
“Dady mau?” tawar Meera pada dady ketika tengah makan pecel lele kesukaannya. Ia sengaja makan didekat dady yang tengah fokus pada laptopnya saat itu agar bisa menyuapinya dan bermesraan disana, memanfaatkan waktu ketika Sean sudah tidur lelap di kamarnya.
Dady diam seolah tak memperhatikan, namun mulutnya terbuka dan siap menerima makanan dari tangan Meera yang bahkan tak memakai sendok untuk makanannya. Meera kira dady se oerfect itu, namun rupanya ia bisa menyesuaikan diri dengan Meera di sebuah kondisi.
“Dad?”
“Ya?”
“Bagaimana jika pria tadi akan dendam padaku? Apalagi, nantinya pasti berita akan tersebar kemana-mana. Disini Meera tak punya teman, hingga mungkin mereka semua akan lebih membela pria itu daripada_”
“Tapi kau punya aku, suamimu.” Dady yang meski tampak tak memperhatikan itu tetap berusaha menjadi pendengar yang baik.
“Iya, tapi dady ngga selalu deket sama Meera. Di sekolah, dan ditempat lain,”
“Ada Dafa,”
“Tapi dady cemburu,”
“Wajar aku cemburu, aku suamimu.” Dua kali sudah dady menegaskan hal itu pada Meera, hingga ia tak tahan dan melengkungkan senyum pada akhirnya. Meera tak mampu berkata-kata lagi saat ini, moment mereka benar-benar romantis ala mereka berdua.
Meera terus menyuapi dady hingga makanan di piringnya tandas. Ia bahkan mencuci tangan hanya dengan air yang ia bawa dan ia lakukan diatas piringnya saat itu. Dady yang melihat hanya bisa menghela napas panjangnya saja. Namun, setelah mencuci tangan Meera jutsru tampak diam seribu bahasa senolah tengah menahan sesuatu saat ini.
Dady hanya diam, menunggu Meera sendiri yang buka suara dan melepaskan apa yang ia ingin katakan pada akhirnya.
“Dady… Ibu,” ucap Meera, tapi tak terdengar seperti ia tengah bertanya.
“Dia baik, kau rindu?”
Sebenarnya iya, tapi Meera justru menggelengkan kepala dan mengalihkan pembiacaraan pada yang lainnya. Dady merasakan keresahan Meera saat ini, tapi ia juga harus menjaga Meera dengan segala perasaan galaunya.
__ADS_1
“Kau kuat Mom, hanya saja kenapa kau begitu lemah dengan ayahmu?”
“Kenapa justru bahas dia?”
“Ya, aku ingin mempertanyakan apa yang ku lihat barusan.”
Meera tampak bingung menjelaskannya saat itu. Ia tak tahu harus mulai darimana semuanya, terutama semua kisah tentang ayah.
“Ayah dulu baik, suka menolong orang. Kalau bisa dibilang, ayah itu calo untuk orang yang mencari kerja. Jadi jika ada orang kompleks atau orang yang kenal dia cari kerja, ayah akan bawa ke tempat yang membutuhkan. Tapi, itu sudah sangaaaaat lama.” Meera bahkan merentangkan tangan sangkning antusiasnya bercerita, hingga tangan itu menyenggol wajah suaminya.
“Eh, maaf Sayang…” tawa Meera mengusap wajah dady saat itu. Dengan antusias, Meera kembali memulai semua ceritanya. Sangat jarang ada orang yang mau mendengar kisah hidupnya yang pelik, aplagi ia tak punya sahabat hingga saat ini. Teman hanya sebatas bertegur sapa, dan bahkan mungkin mereka tak tahu lagi bagaimana Meera saat ini.
“Jadi, dulu itu ayah ngerara semua orang yang ia masukin pekerjaan itu ngga ada satupun yang balas budi sama dia. Ayah udah bolak balik demi mereka, tapi pas sukses bahkan negur ayah aja ngga mau. Mereka seolah lupa dengan jasa ayah, dan menganggap semua yang dapat adalah hoki mereka.”
“Hoki?” Dady sampai mengerenyitkan dahi mendengarnya. Meera hanya menganggukkan kepala saat itu menegaskan semua apa yang ia katakana dan dady dengar barusan.
“Meera sudah cerita semuanya, bagaimana dengan Dady?”
“Maksudnya? Kau ingin tahu tentang masa laluku yang semuanya berhubungan dengan momy Sean? Kau tak cemburu?”
“Emang semuanya? Ngga ada yang lain? Kisah mendirikan perusahaan, masa kuliah, dan yang lain? Tak ada kah?” tanya Meera membulatkan mata, dan dady menggelengkan kepalanya.
“Bahkan hampir dari separuh usiaku bersamanya. Sejak SMA, kuliah, dan merintis usaha berdua, hingga mendapatkan semua ini bersamanya. Sayang di tengah perjuangan ia pergi hingga tak bisa menikmati semua hasilnya.” Dady yang biasanya hemat bicara akhirnya mau bercerita. Meera tampak senang mendengar suaminya yang mulai terbuka.
Hingga nanti ia akan mengorek semua yang begitu ingin ia ketahui darinya, bahkan dari hal sederhana yang disukai dan tak disukai dady selama hidupnya. Wajar Meera begitu penasara. Rasanya dady tahu apapun tentang dia, tapi dia tak tahu apapun tentang suaminya.
“Tak ada,” balas dady dengan jawaban super singkat, membuat Meera lantas memanyunkan bibirnya.
Hanya saja Meera menyadari, pasti memang akan begitu sulit bagi dady memudarkan segala kenangan indah bersma separuh nyawanya itu. Meera sadar, jika ia hanya akan mendapat sisa dari separuh yang telah Momy Sean miliki dari hati dady Louis.
__ADS_1
“Ya, aku tak boleh egois.” Meera berusaha menenangkan hatinya sendiri meski sulit. Wanita mana yang mampu berbagi, apalagi ia adalah yang kedua dan harus sadar diri dalam posisi ini. Setidaknya itu yang Meera Yakini dalam hatinya.
“Kenapa diam?” tanya dady memperhatikan wajah Meera yang sedikit murung setelah obrolan mereka.
“Bahkan ketika Meera bertanya, apakah Dady masih mencintainya, apa Dady akan menganggukkan kepala?” tanya Meera dengan debaran jantung yang luar biasa.
“Aku_”
“Sudah, kalau ngga mau dijawab, tak apa. Meera… Mau taruh ini di belakang, setelah itu Meera ingin istirahat di kamar.” Meera tampak gugup saat itu, bahkan langkahnya tampak aneh ketika berjalan menuju dapur untuk mencuci piring yang baru saja ia pakai.
“Biarkan disana dan Vira akan mencucinya!”
“Tak apa, hanya satu. Yang seperti ini mudah, tapi_” Meera menundukkan kepalanya. Meski ia bersumpah tak apa, nyatanya ia tak tampak baik-baik saja. Untung saja Meera masih bisa menahan air matanya.
“Dady sudah, Meera_” Braaakk!! Saat itu rupanya dady sudah ada dihadapan Meera hingga tertabrak olehnya. Dady lantar meraih kepala belakang Meera dan menenggelamkannya didada, tapi Meera berusaha menolak dan justru mendongakkan kepala menatapnya.
Meera langsung melingkarkan kedua tangan di pinggang dady yang begitu kekar, bahkan rasanya ujung tangan Meera tak dapat menjangkau ujung tangan lainnya.
“Besar,” gumam Meera yang sesekali beralih dan kembali menatap mata suaminya saat itu yang menundukkan kepala padanya.
“Apa yang besar?” goda dady meraih dagu Meera dan mendekatkan bibir keduanya.
“Semuanya…” Meera tersenyum nakal, sedikit berjinjit untuk bisa meraih terlebih dulu bibir dady Louis saat itu.
Mereka berdua saling berpanguutan sejenak disana, saling membelit lidah dan bertukar saliva sepuasnya. Hingga Meera mencabut bibir untuk menarik napasnya sejenak sembari mengusap dada berotot dady dengan tangannya yang mulai nakal.
Dady sepertinya tak bisa lagi menahan dirinya saat itu. Di raihnya pinggul Meera dan ia bopong lagi untuk naik menuju kamar keduanya. Cara dady membawa Meera tak ada mesranya sama sekali, seperti kuli memanggul beras saat ini.
Meera hanya tersenyum gemas, menggigit bibir mmebayangkan apa yang akan terjadi setelah ini
__ADS_1