
“Momy, kita tak sekolah?” tanya Sean saat itu. Ia juga sebenarnya membaca sesuatu dari keadaan itu, terutama pada Momy yang hingga saat ini wajahnya sendu..
“Kita libur dulu ya, Sayang.” Meera memeluk dan mengecup kening Sean saat itu untuk meredamkan semua rasa penasaran dalam hatinya. Hingga Ia memangku kepala Sean di pahanya sembari mengusap lembut tubuh sang putra.
Meera cukup kesepian saat itu dan menyalaka tv yang ada dihadapannya. Lalu apa yang ia temukan? Bahwa berita tentang suaminya menjadi berita terpanas saat ini, terutama ketika ia tahu jiika sang ayah mulai ikut andil dalam semua permasalahan yang ada dan membuatnya semakin parah.
“Ayah, Astaga.” Meera tak habis fikir, bahkan sang ayah yang berpakaian lusuh saat itu mengadakan sebuah konferensi pers dengan agenda menuntut agar putrinya dikembalikan segera bersama istrinya. Bakan airmata buaya saat itu mengalir dan tampak begitu meyakinkan sebagai seorang ayah yang teraniaya.
Sumpah demi apapun, Meera begitu jijik melihatnya. Untung saat itu Sean tidur pulas hingga ia tak melihat betapa kemarahan Meera saat ini dengan ulah pria tua itu disana. Yang ia tahu bukan Meera yang ia mau, melainkan uang yang akan didapat olehnya nanti dari semua tuntutan yang ada.
“Halo, Mas Dafa?”
“Meera, kau masih di rumah?”
“Mas Dafa bisa mengunjungi Dady saat ini? Meera ingin sekali bicara dengannya,” pinta Meera yang disanggipi Dafa meski itu mungkin agak lama karena ia tengah amat sibuk mengontrol semuanya saat ini.
Untung saja semua tim tanggap dan tak terlalu memusingkan hal yang sudah dibumbui drama itu. Mereka seolah netizen yang sudah amat paham dengan berbagai macam drama dan wajah palsu kesedihan ayah Meera disana.
“Kak Louis sudah bertemu ayahmu, Meera. Mereka sudah bicara tadi,” ucap Dafa yang sebenarnya. Dan saat itu Meera amat penasaran dengan yang mereka bahas berdua, yang pasti tentang dirinya. Ia amat takut jika ayah memanfaatkan dirinya untuk mengancam dady saat itu.
“Aku harap kau tetap tenang disana hingga dady sendiri menghubungimu. Atau, perlu ku antar ke hotel agar kau lebih tenang?” Dafa takut jika mereka akan menyerang Meera hingga ke rumah dan memikirkan psikologis Sean saat ini. Dan Meera tentunya.
“Meera tunggu dady saja, Mas. Apapun yang dikatakan Dady, Meera patuh.” Meera menjawab semua itu dengan yakin bahwa keputusan dady adalah yang terbaik saat ini.
__ADS_1
Bisa saja Meera meuntut balik sang ayah atas tindakannya selama ini yang menjadikannya mesin pencari uang dan selalu menganiaya sang ibu. Tapi ia memilih menahan itu semua karena begitu yakin dengan suaminya.
Dafa dari kentornya menuju kantor polisi untuk menjenguk sang kakak disana. KEadaannya tak menyedihkan sama sekali jika dilihat dan ia masih begitu santai dengan semuanya dan duduk tenang dilantai beralaskan tikar anyaman pandan.
“Kak,” panggil Dafa, dan dady langsung menoleh padanya.
“Sudah kau urus semuanya?” tanya dady saat itu.
“Semua sudah tenang dan stabil, mereka tak terpengaruh apapun. Hanya saja Meera begitu kalut saat ini terutama tentang ayahnya. Dia… mengadakan konferensi pers.” Dady hanya tersenyum lucu mendengarnya.
“Kenapa tertawa?” heran Dafa.
“Ajak Meera ke hotel, tapi sebelumnya kau bawa Meera mengunjungi kamar itu dan ia harus mengambil sesuatu disana.”
“Sudah, Kak. Aku akan pulang untuk membawa Meera ke hotel saat ini, karena dia juga berjanji akan patuh dengan semua yang Kakak perintahkan,” ucap Dafa dengan wajah lelahnya.
Saat itu, dady mengulurkan tangan dan membelai rambut adiknya dengan lembut. Bahkan selama mereka bersama mungkin baru kali ini dady melakukannya. Dafa terenyuh, ia yang merasa beruntung selama ini bisa ditampung sang kakak dengan baik dan tetap dianggap adik meski lahir dari sebuah scandal ayah dan ibu mereka. Tapi Dady bisa menerimanya meski sulit.
“Jika kau ingin bebas setelah ini, kau bisa pergi dan cari kehidupanmu sendiri. Kau tak perlu terikat lagi padaku dengan semua beban tanggung jawab dan balas budi yang selama ini memberatkan dirimu.”
Dafa mengangguk, tapi ia tak akan pernah bisa pergi dari kakak yang sudah memberinya hidup. Jika tak ada dady, entah bagaimana hidup Dafa saat ini.
Dafa kemudian keluar dari sana dan duduk sejenak di sebuah taman untuk mengistirahatkan dirinya. Ia meminum sebuah air dengan kadar oksigen saat itu, dan sedikit melonggarkan kerah atas kemejanya.
__ADS_1
“Kau bodoh,” cecar seorang wanita yang mendadak datang dan duduk didekatnya saat itu. Dengan santai ia terus menghinda Dafa dengan segala kebodohan dan apa yang menurutnya salah karena terlalu baik menurutnya hingga tak bisa memperjuangkan perasaannya sendiri.
“Dia telah merebut gadis yang kau sukai dan menikahinya, bahkan kau harus selalu menjadi kacungnya entah hingga kapan. Kau harusnya sadar, ini adalah moment tepat untuk membawa Meera pergi darinya dan kalian memulai hidup baru berdua.”
“Bungkam mulutmu, Ane. Kau masih saja tak bisa menerima nasib rupanya, dan kau yang menjebak Meera dalam pesta itu, bukan?”
Ane hanya tertawa mendengarnya,”Padahal aku maunya, Kak Louis tak mengakui Meera, terus dia kecewa, dan meninggalkan Kak Louis. Rupanya tidak. Tapi, ada rahasia besar yang menjadi huru hara saat ini. Dimana Meera? Apa ia masih disembunyikan? Kasihan ayahnya,”
“Aku lebih kasihan denganmu, Ane. Kau sendiri, tak ada yang mendukung dan dia hanya memanfaatkanmu sejak kemarin.” Dafa membalas tatapan Ane, nyalang. Ia tersenyum miring hingga tawa Ane saat itu berubah dengan wajah penuh kebencian padanya.
“Tak apa asal aku puas, tapi kau? Jangan munafik, Dafa. Jika kau mencintainya, maka manfaatkan semua kesempatan ini dan bawa dia pergi.” Ane langsung memakai kaca mata hitamnya saat itu dan berdiri melangkah pergi dari Dafa tanpa banyak kata.
Semua ucapan itu sontak membuat Dafa berfikir keras, karena memang ia sudah mencintai Meera bahkan sejak dady belum bertemu dengannya. Ramahnya, senyumnya, dan semua yang ada pada diri Meera adalah sebuah keindahan tersendiri bagi Dafa yang sudah terlanjur jatuh mengaguminya sejak jauh.
“Meera?”
“Ya, Mas Dafa? Sudah ketemu Dady? Bagaimana?” tanya Meera dengan sejuta rasa penasaran dalam hatinya saat itu.
“Sudah, dan bersiaplah agar kita segera pergi dari rumah,” ucap Dafa, yang saat itu dijawab anggukan antusias dari Meera yang memang sejak tadi menunggu kabarnya.
Dafa kemudian mematikan panggilan. Ia berdiri dengan langkahnya yang gontai akibat beratnya beban saat ini dengan segala isi fikiran jahat yang menghantui, dan ia benar-benar galau dengan apa yang akan ia putuskan dengan kerusuhan isi hati dan fikirannya.
"Aaaarrrghhh!!!!"
__ADS_1