
"Bu, ibu ngga denger tadi malem ada yang gedor-gedor rumah?" tanya meera yang telah rapi dengan seragamnya pagi ini.
"Ngga denger, Meera, jam berapa?"
"Entah, ngga inget. Yang jelas, tengah malam terus berhenti sendiri?" Meera mengingat-ingat kejadian semalam dan menceritakan semua..
Tapi ibu tak mendengar sama sekali. Efek obat yang ia minum semalam membuat tidurnya begitu lelap bahkan tanpa bermimpi. Dan ternyata sudah pagi hingga saat ini.
Meera duduk dengan sarapan paginya, dan saay itu sembari melihat hp membaca pesan dari sean. Mengabarkan, jika ia sudah bisa pulang hari ini dan ingin bertemu momy di rumah nanti.
"Momy, selamat bekerja." ucap sean dengan bahasa inggrisnya yang cukup lancar saat itu. Ia mengirim pesan suara untuk meera, dan membuat gadis itu begitu terharu mendengarnya.
"Sean jangan lupa sarapan, ya? Nanti momy kesana." Meera membalasnya dengan pesan suara.
"Siapa, Meera?" tanya ibu.
"Ini, Bu. Ada murid meera yang suka sekali panggil meera momy. Ya, momynya meninggal ketika ia balita, jadi mungkin rindu."
"Kamu nyaman?"
"Ehmmm... Ya gimana? Kan meera juga gurunya, jadi biasa aja. Semua murid meera juga menganggap meera sebagai ibu ketika disekolah." Meera berusaha tenang meski sebenarnya gugup saat ini, apalagi dengan tatapan sang ibu padanya.
Baru kali ini meera seolah ingin menghindari tatapan ibu padanya. Begitu tajam seperti cemas, tapi juga terbaca seakan ia ingin segera melihat kebahagiaan putrinya. Lamunan itu terbawa hingga ke halte dan ia tengah menunggu bisnya saat ini. Duduk dengan tas ransel yang ada di punggungnya berisi laptop yang segera akan ia kembalikan pada yang punya.
Mobil mewah itu Kembali datang bersamaan dengan bis meera yang biasanya. Heran, tapi saat itu dafa membuka kaca langsung menyapa meera untuk naik dan berjalan bersama menuju sekolah.
“Sean pulang nanti siang, Tuan Louis meminta saya mengantar Nyonya terlebih dulu.”
“Mas dafa, sepertinya panggilan nyonya itu terlalu berlebihan buat saya. Panggil meera saja tak apa,” pinta meera yang pasti canggung dengan segala kehormatan dadakan yang ia terima.
Dafa hanya menganggukkan kepala, dan saat itu ia yang terasa cannggung memanggil meera hanya dengan sebutan nama. Karena yang ia tahu, nanti meera akan menikah dengan bosnya.
__ADS_1
“Dan lagi, ini_” Meera memberikan tas ransel yang berisi laptop itu Kembali pada dafa. Apalagi itu adalah milik kantor yang dipinjamka untuk meera bekerja.
“Sudah selesai? Bisa Nyonya… Eh, meera taruh saja dibelakang dan nanti akan saya bereskan?” ujar dafa.
Meera tak hentinya mengucap terimakasih pada dafa atas kebaikan pria itu pada dirinya, meski dafa juga berkali kali menjelaskan jika itu semua juga atas perintah tuan louis agar menjaga sang calon istri dengan baik. Mendengar hal itu, meera lantas mengatupkan bibirnya diam tak lagi berkata-kata.
“Nanti akan saya jemput, dan kita membawa sean pulang ke rumah. Tak ada pekerjaan lain, kan?”
“Iya, tak ada. Terimakasih, Mas dafa, saya permisi.” Meera membuka pintu, keluar lalu berjalan menuju sekolah besar itu.
Meera terus berjalan meski beberapa orang tua murid sejak tadi menatapnya. Entah apalagi berita hangat pagi ini, tapi meera berusaha tak perduli dan fokus pada pekerjaan yang sudah menunggu sejak tadi.
“Bu meera?”
“Ya, Bu?” jawab meera ketika sang kepala sekolah memanggil. Ia berdiri, mengangguk ketika sang kepala sekolah meminta meera untuk masuk ke dalam ruangannya saat itu juga.
Apalagi jika tak membahas mengenai perhatian meera pada sean yang dianggap mereka terlalu berlebihan. Semua membicarakan itu, bahkan rekan sejawat meera sesame guru disana. “Ada Sesutu?” tanya sang kepala sekolah padanya.
“Ya, saya tahu itu. Beliau juga beberapa kali menghubungi saya sejak ocean bersekolah disini. Namun, belum tentu yang lain mau mengerti. Mereka tak akan mau tahu dengan urusan dan kesulitan yang kita alami berserta semua tanggung jawab di dalamnya. Jadi saya minta, bu meera mau berusaha agar tak terlalu jomplang memperlakukan mereka semua.”
Ucapan sang kepala sekolah ada benarnya. Siapa yang perduli dengan kita dalam keadaan yang sulit, karena mereka hanya bisa menuntut bagaimana caranya kita harus professional dalam bekerja.
Tidak… mereka tak akan mau dan sudi melihat itu semua.
“Baik, saya akan berusaha professional sejak hari ini.” Mereka menundukkan kepalanya.
“Ya, meski saya tahu bu meera sendiri sudah sangat professional selama ini.” Ibu kepsek menyambung ucapan meera, ia juga tak bisa tebang pilih bagaimana memperlakukan sesama pengajar yang ada disekolahnya saat ini.
Meera pamit keluar, dan ia segera menjalankan tugasnya sepert biasa. Serasa kosong tanpa sean yang sering menyendiri dipojokan ujung jendela dengan dunianya yang penuh warna.
“Dady?”
__ADS_1
“Ya, sayang, ada apa?” tanya louis pada sang putra.
“Momy,”
“Ya, momy nanti akan datang bersama paman dafa untuk menjemput sean pulang. Kita tunggu saja, okey?” bujuk louis yang mengajak tos pada sang putra kuatnya. Mendengar itu, sean sedikit bersemangat dan menganggukkan kepala. Sementara louis membereskan beberapa barang untuk Kembali ia bawa pulang.
Harusnya ada baby sitter atau pelayan lain. Ya, tapi jika louis sendiri tak merasa nyaman atau sean, maka ia akan memilih untuk melakukannya sendiri tanpa adanya pelayan pribadi. Yang di rumah saja, hanya pelayan untuk makanan dan beberes rumah beserta beberapa perlengkapan lainnya. Namun itu juga terbatas, karena louis banyak melarang pelayan untuk menyentuh beberapa barang pribadinya.
“Sean… Oh sean, sayangnya oma.” Oma Vani, datang bersama putri bungsunya Roxane untuk menjenguk cucunya.
Namun, alih-alih sean menyambut dan mengulurkan tangan, ia justru memeluk dady dan menyembunyikan wajah ditubuh besarnya saat itu juga.
“Mam, apa kabar?” sapa louis pada mertuanya itu. Atau bisa dibilang mantan karena istrinya_Rose, sudah meninggal.
“Mama baik, sayang. Kamu kenapa ngga telepon mama kalau sean sakit? Mama dan ane bisa bantu jaga dia, kalau kamu sibuk.”
What… Menjaga? Bagaimana akan menjaga jika si bayik sendiri jutsru ketakutan melihat wajahnya ketika datang.
“Tak apa, Mam. Louis bisa mewakilkan pekerjaan pada dafa dan sekretaris lain disana. Jadi, semua aman dan terkendali.” Louis menjawabnya dengan begitu santai, sembari terus membujuk sean untuk sekedar mau mencium tangan oma dan tantenya.
Untung saja sean selalu di didik baik oleh meera, hingga benar-benar mau mengaplikasikan didikan itu pada siapa saja dan mau mencium tangan merea berdua.
“Uluuuh, cucu gemas oma!!” Oma vani justru meraih wajah sean dan menciuminya secara brutal hingga lipstick merahnya menempel disana.
“Aaaaaa… Momy!” pekik sean yang langsung melepaskan diri Kembali bersembunyi dibelakang tubuh dady
“Tuh kan, Kak Louis. Sean itu rindu momy, dan udah pengen punya momy lagi yang bisa asuh dia dengan baik. Kak louis sih, selalu saja menahan diri untuk tak membuka hati. Kasihan sean, kan.” Ane, bertingkah centil sembari menyingkirkan anak rambutnya dibelakang telinga.
“Ya, aku akan berusaha membuka hati mulai dari sekarang.” Louis menggendong sean didepan, lalu menidurkannya Kembali di ranjang menunggu dokter memeriksannya.
Jawaban itu tak ayal membuat oma vani dan Ane saling colek dan melemoar senyum ditempatnya.
__ADS_1