Derana Istri Yang Terbuang

Derana Istri Yang Terbuang
DERANA BAB 32


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Senyum terbit menghiasi wajah Kartini dikala pandangan netranya menangkap dua insan yang tengah bercengkrama di gazebo. Kedua insan itu ... Ridwan dan Derana.


Derana tampak melebarkan senyum saat celotehan lucu terlontar dari bibir Ridwan. Seolah celotehan pemuda berparas ganteng itu mampu mengalihkan dunianya yang muram.


Di dalam benak, Kartini melafazkan rasa syukur, sebab keputusannya membawa Derana ke rumah sang majikan adalah keputusan yang benar.


Raut wajah sedih tak terlihat setelah Derana menjejakkan kaki di rumah Randy. Bahkan air mata duka juga tak lagi mengalir dari telaga bening meski hanya setetes.


"Alhamdulillah nduk, ibu teramat bahagia dan bersyukur melihat kamu bisa tersenyum. Ibu berharap, senyum yang terlukis indah di wajah manismu itu ndak akan pernah pudar," monolognya diikuti uluran jemari tangan menyeka kristal bening yang lolos dari kedua sudut netra karena dorongan rasa haru yang memenuhi relung jiwa.


Kartini menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan ucapan yang sejenak terjeda. "Semoga kedukaan yang selama ini mengukungmu segera terhempas dan kebahagiaan akan segera hadir menyapa," doanya tulus.


Tanpa memudar senyum, Kartini berjalan menuju gazebo--menghampiri dua insan yang belum menyadari kehadirannya.


"Cie ... cie ...." Kartini sengaja mengeraskan suara untuk mengalihkan atensi, sehingga Ridwan dan Derana seketika memangkas obrolan mereka.


"Simbok --"


"Bu Karti --," ucap keduanya hampir bersamaan.


Kartini terkekeh lantas kembali berlisan kata dengan logatnya yang kemayu. "Walah, simbok cari ke mana-mana, ndak taunya Nduk Dera dan Mas Ridwan ada di sini tho."


"Memangnya, Simbok mencari kami di mana saja?" Ridwan melontarkan tanya seraya menanggapi ucapan Kartini.


"Di kamarnya Tuan Randy, di kamarnya Non Malikha, di kamar mandi, di dapur, di balkon, dan yang jelas ndak di hatiku, Mas," jawabnya berceloteh.


"Hayah Simbok paling bisa hiperbola."


"Eh bener lho, Mas. Simbok ndak hiperbola, tapi hipernasi. Dari tadi perut simbok meronta-ronta minta diisi nasi kucing dua porsi."


Sontak, Derana dan Ridwan tertawa kala mendengar celotehan Kartini yang menggelitik telinga.

__ADS_1


"Haduhh Mbok. Mana ada hipernasi? Adanya hibernasi, Mbok. Simbok paling pinter membuat orang ketawa," ujar Ridwan di sela-sela tawa yang masih mengudara.


"Heleh ndak juga, Mas. Buktinya, simbok ndak pernah berhasil membuat Tuan Randy ketawa."


"Mbok ... Mbok, Randy 'kan manusia kutub dan jauh dari kata humoris. Dia itu orangnya selalu serius. Nggak pernah bercanda. Jadi wajar, kalau Simbok nggak berhasil membuat si freezer ketawa," ujarnya setelah tawa mereda.


"Ndak juga, Mas. Buktinya ... tadi Tuan Randy bercanda lho sama Non Malikha." Derana turut bersuara yang terkesan membela sang majikan.


"Ehem, sepertinya ada yang ndak terima, Mas." Kartini melontarkan kalimat sindiran sembari melirik Derana dan menyenggol lengan Ridwan.


"Iya Mbok. Jangan-jangan, Mbak Dera terjerat pesona Randy makanya Mbak Dera nggak terima dan membela si duda muda beranak satu itu." Ridwan memberengut. Kentara sekali pria berlesung pipi itu tengah terbakar api cemburu.


"Eh, tapi 'kan Mbak Dera sudah bersuami ya? Jangan sampai lho, rumah tangga Mbak Dera jadi rusak gara-gara kehadiran calon pebinor. Dan mungkin, salah satunya saya atau Randy," tukasnya menyambung ucapan yang sejenak terjeda tanpa berpikir bahwa kata-kata yang ia lontarkan itu menyinggung perasaan Derana.


"Meski ndak ada pebinor pun ... rumah tangga saya sudah rusak, Mas. Mas Ridwan ndak perlu tanya kenapa, karena saya sedang ndak ingin membicarakan rumah tangga saya apalagi menyebut nama suami yang telah tega membuang istrinya ini di terminal. Dan perlu Mas Ridwan tahu, saya ndak berniat membela Tuan Randy. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Tadi Mas Ridwan melihat sendiri 'kan kalau Tuan Randy bercanda sama Non Malikha?" Derana berucap tegas dan sedikit meninggikan intonasi suara disertai binar mata yang menyiratkan luka.


"Maaf Mbak. Sepertinya saya telah salah bicara. Saya benar-benar minta maaf jika ucapan saya tadi, menyinggung perasaan Mbak Dera." Ridwan mengatupkan kedua telapak tangan dan menatap lekat wajah Derana. Ia merasa teramat menyesal karena telah salah bicara. Dan ucapannya yang bernada sarkasme itu malah melukis sendu di wajah sang pujaan hati.


Di dalam benak, ia merutuki diri sendiri karena tak bisa menjaga lisan.


"Mas Ridwan ndak perlu minta maaf! Mungkin saya lagi PMS, jadi mudah baper dan ndak bisa mengontrol emosi," ucapnya tanpa membalas tatapan Ridwan.


"Lain kali, jangan menyinggung rumah tangga Nduk Dera, Mas!" Kartini turut menimpali.


"Iya Mbok," lirihnya--mengangguk lemah.


"Oh iya, simbok sampai kelupaan tho!" ujar Kartini sambil menepuk dahi.


"Sebenarnya, simbok diutus Tuan Randy untuk mencari Mas Ridwan, Nduk Dera, dan Non Malikha. Tuan Randy sempat uring-uringan karena berpikir ... Mas Ridwan dan Nduk Dera membawa Non Malikha keluar. Lebih baik, kita segera menemui Tuan Randy di kamarnya supaya Tuan Randy ndak uring-uringan lagi," tuturnya kemudian.


"Iya Bu." Derana mengangguk dan beranjak dari posisi duduk, disusul oleh Ridwan.


"Mas Ridwan, Mbak Dera, full senyum dulu dong! Jangan merengut!" pinta Kartini dengan memasang wajah puppy eyes.


Ucapan Kartini sukses menarik kedua sudut bibir Ridwan dan Derana, sehingga wajah yang semula merengut kini terhias senyum.

__ADS_1


"Nah gitu dong! Full senyum Sayang, jangan merengut lagi ya!" Kartini lantas menyenandungkan lagu full senyum yang tengah viral dan Ridwan pun ikut bersenandung.


Mbok yo singΒ full senyum sayang


(yang penuh senyum, sayang)


ben aku soyo tambah sayang


(agar aku semakin bertambah sayang)


rasah pusing pusing


(tidak usah pusing pusing)


gek ndang dandan, ayo kita healing


(segeralah berdandan, ayo kita healing .... )


Usai keduanya menyenandungkan lagu, Ridwan melisankan kalimat pujian diikuti senyum yang terkembang. "Saya kagum sama Simbok. Simbok selalu bisa membuat orang tersenyum bahkan tertawa."


"Kagum boleh Mas. Tapi jangan sampai jatuh cinta!"


"Iya Mbok. Kalau saya jatuh cinta sama Simbok, saya takut bakal bersaing dengan si manusia kutub," sahutnya diiringi tawa yang mengudara.


Kartini pun ikut tertawa sementara Derana hanya mengulas senyum.


Tanpa ketiganya sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik pohon tatebuya dengan sorot mata tajam dan raut wajah dingin.


"Rupanya kalian di sini --"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak terlove yang masih berkenan mengawal kisah Derana. πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2