Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Apa mau Dady?


__ADS_3

Mata Meera mulai perih saat ini, sementara dady begitu kuat dalam pertahanannya. Seperti amat terbiasa menatap orang lain dengan mata tajam seperti itu tanpa jeda. Entah bagaimana orang diluar sana menghadapi posisi seperti ini.


Tak hanya Meera yang merasakan ketegangan itu, tapi Dafa dan Sean juga ikut tegang dengan pertandingan keduanya saat ini. Yang bahkan mereka bertaruh siapa yang akan menang diantara mereka berdua.


“Sean pegang siapa?” bisik Dafa.


“Momy,”


“Okey, Paman pegang Dady.” Dafa menganggukkan kepala kemudian bersedekap di dada memperhatikan keduanya. Makin lama makin tegang dan kasihan melihat Meera yang matanya mulai memerah.


“Dady!!” pekik Meera yang akhirnya menyerah dengan pertandingan mereka saat itu. Ia langsung menggosok mata dan meraih air untuk sedikit membasahinya. “Aaaah… perih,”


“Kau kalah,” puas dady dengan kemenangan yang ia dapatkan. Sean menepuk kepalanya karena kalah dalam taruhan, melirik Dafa yang juga tertawa dengan begitu puas.


Meera menundukkan kepala menerima kekalahan dan bersiap menerima hukuman saat itu. Ia bahhkan sudah mengusap jidatnya sendiri dan memberikannya pada dady untuk disentil. Namun dady hanya menggelengkan kepala dan melipatnya didada. Meera langsung curiga jika dady menginginkan sesuatu darinya.


“Apa? Jangan macam-macam,” tukas Meera padanya.


“Kau takut? Hanya satu macam,”


“Isssh!” Meera mulai curiga pada dady dan hawanya memang selalu buruk sangka. Ia sedang ngambek, tapi masih saja dady selalu bisa mencari kesempatan untuk menjamahnya kapan saja.

__ADS_1


Hp dady kembali berdering saat itu seolah takt ahu kondisi. Meera langsung mendengkus kesal dan tak lagi mau meliriknya sama sekali meski dady langsung merangkul dan mengusap rambutnya, sementara Sean iseng duduk diatas pangkuan dady dengan begitu mesra.


“Ya, Sila?” sapa dady, dan ia mendengarkan Sila dengan jadwalnya meski dihari libur seperti ini dengan satu pertemuan penting yang harus dihadiri.


“Ya, kalaus Shila langsung diangkat. Tapi kalau yang lain langsung pergi. Keseeeel!!” racau Meera dalam hati dan seketika melepas belaian dady saat itu juga. Yang sangking kesalnya tangan dady justru menyenggol luka Dafa yang masih perih ditangannya.


“Aaahh… Aduh!” Dafa memekik da Meera segera meraihnya saat itu.


“Mas Dafa, maaf.” Meera langsung meniup dan mengusap dengan lembut. Tak terima, dady langsung meraih kerah baju Meera dan kembali menarik agar kembali padanya.


“Apaan?!” geram Meera padanya.


“Siap!!” Sean begitu semangat dan bertambah lagi kosa kata baru yang ia ucapkan saat itu.


Meera langsung berdiri menuruti perintah dady, ia sadar memang harus menurut dalam setiap perintah mutlak yang dady ucapkan padanya. Masuk ke kamar dan dady sudah ada dibelakangnya saat itu untuk memilih pakaian yang pantas ia kenakan.


“Meera ngga tahu mau pakai baju yang gimana, ini baru pertama.” Ujar Meera sembari membolak balik semua pakaian yang ada di lemarinya saat itu. Ia terus berbicara dan kembali tak mau menatap suami yang ada di belakangnya.


“Lihat aku,”


“Apaan, orang lagi_” Dady menarik tangan Meera dan menghadapkan keduanya. Dady kemudian meraih satu dress yang begitu cantik dibagian ujung lemari itu dan mengepaskannya pada tubuh Meera.

__ADS_1


“Kau sengaja menghindari dan tak mau ikut denganku? Ingin di rumah bersama Dafa?”


“Ngga gitu!” sergah Meera padanya. Meera hanya belum siap berhadapan dengan mereka semua, kolega dan para sahabat dady disana karena bertemu untuk yang pertama kalinya. Ia lebih nyaman di rumah saat ini, diam dan bermain belajar bersama Sean. Meski taka da Dafa seperti yang dady tuduhkan padanya.


“Buka,” titah dady, dan Meera segera membuka daster panjang yang ia pakai saat itu. Lantas dady memakaikan dress berwarna merah hati yang cukup terbuka bagi Meera, dipasang dengan rapi dan begitu pas menggambarkan lekuk tubuh indah istrinya saat itu dan begitu indah dipandang mata.


Dady memutar tubuh Meera agar bisa melihatnya sendiri di depan kaca. Cantik natural meski belum terpoles oleh bedak dan lipstick sama sekali di bibirnya. Dady memeluk Meera dan menaruh dagu dipundak Meera saat itu hingga terasa hembusan napas yang berat ditelinga. Kedua tangan mereka saling bertautan, lalu dady bawa untuk memeluk perut rata sang istri.


“Apa mau Dady pada Meera sebenarnya?” gugup Meera.


“Tak ada,” jawabnya santai. Ia tahu, Meera masih bingung dengan sikap dan perlakuannya selama mereka bersama.


Dady kemudian melepas pelukan itu dan meminta Meera untuk berdandan karena waktu mereka semakin dekat untuk pergi. Sementara dady mencari pakaian dan merapikan dirinya sendiri.


Meera berhias dengan begitu rapi, tak terlalu mencolok dan tampak begitu menawan. Dady bahkan sampai tak berkedip melihatnya saat itu, ingin rasa menerkam seketika sangking gemasnya. Apalagi dengan rambut yang Meera gelung diatas, hingga lehernya yang indah itu terlihat menggirukan untuk vacuum cleanernya.


Tak hanya dady, Dafa dan Sean juga sampai ternganga melihat Meera dengan kecantikannya saat itu. Dady sampai mengangkat kaki dan meraih sepatu ketika melirik Dafa yang memperhatikan istrinya tanpa mengedipkan mata.


"Dady cemburu," bisik Dafa pada keponakannya saat itu, sementara Sean hanya tertawa renyah mendengarnya.


"Udah, ih... Ayo berangkat," tegur Meera.

__ADS_1


__ADS_2