
Bunyi alat medis terdengar dalam sebuah ruangan di sebuah Rumah sakit besar kota itu. Ruangan yang cukup mewah untuk kelasnya yang selama ini selalu ada di bangsal kelas Tiga, dan mendapat perawatan seadanya. Saat ini ibu tampak tidur dengan begitu nyaman meski semua tahu dengan sakit yang mendera.
Seorang yang dady Louis pinta untuk menjaga ibu saat itu tengah melakukan tugasnya dengan baik. Seorang perawat yang juga bekerja disana dan mau melakukan tugas ganda sebagai perawat pribadi ibu Meera.
Ibu Meera dibawa kesana dalam kondisi lemah dan tak berdaya. Keringat bercucuran, tapi bukan dari ketakutan saat itu atas keributan yang ada. Melainkan dari betapa kuat ia menahan sakit yang ada diperutnya saat itu. Bahkan setelah semua pemeriksaan yang ada, Ibu justru divonis koma atas penyakitnya. Kanker usus stadium tiga dibagian usus besarnya, dan mungkin sudah infeksi didalam sana hingga membuat cairan dan perut ibu membesar.
“Kami harus melakukan operasi besar setelah ini, Tuan. Bila perlu, usus besar yang awalnya menjadi jalur pembuangan itu akan dipotong dan diangkat, kemudian diganti menjadi Stoma(lubang yang dibuat diperut untuk saluran pembuangan tinja).”
“Lakukan apapun yang terbaik,” titah dady Louis pada orang kepercayaannya disana. Lagi-lagi uang bukan masalah baginya, asal semua tertangani dengan baik terutama untuk mertuanya. Ya, meski sama sekali belum pernah ia temui.
“Baik,” angguk Shinta, kepercayaannya.
Ibu saat ini memang sangat tampak memperihatinkan. Sebuah selang panjang terpasang dihidungnya hingga ke lambung untuk mengeluarkan cairan yang ada disana. Jika diperhatikan ibu seperti wanita hamil Lima bulan, tapi isinya cairan kotor dari infeksi yang sudah menjalar didalam sana. Andai Meera tahu, ia pasti akan sangat stress saat ini
Dady saat ini tengah bersiap di kamarnya sendiri untuk berangkat ke kantornya. Ia terbiasa bersiap sendiri hingga tak harus memanggil sang istri untuk melayaninya di kamar itu meski ia juga ingin semakin mengakrabkan diri dengan Meera.
Meera dan Sean semakin akrab saat ini, tak ada lagi Batasan keduanya antara ibu dan anak pada umumnya. Meera rajin mengajak Sean bicara untuk terus memancing kosa kata baru keluar dari mulutnya, dan ia terus memancing motorik Sean agar lebih aktif dari biasa meski tak meninggalkan kegemarannya.
“Momy, Sean Hungry.” Sean memegangi perutnya yang kempes dengan wajah tertunduk saat ini.
“Ya, Sean mau makan? Coba minnta tolong sama momy untuk ambilkan,” rayu Meera pada sang putra. Tapi bukan kata untuk merayu, melainkan sebuah kecupan yang mendarat dipipi Meera say itu juga.
“Aaaahh… jangan gitu, Sean. Coba bilang, Help me Mom.”
“Mom, please,” ucap manis sean pada Meera dengan wajah imutnya. Siapa tahan jika terus digoda seperti itu, bahkan Meera serasa meleleh dibuatnya. Sangking gemasnya Meera meraih tubuh kecil itu dalam pelukan dan mengecupi pipinya berulang kali hingga Sean tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
“Ahahhaa…. Hahahaah!!!” Sean tampak bahagia dengan pengasuhan full dari Momynya saat itu.
__ADS_1
Meera lantas beranjak membuat makan siang untuk Sean. Saat itu bibik tengah membuat makan siang, namun Meera meminta izin untuk melayani Sean terlebih dulu karena sepertinya sudah tak tahan kelaparan disana.
“Maaf ya, Bik. Memang biasanya Sean jam segini sudah makan di Sekolah,” ucap Meera yang mengambil alih dapur sementara, sedangkan bibik dan yang lain mempersiapkan yang ada di meja.
“Tak apa, Nyonya. Justru dengan begini, Tuan kecil akan semakin dekat dengan Momynya. Melihat dan mendengar beliau teratwa saja, kami sudah sangat bahagia.” Bik Nurul namanya, kepala ART disana.
Meera hanya tersenyum mendengar pujian itu, dan melanjutkan untuk masak sebuah sup disana. Sedangkan Sean saat itu bermain dengan Dady yang menghampirinya.
“Kau bahagia? Are you Happy, My Hero?” tanya Dady yang memeluk tubuh mungil putranya. Sean hanya menganggukkan kepala sembari menggambar sebuah keluarga bahagia dikertasnya.
“Dady juga bahagia jika kau bahagia, Sayang. Dady akan semakin tenang meninggalkanmu untuk bekerja saat ini,”
“Dady, kerja.” Sean mengulangi ucapan Dadynya dengan datar dan tetap fokus pada pensil warna yang ia pegang saat itu.
Dady bahkan menyempatkan diri mengobrol dan membahas gambar Sean disana meski Sean tak terlalu menggubris dan menjawab, tapi Sean cukup merespon apa yang dikatakan Dady padanya. Hingga Momy datang dengan sepiring makanan ditangan untuk Sean saat itu.
“Ya, Aku ada beberapa pertemuan hari ini. Kau jaga Sean di rumah, Okey?”
“No, Tuan… Dady or Baby,” celetuk Sean dari tempatnya saat itu. Entah dari mana ia belajar atau mendengar jika itu panggilan sayang dari sepasang kekasih atau suami istri. Ia bahkan tak canggung sama sekali mengucapkannya pada mereka.
Meera dan Dady langsung membulatkan mata dan tersenyum mendengar ucapan sang putra, seolah tengah mengajari mereka berdua untuk bersikap mesra didepannya. Dady Louis saat itu menaikkan satu alis matanya pada Meera sebagai tanda sebuah pertanyaan padanya.
“Kau dengar dia, Mom?”
“Ya, Dady,” jawab Meera malu-malu, terutama untuk panggilan barunya. Terbiasa dengan Sean, tapi belum terbiasa dengan Dadynya.
Meera menaruh nasi Sean diatas meja, lalu meraih dasi sang suami untuk ia rapikan beserta kemeja dan jas yang dipakai saat itu. Tak segan pula Dady mengecup kening sang istri dengan mesra didepan putranya.
__ADS_1
Kadang Meera hanya bertanya, apa perasaan Dady ketika melakukan itu. Terpaksa, atau memang hanya sekedar membiasakan diri pada aktifitas yang pasti akan sering dijalani setiap hari nanti.
“Aku berangkat,” ucap Dady dengan senyum ramah, dan Meera mencium tangannya.
Meera langsung duduk setelah memastikan Dady benar-benar sudah berangkat dengan mobilnya disana dan Fokus kembali pada sang putra. Meera menyuapinya dengan bebas dan fokus, terutama ketika harus mengajari Sean untuk mengenal dan menyukai sayuran.
“No, I don’t like Brokoli,” tolak Sean menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menyigkiran sayuran itu dari piring.
“Ayolah Sayang, ini sehat.” Meera terus membujuk dan mengembalikan sayur itu lagi ketempatnya dan seperti it uterus hingga beberapa lama.
Meera yang mulai kesal, kadang hanya memilih diam dan menatap Sean yang merebut makanan itu dan makan sendiri dipojokan seperti biasa. Ia duduk lemas, memiringkan kepala dan pasrah dengan semua yang ada hingga Sean mengembalikan piring itu padanya. Yang jelas dengan brokoli yang utuh dipiring, dan Meera langsung melahapnya dengan kasar.
“Begini ibu dulu kalau Meera nakal. Jadi kangen ibu,” ujar Meera yang jadi penasaran pada ibunya.
“Bagaimana?” tanya Dady pada Shinta di ruangan sang mertua. Dady melihatnya dari ruangan yang berbatas dengan kaca karena tak diizinkan masuk kedalam sana.
“Ini berkas untuk operasi beserta rincian dana yang harus dibayarkan. Setelah itu potongan akan di teliti, apakah itu kanker ganas atau tidak, hingga bisa diambil tindakan untuk kemoterapinya.”
“Kemoterapi?”
“Ya, setidaknya itu yang bisa kita lakukan untuk menghambat penyebarannya semakin parah.” Shinta menjelaskan apa adanya dan tak ada yang ditutupi diantara mereka.
“Anaknya?”
“Biarkan seperti ini hingga keadaannya membaik. Nanti dia akan tahu,”
“Baik,” angguk Shinta yang meraih kembali berkasnya ditangan sang tuan.
__ADS_1
Kadang Dady kasihan pada Meera yang pasti penasaran pada ibunya, namun ini sudah perjanjian mereka agar ia bisa lebih fokus pada Sean disana.