Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Penasaran


__ADS_3

“Eh, si Nyonya. Santai bener?” ledek Ane ketika mendapati Meera tengah duduk santai sembari membaca, menunggu Sean dengan semua mainannya.


Sejak kemarin dady ada di luar kota untuk pekerjaannya, dan Dafa tengah menghadiri sebuah rapat mewakilinya saat ini hingga Meera begitu santai dan tengah menikmati hari-harinya dengan cukup tenang.


“Eh, Ane… Makan malam udah siap?” tanya balas Meera padanya, yang seketika itu langsung memunculkan sungutnya. “Itu tugas kamu!!”


“Loh, kok aku? Bukannya udah perjanjian dari beberapa hari lalu kalau kalian yang pegang kendali dunia perdapuran? Kalian kan hebat, dan makanannya enak kok.” Meera mengingatkan mereka dengan semua kesepakatan yang dady sebutkan.


Ane mengepalkan tangan saat itu, bahkan mamanya sampai susah tidur akibat kelelahan melayani mereka semua apalagi Vira dan Dafa yang selalu mengawasi pekerjaan mereka. Jijik sekali rasanya ketika melihat Meera bahkan tak diperbolehkan untuk sekedar membantu seperlunya.


“Jangan gede kepala kamu, Meera. Kamu kira kak Louis sesayang itu sama kamu? Bahkan keluarganya disini saja kamu ngga tahu, rahasia, dan semuanya. Kamu itu Cuma dijadiin babu buat asuh Sean, yang setiap malam diambil dan dipindah ke kamar kak Louis kan?”


Meera menutup bukunya saat itu juga. Entah kenapa ucapan Ane saat itu sedikit mengetuk pintu sanubarinya yang selama ini ia tutup agar tak memiliki banyak beban fikiran selama melaksanakan tugasnya. Tapi ucapan Ane itu seolah nyata dan bisa langsung membuka matanya.


“Keluarga?” lirih Meera penuh tanya.


“Kan, beneran ngga tahu. Bodoh sih kamu, terlalu nurut jadi istri. Makanya aku bilang kalo kamu itu ngga beda sama babu!”


Gleek… Meera menelan salivanya dalam-dalam saat itu.


“Aku juga yakin, Kak Louis banyak rahasia yang ngga kasih tahu kamu. Aku ngga yakin jika kak Louis hanya dengan kamu, apalagi dengan penampilan kamu. Aku tahu selera kak Louis, Meera. Kamu ngga pernah lihat foto kak Rose kan?”


Dan Meera menggelengkan kepalanya. Ia akui memang selama beberapa bulan menikah, bahkan dady belum pernah sama sekali memperlihatkan foto mendiang sang istri. Ia sempat tak perduli karena hanya ingin fokus pada mereka berdua, tapi ucapan Ane justru membimbing fikirannya kearah rasa penasaran yang begitu besar.


Ane mendekat ke Meera dan berbisik begitu pelan padanya, “Kamu tahu, Dafa itu adik kak Louis. Ngga tahu kan? Itu ngga dipublish, seperti halnya pernikahan kalian berdua.” Ane langsung beranjak pergi dan meninggalkannya dengan senyum puas, terutama melihat wajah diam Meera usai mendengar semua berita mengejutkan itu.

__ADS_1


“Dafa adik dady? Kenapa sampai dirahasiakan. Dengan istrinya sendiri?” gumam Meera. Ia paham jika pernikahannya yang di rahasiakan, namun kenapa adiknya juga ikut menjadi rahasia dalam hidupnya. Dan, berapa banyak lagi rahasia dady selama ini.


“Kau terlalu bodoh, Meera. Begitu bodoh sampai hal sekecil itu kau tak perduli! Apa kekuatanmu sebagai istri?” Meera terus meracau dalam hati merutuki kebodohannya sendiri saat ini. Perih, tapi ia hanya bisa menggigit bibir dan menarik napas panjang untuk menjaga hatinya sendiri. Ada Sean disana.


“Sean… Paman Dafa pulang!” panggil Dafa yang baru masuk ke rumah itu setelah pamit menghadiri meeting sebentar. Medengar itu, Sean langsung berlari dan menghampiri pamannya yang membawa sebuah bingkisan.


“Yeeey… pizza,” senang Sean menerima itu semua. Dengan wajah berbinar, Sean langsung duduk didepan tv dan membuka pizza itu untuk ia santap dengan begitu nikmatnya.


Dafa menatap mengitari rumah itu. Siapa lagi yang ia cari jika bukan Meera, yang terbiasa ikut menyambutnya ketika pulang. Senyum ramah itu begitu ia dambakan saat ini apalagi dengan tatapan mata indahnya.


Sean yang tengah menikmati pizza itu langsung menunjuk kearah teras belakang memberitahu Dafa jika Momy ada disana. Dafa segera melangkah untuk menyusulnya saat itu sembari membawa sekotak pizza ukuran kecil untuk Meera.


“Nyonya?” panggil Dafa, dan itu tampak cukup mengagetkan buat Meera saat ini.


“Eh… Iya, Mas Dafa? Maaf tadi Meera ngelamun,” ucapnya yang langsung merapikan wajah saat itu. Tapi sayang, kepekaan Dafa melihat sesuatu yang aneh darinya saat ini.


“Mereka kemana, kenapa tak masak?”


“Hah? Ehm… Ane sama Mama Vani, ya? Ngga papa, nanti Meera pesenin makanan aja buat_”


“Mereka melakukan sesuatu lagi padamu, selama aku pergi? Jujur.”


Hanya ucapan Dafa seperti itu saja langsung membuat Meera tersentak. Ia tampak begitu sensitive saat ini bahkan matanya tampak berkaca-kaca, dan wajahnya cerahnya mendung seketika. Dafa langsung cemas dan lantas merasa bersalah padanya saat itu juga.


“Nyonya tak apa? Apa saya terlalu kasar?” panik Dafa.

__ADS_1


“Ngga… Meera ngga papa. Maaf, nanti pesankan saja makanannya karena harus ada sebelum dady pulang. Meera tak bisa masak hari ini. Permisi,” ucap Meera yang langsung pergi dengan tergesa-gesa dan naik ke kamarnya. Diujung tangga atas, ia menoleh padasebuah kamar kosong yang sempat dipesankan oleh dady agar ia tak masuk kesana sama sekali.


“Kamar itu?” lirih Meera yang makin lama makin penasaran. “Ah, au ah… KEsel!!” geramnya yang langsung masuk kamar utama. Ia menjatuhkan diri disana dan menumpahkan segala rasa kesal yang ada, dan ketika fikiran terasa berat maka ia demam seketika.


Setelah itu Meera hanya bisa diam, meringkuk dibawah selimut dengan tatapan yang hampa. Bahkan sebelumya ia tengah begitu penuh damba menunggu suaminya pulang dari luar kota.


“Hallo, Tuan?” sapa Dafa pada dady Louis yang menghubunginya sore itu. Sementara Dafa baru saja memandikan dan merapikan Sean karena sejak tadi Meera tak keluar dari kamarnya.


“Meera mana, kenapa tak jawab teleponku?” tanya dady begitu penasaran. Padahal di jam seperti ini mereka rutin video call dan Meera langsung menjawabnya dengan penuh suka cita.


“Sejak aku pulang, dia di kamar. Dia… sama sekali belum keluar,” ucap Dafa yang menoleh ke atas saat itu karena Sean mandi dibawah usai berenang bersamanya.


“Ada apa?”


“Aku tak tahu, sejak aku pulang ia tampak murung. Bolehkah aku masuk ke kamarmu dan bertanya? Atau, aku harus menunggumu pulang?”


“Tunggu, aku dalam perjalanan saat ini.”


“Baik,” balas Dafa, dan ia kembali fokus pada Sean meski fikirannya ada pada Meera saat ini. Dan jelas, ia juga dihantui rasa curiga akan Duo gayung yang juga masih bertahan di kamarnya sejak tadi.


“Akan ku pastikan kalian tak akan hidup tenang jika terjadi sesuatu pada mereka berdua!” gumam Dafa dalam hatinya.


Dady yang tengah dalam perjalanan menggunakan taxi saat ini beberapa kali menghubungi Meera dengan ponselnya meski tanpa video call. Ia mulai cemas, dan bahkan mengirim beberapa pesan suara pada istrinya.


“Apapun yang terjadi, jangan lakukan apapun.”

__ADS_1


Dan rupanya saat itu Meera mendengarnya. Dalam ruangan yang gelap, dingin dan sendirian hanya berteman Hp yang ia pegang. Sebenarnya ia sangat rindu dengan dady, bahkan mendengar suaranya saja sudah berdebar. Namun sesuatu yang mengganjal dihati saat ini meruntuhkan semua rasa rindu yang ada.


“Dikiranya akum au apa? Lakukan apa coba? Eerrrgghh… KESALLLL!!”


__ADS_2