
Happy reading 😘😘😘
Binar bahagia terpancar jelas di manik mata Randy dan Derana kala Khanza--dokter obgyn yang bekerja di Rumah Sakit ICPA menyampaikan bahwa Derana positif hamil dan yang dialami oleh Randy selama dua minggu ini adalah sindrom couvade atau biasa disebut dengan kehamilan simpatik.
Rupanya kehamilan Derana menginjak usia 8 minggu (2 bulan). Meski diperbolehkan untuk berhubungan badan saat hamil, tetapi Khanza menganjurkan agar Randy dan Derana untuk menundanya. Sebab usia kehamilan delapan minggu merupakan trimester awal kehamilan, di mana janin dan plasenta masih berkembang.
Namun jika keduanya tetap ingin berhubungan badan pun tidak masalah selama mereka melakukannya dengan posisi yang aman.
Khanza juga meminta agar Randy selalu siaga--siap, antar, jaga. Dan segera membawa Derana ke rumah sakit terdekat jika Derana mengalami pendarahan atau kondisi yang tidak nyaman pada bagian rahim setelah berhubungan in-tim.
Karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Derana dan calon buah hati mereka, Randy berniat untuk mematuhi anjuran Khanza--menunda berhubungan badan untuk sementara waktu.
"Terima kasih, Dok," ucap Randy dan Derana sembari beranjak dari posisi duduk, diikuti oleh Khanza.
Derana menjabat tangan Khanza, sementara Randy menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Sama-sama, Tuan Randy dan Nyonya Dera. Jangan lupa untuk rutin memeriksakan kehamilan agar anda berdua mengetahui perkembangan janin yang berada di dalam rahim Nyonya Dera!" tutur Khanza seraya membalas ucapan Randy dan Derana disertai senyuman ramah.
"Baik, Dokter. Kami akan rutin memeriksakan kehamilan saya." Sama seperti Khanza, Derana pun tersenyum.
Setelah berpamitan pada Khanza, keduanya lantas keluar dari ruangan. Kemudian berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu keluar sambil berbincang dan saling menautkan tangan.
"Yang --"
__ADS_1
"Ya, Mas. Ada apa?"
"Aku kog pingin makan yang asem-asem ya?"
"Pfttt ... seharusnya aku yang pingin makan asem-asem, Mas. 'Kan aku yang hamil."
"Kita berbagi, Yang. Sayang yang mengandung calon buah hati kita. Sementara aku yang ngidam."
"Iya, Mas. Maaf ya, karena kehamilan simpatik, Mas Randy jadi tersiksa."
"Nggak kog, Yang. Aku nggak tersiksa. Aku sangat menikmatinya. Gara-gara mengalami kehamilan simpatik, aku bisa bermanja dan jarang berada jauh dari Sayang. Tapi satu yang membuatku galau, Yang." Randy menghembus nafas berat dan memasang raut wajah sendu.
"Memangnya, apa yang membuat Mas Randy galau?" Derana bertanya heran diikuti kerutan yang tercetak jelas di antara kedua pangkal alisnya.
"Mau tahu bingitz, Mas."
"Yang membuat aku galau adalah anjuran dari Dokter Khanza. Beliau berpesan agar kita menunda berhubungan badan untuk sementara waktu. Itu artinya, aku harus berpuasa. Menahan ha-srat untuk menyatukan raga kita," terang Randy dengan melirihkan suara agar tak didengar oleh para pengunjung yang berpapasan dengan mereka.
"Owh, ternyata itu. Mas Randy ndak usah galau! 'Kan Dokter Khanza berkata, kita masih bisa berhubungan badan dengan posisi yang aman untukku dan calon buah hati kita, Mas," tutur Derana yang juga melirihkan suara.
"Tapi aku takut khilaf, Yang."
"Jika Mas Randy takut khilaf, kita masih bisa bercum-bu dan bermesraan tanpa berhubungan badan. Maksudku, tanpa menyatukan raga. Mas Randy juga masih bisa itu --" Derana menggantung ucapannya. Ia merasa malu untuk melanjutkannya.
"Benar juga, Yang. Berarti sesampainya di rumah, kita bercum-bu dan bermesraan ya! Nggak menyatukan raga nggak pa-pa, yang penting masih bisa bermain squisy." Randy mengulas senyum dan menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Ish, Mas Randy. O-mes banget sih."
Derana mencebikkan bibir. Ingin rasanya ia mencubit gemas lengan suaminya. Namun karena mereka tengah berada di tempat umum, Derana pun urung melakukannya.
"O-mes sama istri sendiri 'kan sangat diperbolehkan, Yang. Bahkan dianjurkan supaya hubungan kita semakin erat dan selalu romantis," sahut Randy diikuti kerlingan netra.
Randy dan Derana terus berbincang. Hingga tanpa terasa mereka telah tiba di area parkir--tempat Randy menaruh mobil.
Setelah mempersilahkan Derana untuk masuk ke dalam mobil, Randy lantas menyusul istrinya itu.
Kemudian ia mulai melajukan kendaraan besinya--meninggalkan area parkir rumah sakit.
Di dalam benak, Randy dan Derana tak henti-hentinya melafazkan rasa syukur pada Sang Maha Kasih yang telah menyentuhkan bahagia setelah keduanya melewati ujian hidup yang terasa berat.
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031)
🌹🌹🌹🌹
Mohon maaf baru bisa memberikan bonus chapter karena pekerjaan author di dunia nyata bukan hanya berhalu. Namun juga menunaikan kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga dan merevisi naskah yang insya Allah akan diterbitkan. 🙏
Jika ada yang kurang berkenan dengan kisah yang saya tulis ini, mohon bijak memberikan bintang.
Author sadar diri belum bisa menciptakan karya yang sehebat karya para author femes. Seandainya ada yang merasa kecewa setelah membaca tulisan remahan ini, tolong jangan berikan bintang 1. Silahkan beri krisan (kritik dan saran) agar author bisa berbenah.
Trimakasih 🙏
__ADS_1