
Brughh! Tubuh Ayah terjatuh ke lantai saat itu sangking lemasnya ketika melihat ibu dihdapan duduk diatas kursi roda.
Bapak sama sekali tak pernah tahu sakit ibu selama ini dan separah apa hingga sampai seperti ini jadinya. Tapi ayah akui ibu lebih sedikit berisi dibanding ketika bersamanya dan wajah tua yang selama ini ia hina menjadi lebih segar tampaknya.
“Apa kabar, Mas?” sapa ibu pada suaminya saat itu. Bahkan ibu tak segan membuka baju bagian pinggang keatas untuk memperlihatkan stoma yang ia miliki saat ini yang bagi ayah begitu mengerikan hingga ia mual luar biasa.
“Yang kamu tuntut barusan, adalah orang yang menyelamatkan nyawaku darimu dan membuat anak kita bahagia. Masih mau kamu tuntut?” Ayah diam seribu bahasa menggelengkan kepalanya saat itu.
“Dan pria itu, adalah pria yang istrinya meninggal akibat perbuatanmu kala itu.” Ibu menambahi semua keterangan yang ia miliki.
Ayah kala itu mabuk dan sudah tak pulang selama beberapa hari hingga ibu yang bekerja di pabrik nekat menjemputnya di tempat dimana ia berpesta. Ibu tak perduli meski ayah bersama wanitanya kala itu dan ibu memaksanya untuk pulang.
Ayah yang geram memang nenuruti ibu tapi meninggalkannya disana dan pulang sendiri dengan mobil bututnya bahkan dengan tega mempersilahkan siapapun menikmati tubuh istrinyya jika mereka mau. Ibu bersyukur memiliki waja kusam, tubuh kurus dan tak terawatt saat itu hingga ia lepas dari napsu bejad mereka semua.
Setelah ayah pergi, ibu menyusul dengan motor tuanya yang bahkan sempat mogok disana. Untung saja ada orang baik yang mau menolong dan menghidupkannya saat itu. Ibu bisa menyusul ayah dibelakang dan memperhatikan bagaimana olengnya ayah menyetir dan tampak begitu berbahaya dijalan, namun ia begitu sulit menghentikan dan mencegah hingga kecelakaan itu terjadi.
“Semua terjadi begitu saja didepan mata. Suami saya menabrak mobil pelan itu dari samping dipersimpangan jalan itu dengan sangat kuat hingga mobilnya oleng dan menabrak pembatas jalan dengan begitu kuat.”
Ayah langsung putar balik meski mobilnya sendiri bagian depan hancur dan kepalanya terluka. Ia tak perduli bagaimana korbannya saat itu, dan ia pergi entah kemana setelahnya. Ibu yang melihat itu semua langsung turun dari motor hujan-hujanan dan menolong mereka semua sekuat tenaga meski sulit, bahkan berteriak meminta tolong pada semua orang yang lewat.
__ADS_1
Ocean Alxander Damares. Pria kecil itu pingsan dibelakang dan ibu gendong hingga tiba di Rumah sakit dan bahkan ibu terus menunggu mereka hingga setidaknya kondisi aman meski diri sendiri menggigil kedinginan. Namun sayang, Momy Sean memang ada dibagian kiri tempat benturan parah itu terjadi. Ia bahkan sempat bertemu ibu saat itu dan mengucapkan terimakasih sebelum masuk kedalam ruang operasi.
“Setidaknya anak dan suaminya selamat. Itu yang ia ucapkan saat itu pada saya. Wajahnya begitu cantik, teduh, dan bahkan masih tersenyum meski dalam keadaan sakit. Karena saya tahu pasti jika itu semua menyakitkan baginya.” Ibu melanjutkan semua cerita yang ia ingat beberapa tahun lalu itu.
Dady langsung memegangi dada ketika mendengar itu semua, serasa memorinya kembali timbul saat inu dengan segala kenangan pahit yang ada. Dady tak menemukan moment itu karena Dady sendiri tengah dirawat dengan cidera yang ia alami. Ia sadar ketika istri dan anaknya sudah dinyatakan meninggal dunia bersamaan. Bahkan Dady yang lemah itu memaksa diri untuk memakamkan istrinya sendiri satu makam bersama putri mereka.
“Dady!” Meera langsung menghampiri dan meraihnya saat itu. Di usap dadanya dengan lembut dan tak hentinya menyabarkan sang suami dengan segala kekalutannya.”Ada Meera disini,” bisiknya lembut.
Usai dengan semua keterangan itu, Dafa menambah semua bukti yang ada pada hakim dan mereka semua yang ada disana bahkan pengacara ayah yang awalnya seperti yang paling kuat disana. Tapi ia menolak itu semua dengan alasan tugasnya sudah selesai dengan pria itu sejak tuntutan dibatalkan.
Hakim meminta para petugas yang ada disana segera menangkap Ayah Ridwan dan dimasukan ke dalam sel saat itu juga, dan mereka akan menindak lanjuti semua tuntutan balik yang ada untuknya.
“Tidak… Dia bohong! Dia pasti sudah dipengaruhi oleh mereka semua saat ini. Tidak!! Meera lepaskan Ayah!” teriaknya menggila, namun ia tak bisa melawan karena cengkraman mereka semua bahkan hanya sekedar untuk berlutut dikaki Meera dan istrinya saat itu.
“Maafkan aku karena harus membalas budimu dengan cara seperti ini.”
“Ibu tahu, dan paham apa yang kamu lakukan, Nak. Terimakasih Sudah menjaga ibu dan Meera selama ini,” balas ibu yang mengusap kepala belakang menantu kesayangannya itu, dan Meera juga memeluknya dengan erat.
Ruangan dibubarkan setelah hakim keluar dari sana. Meera membawa dady ke ruang ganti dan ia segera merapikan dady dengan kemeja baru dan jas hitam kebesaraannya selama ini. “Gantengnya,” puji Meera mengecupnya bagian dada.
__ADS_1
“Kau baru menyadari jika aku tampan? Selama ini bagian mana yang kau lihat dariku?”
“IIih, apaan sih?” Meera tersipu malu dengan godaan suaminya saat itu. Wajahnya memerah dengan senyumnya yang begitu menggemaskan, apalagi bibirnya yang selalu dady rindukan selama ini.
Bayangkan, betapa dady bergulat dengan hati dan fikiranya selama ini terhadap Meera. Anak dari pembunuh tapi juga malaikat penolongnya. Tapi pada akhirnya rasa cinta itu lebih besar dari semua rasa dendam yang ada, bahkan sangking cintanya dady saat dengan ini dengan wanita yang sudah menjadi candu dan mandarah daging dalam kehidupannya.
Tangan besar itu meraba lengan dan merambat hingga naik ke leher jenjang Meera. Di genggamnya dengan cukup kuat hingga Meera mendongakkan kepala menatap matanya saat itu. Meera paham, dan ia hanya tersenyum sembari melingkarkan kedua tangan dilehernya yang cukup tinggi untuk ia jangkau.
Satu tangan dady meraih pinggang Meera dan sedikit mengangkatnya saat itu hingga kedua bibir mereka bertemu dan mengecupnya dengan begitu mesra.
Kreek!! Dafa membuka pintu ruangan itu tapi lalu membalikkan badan seketika.
“Sorry… Bisakah kita pulang dulu? Sean sudah mempertanyakan Momynya saat ini,”
“Oh iya, Meera janji bawa nenek pulang soalnya. Ayo pulang,” bujuk Meera pada dady saat itu. Tapi Dady langsung menyipitkan matanya seakan belum puas sama sekali.
“NAnti di rumah aja. Full sevice,” bisiknya ditelinga dady, dan seketika membuat pria bertubuh besar itu langsung bermangat seketika mengerutukkan otot lehernya.
Dafa memicingkan mata dan memasang wajah pasrah melihat mereka berdua yang tampak amat menyebalkan baginya. Bagaimana tidak, karena sudah otomatis jika ia akan jadi pelampiasan dan korban untuk menngasuh Sean malam ini. Rasanya, ia ingin menjerit sekuat tenaga didalam hatinya.
__ADS_1
Dady menggandeng Meera keluar menuju mobil, dimana ibu Sudah menunggu mereka disana. kesempatan Meera untuk duduk dibelakang dan pada akhirnya ia bisa bermanja pada ibu setelah sekian lama.”Kangen,” rengek Meera, yang hanya mendapat balasan kecup manja dari ibunya.
"Dafa, Sainganku bertambah untuk mendapat perhatian Meera."