Rasa haru menyelinap ke relung rasa dan menggetarkan jiwa sehingga memaksa titik-titik embun membingkai pelupuk mata ketiga insan yang tengah menyaksikan interaksi antara Derana dan Malikha.

__ADS_1


"Ma-ma. Ma-ma." Derana merasa tidak enak hati karena Malikha kembali memanggilnya mama.


"Ma-af Tuan. Saya akan memberi pengertian Non Malikha supaya tidak lagi memanggil saya mama."


"Nggak usah! Senyamannya Malikha saja. Kalau putriku mau memanggil Mbok Karti dengan sebutan mama juga nggak pa-pa. It's no problem. Nggak masalah bagi saya," ucapnya datar sedatar raut wajahnya saat ini.


"Walahhhh, kalau saya yang dipanggil mama sama Non Malikha, hati saya pasti berkebun-kebun, Tuan. Ah bukan hanya berkebun-kebun, tapi sampai berakar-akar. Ndah senenge punya suami berondong yang gantengnya se-angkasa raya."


Ridwan dan Derana tergelak kala mendengar celotehan Kartini. Namun berbeda dengan Randy. Raut wajah pria itu sama sekali tidak berubah. Mungkin selera humor si manusia kutub terlampau tinggi. Sehingga lawakan receh tidak bisa menggelitik indera pendengarannya.


"Silahkan kalian tertawa sepuasnya! Tapi jangan kaget jika bulan depan gaji kalian nggak full!"


Kalimat ancaman yang dilontarkan oleh Randy sukses menghentikan tawa yang mengudara. Baik Ridwan maupun Derana membungkam mulut dengan telapak tangan agar tak lagi melepaskan tawa.


"Pa-pa. Pa-pa. Cum Ma-ma!" Celotehan Malikha mengalihkan atensi.


Randy, Derana, Ridwan, dan Kartini terlihat kompak mengerutkan dahi. Mereka berusaha menerjemahkan celotehan Malikha yang terdengar tidak jelas.


"Ngomong apa sih si bocil?" Ridwan bertanya pada Derana dan Derana menjawabnya dengan mengendikkan bahu.


"Entahlah Mas," ucapnya kemudian.


"Pa-pa cum Ma-ma! Em-uah." Malikha kembali berceloteh sambil mengerucutkan bibir dan mencium pipi Derana.


Rupanya, Malikha meminta sang papa untuk mencium Derana yang ia anggap sebagai mamanya.


"Pffftttt ... hhhahhhhahha." Ridwan dan Kartini tergelak. Sementara Derana tampak salah tingkah.


Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Randy??? Next episode semoga terjawab ... 😉


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak ter love yang masih berkenan mengawal kisah Derana 😘😘😘🙏


__ADS_2