Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Dady mabok


__ADS_3

Sebulan lebih sudah keadaan terasa begitu damai didalam rumah besar itu. Hari-hari dipenuhi senyuman cerah dan begitu ceria diantara mereka semua, apalagi Meera tak lagi tersembunyi saat ini dari public hingga bebas kemanapun ia mau sesuka hatinya.


Meera juga cukup aktif dengan kegiatannya sebagai ibu Direktur JVT dengan beberapa pertemuan mama-mama sosialita kelas atas lainnya. Mereka semua mengenal Meera sebagai Nyonya Louis saat ini. tapi Meera memabatasi itu semua karena ia lebih memilih fokus pada sang putra dan suami yang selalu butuh perhatian darinya.


“Dady hari ini sibuk?” tanya Meera yang tengah memakaikan kemeja suami, tapi tangan nakalnya justru menyingkap kemeja rapi itu dan mengusapi perut hingga dada dady yang tercetak begitu amat sempurna.


“Hey, bukankah kau yang baru saja memasangnya? Kenapa berantakan lagi?” tegur Dady yang mencoba melepas tangan nakal itu darinya. Hari sudah siang, dan ia buru-buru saat ini.


Meera memanyunkan bibir, sensitive dan rasanya tak stabil hari ini hingga terus ingin bersama dengan dady setiap waktu. Ia memakaikan jas dan menggandengnya untuk segera turun kebawah menghampiri Sean dan Dafa yang tengah menikmati sarapannya saat itu.


“Momy,” sapa Sean dengan senyum manisnya yang ramah. Ia sudah bisa dan mau makan sendiri saat ini dengan rapi dan bahkan mempersiapkan semua keperluan sekolah sebelum Meera datang membantunya mandi.


“Enak Sayang, sarapannya?” tanya Meera menyapa dengan sebuah kecupan di keningnya.


“Enak, Momy mau?” tawar Sean pada sosis yang ia makan saat itu. Meera membuka mulut dan menerima suapan dari putranya dengan begitu nikmat mengunyah sembari melayani dady dengan sarapannya.


Meera pada gulai ayam yang ada disana, karena biasanya dady begitu suka dengan menu itu terutama jika Meera yang memasak. Tapi, respon dady cukup aneh saat ini seperti kurang menyukai makanan bersantan itu.


“Eengghh…” Dady justru tampak langsung memejamkan mata dan menjauhkan wajah saat itu dengan menu yang ada. Meera sampai mencium aroma gulainya untuk memastikan jika tak ada sesuatu yang salah disana.


“Ada apa, Meera? Makanannya enak kook,” ucap Dafa yang tengak menikmati gulai itu saat ini.

__ADS_1


“Dady kenapa? In ikan kesukaan Dady??” tanya Meera padanya usai mendapat jawaban Dafa. Ia menendokkan kuahnya seperti biasa agar dady mencicipi, tapi mualnya seakan makin menjadi.


“Euughh… Hoeeek!” Dady justru beralih dan langsung berlari ke wastafel yang ada didekat kamar mandi dapur saat itu. Terdengar ia muntah parah disana dan menghabiskan isi perutnya yang belum terisi sama sekali.


“Dady!” Meera yang cemas langsung menghampiri saat itu dan memijat bagian belakangnya perlahan agar sedikit lega.


“Masuk angin? Kemarin Dady abis dari luar kota kan, nyetir berdua sama Mas Dafa.”


“Mungkin iya. Aku makan seadanya saja pagi ini, nanti akan ku minta Shila memberikan obat di kantor.”


“Ngga perlu di kerokan?” tawar Meera, tapi dady menggelengkan kepalanya.


Dady lantas kembali ke meja makan dan membuat sebuah sandwich berisi telur dadar disana untuknya sarapan meski beberapa kali juga masih terasa begitu mual diperutnya. Meera meminta Vira membuat air hangat saat itu untuk dady minum secara berkala.


“Mas Dafa, jagain Dady ya. Itu kalau ngga ada urusan penting, Meera ngga akan biarin dady berangkat ke kantor.” Meera terus saja menasehati mereka berdua yang siap pergi saat itu, padahal Sean sudah duduk rapi dan menunggunya sejak tadi.


“Siap, Bu Presdir.” Dafa lantas memberi hormat pada kakak iparnya itu, dan dady dengan wajah pucatnya langsung memberi kecupan pada Meera sebagai perpisahan mereka pagi ini.


Mereka jalan masing-masing menuju tempat yang akan mereka tuju, dan dady dalam waktu cepat juga sudah tiba di kantornya untuk memulai beberapa pekerjaan yang ada. Di dalam ruangan, Shila juga tekah mempersiapkan the hangat dengan campuran tolak angin di dalamnya untuk menghangatkan tubuh dady.


“Bagaimana, Tuan?” tanya Shila yang memastikan kondisi bosnya baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


“Ya, kita berangkat sekarang.” Dady langsung berdiri dan memakai jasnya kembali.


“Yakin?” tanya Dafa pada kakaknya, karena jika memang tak mampu maka ia akan mewakili saat ini. Toh Dafa Sudah benar-benar di dapuk sebagai wakil Direktur JVT oleh kakaknya.


“Ya, nanti aku akan tidur disana jika tak mampu.” Dady kemudian berjalan mendahului mereka yang ikut dibelakang dengan beberapa berkas ditangan.


*


Sementara Meera dan Sean sudah tiba Di Sekolah saat ini. Tapi ia meminta Sean berjalan menuju kelasnya sendiri sementara ia berjalan menuju luar gerbang sekolah untuk membeli jajanan pada mamang yang berjualan disana.


“Wah, enak.” Meera langsung berselera melihat berbagai jajanan yang terpajang disana. Ada telur gulung, sosis dan beberapa lain dan ia membelinya cukup banyak satu persatu.


“Momy Sean jajan? Tumben?” sapa mama Lika yang kebetulan melihatnya saat itu.


“Ia, Mam. Kepengen aja, menggiurkan soalnya.” Meera bahkan menawarkannya pada rekannya itu dan menikmatinya bersama. Mereka sudah akrab saat ini dan Sudah tak banyak drama lagi disana setelah beberapa ratu drama meghilang dari pandangan mereka disana.


Mereka menunggu anak masing-masing sembari berbagi cerita disana, dan bahkan beberapa diantaranya mempertanyakan kondisi Meera saat ini yang sedikit berubah dari biasanya.


“Momy Sean gemukan sekarang, suda bahagia sepertinya.” Yang lain ikut memuji saat itu,.


“Ya, apalagi? Kan sudah bebas merdeka, masalah juga udah ngga ada kan? Sean juga makin mandiri sekarang. Ibunya gimana?”

__ADS_1


“Ibu? Berangsur membaik. Nanti kalau udah bersih sel kankernya, akan di operasi kembali untuk proses berikutnya,” balas Meera, sembari memperhatikan dirinya sendiri didepan kaca. Apa benar ia gemuk saat ini. Tapi meski sedikit sedih, mulutnya juga tak berhenti ngemil dengan apapun yang ia beli pada para pedagang yang lewat di depan sana.


__ADS_2