
"Dia mengganggu Nyonya lagi?” tanya Dafa pada Meera saat itu.
“Sepertinya dia kurang hiburan sehingga selalu mmebully orang. Tapi, heran_”
“Heran… heran kenapa?” tanya Dafa padanya, dan ia melirik Meera memang tampak berfikir sedikit keras saat ini.
Masih dengan pemikiran yang tadi, dimana bu Dona seolah begitu marah ketika mendengar pak Abrar Merea ceburkan ke dalam kolam saat itu. Jikapun semua gossip sudah tersebar, yang seharusnya marah dan melabrak Meera adalah istri sah dari pria itu sendiri. Tapi kenapa bu Dona yang tampak lebih menggebu-gebu saat ini.
Meera juga masih ingat dengan penjelasan dady mengenai lingkungan mereka yang kadang tak sehat, hingga dady berusaha keras menghindari itu semua.
“Mas?”
“Ya, Nyonya?”
“Suaminya bu Don, itu manager dady kan?” Meera seolah menemui titik terang saat ini.
“Iya, Nyonya. Beliau adalah salah satu manager kepercayaan tuan Louis di perusahaan. Ada apa?”
“Boleh saya minta datanya?” Sedikit penasaran, tapi akhirnya Dafa berhenti sejenak dan mencari data pegawai di tab yang ia miliki saat itu. Hingga menemukan data dari bu Dona dan keluarganya.
Suami bu Dona Bernama Ridwan, dan memang sudah begitu lama mengabdi untuk dady setelah lulus kuliah. Ditampung sebagai kurir di awal, namun karena semua prestasi yang baik makai ia naik hingga menjadi manager saat ini.
“Anaknya Dua, yang satu barengan Sean. Jarak mereka dekat, ya?” kagum Meera pada Dona.
“Maaf, kabarnya anak yang kedua itu_”
“Ah, masa?”
“Karena bu Dona hamil ketika tuan menugaskan pak Ridwan ke luar kota selama satu tahun, dan saya saksi jika ia memang jarang pulang saat itu.” Seakan tak percaya, Meera mengerutkan dahi, dan ia kemudian memulai ilmu cocokologi yang membayangi kepalanya saat ini.
__ADS_1
Meera memijat dahi, benar-benar tak menyangka dengan pergaulan yang begitu bebas diluar sana. “Mas Dafa, harus hati-hati sama suami Dona. Bukan dia, tapi Dona sendiri.” Meera memperingatkannya saat ini, tinggal menunggu nanti ketika mendapat kesempatan bicara dan membuktikan semuanya pada dady.
Mereka tiba di rumah dan mendapati mobil Ane terparkir disana. Dafa hanya bisa menghembuskan napas Panjang karena yang pasti ia tak akan bisa Kembali ke kentor setelah ini untuk mengawasi mereka berdua. Dafa hanya berharap jika Ane saja yang datang tanpa oma Vani.
Dafa keluar lalu meraih tas Sean sementara Meera menggandeng putranya untuk masuk kedalam. Pintu terbuka, tampak koper besar di ruang tamu itu dan Oma Vani duduk manis di sofa sementara Ane tengahh memarahi Vira, ART mereka.
“Kamu ngga tahu siapa say aitu bohong, karena kamu sudah bertahun-tahun bekerja disini. Kamu tahu, saya adalah salah satu Nyonya disini bersama mama saya dan_”
“Ada apa ini?” tanya Meera menghampiri keduanya. Saat itu Vira langsung menghampiri dan meraih Sean untuk ia bawa ke kamar, dan Sean menurut tanpa perlawanan karena takut dipeluk omanya saat itu. Dafa masih diam memperhatikan keduanya sembari memainkan hp memberi kabar pada Dady pasal kedatangan Duo gayung itu.
Ya, gayung yang siap menyerok apapun yang ada dihadapannya tanpa pernah puas dengan apa yang ia dapatkan.
“Jadi, dia lebih menurut denganmu daripada dengan kami?” Ane menatap Meera dengan nyalang saat itu.
“Kalian yang siapa? Saya istri Dady Louis, sementara kalian? Hanya mantan_”
“Sudahlah… Saya tak mau ribut dengan kamu, Meera. Saya lelah, dan saya butuh istirahat dan berikan kamar untuk saya.” Oma Vani menyela dari tempatnya saat itu, memang ia tampak sangat lesu dan pucat seperti orang yang tengah sakit, hingga Meera mengalah dan memberi kamar pada mereka sesuai anjuran dari Dafa.
“Mau atau pergi?” tanya Meera ketika Ane mulai mengepalkan tangan saat itu.
“Jangan kamu kira, aku diem terus aku kalah ya? Awas kamu.”
“Disini bukan tentang menang atau kalah, tapi…” Meera beranjak mendekat pada Ane dan berbisik ditelinganya saat itu dengan begitu lirih, “Konsep sadar diri itu penting.” Meera langsung berdiri dan naik ke kamarnya sendiri saat itu.
Dan tepat waktu, ketika ia mengganti pakaian, saat itu pula Dady memanggilnya lewat Video call. “Dasar duda mesuum! Tau aja istri lagi ganti baju,” racau Meera yang langsung mengangkat panggilannya saat itu.
“Ya, Sayang?” tanya Meera meraih daster yang ada di lemarinya. Dady lambat menjawab, seolah masih ingin memperhatikan tubuh indah istrinya saat itu dan mengaguminya dengan sesksama.
“Dady!”
__ADS_1
“Eh, ya Mom? Ku dengar Ane dan mama datang, benar?”
“Ya, seperti itulah. Pasti Mas Dafa sudah bilang, bukan?” Meera sembari menghapus make up tipis yang ia pakai saat itu. Begitu indah dan menyegarkan mata dady saat ini. Tapi Meera menjelaskan bagaimana kondisi oma Vani saat ini, sakit dan lemah hingga bahkan Meera tak tega untuk mengusirnya saat itu.
“Meera inget ibu kalau lagi sakit,” murung Meera mengingatnya saat itu. Tapi ia langsung menarik napas untuk Kembali memberikan senyum pada suaminya, ingat jika ia tak akan menangis lagi setelah hari kemarin.
“Dady sudah makan siang?” tanya Meera mengalihkan obrolan keduanya.
“Sebentar lagi, sekaligus ada pertemuan bersama beberapa rekan di luar. Kau jangan lupa makan, aku ingin tubuhmu lebih berisi setelah ini,”
“IIh, Dady ih… Nanti kalau kebablasan gendut gimana? Jelek_” balas Meera yang mulai salah tingkah ketika dady membahas tubuhnya. Ia bahkan sudah meminta izin untuk ikut olahraga bersama Dafa dengan pengawasan Dady dari jauh ketika ia kerja.
Obrolan mulai terasa renyah meski Meera lebih banyak mengambil alih dari kekakuan dady saat ini. Tak jarang Dady tersenyum dengan apa yang di lontarkan sang istri, hingga cukup lama waktu sudah mereka habiskan saat ini.
“Arrrgghh…. Momy!!” Terdengar suara Sean memekik dibawah sana. Tak hanya Meera bahkan dady ikut mendengarnya saat itu dan memberikan ekspresi cemas. Meera langsung pamit untuk turun menilik putra mereka dibawah sana.
“Ayo makan, apa bedanya sih makan sama oma dibandingin mama tiri kamu itu? Sama-sama makan, Sean!” Oma Vani tampak memaksa Sean makan siang saat itu, mengejar hingga Sean berlari dan ketakutan.
“Momy tirimu itu tampak pemalas, pulang langsung tidur ngga urusin anaknya mentang-mentang anak sambung,” ocehhnya dengan wajah kesal seolah Ia adalah oma yang paling perhatian sejagad raya.
Ocean mendengar pintu kamar Meera terbuka, langsung menolah padanya saat itu. “Momy!” Sean bahkan langsung berlari menghampirinya meski masih menuruni tangga.
“Baru bangun tidur, Nyonya besar?” tanya oma pada Meera dengan dengkusan napas kesalnya.
Meera diam, meraih Sean dan menggandeng tangannya saat itu dan melirik menu yang oma ambilkan untuk cucu KESAYANGANNYA. Rupanya, itu adalah bagian ayam yang tak di sukai Sean selama ini, masih mending jika Sean hanya berteriak dan memanggil Momy saat saat itu.
“Biasanya Sean langsung tantrum kalau begini. Katanya yang TERSAYANG, masa ngga tahu apa yang disuka Sean sama yang engga. Sean kalau udah tantrum gimana, bahkan bisa langsung lemes kan? Masa gitu aja ngga tahu?” tanya Meera dengan tatapan datarnya saat itu.
“Saya hanya mengajarkan Sean untuk tak memilih makanan, kamu tahu apa? Bahkan kamu saja belum bisa melahirkan anak sendiri!”
__ADS_1
Degg!! Ucapannya sedikit perih dihati Meera saat ini.
“Terus, maunya gimana, IBU? Maunya saya menikah terus beberapa hari melahirkan, gitu?” balas Meera, tetap tenang meski hatinya nyut-nyutan. Apalagi moodnya sempat buruk akibat tingkah Dona di Sekolah Sean tadi.