
“Rumah sakit?” tatap Meera ketika mobil berhenti di depan sebuah Rumah sakit terbesar di kota itu. Suasana memang sudah malam dan gerimis, tapi dady meraih tangan Meera dan menggandengnya masuk hingga ke dalam dan menuju sebuah ruang perawatan.
“Shinta_” panggil dady pada seorang perawat disana, dan saat itu juga shinta langsung menghampirinya dady dan Meera. Gadis manis itu memiliki senyum yang manis dan begitu ramah, terutama ketika menyapa sang nyonya.
“Nyonya datang?” Gadis itu menundukkan kepalanya pada Meera.
“Dady, ajak.” Meera yang justru canggung melihatnya saat itu, terutama karena penampilannya cukup berantakan saat ini akhibat menangis nyaris seharian.
Shinta melirik dady saat itu seperti memberikan sebuah pertanyaan, dan dady hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Membuat Meera semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka sembunyikan. Hingga Shinta menggenggam lengan Meera, lalu membawanya ke sebuah ruangan dan ia melihat seseorang tengah duduk dengan songkoknya menyisir rambut yang mulai tipis.
Meera membulatkan mata melihat siapa yang ada disana. Ya, ibu yang sudah Enam bulan lebih tak bertemu dengannya, akhirnya Meera bisa melihatnya saat ini meski dari kejauhan. Ibu tampak segar, wajahnya cerah saat ini tak seperti biasanya yang kusam dan kurang terawatt.
“Ibu menderita kanker usus besar, dan beliau sudah menjalani semua pengobatan. Selama ini Tuan mempercayakan ibu pada saya agar dirawat dengan baik agar Nyonya fokus dengan tuan kecil kami, Ocean.”
Shinta juga menjelaskan apa yang terjadi pada ibu saat ini. Ia belum bisa membawanya pulang kerumah karena tak ada yang membantunya merawat ibu disana, hingga jalan paling aman adalah ibu tinggal Di Rumah sakit dengan semua fasilitas yang memadai. Semua terkontrol dengan baik bersama beberapa orang yang membantunya saat ini.
Dan memang benar, ibu terawat dengan begitu baik saat ini ditangan Shinta meksi ia belum sembuh seutuhnya. Meera menangis lagi pada akhirnya, ia terharu melihat sang ibu dan merasa menyesal menuduh suaminya yang tidak-tidak. Padahal dady sudah begitu bertanggung jawab dengan janjinya selama ini.
Tapi wajar jika menjadi seorang Meera, pasti akan cemburu pada waktunya setelah sekian lama mereka bersama.
“Nyonya ingin bertemu ibu?” tawar Shinta, tapi Meera menggelengkan kepala dan lebih memilih kembali pada suaminya disana.
Meera berjalan pelan melewati Lorong yang sempat ia lalui, dan ia menemukan dady tengah duduk bersedekap sembari memejamkan matanya disana. Meera lantas perlahan duduk disampingnya, tanpa suara dan cukup gelisah harus melakukan apa.
“Tak menemuinya?” tanya dady yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
“Maaf,” sesal Meera.
“Hanya beberapa bulan lagi, Meera.”
“Maaf, Meera seperti anak kecil yang mudah terpengaruh oleh mereka. Meera hanya_”
“Aku sudah akan mengusir mereka sejak beberapa minggu lalu, tapi kau mempertahankannya hanya karena kasihan dengan mama.” Dady kemudian berdiri dari sana, berjalan dan meninggalkan Meera dalam semua rasa sesal yang begitu dalam.
Meera hanya diam mendengarkan langkah kaki itu menjauh, dan semakin jauh hingga tak terdengar lagi oleh telinganya saat ini. Dan ia terisak lagi.
Hingga tak lama menunggu disana dalam tangisnya, Meera kemudian beranjak dari kursi itu dan melangkahkan kaki untuk keluar. Ia tak melihat mobil dady yang terparkir disana sebelumnya, nelangsa dan langsung duduk di lantai teras Rumah sakit menatap air hujan yang turun dari atap. Ia bahkan menampungnya dengan telapak tangan, bahkan ia tak tahu apa fungsinya saat itu. Dan ia kembali diam memeluk lututnya disana entah akan sampai kapan.
“Tak bisakah jika tak tergesa-gesa?” Suara dady membuyarkan lamunan Meera saat itu juga, dan rupanya dady sudah ada didepan mata dengan secangkir minuman kesukaan Meera. “Aku mencarimu sejak tadi, kelilng Rumah sakit besar ini dengan begitu cemas. Tapi kau justru melamun santai disini.”
“Apakah Kau benar-benar tak ingin menemui ibumu? Kau hanya tinggal melangkah dan bisa langsung memeluknya saat itu,” tanya dady. Tapi Meera Kembali menggelengkan kepala, dan ia langsung berdiri memeluk erat suaminya saat itu. Hanya sesegukan, tapi air matanya sudah tak menetes lagi sejak tadi.
“Meera udah janji, kan? Meera ngga akan ketemu ibu dan akan balik sama Dady setelah ini. Meera janji ngga akan mudah terpengaruh lagi oleh apapun, dan Meera akan bertanya langsung dengan baik tentang semuanya.”
“Apa?”
“Dady cinta ngga sama Meera?” Meera langsung mendongakkan kepala saat itu juga dan menatap mata suaminya.
“Kenapa bertanya seperti itu?” tanya dady yang kemudian menjentikkan jarinya dikening sang istri hingga meringis kesakitan.
“Wajar jika Meera tanya! Siapa yang mau kalau suaminya terus dihantui bayang-bayang masa lalu. Kalau dia masih hidup, Meera bisa labrak dia supaya menjauh. Tapi, kan_”
__ADS_1
Dady menyipitkan mata melihat tingkah istrinya. Bisa bisanya dia mempertanyakan itu dalam keadaan seperti ini, padahal ia juga tahu jawabannya, bahwa momy Sean tak akan pernah hilang dari semua kenangan dalam hidupnya.
“Hari sudah malam, kita pulang ke Hotel, sekarang.”
Meera membulatkan matanya seketika mendengar ajakan suaminya. “Kenapa ke Hotel?”
Sementara itu saat ini Dafa tengah membereskan semua baranh di kamar Ane. Ia memasukkan semua pakaian dan beberapa perlengkapan gadis itu dengan paksa ke dalam sebuah koper besar termasuk milik mamanya.
“Hey! Kenapa kamu masukin barangku, itu ngga sopan!” pekik Ane dengan seluruh emosi yang menguasai dirinya saat itu.
“Kau tahu apa itu tak sopan? Yaitu ketika kau menguntit, memfitnah dan kau membuat keributan di keluarga kami yang tenang.”
“Tenang? Tenang apanya? Keluarga yang tenang itu keluarga tanpa adanya kebohongan. Itu baru tenang!” sergah Ane padanya dengan suara lantang memekakkan telinga. Hingga akhirnya Dafa berdiri dengan tatapan tajamnya memperlihatkan selembar kertas berisi fakta tentang kebohongan mereka selama ini.
“Rumah… untuk apa kalian gadaikan hingga tersita Bank? Itu alasan kalian nekat tinggal disinim dan berusaha merecok rumah tangga kakakku?” tegas Dafa dengan segala emosinya.
“Baru kau bilang itu kakakmu, kemarin kau kemana saja? Dan bahkan dia saja tak pernah mengakuimu di depan media jika kau adalah adiknya. Kau tak lebih dari sekedar kacung buatnya!”
Braak!! Tubuh Ane dengan keras ia hempas ke dinding kamar itu hingga Ane merintih kesakitan memegangi bahunya. Sakit, apalagi tenaga Dafa memang begitu kuat untuk tubuh kecil seperti dirinya saat itu.
“Jika kau tak tahu, kau lebih baik diam, Ane. Daripada aku merobeek mulutmu itu. Bahwa jika bukan karena Meera yang kasihan pada mamamu, kau sudah diusir sejak lama oleh Kak Louis.”
Dafa menyeret koper itu keluar rumah, membuangnya kedepan pintu dan menghempas tubuh Ane hingga jatuh kesampingnya.
“Dan setelah ini, kak Louis bahkan tak akan perduli lagi apa yang terjadi padamu nanti!”
__ADS_1