Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 49


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Bapak merasa, ada yang tidak wajar dengan kami, Nak Randy. Kami seperti terkena ilmu sihir sehingga kehilangan jati diri," tutur Usman--mengakhiri cerita.


Randy lantas menanggapi cerita yang telah disampaikan oleh Usman dengan mengutarakan argumentnya. "Dari cerita yang Bapak tuturkan dan yang pernah disampaikan oleh Mbok Karti, saya juga beranggapan bahwa keluarga Bapak terkena ilmu sihir yang mungkin dihembuskan oleh Farel dan keluarganya. Menurut saya, Farel sengaja menikahi Derana hanya untuk mewujudkan ambisi. Bukan karena cinta."


"Bapak juga beranggapan seperti itu, Nak Randy. Tapi bapak belum tahu, sebenarnya apa ambisi yang ingin diwujudkan oleh Farel? Menurut Nak Randy, apa yang mesti kami lakukan?"


"Menurut saya, lebih baik Derana segera mengurus proses perceraiannya dengan Farel, supaya Derana bisa terlepas dari jerat Farel dan keluarganya."


"Lalu apa lagi, Nak Randy?" Usman kembali bertanya.


"Kita harus segera menemui Kyai Hasan di kediaman beliau untuk meminta saran ... agar Bapak sekeluarga bisa terbebas dari ilmu sihir. Setelah terbebas dari ilmu sihir, insya Allah jati diri istri Bapak akan kembali," tutur Randy mengutarakan pendapat.


"Bapak setuju dengan penuturan Nak Randy. Bapak akan segera membantu Derana untuk mengurus proses perceraian dan menemui Kyai Hasan di kediaman beliau."


Usman memiringkan kepala dan melontarkan tanya yang ia tujukan pada Derana. "Nduk, kau ndak keberatan 'kan ... mengurus proses perceraianmu dengan Farel?"


Derana menggeleng kepala dan menerbitkan seutas senyum. "Tentu saja Rana ndak keberatan, Pak. Rana malah sangat berterima kasih pada Bapak dan Tuan Randy yang telah berkenan membantu Rana agar segera terlepas dari jerat mas Farel beserta keluarganya. Rana sudah sangat lelah, Pak. Rana ingin terbebas dari kubangan duka."


"Syukurlah jika demikian, Nduk. Bismillah, semoga Allah memberi kemudahan dan keridhoan-Nya," doa tulus Usman terlafazkan untuk putrinya.


"Aamiin yaa Allah," sahut Derana, Sukma, dan Randy seraya meng-amini doa yang terlafaz.


Usman membenahi posisi duduknya lantas kembali berlisan. "Kalau boleh bapak tahu, siapa sebenarnya Kyai Hasan dan di mana beliau tinggal, Nak Randy?"


Randy mengulas senyum. Kemudian ia menjawab tanya yang dilisankan oleh Usman. "Kyai Hasan adalah ayah angkat saya, Pak. Beliau terkadang hadir menemui saya dalam wujud sukma untuk memberi wejangan. Kediaman beliau berada di desa Bantul. Tepatnya di Pondok Pesantren Al Mizan. Pesantren yang dipimpin dan dikelola oleh beliau."


"Bapak tahu nama desa itu. Di sana memang banyak kyai dan ustadz yang memiliki kelebihan. Lalu, kapan kita berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mizan untuk menemui Kyai Hasan, Nak Randy?"

__ADS_1


"Secepatnya, Pak. Semisal Bapak berkenan, bagaimana kalau malam ini--kita menemui beliau? Kebetulan, saya juga berniat untuk bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al Mizan karena sudah lama saya tidak berkunjung ke pondok pesantren tersebut. Lebih baik, kita menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu kemudian lanjut tadarus sambil menunggu waktu isya tiba. Selesai menunaikan ibadah sholat isya, kita makan malam bersama dan setelah itu ... kita berangkat ke pondok pesantren Al Mizan untuk menemui Kyai Hasan."


"Apa ndak kemaleman kalau kita berangkatnya setelah makan malam, Nak Randy?"


"Tentu saja tidak, Pak."


"Baiklah, bapak manut Nak Randy saja," ucap Usman diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah rentanya.


"Mari kita sholat maghrib berjamaah dulu di mushola, Pak!" Randy beranjak dari sofa diikuti oleh Usman dan kedua putrinya, Derana dan Sukma.


Kemudian mereka mengayun tungkai menuju mushola yang berada di belakang rumah. Tepatnya di sebelah selatan taman.


"Usman --" Suara lembut yang sangat familiar mengalihkan atensi. Sontak, Usman merotasikan tubuh dan mencari sumber suara.


Usman terkesiap saat indera penglihatannya menangkap objek yang sangat ia kenal. Rupanya, si pemilik suara yang sangat familiar itu adalah Ranu, teman masa kecilnya.


"Ranu? Benarkah kau Ranu teman masa kecilku?" tanya yang dilisankan oleh Usman tanpa mengalihkan tatap. Ia sungguh tidak menyangka, Illahi akan mempertemukannya dengan Ranu setelah puluhan tahun mereka berpisah.


"Iya Us. Aku Ranu--teman masa kecilmu," lirihnya menahan buncahan rasa haru.


"Iya Us. Sudah lama ya kita tidak bertemu. Setiap aku pulang ke Desa Janda, aku tidak pernah bertemu denganmu. Kau masih tinggal di rumah orang tuamu atau di rumahmu sendiri, Us?"


"Aku tinggal di rumah istriku, Ran. Yah, aku belum mempunyai uang untuk membeli tanah dan membangun rumah," ucap Usman sendu.


"Sabar Us! Insya Allah akan tiba saatnya, kau mendapatkan rejeki lebih sehingga bisa membeli tanah dan membangun rumah," tutur Ranu membesarkan hati Usman, teman masa kecilnya itu.


"Aamiin, semoga Allah mengijabah. Kau mungkin tahu bagaimana rasanya seorang suami hidup menumpang di rumah istri, Ran. Terus terang, aku serasa ndak punya harga diri --"


"Sudahlah, hempaskan perasaan itu, Us! Jangan menyiksa batinmu sendiri! Sudah terdengar iqomah, ayo kita masuk ke mushola!" tutur Ranu memangkas ucapan Usman.


"Iya, Ran. Suamimu mana? Apa ndak ikut sholat berjamaah?"

__ADS_1


"Suamiku sudah berada di dalam mushola. Nur dan putrinya juga. Lanjut nanti lagi ngobrolnya! Kita sudah hampir telat lho."


"Kau duluan saja, Ran! Aku belum mensucikan diri dengan air wudhu."


"Yasudah, aku duluan ya?"


"Monggo Ran."


Ranu mengayun tungkai--memasuki mushola. Kemudian ia berdiri sejajar dengan jamaah (wanita) yang lain. Sementara Usman bergegas mengambil air wudhu untuk mensucikan diri.


Usai diperdengarkan iqomah, Randy membawa tubuhnya untuk maju ke depan dan memposisikan diri sebagai imam sholat.


"Allahu Akbar." Takbir yang terlafaz dari bibir Randy sebagai pertanda telah dimulainya ritual ibadah sholat maghrib--wujud penghambaan insan kepada Allah, Tuhan Yang Menguasai Seluruh Alam Raya.


Randy melantunkan kalam cinta dengan suaranya yang terdengar merdu hingga menggetarkan hati semua insan yang mendengarnya, tak terkecuali Derana dan Hastungkara ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Segini dulu UP nya ya Kakak-kakak terlove. Insya Allah nanti atau besok author lanjut lagi. 😉


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa:


Like 👍


Komentar


Fav ❤


Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Vote atau gift 😉


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang masih berkenan mengawal kisah Derana hingga end. 😘😘😘🙏


__ADS_2