Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 44


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Seusai metting, Randy menghubungi Usman--ayah Derana melalui sambungan telepon. Ia memberitahu Usman bahwa Derana berada di rumahnya. Ia juga menceritakan kemalangan yang menimpa Derana sebelum bekerja di rumahnya sebagai baby sitter Malikha.


Usman teramat murka dan mengucap sumpah serapah yang ditujukan untuk Farel kala mengetahui menantu lak-natnya itu tega membuang Derana di terminal.


Ia berjanji, akan segera menemui Derana setelah meminta penjelasan dari Farel.


"Terima kasih Nak Randy. Saya titip Derana. Insya Allah, malam nanti saya dan istri akan berkunjung ke rumah Nak Randy," tutur Usman dengan merendahkan suara.


"Iya Pak. Kami tunggu kedatangan Bapak beserta keluarga di rumah saya."


"Saya minta, jangan beri tahu Derana jika kami ingin berkunjung ke rumah Nak Randy! Biarlah kedatangan kami menjadi kejutan untuknya."


"Baik Pak. Saya tidak akan memberi tahu Derana."


Setelah mengucap salam, Randy mengakhiri percakapannya dengan Usman. Kemudian ia menghubungi sang bunda dan menyampaikan pesan yang dituturkan oleh Usman.


Sinar sang raja siang menerpa wajah cantik dua Hawa yang saat ini tengah mengayun tungkai menyusuri jalanan Malioboro. Keduanya membawa langkah menuju Pasar Beringharjo yang terletak tidak jauh dari Malioboro.


Ayunan tungkai sepasang sahabat itu terhenti kala menjejak lantai kios pakaian yang berada di Metro--Pasar Beringharjo Lantai dua.


Derana mulai memilih beberapa stel pakaian beserta jilbab dan da-la-man. Tak lupa ia meminta saran kepada Hastungkara, model pakaian yang cocok untuknya.


"Ran, ini sepertinya cocok untukmu." Hastungkara menunjukkan hem wanita berwarna biru muda dan jilbab berwarna senada serta celana baggy pant hitam pada Derana.


"Hemm, boleh juga. Aku tahu, kau memilih hem berwarna biru muda ini, karena kau sangat menyukai warna biru 'kan Ra?"


"Yup, betul sekali Ran. Aku suka warna biru, karena kata orang ... warna biru itu melambangkan kesetiaan. Kau tahu 'kan, warna biru itu seperti aku? Aku--gadis yang selalu setia menjaga hati untuk satu Adam? Meski dia telah pergi ke alam abadi, hati ini masih terjaga untuknya."


Raut wajah Hastungkara tetiba berubah sendu kala ia mengucap kata 'setia'. Binar di matanya pun meredup bersamaan kristal bening yang mulai membingkai manik mata. Teringat olehnya wajah rupawan Zain--cinta pertamanya yang telah tiada.


"Ra, kau masih mencintai Ustadz Zain?"


Hastungkara mengangguk pelan dan menerbitkan senyum tipis. "Iya, aku masih mencintainya. Bahkan masih sangat mencintainya. Teramat sulit untukku menghempas rasa yang terlanjur mendalam dan terpatri di dalam hati."


"Aku tahu, meski bibirmu selalu berkata ikhlas, tapi di dalam kalbu, kau masih belum bisa merelakan kepergiaan Ustadz Zain."


"Kau benar Ran. Antara ucapan yang terlisan dan kata yang terbesit di dalam kalbu sangat berbanding terbalik. Inginnya aku ikhlas, tapi kalbuku selalu berbisik bahwa dia belum pergi. Dia masih ada di dunia ini dan melafazkan doa agar kami bisa bertemu kembali. Aku selalu meminta, agar Illahi menyentuhkan keajaiban." Hastungkara menghela nafas panjang dan sejenak memejamkan netra--menghempas lara hati yang kembali menyapa.


"Ran, salahkah aku jika berharap, jasad yang terkubur itu bukanlah jasad Mas Zain, tetapi jasad orang lain? Salahkah aku yang masih berharap, Mas Zain masih hidup di dunia ini? Salahkah jika aku berharap, dia hadir di hadapanku dan melepas kerinduan dengan memeluk erat tubuhku? Salahkah aku --" Suara Hastungkara tercekat seiring buliran kristal yang lolos tanpa permisi dari kedua sudut netra.

__ADS_1


Derana sungguh tak kuasa kala melihat wajah sahabat terkasihnya terbingkai air mata kesedihan.


Diulurkan tangan untuk merengkuh tubuh Hastungkara yang berguncang lalu dibawanya ke dalam pelukan.


"Ra, meski teramat sulit ... kau harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Ustadz Zain! Jasad yang dikubur bukanlah jasad orang lain, tapi jasad Ustadz Zain. Insya Allah, Ustadz Zain sudah tenang di alam akherat dan berkumpul dengan semua hamba Allah yang saleh," tutur Derana sembari mengusap punggung Hastungkara dengan gerakan naik turun seraya mentransfer energi posistif agar sahabatnya itu kembali merasa tenang.


"Yakinlah, kelak Illahi akan mengirimkan seorang Adam untuk menjadi imam pengganti! Dia pasti bisa menggantikan posisi Ustadz Zain di hatimu. Move on, Ra! Tataplah masa depan dan jangan menoleh ke masa lalu jika masa lalu itu malah akan membuat hidupmu berkawan dengan duka!" sambungnya.


Perlahan, Derana mengurai pelukan dan menyeka jejak air mata yang masih membingkai wajah ayu sahabatnya.


"Jangan nangis lagi ya! Malu dilihatin penjaga kios dan pengunjung yang lain," candanya yang sukses menarik kedua sudut bibir Hastungkara.


"Huum Ran. Maaf ya, aku malah nangis di tempat umum. Setiap ngomongin Mas Zain, bawaannya mo nangis mulu."


"Mulai detik ini, saat ini, jangan ngomongin Ustadz Zain! Jangan sampai langkah Ustadz Zain terasa berat karena tangisanmu."


"Iya Ran," ucap Hastungkara lirih.


"Nah gitu donk." Derana menerbitkan senyum dan menoel hidung Hastungkara yang sedikit mancung ke dalam.


Kemudian mereka kembali memilih pakaian. Setelah dirasa cukup, Derana berjalan menuju kasir untuk membayar semua pakaian yang telah dipilih.


Namun sebelum Derana menyerahkan sejumlah uang pada kasir yang berjaga, Hastungkara mendahuluinya dengan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah lalu menyerahkannya pada kasir.


"Ra, aku bisa membayarnya sendiri. Tadi, Tuan Randy memberiku pinjaman."


"Tapi Ra, bagaimana kalau uangmu habis?"


Hastungkara tergelak lirih saat mendengar kalimat tanya yang dilontarkan oleh Derana.


"Kalau uangku habis, ya ... tinggal minta si Abang." Celoteh Hastungkara yang membuat Derana bertanya heran.


"Si Abang? Abang siapa, Ra?"


"Ada dech. Mau tahu aja atau mau tahu banget?"


"Mau tahu bingitz, Ra."


"Baiklah. Abang yang aku maksud bukan sembarang Abang. Tapi Abang Rafa."


"Hmm, kirain Bang Toyib?"


Hastungkara kembali tergelak lirih. "Pffttt ... ember, Ran. Emang bener. Mas Rafa 'kan memang seperti Bang Toyib. Pergi nggak pulang-pulang. Tapi kalau pulang selalu membawa banyak uang."

__ADS_1


"Memangnya, Mas Rafa sudah pulang dari Kairo?"


"Sudah Ran. Kemarin pagi, Mas Rafa terbang dari Kairo karena tugas yang diberikan oleh Mas Alif sudah selesai ditunaikan."


"Syukur Alhamdulillah. Sampaikan ucapan selamat dariku untuknya, Ra!"


"Siap, Ran. Insya Allah, nanti aku sampaikan. Sekalian salam kangen nggak?" Hastungkara menaik turunkan kedua alisnya seraya menggoda Derana.


"Boleh dech. Salam tempel juga boleh."


Candaan mereka terpangkas saat salah seorang penjaga kios menegur dengan memperdengarkan suara baritonnya. "Maaf Mbak, gantian customer yang lain ya! Terima kasih atas kunjungan Mbak berdua. Mohon maaf jika pelayanan kami kurang memuaskan," tuturnya sopan sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dan memperlihatkan senyuman ramah.


"Iya Mas." Hastungkara mengangguk dan menggamit lengan Derana lantas membawa sahabatnya itu keluar dari kios.


Hastungkara tak lantas mengantar Derana pulang ke rumah Randy. Ia mengajak Derana untuk makan siang terlebih dahulu sebab cacing di perutnya sudah berteriak nyaring.


Keduanya memutuskan untuk makan siang di warung soto Pak Muh. Salah satu warung soto yang berada di dalam Pasar Beringharjo dan menjadi favorit para pengunjung pasar.


Sambil menunggu pelayan menyajikan dua porsi soto daging sapi dan dua gelas es kelapa kopyor yang mereka pesan, Derana menceritakan awal mula ia bisa bekerja di rumah Randy sebagai baby sitter Malikha.


Hastungkara mendengar cerita sahabatnya itu dengan takzim.


Raut wajah yang semula teduh, tetiba diselimuti kabut amarah saat Derana mengatakan bahwa Farel telah membuangnya di terminal.


Ingin rasanya, Hastungkara menghukum Farel dengan melayangkan bogeman mentah dan menghancurkan tubuh pria iblis itu dengan jurus pukulan setipis kertas yang ia pelajari dari Chinmi, tokoh utama di Comic Kungfu Boy, bacaan favoritnya sedari kecil.


"Hah, waktu itu ... aku sangat ketakutan Ra. Aku takut karena ndak bisa membayar makanan dan minuman yang kami nikmati. Aku juga takut, jika diculik dan dinodai oleh para preman. Alhamdulillah, Allah mengirimkan malaikat yang berhati baik. Dia ... Bu Karti. Karena Bu Karti lah, aku bisa bekerja di rumah Tuan Randy sebagai baby sitter Non Malikha," tutur Derana mengakhiri ceritanya bersamaan dengan kedatangan seorang pelayan yang membawa nampan berisi pesanan mereka ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa:


Like 👍


Komentar


Fav ❤


Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Vote atau gift 😉


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove 😘😘😘🙏


__ADS_2