
“Tuan, tadi itu adik ipar, bukan?”
“Aku sudah mengatakannya tadi,” balas louis yang tengah fokus menyetir dan menatap kearah depan, sementara meera dan sean tengah berdua dibelakang.
“Ya, hanya bertanya.” Meera menghentikan percakapan itu hingga mereka tiba di rumah. Sean yang paling bersemangat, langsung turun dan menarik meera masuk kedalam menuju kamarnya seperti tak terjadi apa-apa sejak kemarin.
Louis hanya menatap keakraban mereka berdua. Ia membuka bagasi mobil dan menurunkan beberapa barang bawaan mereka disana, dan saat itu mobil dafa tiba membawa ipar dan mertuanya. Sedikit mengerenyitkan dahi, kenapa mereka harus ikut dan tak pulang kerumahnya sendiri.
Dafa turun terlebih dulu untuk membantu sang tuan membereskan dan membawa barang masuk, sementara Ane dan mamanya langsung masuk kedalam seolah itu adalah rumah mereka sendiri. Louis dan dafa hanya menggelengkan kepala.
“Tugasmu bertambah,”
“Apa?” tanya dafa penasaran, dan louis hanya menelengkan kepala mengarah pada kedua wanita yang lewat barusan.
Sebagai ahli kode, dafa amat tahu apa arti dari semua Gerakan yang diberikan padanya. Dafa hanya menghela napas dan terdengar begitu berat. Rasanya lebih berat daru barang yang ia bawa ditangannya.
“Aku memilih seratus kali bolak balik membawa barang ini keluar masuk rumah daripada harus mengawasi mereka berdua.” Dafa bergumam sembari terus berjalan membawa tas ditangannya.
Naik keatas tangga, dafa melihat kedua wanita itu masuk kedalam sebuah kamar dengan begitu bebasnya. Untung saja memang kamar itu disediakan untuk mereka berdua ketika akan menginap hingga dafa tak melarangnya. Ia melanjutkan perjalanan menuju kamar sean dan merapikan barang disana.
“Mas dafa, sini meera bantu,” tawar gadis itu ketika dafa masuk dan mulai sibuk.
Dafa mengangguk. Meera meraih beberapa selimut yang kemudian ia masukkan ke keranjang barang kosong disudut ruangan sementara dafa memasukkan yang masih bersih Kembali ke lemari. Sementara sean, seperti biasa tengah asyik dengan buku gambar dan pensil warna dan dunianya disana.
“Mas, boleh meera tanya?” ragu meera yang kembali mendekat padanya.
“Tanya apa, Nyonya?” tampaknya dafa sulit memanggil nama meera saja, apalagi ketika ada di rumah itu dan ada louis disana.
Meera hanya mencebik, tapi ia berusaha memaklumi posisi dafa saat ini dan bersikap santai dengan semuanya.
“Hanya ingin tanya. Tuan memiliki ipar, dan mertuanya masih ada, tapi_”
__ADS_1
“Anda melihat sendiri bagaimana sean ketika ada mereka.” Dafa seperti bisa membaca fikiran meera dan apa pertanyaan yang akan di lontarkan padanya.
Lagi-lagi kenapa harus meera, padahal juga akan banyak wanita disana yang sangat mau menjadi istrinya saat ini. Dengan semua finansial yang louis miliki, tampan, dan begitu dihormati dimanapun. Seedangkan meera? Ia hanya gadis biasa yang taka da bandingan dengan semua wanita yang mungkin mendekatinya.
“Apa yang menjadi pilihan tuan kecil, maka tuan louis akan menurutinya. Banyak yang mendekat, tapi semua ditolak oleh tuan kecil meski hanya dengan sekali pertemua. Dan itu tandanya tidak.”
“Tapi, jika tepaksa karena si kecil, maka tuan akan menikah tanpa cinta. Itu aneh,” imbuh meera.
“Kalau itu, bukan ranah saya untuk menjawabnya.” Dafa menundukkan kepala, kemudian pamit pergi dari mereka semua untuk mengawasi dua wanita yang ada disana. Mereka terkadang bersikap seperti tuan rumah yang ingin mengatur segalanya, tak perduli kenyamanan pemilik rumah tersebut.
Dan tepat seperti yang dafa duga. Saat itu oma vani tengah mengatur bagaimana asisten rumah tangga tengah memasak menu makan siang sementara ane tengah duduk santai dengan pelayanan ekstra dari beberapa maid yang ada. Memijat, mengecat kuku dan yang lainnya.
“Hhhh… Dikiranya apa? Mereka seperti_ Ahhh… sudah lah,” kesal dafa yang masih bisa diam saat ini, asal mereka tak buat keributan disana.
Sementara itu louis tengah mengganti pakaian di kamarnya, dan setelah itu ia turun menuju ruang kerja untuk melanjutkan segala tugas yang ada.
Perusahaan yang bergerak dibidang ekspor impor itu memang tengah jaya ditangannya. Ia mendirikan semua bersama mendiang istrinya sejak masih pacarana hingga memiliki sean. Dan itu salah satu alasan, oma vani seolah tak rela jika dady louis menikah lagi dan harta mereka akan terbagi dengan istri atau anak barunya nanti.
“Ya, Tuan?” Dafa berdiri dan memberi hormat.
“Kenapa disini? Bukankah aku bilang awasi mereka?”
“Tidak, saya sejak tadi mengawasi mereka. Dari sini,” tekannya yang saat itu menggaruk kepala. Ia juga malas berurusan dengan mereka yang kadang tak aka nada habisnya, terutama untuk berdebat.
Louis menoleh kanan kiri, sepertinya saat itu meera yang ia cari bersama putranya. Hingga meera keluar membawa sean yang saat itu menggandeng tangannya tanpa mau ia lepas sama sekali.
“Tuan, ada apa?” sapa meera.
“Tak apa. Aku tak mendengar suaramu sejak tadi, ku kira kau kemana.” Meera menyipitkan mata mendengarnya.
Meera tak menjawab lagi karena sean sudah memegangi perut sejak tadi. Ia lapar, dan ingin segera disuapi momy hingga kenyang lalu istirahat usai minum obat. Setidaknya ia tahu jadwal yang harus ia ikuti hari ini.
__ADS_1
Mereka turun bersama. Dady louis duduk di kursinya seperti biasa, dan ketika melihat itu ane langsung bergegas duduk didekatnya. Tempat yang selama ini harusnya menjadi tempat duduk sang istri dan tak ada yang diperbolehkan mengisinya sama sekali.
Sementara itu meera tengah melayani sang putra dengan makan siangnya. Sean tampak lahap disuap oleh meera saat itu, apalagi dengan makanan kesukaannya, sementara louis sejak tadi seolah tanpa bekedip melihat mereka berdua.
“Kamu, meera kan?” panggil oma vani padanya.
“Ya, Bu, ada apa?” jawab meera yang baru saja merapikan sean.
“Kamu udah selesai suap sean, tolong bantuin bibik siapin makanan yang ada. Jadi kamu ada kerjaan,” ucap oma.
Meera mengangguk, tapi saat itu louis segera meraih tangan meera agar ia tak melakukan itu. Tapi meera menyingkirkan tangan louis darinya, agar membiarkan meera melakukan perintah oma sean saat ini untuk mendekatkan mereka.
Tapi, yang ada saat itu justru ane semakin menjadi menyuruh meera kesana kemari menuruti dan mengambilkan apa maunya. Meera tampak lelah, apalagi ia baru saja pulang kerja dan harus mengurus sean seharian.
“Meera, ini apaan? Aku mintanya orange jus, kenapa dikasih sirup?”
“Maaf, tadi kata bibik kasih itu aja. Karena biasanya kamu suka itu,” jawab meera.
“Kamu? Apa itu kamu? Panggil dia seperti kamu panggil louis, setidaknya hormati dia seperti dafa. Kamu punya pangkat apa disini?” bentak oma vani yang bahkan menggebrak meja untuk meera.
Demi apapun, mood louis seketika hilang saat itu dan langsung memejamkan mata mendengar semuanya. Sementara dafa langsung memeluk sean dan menutup kedua telinganya.
“Ya, saya bukan siapa-siapa. Saya akan ganti itu semua, permisi.” Meera meraih minuman ditangan ane dan beralih menggantinya ke dapur. Namun, saat itu kaki meera tersandung hingga airnya tumpah pada oma vani disana.
“Meera!!” Ane meraih segelas air dan langsung dia siram ke wajah meera saat itu juga hingga basah sekujur tubuhnya.
“ANE!!!” Louis akhirnya bersuara. Deep voice itu terdengar mengerikan dan seketika membuat ane membulatkan mata dan merinding disekujur tubuhnya.
“Mampusss!!” Sangking emosi, sepertinya ane tak sadar jika louis memperhatikannya sejak tadi.
"Kak louis, ane ... Ane ngga sengaja. Ane cuma ngga suka karena dia ngga sopan dengan mama, Kak. Maafin ane," sesalnya, entah asli entah palsu.
__ADS_1
Tapi saat itu louis tak menghiraukan. Ia memanggil salah seorang maid untuk meraih meera dan memberikan sebuah pakaian ganti untuknya. "Aku tunggu kau di ruang kerja," ucap louis pada meera.