Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Aku butuh Kau


__ADS_3

“Tuan bukan tipe yang seperti itu, percaya padaku.” Dafa meyakinkan Meera dengan kegalauan hatinya saat ini. Apalagi mengenai hotel. Dafa menjelaskan semuanya dengan detail bahwa Dady Louis memang harus memiliki tempat istirahat ketika ia tak bisa pulang, dan kadang disana ia bisa sedikit menenangkan diri dari segala rasa lelah yang ada.


Meera sedikit lega mendengarnya, dan hatinya terasa ringan dari beban yang sempat melanda. Apakah ia mulai cemburu? Atau sekedar tak ingin jika suaminya melampiaskan semua pada wanita lain diluar sana. Karena untuk sebuah kata cinta, Meera sendiri belum bisa menjabarkannya saat ini. Masih perlu banyak waktu untuk hal itu, dan yang jelas Meera hanya ingin melakukan kewajibannya.


Dafa pergi setelahnya, apalagi mendengar jika Sean sudah mulai mencari momy disana. Meera kembali pada sang putra dan menemaninya untuk bermain selagi jam istirahat tiba. Untungnya saat itu tak lagi ada yang berani mengganggu Meera hingga akan merusak moodnya. M


“Sambil makan, ya? Bujuk Meera pada Sean yang tengah asyik dengan gambarnya. Sean mengangguk, dan ia membuka mulut ketika Meera mulai menyuapkan makanan kedalam mulut kecilnya. Semua berjalan normal disana.


Dady tengah sibuk dengan segala pertemuan yang ada, tapi masih menyempatkan diri untuk menelpon istrinya. Tapi sayang, hp Meera tertinggal di dalam tas dan nada deringnya ia matikan saat itu. Tak apa, dady masih bisa mencari info dari yang lainnya.


“Tuan, rapat sebentar lagi akan dimulai.” Sang sekretaris datang untuk mengajaknya keluar.


“Ya, aku menyusul.” Dady lalu menyimpan hpnya didalam laci dan pergi keluar dari ruangan itu menuju ruangan rapat. Dan benar saja, semua orang sudah menunggunya disana.


“Siang, Tuan Louis.” Semua berdiri membungkuk menyambutnya. Dua orang pria dan satu wanita sebagai sekretarisnya, mereka datang untuk menjalin kerja sama membuka jasa cabang pengiriman di daerah yang mereka tinggali.


Semua proposal perencanaan telah diberikan, dan Dady tengan membaca untuk memahami semuanya saat ini. Tatapan mata wanita itu seolah tak bisa berpaling dari pria tampan yang ada didepannya, seakan ia sampai tak bisa berkedip sama sekali karenanya.


“Bukankah disana sudah ada jasa pengiriman?” tanya Dady, membuyarka kekaguman wanita bersama Celin itu.


“Ah, iya? Jadi, terkadang mereka suka membandingkan karena jasa pengiriman lain seringkali lama dalam mengirim barang. JVT termasuk andalan dan mendapatkan range tinggi dari beberapa aplikasi yang ada. Maka dari itu, kami juga ingin membuka JVT ekspres disana.”


Dady diam dan memikirkan alasan yang cukup tepat baginya. “Baik, kami akan pelajari lebih lanjut semuanya. Kalian sudah memahami semua aturan bekerja sama dengan JVT ekspress?”


“Sudah, Tuan. Nanti jika ada sesuatu, saya akan tanyakan langsung pada Tuan.


” Pada Asisten saya, Sila.” Dady memotong ucapan Celin ketika ia sudah mengeluarkan Hp bermaksud meminta nomor hp Dady untuknya.


Saat itu Sila langsung sigap meraih hp Celin dan memasukkan nomornya, bahkan nomor official JVT disana agar bisa dihubungi kapan saja diperlukan.


“Ada lagi, Nyonya?” tanya Sila, dan Celin menggelengkan kepala penuh rasa kecewa.

__ADS_1


Urusan pertama selesai, dan Dady bersiap pergi ke tempat selanjutnya ditemani Sila. Sementara Dafa disana dengan urusannya yang juga selesai, segera akan kembali ke kantor pusat untuk urusan yang lain hingga ia nanti akan menjemput Sean dan Meera.


“Iiiih… Mana sih? Tadi nelpon,” kesal Meera ketika dady tak juga mengangkat teleponnya. Ia menghubungi karena merasa bersalah sempat tak mengangkat panggilan dady tadi.


Meera yang kesal akhirnya mengalihkan panggilan pada Dafa, dan saat itu Dafa dengan sigap segera menjawab panggilan Meera.


“Ya, Nyonya?”


“Dady mana? Mas Dafa di kantor?”


“Iya, saya di kantor sekarang. Tuan sedang keluar bersama Sila untuk urusan diluar,”


“Sila_”


“Asisten Tuan di kantor,” balas Dafa secepatnya. Salah juga dia, belum menjelaskan semuanya pada Meera siapa saja yang ada disekitar suaminya ketika bekerja. Asisten, sekretaris dan semuanya yang tak lain adalah wanita.


“Yaudah, ngga papa. Nanti kalau udah pulang, jangan lupa suruh kabarin Meera,”


Meera kemudian mematikan hp dan kembali pada Sean yang tengah belajar membaca disana. Ia melihat dan memperhatikan semua proses yang ada, bahkan bagaimana cara Mia mengurus sang putra. Dulu, Mia selalu mengejek Meera karena kesulitan membimbing Sean sebagai murid satu-satunya yang belum bisa membaca di kelas itu, dan sekarang Ia melihat bagaimana Mia melakukan itu semua.


Tampak Mia kesulitan, apalagi Sean yang tak mau memperhatikan. Sean begitu santai diam dan asyik dengan permainannya saat itu dan tak terlalu mau menghiraukan Mia didekatnya.


“Sean, ayolah. Jangan kamu anak orang kaya, jadi ngga perlu belajar dan bisa dapat segalanya.”


“Kenapa bawa-bawa orang tua, Mia?” tegur Meera yang ternyata ada dibelakangnya saat itu.


“Ya, hanya memperingatkan saja, kalau belajar itu perlu. Jangan hanya karena previllage jadi santai dan membiarkan diri sendiri bodoh,”


“Oh, bodoh ya?” tatap Meera sembari menganggukkan kepalanya.


Mia menangkap tatapan lain Meera saat itu dan langsung gugup dibuatnya. “Ehm… Maksud saya bukan begitu, Meera. Eh, Nyonya.” Mia bahkan gagap seketika bicara.

__ADS_1


“Ya, saya mengerti maksudnya. Terimakasih sudah mau sabar dengan Sean, saya harap kamu lebih sabar lagi setelah ini,” balas Meera menahan amarahnya. Saat itu Mia hanya bisa menganggukkan kepala dan pamit pergi setelah mendengar bel sekolah berbunyi, tandanya pelajaran telah selesai dan waktunya mereka semua pulang dari sekolah.


Meera lantas menghubungi Dafa untuk segera menjemput mereka berdua. Dan seperti biasa, Dafa begitu sigap melakukan semua perintah yang diberikan padanya.


Tiba di rumah, Meera melakukan hal seperti biasa. Monoton, tapi dia bahagia melakukannya. Mengurus sean, mengajarinya belajar dan semua itu mengalihkan perhatian serta rasa rindunya pada sang ibu disana.


Meera tak menampik jika ia tengah terkurung rindu saat ini, apalagi dady Louis masih merahasiakan keadaan ibunya disana, bagaimana dan dimana ia tinggal. Padahal apa salahnya jika mmeberitahu Meera detail kecil mengenai ibu saat itu agar hatinya sedikit tenang. Tapi kembali lagi, bahwa itu adalah perjanjian mereka berdua sebelum menikah.


*


Hingga malam hari, Dady juga belum memberi kabar pada Meera. Hanya Dafa yang sudah pulang, dan memberitahu semua jadwal Dady padanya hingga malam ini dengan segala kesibukan yang ada.


“Memang tak sempat sama sekali menghubungi?”


“Bahkan Sean sudah sangat terbiasa dan tak mempertanyakannya sama sekali,” balas Dafa yang duduk santai di sofa usai makan malam mereka bersama.


“Ya, mungkin Meera saja yang belum terbiasa.” Meera menatap Sean yang tengah asyik dengan alat berhitungya disana.


Bahkan hari sudah larut malam, dan Meera sudah menidurkan Sean di kamarnya saat itu. Tapi ia sendiri tak bisa memejamkan mata dan terus terjaga menunggu suaminya. Ia beberapa kali berdiri dan menatap keluar jendela, siapa tahu ada mobil dady pulang dan ia akan segera menyambutnya.


“Kabarin kek, biar ngga cemas. Gini-gini kan, istri.” Meera galau dengan hp terus dalam genggamannya saat itu.


Meera pasrah, dan ia mencoba merebahkan diri disebelah sang putra dengan tetap menggenggam Hpnya. Namun, ketika Meera mulai terlelap hp itu berdering dan Meera segera menjawab ketika itu dari suaminya.


“Dady?”


“Meera, ke hotel sekarang, aku butuh kau.”


“Dady kenapa?” tanya Meera, mendengar suara dady Louis begitu berat disana. Sepertinya tengah mabuk parah.


“Jangan banyak bertanya, aku akan meminta Dafa mengantarmu segera. Bersiaplah,”

__ADS_1


“I-Iya,” angguk Meera padanya.


__ADS_2