Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Untung anak kesayangan


__ADS_3

Di Rumah sakit, terutama di ruang ICU. Saat ini tengah dalam keadaan genting karena kondisi ibu drop lagi. Tubuhnya melemah, dengan denyut jantung dan tekanan darah dibawah normal pada umumnya.


Shinta yang berjaga malam saat itu langsung memeriksa kondisi ibu dibantu oleh beberapa perawat lain disana sembari menunggu dokter datang dan memeriksa. Semua ia cek dengan baik sebagai laporan, bahkan dengan cairan yang keluar dari selang yang terpasang dihidungnya.


“Kenapa semakin keruh?” fikir Shinta. Padahal ibu sudah diberi makan dengan semua yang baik saat itu.


Suara monitor juga beberapa kali berbunyi hingga mereka memasang EKG didada ibu untuk melihat rekam jantungnya saat itu. Hingga akhirnya dokter spesialis bedah datang dan membaca semua hasilnya disana. Ia tampak tak kaget lagi karena paham bagaimana kondisi ibu saat ini. Bahkan bernapas secara normal dan tak menggunakan bantuan oksigen saja sudah beruntung untuknya.


“Bagaimana?” tanya Shinta yang bertanggung jawab atas ibu saat ini.


“Operasi terpaksa ditunda hingga setidaknya kondisi beliau pulih. Terus kontrol jantung dan tekanan darahnya,” titah dokter yang langsung disanggupi oleh Shinta dan timnya.


Dokter pergi, dan Shinta segera merapikan ibu saat itu juga. Ia kasihan pada ibu, tapi ia juga merasa semangat ibu begitu besar untuk sembuh saat ini. “Apa dia merindukan putrinya? Bahkan tak pernah datang untuk sekedar memberi semangat. Tuan memang begitu tegas jika memiliki keputusan,” gumam Shinta yang kembali masuk kedalam ruang istirahatnya.


Satu jam sekali kontrol istimewa, dan mereka tak boleh lengah harus bergantian jaga satu sama lainnya. Disana juga ada beberapa pasien dan tak hanya ibu, jadi harus ekstra dengan tenaga dalam yang ada. Sembari ia mencatat, sembari meraih hp dan memberi kabar pada Dady mengenai perkembangan mertuanya saat ini.


**


Meera membuka mata, bermaksud memerika Sean yang masih tidur dengan lelapnya. Namun, ia merasakan sebuah tangan besar tengah memeluk perutnya saat itu dengan begitu erat. Meera meraih tangan itu dan sudah paham milik siapa hanya dengan ukurannya yang besar. Ya, seperti yang Meera ucapkan jika apapun yang ada di tubuh Dady itu nyaris semuanya besar.


“Kapan pindahnya? Pasti dady ini yang pindahin,” racaunya kesal. Selalu ingin dekat, tapi tak pernah mau menyentuh seperti seharusnya. Kadang Meera seperti megira jika dady memiliki kelainan, tapi mana mungkin ada Sean jika seperti itu.

__ADS_1


Meera berusaha menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya, namun dady justru bergerak dan semakin mempererat pelukannya pada Meera hingga kesulitan untuk bernapas karenanya.


“Dady, please. Ini sesak kalau begini,” ucap Meera. Untung saat itu Dady segera membuka mata dan merenggangkan sedikit tangannya dari sana.


“Kenapa pindahin Meera dari sana?”


“Kau tak suka? Jangan beranjak sedikitpun dari ranjang ini, atau_”


“Atau apa? Orang mau pipis, juga. Mau ikut?”


“Boleh?” Dady langsung membulatkan mata mendengarnya dan bergegas bangun menjawab ajakan Meera saat itu juga


“Engga_” Meera mendorong tubuh itu kembali rebah di ranjangnya. Dady hanya mengecap bibir dan bersandar di headboar ranjang setelahnya selama Meera masuk kedalam sana hingga tedengar ketika Meera mengunci pintu kamar mandi saat itu.


“Lakukan yang terbaik, dan tetap seperti ini. Berikan informasi terhadap apapun yang terjadi,” titah Dady dalam pesannya saat itu.


“Siapa wa tengah malam?” tanya Meera sembari melirik jam dinding kamarnya. Saat itu Dady sedikit tampak terkejut dan menyembunyikan hp dibawah bantal dengan segera, membuat Meera memicingkan mata.


“Tak ada, kau selesai?” tatap dady dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jiwa kelelakiannya meronta ditengah malam buta seperti ini, apalagi ada wanita yang Sudah bergelar istri didepannya. Jantungnya bergemuruh, napasnya terasa tercekat ditenggorokan seolah begitu sulit untuk bicara pada Meera.


“Ya, selesai.” Meera mendekat ke ranjang sembari mengikat rambutnya keatas, memperlihtkan lehernya yang jenjang begitu mulus dan indah. Dady beberapa kali menjulurkan lidah dan memainkan bibir, serta menelan salivanya sendiri. Sepertinya ia akan kalah malam ini.

__ADS_1


“Dady kenapa, haus? Mau minum?” tanya Meera menawarkan air yang barusan ia teguk dan sisa setengah didalamnya. Tampak juga bibir Meera yang basah sisa air yang tamapak semakin membuat dahaga dalam dirinya yang tengah kepanasan saat ini. Darahnya berdesir tak karuan, jantungnya ikut berdebar tak sehat sama sekali didalam sana.


Greep!! Ia meraih dagu Meera dan mengecup bibirnya saat itu juga, melumaat menikmati sisa air yang ada disana dengan begitu hausnya.


Posisi ia rubah, duduk tepat didepan Meera dan mengapit kedua kakinya membungkuk memperdalam panguutan keduanya. Hal itu tak ayal membuat napas Meera tersengal dan membusungkan dada berusaha menarik napasnya yang nyaris habis.


“Dady, taruhan kita!”


“Kau mau Satu milyarmu?” tanya dady disela cumbuan dileher Meera, dan Meera yang memang tak munafik itu langsung menganggukkan kepalanya dengan begitu bersemangat.


“Satu MIlyar!” bayangnya dengan begitu gembira. Masalah ego, ia sama sekali tak pernah sok suci atau menahan diri selama ini karena statusnya memang istri sah Dady saat ini.


Meera mengalungkan lengannya pada dady agar keduanya semakin erat, bahkan tak segan mengeluarkan suara indahnya agar dady semakin menginginkannya dan ia tak akan menyiakan kesempatan Satu Milyar didepan mata. Meera bahkan tak segan meraba dan menekan kepala belakang dady yang mulai menyesapi dadanya saat itu, dengan satu tangan yang mulai meraih bawah daster dan mengusap lembut paha mulusnya. Mulai menjelajah, semakin lama semakin dalam membuat jantung Meera berdesir dengan sentruman maha dashyat yang mulai menjalar kesekujur tubuhnya.


Braaak!!! Pintu terbuka secara tiba-tiba dengan begitu kerasnya. Dady terlonjak kaget dan langsung meloncat menjauh dari tubuh Meera sementara Meera saat itu langsung memperhatikan siapa yang datang kekamarnya.


“Momy!” panggil Sean dengan mata yang masih terpejam. Ia bahkan tanpa segan berjalan menghampiri Meera dan rebah ditengah mereka berdua dengan begitu santainya memeluk momy disana. Bahkan saat itu kanicng daster Momy sudah terbuka dari bentuknya semula.


Sean tanpa rasa bersalah sama sekali langsung memejamkan mata, sementara saat itu dady duduk bersandar memejamkan mata dengan tangan besar menutupinya.


“Dady, sakit?” tanya Meera tak enak hati. Ia juga melihat sebenarnya sesuatu sudahh bangun dibawah sana dan siap memangsanya kapan saja.

__ADS_1


Tapi saat itu dady hanya bisa menghela napas dan menahan semua rasa yang bergejolak dalam hatinya. Untung anak kesayangan.



__ADS_2