
“Maaf,” ucap louis pada meera yang saat itu tidur disebelah sang putra. Sean sudah tidur lelap lagi dalam dekapan momy nya saat ini, begitu tenang dengan senyumnya yang khas.
“Untuk apa?”
“Karena aku telah sempat menyalahkanmu atas kejadian ini.”
“Rupanya orang kaya dan berkuasa seperti anda bisa minta maaf,” cetus meera dengan wajah datarnya.
“Maksudmu?” Louis menyipitkan mata, dan saat itu meera hanya tersenyum miring membalasnya.
Ya, meera paham benar bagaimana orang kaya yang sering ia temui. Mereka tak akan pernah meminta maaf karena menurutnya itu rendah dan melukai harga diri sebagai orang yang tinggi. Tak perlu banyak contoh karena itu baru saja kemarin terjadi ketika Bu Dona berselisih dengannya tempo hari.
Mungkin Bu dona akan minta maaf dan bersujud pada Ocean, tapi tidak untuk meera meski semua kesalahannya.
Louis pun tahu maksud meera, pasti dalam fikirannya semua orang kaya pasti akan sama egoisnya. Yang bahkan akan melakukan apa saja demi kebenaran diri sendiri. Tapi tidak bagi louis, dan ia juga mengajarkan sang putra dengan sikap yang sama. Akui jika salah, meski apapun yang akan terjadi setelahnya.
“Ya, saya tahu bagaimana cemasnya anda saat itu. Semua orang pernah merasakan bagaimana paniknya, jika seseorang yang disayang mendadak sakit.” Meera berusaha lapang dada.
“Sebenarnya ini sering terjadi. Bukankah kau sendiri tahu, jika sean jarang ke sekolah?”
“Saya fikir hanya karena malas, dimanja, dan_”
“Tidak… Aku hanya terlalu ingin menjaganya dari rasa lelah,” jawab berat louis yang amat begitu protektif menjaga putranya.
Meera belum pernah menjadi orang tua, tapi saat itu seakan meera amat tahu dan paham perasaannya. Rasanya seperti meera ingin menggenggam tangan louis saat ini dan memberinya semangat untuk terus kuat menjaga sean dengan segala kondisi yang ada. Seperti bagaimana kerasnya meera berusaha untuk menjaga ibunya.
Meera melirik jam sejenak. Tak terasa hari semakin sore saat ini, dan lagi sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.
“Kau ingin pulang?” Louis tampak begitu peka pada meera.
__ADS_1
“Ya, tapi sepertinya sekolah sudah tutup saat ini.” Meera menundukkan kepala, pertanda pekerjaannya harus ikhlas untuk tertunda. Padahal ia masih harus menyelamatkan dedikasinya untuk terus mengajar disana.
“Bisa tunggu dafa sebentar, aku akan mengantarmu pulang. Setidaknya harus ada yang menunggu sean,”
“Ya, terimakasih.” Meera menganggukkan kepala. Ia turun sejenak dari ranjang itu untuk membasuh wajahnya di kamar mandi. Hingga ia selesai, keluar dan melihat louis memejamkan mata diatas sofa dengan tangan menopang dahinya.
Wajah itu tampak amat lelah saat ini, hingga meera sempat bertanya-tanya dalam hati. Apakah tak ada keluarga lain saat ini? setidaknya yang bisa menunggu atau membantu louis untuk mengasuh putranya.
Tapi kembali lagi jika meera harus melihat semua kenyataan yang ada, dan sepertinya ia sudah mendapat semua jawaban meski tanpa harus banyak bertanya.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu dibuka, dan akhirnya dafa benar-benar datang dengan sebuah tas laptop dalam genggamannya. Dan yang mengagetkan adalah ketika ia memberikannya pada meera. Sontak gadis itu langsung bengong dan diam seribu Bahasa menatapnya.
“Kenapa diam?”
“Ini, kok dikasih ke saya?” tanya meera membalas pertanyaannya.
“Stop! Heey… heey… kenapa justru kalian jadi_... Aah, menyebalkan.” Louis tampak begitu jengah melihat tingkah bodoh mereka berdua dihadapannya saat ini.
“Aku yang meminta dafa memberikan laptop itu padamu, agar kau bisa bekerja dirumah nanti.” Louis membuka mata dan berdiri dari sofanya.
“Kenapa tak bilang? Saya bahkan tak meminta agar anda meminjamkan laptop ini pada saya. Atau, memang dia seperti itu?” tanya meera dengan nada lirih pada dafa yang ada didekatnya saat itu.
Dafa hanya menganggukkan kepala. Ia membenarkan jika louis memang sudah terbiasa spontan dalam melakukan banyak hal, terutama yang baginya penting. Tak seperti dafa yang selalu memikirkan sesuatu hingga terkadang lama untuk memutuskan apa yang akan ia lakukan.
“Tapi Tuan, saya tak bisa menerima ini. Pasti harganya mahal sekali,” usap meera pada laptop itu, dan memang Ia tahu jika itu laptop mahal dan bahkan ia tak pernah bermimpi untuk membeli meski seumur hidupnya.
“Aku hanya ingin pekerjaanmu lancar, hingga kau bisa membagi waktu untuk menjaga sean. Kau bahkan masih menolak ajakkanku untuk menikah. Sepertinya memang harus dipaksa,”
“Hey! Aaaiisshh! Sudahlah, aku bawa. Itu terus ancamannya, suka sekali membuat orang takut.”
__ADS_1
Meera memasukkan laptop itu lagi ke dalam tas, dan kemudian meraih tas lawasnya itu dibahu. Louis memang sudah memiliki tas baru untuk meera, tapi ia yakin jika gadis itu pasti menolak pemberiannya tanpa alasan yang tepat.
“Atau aku harus pura-pura meninggalkan ta situ atau menghilangkannya?’ fiikir louis agar meera mau menerima pemberiannya. Laptop saja harus dengan beberapa ancaman hingga ia pasrah dan membawanya pulang.
Keduanya pamit pada sean, tak lupa meera mengcup pipi pria kecil itu dengan begitu gemasnya hingga meninggalkan bekas merah dipipi putih bersih itu. Meera hanya tersenyum dan mengusapnya dengan tisu yang tersedia disana, lalu ia pergi bersama louis yang berjanji untuk mengantarnya pulang.
Mereka berjalan dalam diam seperti biasa. Sepertinya memang masih sangat canggung ketika hanya berdua apalagi didalam mobil yang tak terlalu besar itu, dan meera hanya memeluk laptop barunya dipaha. “Terimakasih,” ucap meera padanya.
“Untuk?” tanya louis, dan meera menepuk tas laptopnya saat itu.
“Itu laptop kantor, yang sebenarnya diberikan sebagai fasilitas karyawan yang ada.”
“Ya, tapi ini akan sangat berharga untuk saja. Pernah punya, tapi dijual ayah dan hingga sekarang belum mampu untuk membelinya lagi.” Meera tanpa sadar menceritakan hidupnya.
“Kau bodoh, masih saja mampu bertahan dalam kehidupan yang seperti ini. Padahal kau bisa saja pergi dan kabur jauh darinya,”
“Anda fikir, saya tak pernah mencoba itu semua? Bahkan saya dan ibu pernah hampir mati disiksa ayah hanya gara-gara mencoba pergi untuk kesekian kali.”
Bahkan meera membuka kemeja dan memperlihatkan bagian dadanya yang pernah terluka, itu karna cambukan ikat pinggang sang ayah ditubuhnya beberapa bulan lalu.
“Sudah ku bilang, ikut denganku maka aku akan melindungimu. Bahkan ibumu,”
“Serius? Andai anda tahu, saya banyak hutang, ayah penjudi dengan circlenya yang keras, dan ibu sakit-sakitan. Tak mudah untuk menampung saya dengan tanggugan itu meski ayah tak masuk dalam daftar asuhan.”
“Kau fikir rumahku panti werda?” tatap tajam louis padanya, dan saat itu justru lyra tertawa kecil membalasnya.
“TIdak… Hanya saja, satu-satunya yang membuat saya tak bisa pergi adalah ibu saat ini. kemanapun lari dan sejauh apapun, maka ibu adalah tempat saya akan kembali.” Padalah ibu sendiri meminta meera untuk meninggalkannya jika ia ingin pergi, tapi lyra tak akan pernah bisa meninggalkan surganya tersiksa sendiri ditangan ayahnya.
“Apa anda mau membiayai hidup saya jika kita sudah bersama? Pasti akan sangat mahal sekali untuk merawatnya dengan segala penyakit yang ada.” Meera seolah menantang louis saat ini. Dan ini bukan perkara uang.
__ADS_1