
Meera benar-benar dibawa ke hotel bersama Sean tanpa mampir kemanapun. Sudah dipastikan disana terjamin dan Shila sudah menyiapkan semua keperluan untuk sang Nyonya dan Tuan kecilnya. Bahkan Meera juga tak meminta untuk menjenguk dady saat ini demi sang putra, dan ia justru begitu ingin mengetahui keadaan ibu disana bersama Shinta.
“Nyonya?” sapa Shila ketika Meera telah sampai di lobi hotel. Dan tak banyak babibu, Shila langsung membawa mereka menuju kamar atas sementara Dafa harus pergi lagi untuk keperluan lainnya. Apalagi jika bukan untuk memberi pelajaran pada duo gayung itu.
Lembek, lemah, semua sudah ditujukan pada dady dab Dafa hanya karena mereka. Padahal semua tindakan super tegas itu mereka hindari hanya karena Meera melarang dan ia memikirkan nasib Oma saat ini yang kondisinya lemah sakit-sakitan.
Braakk!! Dafa mendobrak pintu kontrakan yang ditinggali oma dan Ane saat itu. Mereka terlonjak kaget, terutama oma Vani yang langsung memegangi dadanya karena nyeri.
“Dafa… KAmu gila!” pekik Ane padanya saat itu dengan tatapan marahnya. Tapi Dafa tak perduli, dan ia segera masuk kedalam kamar Ane dan mengobrak abrik semua isi didalamnya hingga ia menemukan sebuah berkas disana dan mengambilnya.
“Dafa… Lepasin itu!” Ane berjinjit berusaha meraih berkas itu dari tangan Dafa yang jauh lebih tinggi darinya, bahkan Ane yang begitu kecil hanya sebatas dada Dafa saat itu.
Ane terus meronta, menjerit berusaha meminta pertolongan dengan siapapun yang mungkin ada didekat rumahnya saat itu, tapi meski ada yang datang mereka tak berani menolong sama sekali dengan semua kegaduhan ini.
“Mana dia yang katanya akan memberi perlindungan padamua? Dia tak datang kan?”
“Jangan bawa-bawa dia dalam urusan kita!”
“Karena kau dan dia adalah dalang dari semua ini.” Dafa meraih korek api dalam sakunya dan membakar dokumen tersebut didalam kamar Ane saat itu juga. Ia mengambil dokumen itu secara diam-diam di kamar rahasia dan ia akan menggunakannya untuk mengancam dady nanti mengenai hak asuh Sean.
“Dafa!!!! Breng sek kau! Matikan apinya, Dafa. Rumahku bisa terbakaar nanti,”
__ADS_1
“Harusnya ku siram bensin sekalian agar kau ikut terbakar dan hangus didalam rumah ini, Ane. Mulai sekarang, kau taka da hubungan apapun dengan kami meski kau adalah adik seayah dari Kak Rose. Kak Louis menghentikan semua tanggung jawabnya atas kau dan mamamu, dan akses kalian untuk apapun dalam JVT dicopot sejak saat ini.”
“Aaarrrghhh!! Itu tak adil. Itu tidak bisa… ngga mau!!” Ane terus berteriak seperti orang kesetanan saat ini. Ia berlari menuju kamar mandi dan membawa seember air untuk mematikan api dari dokumen itu, tapi harusnya ia sadar jika semua sudah terlambat.
“Anak haram! Akan ku bunuh kau sekarang!!” Ane langsung menghampiri Dafa dan mengulurkan tangan untuk mencekik lehernya saat itu juga, tapi Dafa langsung meraih tangan itu dan memelintirnya hingga mengarah kebelakang memunggunginya.
“Arrrghhh!!” Ane merintih dengan kekangan Dafa saat itu.
“Kau tahu, aku dan kak Louis sudah sangat menghormatimu dan mama selama ini. Tapi semakin dihormati, kau semakin takt ahu diri, Ane. Aku muak melihatmu saat ini.” Dafa melempar tubuh Ane hingga terhempas di ranjangnya saat itu. Andai Meera tahu, pasti ia akan mencegah kekerasan yang terjadi.
Oma Vani sesak melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Ia yang lantas menyesali semuanya langsung merangkak dan berlutut dikaki Dafa agar memberi pengampunan untuk mereka berdua.
“Bukankah kau sudah membakar dokumen itu? Maka sudah Dafa… Mama tak akan bisa melakukan apapun lagi pada Louis dan Sean saat ini. Tapi mama minta, lepaskan Ane.” Oma memohon pada Dafa dengan suara lemahnya.
“Jika kamu ingin bawa Ane pergi, maka mama akan bawa dia pergi hingga tak bisa bertemu dengan kalian lagi. Mama mohon,” ucap Oma yang terus memeluk kaki Dafa saat itu dengan segala permohonannya.
“Ma!!” bentak Ane pada mamanya, karena ia merasa semua belum selesai karena belum berhasil memisahkan dady dan Meera.
“Diam Ane! Apa kau mau mati sia-sia disini dengan segala obsesimu itu? Mama Sudah bilang berhenti, tapi kau masih terus menguntit mereka seperti ini. Masih untung jika Dafa yang datang, bagaimana jika kakakmu?”
“Ane ngga mau pergi… Ane mau disini lihat persidangan besok dan mereka berpisah selamanya. Ane ngga mau!”
__ADS_1
Dafa mengepalkan tangannya saat itu juga, tapi mama meraih tangan itu dan menggelengkan kepala agar ia tak melakukan apa-apa pada putrinya saat ini. Bahwa, ia yang akan mengambil alih semuanya.
Melihat itu, Dafa lantas memilih keluar dari rumah itu dan menyerahkan semuanya pada oma Vani. Tapi jika mereka ingkar, hukuman lebih berat dari ini.
*
“Ayah?” panggil Meera melalui hp jadulnya saat itu.
“Akhirnya kau menelpon ayahmu, Meera. Kenapa, kau takut ayah akan menghancurkan suamimu dan akan memohon pada ayah saat ini?” tanya ayah seolah ia tengah tinggi saat ini dan ia pasti pemenang dari semua gugatannya
“Apa mau ayah? Uang?” tanya Meera dengan lantang saat itu.
“Kau Sudah hidup dengan begitu baik bergelimang harta, lantas kau mau mengusir ayah begitu saja dengan uang yang sedikit? Kau bercanda, Sayang.”
Baginya harga Meera akan lebih dari yang akan ayah dapatkan dari kemenangan kasus ini. BAyangkan saja karena penculikan yang Dady lakukan adalah pada anak dan istrinya dan bahkan ia masih merahasiakan keberadaan ibu dan Pasti akan lebih dan lebih nanti.
Awalnya, Meera ingin mengadakan negosiasi pada pria itu agar mencabut semua tuntutan yang ada dengan memberikan semua yang ia miliki padanya. Tapi seperti yang dady bilang, jika ayah Meera tak akan pernah puas denga napa yang ia dapat dan selalu akan meminta lebih dari semuanya.
“Jangan kau berani melawan ayahmu, Meera. Jika kau berani melindunginya, maka kau akan jadi anak durhaka karena menelantarkan ayahmu saat ini.”
“Ya, Apapun mau ayah saat ini lakukan saja sepuasnya. Meera tak akan melerai,” ucap pasrah Meera padanya saat itu. Yang jelas, usaha Dady tak akan pernah ia ragukan setelah ini, dan pasti dady adalah yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Meera lantas berjalan menuju ranjang dan menghampiri sang putra yang telah memejamkan matanya. Ia tidur dengan begitu lelap malam ini. Ya, malam hari yang tanpa sadar datan cepat sekali dengan segala huru hara yang terjadi.
Meera saat ini terjebak diantara semua rasa bersalah dari ayahnya sendiri dengan kejahatannya selama ini. Tapi ia bersyukur memiliki ibu berhati malaikat yang bisa membuat Meera terlindung dari semua kejahatan yang ada