
Happy reading 😘😘😘
Makan malam di rumah Randy hari ini bagai acara reoni. Bagaimana tidak? Entah kebetulan atau memang kehendak Sang Penulis Skenario, ibunda Randy bertemu dengan sahabat dan teman masa kecilnya. Mereka adalah ibunda Hastungkara dan ayah Derana.
Suasana makan malam yang biasanya sepi, kini tampak ramai dan meriah oleh obrolan ngalor-ngidul yang terlontar dari bibir mereka.
Di sela-sela obrolan mereka yang tak tentu arah itu, Usman bertutur seraya menumpahkan isi hati. "Disaat aku merasa teramat berduka karena ujian hidup tengah menimpa keluargaku, Allah menghiburku dengan menyentuhkan kasih sayang-Nya. Dia mempertemukan aku dengan kalian. Dua teman masa kecilku yang teramat comel. Aku berharap, semoga pertemanan kita bisa langgeng hingga maut menjemput."
Ranu dan Nur (Nofia) kompak meng-amini ucapan Usman diikuti senyum yang terlukis di wajah mereka. "Aamiin, semoga Allah mengijabah."
"Aku bukan hanya berharap pertemanan kita langgeng hingga maut menjemput. Namun, aku juga berharap ... semoga salah satu di antara kalian mau besanan denganku. Meski putraku seorang duda dan berkarakter dingin, tapi dia seorang pria yang setia dan penyayang lho. Kalau sudah bucin ... beuh, apapun akan dilakukan untuk kekasih hati yang sangat dicintainya," ujar Ranu sembari melirik sang putra yang duduk di sisi kirinya.
Randy tak acuh. Ia tetap menikmati menu makan malam tanpa menghiraukan celotehan bundanya.
"Aku sih mau-mau saja, Ran. Tapi, bagaimana dengan putramu? Anak gadisku tidak hanya comel, tapi ngambekan juga loh," sahut Nur menanggapi ucapan Ranu.
"Terus terang, aku ndak berani bermimpi untuk besanan denganmu, Ran. Putriku sudah ndak pera-wan. Dan kami bukan orang yang berpunya. Jadi, ndak pantes jika Derana aku ajukan sebagai kandidat calon menantumu untuk mendampingi Nak Randy yang teramat sempurna. Selain berparas ganteng, Nak Randy juga saleh dan memiliki harta serta tahta," ucap Usman merendah.
"Ehem." Reno sengaja berdehem untuk mengalihkan atensi, sehingga semua mata seketika tertuju padanya.
"Menurut saya, biarlah anak-anak kita yang memilih pasangannya sendiri. Kita sebagai orang tua tidak perlu repot-repot memilihkan jodoh untuk mereka. Derana, Hastungkara, atau mungkin wanita lain yang akan menjadi pilihan Randy, bagi saya tidak menjadi masalah. Di keluarga saya tidak mengenal istilah bobot, bibit, bebet. Jadi, saya kurang suka jika Pak Usman terlalu merendah dan berkata ... Derana tidak pantas diajukan sebagai kandidat calon menantu kami. Dan satu lagi, meski Derana sudah tidak pera-wan, bagi saya tidak masalah jika Randy memilihnya untuk dijadikan pedamping hidup. Toh, Randy juga sudah tidak perja-ka. Putra saya duda beranak satu. Sebagai orang tua Randy, saya sungguh tidak keberatan jika Derana menjadi menantu kami, karena putri Pak Usman sudah memenuhi kriteria calon istri idaman. Selain keibuan, Derana juga lembut dan sopan serta penuh welas asih," tutur Reno bijak.
Hastungkara yang sedari tadi memilih diam, kini terpancing untuk ikut mengeluarkan suara setelah mendengar kata-kata bijak yang dilisankan oleh Reno.
"Saya sependapat dengan Om Reno. Bunda, Tante, dan Pakde nggak perlu repot-repot menjodohkan atau memilihkan pasangan untuk kami--Pak Randy, saya, dan Derana. Lagi pula, kami mempunyai hak untuk memilih pasangan sesuai kata hati." Hastungkara menjeda sejenak ucapannya lantas mengalihkan pandangan netranya ke arah Usman.
"Pakde jangan terlalu merendah karena posisi kita sama di hadapan Allah! Yang membedakan bukan harta yang kita miliki. Tetapi iman dan amal ibadah kita. Jika Pak Randy memilih Derana untuk menjadi pendamping hidupnya, Pakde nggak usah minder! Menurut saya, Derana dan Pak Randy sangat serasi bila disandingkan. Rara yakin, pasti Bude Ratri akan sangat senang jika memiliki menantu pengganti paket komplit seperti Pak Randy. Rara juga yakin, Rana pasti bisa mencairkan es yang menyelimuti wajah si manusia kutub sehingga si manusia kutub akan bermetamorfosa menjadi manusia yang murah senyum dan tingkat kebucinannya sangat akut," sambungnya panjang kali lebar dan langsung disambut jitakan oleh Randy.
"Duh --" ucap Hastungkara spontan sambil mengusap dahinya.
"Anak kecil jangan asal ngomong!" ujar Randy tanpa ekspresi.
"Isshh, nyebelin si manusia kutub. Luntur sudah kekagumanku terhadapmu Tuan Freezer. Belum menikah aja suka sekali menyakiti. Apalagi kalau sudah menikah, bisa babak bundas dahiku," ketus Hastungkara meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau menikah denganmu? Seleraku bukan gadis cerewet dan bar-bar sepertimu --"
"Dan seleraku bukan pria dingin yang menyebalkan sepertimu, Tuan Freezer. Wes lah, terserah kau saja. Aku lagi males berdebat. Apalagi berdebat dengan manusia kutub."
"Aku juga males berdebat dengan burung beo."
"Dasar manusia kutub --"
"Dasar burung beo --"
Ranu dan Nur menggeleng kepala kala menyaksikan anak-anak mereka seperti Tom and Jerry--dua makhluk yang tidak pernah bisa akur. Sementara Derana, Sukma, dan Usman tampak menahan tawa dengan melipat bibir.
"Sudah-sudah, habiskan dulu makanan kalian! Berantemnya dilanjut nanti lagi!" tutur Reno menginterupsi seraya melerai Randy dan Hastungkara.
"Dia yang memulai, Yah!" Randy menunjuk Hastungkara dengan gerakan netranya.
Seolah tidak mau kalah, Hastungkara lantas membalas ucapan Randy dengan sedikit meninggikan intonasi suara. "Siapa juga yang memulai? Kalau kau tadi bisa mengkondisikan jarimu, pasti kita nggak akan berdebat. Dasar freezer, maunya menang sendiri. Lihat nich, dahiku tambah nonong gara-gara jarimu yang nggak tahu sopan santun!"
Kata-kata yang dilontarkan oleh Hastungkara menggelitik indera pendengaran, sehingga Ranu tidak kuasa menahan tawa.
"Please, jangan berkata seperti itu lagi, Te! Andai putra Tante bukanlah Pak Randy--si manusia kutub, insya Allah saya bersedia menjadi menantu Tante. Saya yakin, saya dan Pak Randy TIDAK berjodoh karena kami nggak sefrekuensi. Kami selalu berantem setiap kali bertemu," tukas Hastungkara dengan menekankan kata 'TIDAK'.
"Kata orang, kalau pria dan wanita suka berantem, itu tandanya mereka berjodoh lho, Ra --" Ranu menyahut ucapan Hastungkara dengan melontarkan candaan diiringi tawanya yang kembali mengudara.
Hastungkara bergidik dan mencebikkan bibir. "Rara emoh kalau harus berjodoh dengan manusia kutub, Te. Lebih baik menjadi pera-wan ting-ting dari pada harus berjodoh dengan seorang duda sombong dan minim senyum."
"Aku juga nggak bakal mau berjodoh dengan gadis --"
"Stop!" Hastungkara memangkas ucapan Randy dengan menyentuhkan sendok di mulut duda muda berparas ganteng itu.
"Anteng, diem, dan segera habiskan makanan anda Tuan Freezer! Kalau kita terus berantem, jam berapa kita berangkat ke Pondok Pesantren Al Mizan untuk menemui Kyai Hasan?"
Ucapan yang dilontarkan oleh Hastungkara mampu menghipnotis Randy, sehingga duda muda berkarakter dingin itu seketika terdiam. Namun di dalam hatinya, Randy membenarkan ucapan Hastungkara.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, semua menu makanan yang tersaji di atas meja habis tak bersisa.
Usai makan malam, Hastungkara menghubungi Rafa. Ia meminta agar Rafa segera datang ke rumah Randy.
Setelah menghubungi Rafa, Hastungkara membantu Derana mencuci semua peralatan dapur yang kotor.
"Ra, aku ndak nyangka suara Tuan Randy ternyata sangat merdu. Jujur, hatiku tergetar saat Tuan Randy melantunkan ayat-ayat suci," ucap Derana berterus terang seraya memuji suara Randy yang terdengar merdu di telinga.
"Menurutku B aja, Ran. Masih merduan suara Mas Zain." Hastungkara berkilah meski hatinya mengakui bahwa suara Randy teramat merdu. Sebelas dua belas jika disandingkan dengan suara Zain--calon imamnya yang telah tiada.
"Masa sih? Menurutku merdu banget lho, Ra. Hampir sama dengan suara almarhum Ustadz Zain."
"Hampir sama bukan berarti sama persis, 'kan? Bagiku tetep merduan suara Mas Zain, titik nggak pakai koma."
"Iya-iya. Lebih merdu suara Ustadz Zain. Aku ngalah. Ndak usah ngambek!"
"Siapa juga yang ngambek? Aku nggak ngambek kog." Hastungkara menyahut ucapan Derana sembari meletakkan piring-piring yang telah dicuci bersih di almari kaca.
"Iya, aku tahu kau ndak ngambek. Juskid, Ra. Aku cuma bercanda. Alhamdulillah sudah selesai. Yuk kita ke depan! Pasti Tuan Randy dan yang lain sudah menunggu."
"Iya, Ran. Semoga Mas Rafa juga sudah sampai."
Hastungkara dan Derana mengayun tungkai. Keduanya berjalan beriringan menuju teras rumah untuk berbaur dengan Randy dan yang lain.
"Mas Rafa --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf baru bisa UP. 🙏🙏🙏
Mohon maaf juga jika ada salah kata dan bertebaran typo 😊🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan agar author lebih semangat berkarya 😉🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan love-love sekebon teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana. 😘😘😘🙏