Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Kenapa ke hotel?


__ADS_3

“Kok ke hotel?” tanya Meera yang canggung ketika melihat sebuah Gedung besar di depan mata. Padahal ia juga terluka, kenapa Dady louis tak membawanya ke Rumah sakit untuk mengobatinya. Sekujur tubuh Meera langsung merinding melihat calon suami yang tengah membuka pintu untuknya saat ini.


“Kau mau Sean melihatmu dalam keadaan seperti ini?” raih Dady Louis pada tubuh Meera dan akan membopongnya masuk kedalam sana dengan tubuh besarnya.


Meera hanya bisa menurut, tubuhnya juga sakit sakit akibat pukulan sang ayah tadi. Ia mengalungkan tangan di leher Dady Louis yang membawanya berjalan hingga sampai di lobi hotel. Bahkan ia tak perlu cek ini lagi karena Room boy ternyata langsung membawanya ke dalam kamar.


“Anda susah memesannya sejak tadi? Memang sengaja membawaku ke hotel ini?” tanya Meera dengan mulut cerewetnya. Tapi saat itu tak ada sepatah katapun keluar dari mulut pria itu, yang tetap diam, dan tenang berjalan hingga ke kamar mereka berdua.


“Berikan aku perlengkapan P3k,” pintanya, dan room boy itu segera mengangguk mengambilkan apa yang ia pinta.


Meera diturunkan dan ia lantas berjalan masuk menyusuri kamar besar nan mewah itu. Kagum, apalagi ia memang tak pernah sama sekali menginap dihotel paling murah sekalipun dikotanya. Bahkan ketika seperguruan pergi bersama, Meera tak pernah ikut pergi karena keterbatasan dana.


“Wooo!” Meera sampai ternganga, seolah lupa jika ujung bibirnya terluka.


“Di dalam ada beberapa pakaian, kau bisa memakainya,” ujar Dady Louis yang melepas jas beserta acessoris yang ada di tubuhnya. Tak banyak, hanya jam tangan dengan Headset blutooth yang selalu ia pakai ditelinga.


“Kenaapa banyak baju, Tuan sering tidur disini? Pantas saja Sean selalu kesepian dirumah,”


“Mulai menebak-nebak? Sepertinya bibirmu tak sesakit yang aku kita, hingga mala mini aku sudah bisa menerkamnya.”


“Me-menerkam?” gugup Meera saat itu. Ia lantas membuka lemari, dan memang hanya pakaian Dadi Louis yang ada disana. “Saya pakai ini?”


“Itu lebih baik daripada daster yang kau pakai, yang bahkan sudah koyak dan berndoa. Pakai saja,” jawab Dady dengan wajah datarnya.


Meera saat itu menggenggam sebuah kemeja putih besar yang menurutnya muat tak ubahnya daster ditubuh mungilnya. Ia lantas menoleh kesana kemari, sepertinya mencari kamar mandi untuk mengganti pakaian saat itu.


“Bukankah aku sudah melihatnya? Kenapa malu?”

__ADS_1


“Ah… Itu_”


“Gantilah, sebelun Room boy datang dan aku akan mengobati lukamu.” Meera meneguk saliva mendengarnya. Dady Louis sama sekali tak mengizinkan ia beranjak dari sana dan mengganti pakaian didepan matanya, hingga Meera yang mengalah karena memang rasanya sudah gerah.


Tapi, dia yang memancing dia pula yang tegang. Ya, Dady Louis tampak tegang dan gugup ketika melihat lekuk tubuh meera secara langsung terpampang didepan matanya. Untung saja saat itu meera masih mengenakan celana pendek untuk dalaman dengan tanktop hitam untuk lapisan daster tipis yang ia pakai. Namun tanktop itu terpaksa ia buka karena tak nyaman ditubuhnya. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Dady Louis saat ini dengan siaran live yang ada.


“Tuan, sudah.” Meera mengagetkan dan membuyarkan lamunan Dady saat itu, dan bertepatan dengan datangnya Room boy yang mengantarkan perlengkapan P3k kedalam kamarnya.


Meera yang berjalan membuka pintu, kemudian membawa kotak obat itu kehadapan calon suaminya. Ia kemudian duduk, dan Dady Louis membawanya berhadapan hingga ia dapat mengobati luka diujung bibir Meera.


“Tuan, saya bisa mengobatinya sendiri.”


“Diam, selagi aku yang melakukannya.” Datar, tapi memang benar jika Meera harus diam selama Dady mengobati lukanya saat itu. Apalagi memang perih, bahkan Meera beberapa kali meringis dan merintih olehnya.


“Ini tak seberapa, dan kau sudah merintih seperti ini.”


“Berbalik,” titah Dady dan Meera segera menurutinya saat itu juga.


Rupanya Dady meraih sebuah ikat rambut dipergelangan tangan Meera, lalu menggulung rambut Meera agar ia dapat mengikatnya. Gelungan itu cukup rapi memperlihatkan leher jenjang Meera yang indah, yang bahkan saat itu Dady mengecupnya sekali.


“Ahh…” Meera terkejut dan melenguh dengan spontanitas yang ia dapatkan saat itu.


“Kau takut padaku?” tanya Dady, dan Meera menggelengkan kepalanya.


“Bukankah, besok kita akan menikah?”


“Ya,”

__ADS_1


“Harusnya mala mini Tuan memberi saya istirahat, bukan? Ini, dan ini.” Meera meraih tangan Dady dan menaruh diwajahnya saat itu. “Ini semua masih sakit, dan perih. Hanya takut jika_”


“Baik, tidurlah di ranjang sana. Nanti aku akan menyusulnya,” ujar Dady yang justru berdiri merapikan kemeja saat itu,


Meera tak bertanya Dady Louis akan kemana, ia hanya mengangguk dan tangan besar itu mengusap rambut dan kepalanya. Setelah itu Dady Louis pergi dari ruangan itu dan meninggalkannya untuk beristirahat dan tidur di kamar.


Hari juga belum malam, masih senja dan sebenarnya Meera belum mengantuk sama sekali. Ia beranjak dari sofa kemudian menuju jendela kaca besar yang ada di kamar itu dan membuka hordengnya.


Pemandangan begitu indah terpampang didepan mata memperlihatkan seluruh kota dari sana. Meera menatapnya takjub, di satu sisi ia bahagia berada ditangan Dady Louis saat ini, apalagi Ia masih memperlakukannya dengan begitu baik. Entah besok, dan Meera tak berani untuk menduga-duga perubahan sikap yang mungkin akan Ia hadapi setelah ini.


“Dan lagi… Apakah Dia memang sering menginap di hotel ini? Dengan siapa dia menginap, apalagi di ruangan yang sebesar ini.” Meera menduga-duga, kadang juga merasa cemburu ketika membayangkan sesuatu yang tidak-tidak pada calon suaminya.


Kenapa tidak? Dady Louis adalah seorang yang berkuasa dan bisa mendapatkan apa saja dalam hidupnya. Aplalagi hanya untuk seorang wanita.


“Aaahh… Entahlah, pusing. Yang jelas aku hanya penasaran dengan ibu saat ini. Bagaimana keadaan ibu, dan dibawa kemana dia? Semoga ibu sehat disana,” harap Meera yang terus terngiang bagaimana kondisi ibunya ketika ia tinggalkan. Dan bahkan ia tak sempat sama sekali untuk sekedar mengecup tangannya saat itu.


**


Ayah Meera tergeletak dijalanan dengan luka disekujur tubuhnya. Ia lemas dan tak berdaya, namun tak ada satupun orang yang mau menolongnya saat itu.


“Tak ada yang peduli dengan hidup si miskin,” gerutunya.


“Bukan tak perduli, tapi kau sendiri yang selama ini jahat pada istrimu dan justru menghajar kami yang ingin menolongnya. Apa, kau bilang kami ikut campur? Maka saat ini kami juga tak akan ikut campur dengan segala kesakitanmu,” ucap ketua RT yang kebetulan lewat dihadapannya saat itu.


Ayah hanya tersenyum getir mendengar ucapan itu darinya, dan bahkan ia sempat bertanya istrinya dimana hingga tak menolongnya.


Tapi apa yang Pak RT jawab saat itu?

__ADS_1


“IStrimu pergi dibawa mereka semua. Kenapa, kau kehilangan?” balas Pak RT datar, meski sebenarnya ia juga khawatir pada ibu dan Meera yang dibawa entah oleh siapa.


__ADS_2