Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 27


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Rasa takut semakin mendominasi kala pikiran buruk menari-nari di kepala.


Derana takut jika wanita yang menolongnya itu ternyata seorang muci-kari yang mungkin akan menjualnya dan menjerumuskannya ke lembah dosa ....


Namun, Derana segera menghempaskan pikiran buruknya dan berusaha berpikir positif.


Lagian, wajah wanita paruh baya itu terlihat teduh dan pakaian yang dikenakan mencerminkan seorang muslimah dengan jilbab membalut rikmanya.


"Siapa namamu, Nduk?" tanya yang terlisan diikuti sebaris senyum dan usapan lembut di bahu.


Derana lantas menjawab pertanyaan yang terlisan. "Saya Derana, Bu. Maaf, kalau boleh saya tahu ... siapa nama Ibu?" Derana balik bertanya.


"Nama ibu ... Kartini. Kamu bisa memanggil ibu dengan sebutan Bu Tini atau Bu Karti, Nduk! Bisa juga simbok."


"Nama Ibu sangat bagus. Seperti nama salah seorang pahlawan wanita yang berjuang mencerdaskan bangsa."


"Iya Nduk. Nama itu pemberian dari almarhum bapak. Dulu beliau berharap, ibu bisa meneruskan perjuangan ibu Kartini dengan menjadi seorang guru. Namun goresan takdir berkata lain. Bukannya menjadi guru, ibu malah menjadi babu," sahutnya seraya bercanda.


Kartini terkekeh. Tak terlihat di raut wajahnya rasa kecewa atas takdir yang telah digoreskan Illahi. Sementara Derana hanya mengulas senyum tipis.


Sama seperti Kartini, Derana pun harus menerima goresan takdir yang tidak sesuai dengan harapan.


Dulu ayahnya berharap, Derana kecil yang cerdas akan menjadi guru ketika dewasa nanti.


Namun karena kedua orang tua Derana tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai sekolah, Derana pun terpaksa tidak melanjutkan studi dan bekerja menjadi seorang asisten rumah tangga sebelum dinikahi oleh Farel.


Kartini menatap lekat wajah Derana yang menyiratkan sendu dan kembali melisankan tanya. "Nduk, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa, kamu berada di tempat ini sendiri? Dan kenapa, kamu ndak bawa apa-apa? Bahkan, uang pun juga ndak bawa."


Terdengar helaan nafas panjang sebelum Derana membuka suara.


Tanpa ragu Derana menjawab semua pertanyaan yang dilisankan oleh Kartini dan menceritakan perjalanan hidupnya yang jauh dari kata bahagia kepada wanita paruh baya itu.


Kartini merasa berempati setelah mengetahui perjalanan hidup Derana yang teramat pelik. Jiwa kemanusiaannya berbisik, agar ia mengulurkan tangan.


"Bagaimana kalau kamu bekerja pada majikan ibu sebagai baby sitter, Nduk? Majikan ibu sangat baik. Beliau sudah menganggap ibu seperti orang tuanya sendiri karena ibu sudah lama bekerja pada keluarganya."

__ADS_1


Derana tampak berpikir dengan memperlihatkan kerutan di antara kedua pangkal alis. Ia ragu untuk menerima tawaran dari Kartini sebab belum mempunyai pengalaman merawat atau mengasuh seorang bayi.


"Tapi Bu, saya belum pernah merawat dan mengasuh seorang bayi? Pengalaman kerja saya hanya menjadi seorang asisten rumah tangga biasa dan buruh tani. Saya takut, ndak bisa menunaikan pekerjaan dengan baik dan malah mengecewakan Ibu."


Kartini mengulas senyum dan kembali mengusap bahu Derana. "Ndak usah takut, Nduk! Ibu ndak akan melepas kamu begitu saja. Sesampainya di rumah tuan Randy, ibu akan mengajarimu bagaimana cara merawat dan mengasuh bayi."


"Baiklah Bu. Kalau begitu, saya menerima tawaran Ibu dengan senang hati. Bismillah, semoga saya bisa menunaikan tugas saya sebagai seorang baby sitter."


"Alhamdulillah, ibu senang mendengarnya. Lebih baik, kita segera berangkat ke rumah tuan Randy. Ibu sudah ndak sabar ingin mengenalkanmu pada majikan ibu yang gantengnya seangkasa raya, Nduk."


"Pasti ganteng banget ya Bu?"


"Iya Nduk, gantengnya kebangetan. Andai ibu masih muda, pasti ibu akan mendaftarkan diri menjadi istri tuan Randy."


"Loh, memangnya ... tuan Randy ndak punya istri, Bu?" Derana bertanya heran.


"Punya. Tapi dulu. Enam bulan yang lalu, istrinya minta cerai karena terjerat pesona bule brewok."


"Kog bisa ya Bu?"


Kartini mengendikkan bahu dan menghela nafas berat. "Entahlah. Mungkin mantan istri tuan Randy kurang belaian dan ndak bisa memahami pekerjaan suaminya yang super sibuk."


"Tuan Randy itu seorang CEO muda. Jadi wajar kalau sering berangkat pagi pulang malam. Tuan Randy juga sering terbang ke luar kota dan ke LN," lanjutnya setelah sejenak menjeda ucapannya.


"Kalau bertanya itu mbok ya satu-satu, Nduk! Seperti wartawan saja kamu ini?"


Derana tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Maaf Bu," ucapnya kemudian.


"Ndak perlu minta maaf, Nduk! Baiklah, ibu akan menjawab pertanyaanmu yang panjang kali lebar tadi supaya kamu ndak merem penasaran," celotehnya.


"Loh kog merem penasaran, Bu? Biasanya 'kan mati penasaran ya?" Derana mengimbangi celotehan Kartini diiringi senyum yang terkembang.


"Kalau mati penasaran terkesan memedenkan dan sudah biasa dicetuskan oleh banyak orang. Nah berbeda dengan merem penasaran yang kesannya ndak biasa jadi ndak pasaran. Paling cuma ibu yang bilang, ya tho?"


Derana mengangguk--membenarkan ucapan Kartini. "Iya Bu, betoel sekali."


"Dengarkan baik-baik ya Nduk supaya kamu ndak bertanya-tanya lagi! Setelah tuan Randy dan nyonya Amel bercerai, hak asuh si kecil jatuh pada nyonya Amel. Namun karena nyonya Amel ndak mau merawat dan mengasuh si kecil, nyonya Amel memberikan si kecil pada tuan Randy dan memilih hidup di LN bersama bule brewok--selingkuhannya. Meski tuan Randy teramat sibuk, beliau selalu mengutamakan buah hatinya. Jika tuan Randy harus terbang ke luar kota atau ke LN, tuan Randy selalu membawa si kecil dan ibu. Dan selama enam bulan ini, ibu-lah yang membantu tuan Randy merawat serta mengasuh si kecil. Tapi karena ada saudara di desa yang ngunduh mantu, ibu meminta cuti. Jadi satu minggu ini, tuan Randy sendiri yang merawat dan mengasuh si kecil," tutur Kartini panjang kali lebar dan Derana tampak serius mendengarkan.


"Sebenarnya, sudah banyak yang mendaftar menjadi baby sitter, tapi ndak ada satu pun yang diterima oleh tuan Randy dengan alasan, beliau ndak sreg. Tuan Randy itu tipe orang yang ndak mudah percaya pada orang asing."

__ADS_1


"Berarti tuan Randy juga belum pasti berkenan menerima saya sebagai baby sitter, Bu?"


"Tenang saja, Nduk! Kalau ibu yang merekomendasikanmu, insya Allah tuan Randy akan berkenan menerima. Pesan ibu, jangan diambil hati kalau tuan Randy bersikap dingin dan terkadang berkata ketus, karena pembawaannya memang seperti itu! Yang pasti, sebenarnya tuan Randy sangat baik dan penyayang. Majikan ibu itu juga seorang pria yang romantis. Kalau sudah jatuh cinta, kebucinannya akut --"


Terdengar nada dering berasal dari gawai milik Kartini yang tersimpan di dalam tas, sehingga Kartini memangkas ucapan dan bergegas mengambil gawainya.


"Assalamu'alaikum Tuan," ucapnya setelah menggeser layar.


"Wa'allaikumsalam. Posisi Simbok di mana? Share lock ya! Saya akan meminta Ridwan untuk menjemput Simbok."


"Njih, siap Tuan."


"Oke, saya tunggu Mbok! GPL ya!"


"Siap 86 Tuan."


Setelah membalas salam dari majikannya, Kartini segera mengirim lokasinya saat ini.


"Ayo Nduk, kita tunggu mas Ridwan di depan Khanza Mart!"


"Siapa mas Ridwan, Bu?"


"Dia utusannya tuan Randy, Nduk."


"Owh --"


Gegas, Derana dan Kartini beranjak dari posisi duduk dan membawa langkah keluar dari terminal.


Tanpa menunggu waktu lama, mobil jemputan yang dikendarai oleh Ridwan tiba di depan Khanza Mart.


Ridwan lantas membuka pintu mobil serta mempersilahkan Kartini dan Derana untuk masuk ke dalam.


"Terima kasih Mas Ridwan," tutur Kartini setelah mendaratkan bobot tubuh di jok mobil bagian belakang bersebelahan dengan Derana.


"Sami-sami, Mbok." Ridwan membalas ucapan Kartini dengan menarik kedua sudut bibirnya sehingga terlukis jelas kedua lesung pipi yang menambah nilai ketampanan pemuda berusia 27 tahun itu ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....

__ADS_1


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Terima kasih dan banyak cinta 😘😘😘


__ADS_2