
Meera baru saja keluar dari sekolah itu dengan wajah lelahnya. Berjalan menuju gerbang untuk menunggu bis langganan yang akan membawanya pulang, namun bahkan belum sempat ia duduk hingga sebuah mobiil mewah berhenti tepat dihadapannya.
Awalnya meera kira hanya mobil yang kebetulan lewat, ia menyingkir tapi mobil itu jutsru terus berjalan mengikutinya hingga di tempat tunggu bis yang sebentar lagi akan datang. Meere berusaha cuek dan tak menghiraukannya saat itu. Siapa suruh jendela kaacanya tak dibuka hingga ia tak tahu siapa yang ada didalam sana.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berkaca mata hitam turun langsung menghampiri meera di kursinya. Meera menoleh bahkan sampai mendongakkan kepala melihatnya.
“Naik ke mobil, aku akan membawamu_”
“Kemana? Sebentar lagi bis datang, aku naik bis saja.” Meera takut jika akan ada yang melihat dan memperhatikannya dari kejauhan. Ia tak ingin berita buruk kembali datang dan membuat posisi kerjanya terancam. Ia masih amat butuh pekerjaan itu meski tak bisa membuatnya kaya.
Pria itu menghela napas hingga bahunya naik. Ia melepas kacamata yang ia pakai, lalu menaruhnya di saku jas kembali mebatap pada meera yang kekeuh denga pendiriannya.
“Eh… Apa apaan ini? Lepasin?!” Meera berteriak ketika Louis meraih tubuhnya dan membopongnya seperti karung beras dipundak.
Tak ayal meera langsung memukuli punggung Louis saat itu juga, berusaha memberontak agar ia segera menurunkan tubuhnya. Namun tak bisa. Pukulan meera hanya seperti gumpalan kapas di tubuh besarnya saat itu.
Louis membuka pintu mobil dan langsung menurunkan meera di kursi depan dan memaikan sabuk pengaman untuknya. Tak lupa ia segera mengunci pintu agar meera tak dapat kabur darinya.
Gleek! Louis menutup pintu setelah ia masuk di kursi setirnya. Ia langsung disambut tatapan tajam meera yang sekaan siap emncakarnya kapan saja. “Hobi sekali menculikku seperti ini!”
“Aku sudah mengajak dengan cara baik, tapi kau menolaknya. Kenapa, takut ada yang melihat dan menuduhmu macam-macam?” Louis seperti dapat membaca fikiran meera saat itu, apalagi ketika meera tak henti menoleh kanan kiri memperhatikan semua keadaan disekitarnya.
“Aku hanya_”
__ADS_1
“Aku juga tahu kau ada janji dengan sean, karena Dafa melapor jika sean sudah menunggumu sejak tadi.” Louis membuka hp dan memberikan foto sean yang di kirim oleh dafa padanya. Sean tampak sudah mempersiapkan tempat bermain untuknya dengan meera dan akan belajar bersama nantinya.
“Maaf, aku kesorean. Aku harus input beberapa data murid, karena aku bahkan tak memiliki laptop untuk bekerja dirumah,” sesalnya menundukkan kepala.
“Bahkan membeli senuah laptop saja tak mampu, tapi menolak untuk menikah denganku.” Louis melenguh dan segera menjalankan mobil untuk segera membawa meera kerumah besarnya.
Sean seperti merasakan kedatangan meera bersama dadynya. Ia yang memang tengah galau menunggu itu segera berlari menyambut meera, dan kemudian langsung menggandeng tangannya masuk kedalam ruangan bermain. Sean bahkan seolah lupa dengan dady yang juga ada disana.
Tampak memang sean amat menunggu meera, bahkan ia sudah Menyusun sebuah lego dengan bentuk Gedung mewah disana. Ia menunjukkan semua itu dan membuat meera amat kagum pada sean dan memeluknya saat itu juga.
“Momy,” lagi-lagi sean memanggilnya.
Meera mulai amat terbiasa. Ia lantas menaruh tas untuk bermain dengan sean sesuka hatinya, bermain sembari belajar berdua sesuai denga mau sean yang memang lebih suka sendiri dalam kesehariannya.
“Ya, seorang… Bukan, dia istri dari manager pemasaran kita yang kebetulan anaknya bersekolah disana. Pertengkaran antar ibu yang saling membela anaknya,” jawab dafa. Tapi ia tak menceritakan mengenai hinaannya terhadap sean karena tak mau membuat masalah kian parah. Karena selain sang istri, manager itu bekerja dengan maat baik di perusahaan mereka dan sudah mengabdi lama sekali.
Lagipula ada meera yang akan siap membela calon anaknya.
“Dia membela sean?”
“Ya, sebagai gurunya.” Jawaban dafa seolah menjatuhkan harapan louis yang sudah melambung tinggi karenanya.
Usai mengganti pakaian, Louis segera masuk ke ruang kerja menemui dafa. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka berdua disana yang sudah begitu menumpuk, karena beberapa hari ini louis memang sibuk dengan sean yang bahkan sempat demam hanya karena merindukan momynya. Butuh waktu cukup lama ketika sean akhirnya menunjukkan sosok meera.
__ADS_1
Louis juga mengawasi leewat CCTV yang langsung terhubung ke laptopnya. Tampak sekali meera disana mengasuh sean dengan penuh kasih sayang, bahkan sean sama sekali tak pernah melawan dan membantah dengan apa yang meera katakan. Louis begitu tenang ketika melihat sang putra membuka hatinya.
“Dia gadis yang baik, hanya saja kehidupannya amat miris dan malang. Dia masuk kategori generasi Sandwich saat ini,” ujar Dafa saat melihat Louis terus memperhatikan laptopnya.
Tapi louis hanya diam. Ia tak menjawab apapun dan melanjutkan pekerjaan mereka berdua agar selesai tepat waktu dan mengantar meera segera pulang kerumahnya.
Sean menguap dan ia tampak begitu mengantuk saat itu. Meera lantas mengajak sean untuk membereskan semua mainan dan membawanya istirahat dikamarnya.
Meera memeluk sean dan menepuk pahanya dengan lembut agar pria kecil itu segera tertidur. Bahkan sesekali bernyanyi untuknya, namun sean justru masih saja mengedipkan mata bulat seolah rasa kantung itu hilang seketika entah kenapa. Justru meera yang memejamkan mata, tidur dengan lelap dan wajahnya tampak begitu lelah.
Sean melirik wanita itu dan mengipaskan tangannya. Ketika yakin jika meera benar-benar pulas, sean turun dari ranjang dan berlari menuju ruang kerja dadynya. Ia meraih tangan dady agar segera ikut dengannya saat itu.
“Hey, Sayang, ada apa?” tanya Louis pada sang putra. Ia langsung meninggalkan pandangannya pada laptop yang masih menyala demi perhatian penuh untuk kesayangannya.
“Momy,” jawabnya yang terus menarik tangan dady hingga Louis pada akhirnya mengalah.
Louis ikut ke kamar sean dan saat itu melihat meera tidur pulas disana. louis memperhatikan meera dan terus bertanya dalam hati akan apa yang diinginkan putranya saat ini.
Dan rupanya, Sean meminta dady agar membawa meera kekamar lain. Bukan kamar tamu, melainkan kamar yang ditempati dady Louisnya saat ini dan hal itu membuat Louis mengurut kening dan bingung untuk menjawabnya. Sementara Dafa yang melihat tingkah sean dan bingungnya louis saat itu hanya bisa menahan tawa dari pintu besar kamarnya.
“Sayang, tak boleh. Momy tak boleh ke kamar dady saat ini karena_” Ocean langsung menundukkan kepalanya dengan rasa kecewa, membuat louis begitu bingung menjawab permintaannya.
Louis melirik dafa, tapi pria itu justru mendukung sang putra. Apalagi hanya untuk menuruti permintaan sean, dan keduanya tak melakukan apa-apa disana. Hingga akhirnya Louis mengalah, ia memasang kuda-kuda dan membopong tubuh meera ala bridal untuk berpindah masuk kedalam kamar miliknya.
__ADS_1
“Puas?” tatap nyalang Louis pada putra dan asisten pribadinya yanh tersenyum padanya saat itu.