
“Permisi, benarkah ini perusahaan milik Tuan Louis Alexander Damares?” tanya seorang berseragam polisi dengan beberapa anggota dibelakangnya.
Saat itu mereka menghampiri meja resepsionis yang justru kebingungan ketika mereka datang.
“MAaf, ada perlu apa Bapak sekalia datang kemari?” tanya Shila yang kebetulan keluar dan menghampiri mereka semua.
Polisi itu lantas memberikan surat panggilan lengkap dengan semua berkas laporan dari ayah Meera untuk Dady dengan kasus penculikan istri dan putrinya. Shila langsung membulatkan mata, ia tak ingin ada keributan hingga langsung saja membawa mereka semua ke ruangan dady saat itu.
Shila seperti merasa jika dady mengetahui ini akan terjadi sebelumnya, karena dady sempat meminta Shila segera memerintahkan mereka masuk kedalam jika Sudah datang. Dan yang dimaksud dady adalah para polisi ini?
Shila membuka pintu ruangan dady saat itu usai mengetuknya beberapa kali namun tak mendapat jawaban. Dady menoleh saat itu dan menatap mereka semua dengan wajah datarnya, kemudian mengangguk pada Shila agar mereka masuk bersama ke dalam ruangannya.
Polisi itu lalu mendekat pada Dady dan memberikan surat perintah penangkapan untuknya. Dady yang tengah menelpon Meera lantas mematikan panggilan itu, dan ia membaca semua tuduhan yang diberikan padanya.
“Kami melakukan penangkapan atas laporan kasus penculikan atas Nyonya Meera dan ibunya. Pak RIidwan, sebagai ayah Meera yang melaporkan itu semua tadi malam. Dan agar tak mempersulit semua proses, maka kami harap agar Tuan bisa kooperatif saat ini dengan semua prosedur yang ada.”
Dady diam. Ia justru mengulurkan kedua pergelangan tangannya. Seolah ia siap untuk digiring keluar dengan borgol yang mengunci kedua lengannya saat itu. Shila yang justru tegang disana dan tampak menggigiti kuku jarinya.
“Tuan_” panggil Shila dengan mata nanar saat itu. Tapi, dady dengan tangannya yang terborgol meraih wajah Shila dan membeelainya mengusap air mata yang mengalir disana.
“Panggil Dafa, dan urus semuanya bersama. Jangan pernah biarkan Meera keluar dengan alasan apapun saat ini, kecuali aku yang memintanya,” titah dady pada sekretaris pribadinya itu.
Sementara itu Meera memekik sejadi-jadinya menacari Dafa. Ia turun segera menghampiri pria itu, yang tengah merapikan Sean di ruang Tv dan menariknya menjauh dari sang putra.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Dafa melihat air mata mengalir dipipinya. Yang meski telah berusaha Meera tahan, namun memaksa untuk tumpah berderai begitu saja.
“Dady, Mas. Meera denger kalau dady pagi ini ditangkap polisi di kantor,” ucap Meera dengan galaunya. Dafa yang mendengar itu langsung terkejut dan segera menghubungi Shila. Dan benar, Shila menjawab sesuai dengan yang Meera katakan barusan.
“Tuan ditangkap atas alasan penculikan Nyonya. Saya kurang tahu maksudnya apa, tapi Beliau minta agar kita mengurus ini berdua.” Shila masih cemas, meski berusaha menenangkan diri sendirian disana dengan segala tanggung jawab yang ada.
“Aku akan segera kesana,” ucap Dafa padanya. Tapi ia sendiri bingung akan kemana dulu saat ini, anatra ke kantor polisi atau ke perusahaan untuk menenangkan semua huru hara yang ada disana. Apalagi ketika melihat kondisi Meera saat ini, ia ingin sekali memeluk dan menenangkannya sekali saja.
Namun, itu semua tak akan pernah bisa ia lakukan. Ia memilih pergi ke kantor pada akhirnya usai berpesan pada Meera agar tak kemanapun dengan berbagai alasan yang ada.
“Kau harus patuh kali ini padaku, setidaknya selama kak Louis pulang. Okey?”
“Tapi_”
Ia tak berlama-lama, karena setelah itu ia langsung berlari pergi ke kantor untuk menyelesaikan semua masalah mereka. Walau ia hanya kan sedikit menenangkan disana.
Dady sudah dibawa ke sel saat ini, dan ia akan dipertemukan oleh pelapornya saat itu. Dia duduk dengan begitu tenang dengan tangan yang masih terborgol dan ia tak ingin memberontak sama sekali dengan penangkapannya saat ini.
Pintu dibuka, dan seseorang masuk kedalam sana dengan tampang preman mengenakan jaket dan dan celana jeans robek yang senada warnanya. Ia duduk dihadapan dady saat itu, memasang wajah kemenangan seolah ia telah memenangkan semuanya. Padahal itu semua baru awal permainan untuk mereka berdua.
“Ternyata kau penculik putriku? Kau kaya, kenapa kau harus menculik hanya untuk menikahinya?” tanya ayah Meera saat itu. Ia bertubuh kecil dan kurus, sangat kontras dengan dady yang bertubuh besar dan kekar. Mungkin jika dady berniat melawan, ia akan terhempas kuat hanya dengan satu tarikan tangannya saja.
“Kau ingin aku membelinya darimu, atau menebusnya dari pria yang sempat menjadi tempat pegadaian untuk Meera?” tanya dady datar padanya.
__ADS_1
“Kau tahu? Hebat.” Ayah menepuk tangannya saat itu.”Harusnya aku mendapat uang banyak darinya saat ini. Tapi gara-gara kau, aku harus dipukuli hingga nyaris mati.”
Dady tersenyum miring mendengar ucapan pria tua itu saat ini, yang amat menggelikan telinganya. Ia sudah menyangka jika ayah Meera serakus itu, bahkan jikapun ia menebus Meera dengan uang banyak maka ia tak akan pernah puas selama hidupnya.
“Jika aku yang menculik, maka kau harus menebus Meera dariku.”
“Lalu aku harus takut? Pada kenyataannya kaulah yang ditangkap polisi saat ini, MENANTUKU!” ayah tertawa puas melihat kondisi ini. “Dan aku meminta Meera kembali padaku beserta ibunya. Bahkan aku meminta ganti rugi karena kau telah membuat sumber keuanganku pergi selama hampir setahun ini.”
Ayah Meera Hiperbola, padahal Meera belum ada setahun pergi darinya saat itu. Tapi ia seolah memanfaatkan moment itu untuk dirinya sendiri agar mendapat uang lebih banyak dari apa yang ia perkirakan saat ini.
“Anda menantang saya, Ayah Mertua? Kita buktikan, siapa yang pada akhirnya akan membusuk didalam penjara ini. Dan saat ini, ruangan yang sempit ini seperti sebuah tempat liburan untukku selama beberapa hari,” ucap Dady sembari memperhatikan seisi ruangan dimana mereka berada.
Braak!!
“Kau tak takut padaku?” geram ayah Meera, dan Dady menggelengkan kepalanya. Tak tampak rasa takut sama sekali dimatanya saat itu dengan semua ancaman yang ada. “Atas dasar apa kau akan memenjarakanku? Kau kira kau punya bukti atas semua yang kulakukan selama ini?”
“Kau kira aku tak punya?”
“Kau akan menyesalinya, Tuan Louis. Karena setelah ini, Meera dan seluruh hartamu akan habis hanya untuk menantangku!” Ia begitu percaya diri, apalagi ketika Ar bersedia membokingnya untuk bersama menghancurkan dady dari belakang layar.
Bukti ayah adalah ketika dady menculik Meera, sedangkan bukti dady lengkap sampai ke akar-akarnya. Mereka telah bertaruh saat ini, tapi bukan hanya sekedar perkara penculikan Meera mlainkan sesuatu dari masa lalu mereka yang belum ayah Meera sadari hingga saat ini.
Begitu banyak alasan kenapa dady menculik Meera, dan begitu getol mengobati ibu saat ini. Namun sayang ibu belum sembuh benar, hingga ia takut jika ibu belum siap untuk menjadi saksinya nanti.
__ADS_1