
Happy reading πππ
"Tuan, Nyonya, Non Malikha --"
Teriakan Kartini mengalihkan atensi Randy, Derana, dan Ranu yang saat ini tengah berbincang di ruang makan. Sontak, ketiganya merotasikan wajah ke arah asal suara dan menautkan pandangan pada objek yang sama.
"Malikha kenapa, Mbok?" Randy melontarkan tanya dan menatap lekat wajah Kartini yang menyiratkan cemas.
"Non Malikha hi-hilang, Tuan." Kartini menunduk dalam dan meremas ujung bajunya. Ia teramat takut jika tuannya akan murka dan menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga Malikha.
"Kali ini saya nggak suka dengan candaan Simbok," cetus Randy tanpa mengalihkan tatap.
"Sa-saya ndak bercanda, Tuan. Non Malikha benar-benar hilang --"
Randy beranjak dari posisi duduk, disusul oleh Ranu dan Derana. Lantas ia mencecar Kartini dengan merendahkan nada suara. "Bagaimana putri saya bisa hilang, Mbok? Dan di mana terakhir kali, Simbok membawa Malikha?"
Randy berusaha menahan diri untuk tidak meluapkan emosi dan tetap bersikap tenang agar wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya itu tidak semakin ketakutan.
"Ta-tadi, saya membawa Non Malikha ke taman belakang, Tuan. Sa-saya ceroboh. Karena terlalu senang menerima panggilan telepon dari saudara saya di desa, saya terlupa memperhatikan Non Malikha yang sedang duduk di atas tikar sambil bermain boneka kucing kesayangannya. Seusai berbincang dengan saudara saya melalui sambungan telepon, saya baru menyadari bahwa Non Malikha sudah ndak ada di tempatnya. Non Malikha menghilang entah ke mana. Maafkan saya, Tuan. Saya sangat ceroboh. Saya ndak becus menjaga Non Malikha," terang Kartini menyalahkan dirinya sendiri seraya menjawab tanya tanpa berani menengadahkan wajah.
"Ya Allah, kenapa Simbok sampai terlupa? Nggak biasanya Simbok berlaku ceroboh --"
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar khilaf. Saya siap mendapat hukuman apapun dari Tuan untuk menebus kesalahan saya yang teramat fatal," lirih Kartini diiringi tetesan embun yang mengalir dari telaga bening.
Randy menyugar rikmanya ke belakang dan berulang kali menghela nafas panjang. Kentara sekali ia tengah berperang dengan dirinya sendiri yang ingin sekali meluapkan kemurkaan.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, Rand! Lebih baik, kita segera mencari Malikha. Bunda yakin, putrimu masih berada di rumah ini," tutur Ranu sembari mengusap lembut bahu Randy agar putranya itu tetap bersikap tenang dan mampu berpikir jernih.
"Iya, Bund." Randy mengangguk lemah dan menghembus nafas berat.
"Tuan, Nyonya, saya akan mencari Non Likha di taman belakang dan di kamar saya," ucap Derana--menginterupsi.
"Terima kasih, Dera." Ranu menanggapi ucapan Derana disertai seutas senyum yang terlukis di wajahnya.
Derana mengangguk pelan dan mengulas senyum.
"Sami-sami, Nyonya," balasnya.
"Baiklah, sekarang kita berpencar. Randy mencari Malikha ke selatan--ke arah pintu gerbang, bunda ke lantai dua, dan Simbok ke gudang. Bismillah, semoga kita bisa segera menemukan Malikha."
"Aamiin ya Allah," sahut Randy, Derana, dan Kartini hampir bersamaan.
Kemudian mereka pun berpencar mencari keberadaan Malikha.
Sementara Derana membawa langkahnya menuju taman belakang, disusul oleh Kartini. Wanita paruh baya itu berjalan di belakang Derana lalu masuk ke dalam gudang yang berada tidak jauh dari taman.
Selama satu jam mereka mencari keberadaan Malikha. Namun belum ada satu pun yang melapor pada Randy, bahwa Malikha--putri tercintanya itu telah ditemukan.
Randy tampak frustasi. Ia tidak tahu lagi, ke mana harus mencari buah hatinya yang hilang.
"Ya Allah, Ya Robb, tunjukkan di mana putri hamba berada saat ini," pinta Randy penuh harap.
Di saat keputusasaan menguasai jiwa, terdengar suara lembut memanggil dengan menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Pa-pa, Pa-pa. Likha di cini, Pa. Coba Pa-pa tengok ke belakang!"
Sontak, Randy menoleh ke belakang--menuruti titah yang terucap dari bibir Derana--baby sitter Malikha.
"Likha --" pita suara Randy tercekat. Lidahnya serasa kelu untuk berucap tatkala wajah sang putri memenuhi ruang pandang.
Gegas, Randy mengulurkan tangan untuk mengambil Malikha dari gendongan Derana, lalu ia bawa tubuh mungil putrinya itu ke dalam dekapan. Kemudian ia labuhkan kecupan lama di pucuk kepala sang putri--bidadari kecil yang teramat ia cinta.
"Dera, di mana kau menemukan putriku?" tanyanya setelah puas mengecup pucuk kepala Malikha.
Derana mengulas senyum lantas menjawab tanya yang terlisan. "Saya menemukan Non Likha di kamar saya, Tuan. Tadi, Non Likha tertidur di atas kasur. Untungnya, kasur saya kasur lantai. Bukan kasur yang memakai dipan. Kalau kasur yang memakai dipan, saya khawatir Non Likha akan nekat naik dan terjatuh."
"Bagaimana bisa putriku masuk ke dalam kamarmu? Bukankah, putriku belum bisa berjalan?"
"Tuan, meski Non Likha belum bisa berjalan, Non Likha sudah bisa merangkak dengan lincah. Jadi, Tuan ndak usah heran kalau Non Likha bisa pergi ke manapun sesuai yang Non Likha inginkan. Hanya saja, kita dan khususnya saya, ndak boleh lengah menjaga Non Likha."
"Iya, Dera. Alhamdulillah, aku lega banget dan teramat bersyukur, karena ternyata ... putriku nggak hilang, tapi menumpang tidur di kamarmu. Terima kasih ya," ucap Randy dengan menarik kedua sudut bibirnya. Lantas ia mencium gemas pipi gembul putrinya. Ia eratkan dekapan, seolah tidak ingin melepas sang buah hati meski hanya sesaat.
Ya Allah, Ya Robb, berdosakah bila hamba berharap ... kelak Derana yang akan menjadi ibu sambung untuk Malikha--cucu hamba? Bisik Ranu di dalam kalbu, kala tersuguh adegan yang membuat hatinya menghangat.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Up nya segini dulu ya Kakak-kakak terlove βΊπ
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo π
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan ππ
Terima kasih dan banyak cinta teruntuk Kakak-kakak yang berkenan mengawal kisah Derana ππππ