Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Dibawa kemana Meera?


__ADS_3

Hanya dalam waktu singkat dady tak bisa. Ia lantas meraih hp dan mengirim pesan pada Dafa untuk menggantikan Meera mengurus putranya.


"Ckkk... Sial!" geram Dafa usai menerima pesan kakaknya pagi itu. Padahal ia baru saja ingin olahraga karena jam kerjanya siang untuk mendatangi sebuah pertemuan.


Tapi apa boleh buat, karena mau tak mau ia harus menuruti perintah sang kakak demi tercetaknya adik baby Sean dengan segera. Ia yang baru saja akan masuk ke ruang Gym, berbelok segera menuju kamar keponakannya..


"Momy mana?" tanya Sean dengan wajah polosnya.


"Sudah, jangan tanyakan Momy terus. Sekarang kita mandi, segera rapikan diri dan sarapan." Sean hanya memanyunkan bibirnya kesal saat itu, menatap paman Dafa dengan dahinya yang berkerut hingga ujungnya saling bertemu dipelipis.


"Haish, Kau ini." Sean lantas terbahak-bahak melihat ekspresi pamannya saat itu.


Sementara momy dan dady nya baru saja mandi berssama di kamar mereka. Momy yang masih mengenakan kimono dan mengeringkan rambut, lantas dihampiri dady yang tanpa aba-aba memasangkan sebuah kalung berlian dileher Meera.


Terkejut, dan wajahnya begitu bahagia menerima apa yang diberikan suaminya. Ini pertama kali dady memberikan hadiah langsung seperti ini tanpa embel-embel Dafa ataupun Shila yang membelikan atau memilihkan untuknya.


Tangan dady melingkar dipinggang ramping Meera dan mengecupinya dari belakang dengan mesra. "Hari ini ada acara peresmian gedung baru. Maaf, aku tak bisa mengajakmu karena_"


"Iya, Meera tahu. Meera mau istirahat di rumah aja, sambil nonton dady sama Sean dari tv." Meera mengangguk paham dengan apa yang diucapkan suaminya.


Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi perjuangan mereka berakhir ketika ibu sembuh dan semua bahagia tinggal bersama. Itu saja sudah membuat Meera begitu bahagia membayangkan itu semua.


" Tapi ini Meer simpen. Meera takut kalau nanti malah terjadi sesuatu,"


"Ya, itu terserah kau saja. Yang penting aku sudah berusaha membahagiakan istriku,"

__ADS_1


"Meera boleh membereskan kamar ujung?" tanya Meera yang membalik badan menghadap suaminya. Dady mengerutkan dahi ketika itu juga melihat permohonan Meera.


"Aku tak ingin itu merusak moodmu nanti,"


"Kenapa? Meera ngga papa. Cuma ingin_" Meera berhenti ketika dady menatapnya dengan sedikit tajam.


"Yaudah, ngga papa kalau ngga boleh. Siap-siap deh, sebentar lagi Sean berangkat." Meera pergi usai mengecup bibir dady, keluar dari kamar mandi dan mempersiapkan dirinya untuk menyusul Sean. Tapi, ternyata Sean sudah siap duduk di meja makan bersama paman Dafanya menunggu mereka berdua yang cukup lama.


" Sayang, sudah siap rupanya." Meera menghampiri Sean dan mengecup keningnya. Kemudian ia mmelayani mereka semua dengan segala menu yang ada. Dady menatap Meera saat itu untuk memastikan moodnya masih baik-baik saja.


"Dady kenapa?" tanya Sean melihat leher dadynya yang di plaster.


Meera menghindari membuat tanda, tapi justru membuat leher itu terluka.


"Ayo cepetin sarapannya, sebentar lagi sekolah." Meera mengalihkan pertanyaan Sean pada dadynya.


"Kak Louis tak mengajakmu ke pesta?" tanya Dafa yang fokus pada setirnya.


"Tak apa... Meera bisa melihat kalian dari Televisi nanti. Meera tak mau merusak acara dan menambah masalah," jawabnya dengan santai, meski ia akui cukup sedih kali ini.


Hingga Mereka tiba Di Sekolah Sean, dan Meera langsung turun menggandeng putranya saat itu. Dan Dafa memanggilnya sejenak hingga Meera menoleh.


"Jika kau ingin, kau bisa datang sebagai tamu undangan, bukan? Kau hanya harus duduk dibelakang dan menyaksikan semuanya. Kau ikut bahagia bersama kami," ucap Dafa, dan Meera hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum padanya. Ia kemudian pergi untuk segera menuju kelas Sean. Semua menyambutnya seperti biasa dengan penuh kehormatan, tapi rasanya semua begitu sepi bagai ia tengah sendiri kali ini dan ia menjawab seadanya dengan obrolan yang mereka semua berikan. Apalagi, mengenai peresmian kantor cabang yang akan digelar, dan mereka semua mempertanyakan akan kehadiran Meera disana sebagai nyonya Louis Alexander Damares.


“Saya ngga bisa dateng, Bu. Saya lagi sibuk urus ibu saya yang sakit,” jawab Meera dengan alasan yang cukup tepat saat ini meski masih saja dibumbui pertanyaan kenapa dari mereka. Tapi Sebagian mengerti.

__ADS_1


Usai sekolah, Meera menemani Sean belajar dan mengerjakan semua tugas seperti biasa sembari menunggu waktu untuk mempersiapkannya ke pesta. Dan ia akan datang bersama paman Dafa yang sebentar lagi menjemput dengan mobilnya. Bahkan seragam Sean sudah siap oleh Vira dan digantung dibelakang pintu agar tak kesulitan untuk mencarinya nanti


Dan ketika waktunya tiba, Meera memandikan Sean dan mendadaninya dengan begitu tampan saat ini. Rambutnya rapi, baunya wangi dan Meera bahkan menciuminya beberapa kali dengan begitu gemasnya hingga Sean tertawa terbahak-bahak karena geli. Dan Dafa masuk untuk menjemput keponakannya untuk berangkat bersama.


“Dady tak pulang dulu?” tanya Meera.


“Dia ganti pakaian di hotel, dan Shila yang mempersiapkan semuanya. Are You okey?” tanya Dafa, tapi Meera menunjukkan bahwa ia baik-baik saja disana.


“Meera mau telepon ibu malam ini sambal lihat kalian di tv. Sesuai rencana, dan Meera bahagia untuk kalian semua.” Meera melepaskan Sean untuk dibawa pergi oleh Dafa saat itu juga karena sebentar lagi acara akan mereka mulai disana.


“Sean pergi, Mom. Love you,” ucap Sean memberi kiss bye pada Meera karena meninggalkannya di rumah sendirian.


Keduanya pergi dan Meera di rumah mulai dengan cemilan dan Tvnya. Ia duduk dengan tenang ditemani Vira yang duduk bersila dilantai saat itu menemani sang nyoya dengan tontonannya. Ia tampak terharu saat itu, suami dan putranya begitu tampan hingga ia merasa amat beruntung memiliki mereka berdua saat ini.


“Nikmat mana lagi yang kau dustakan saat ini? Anak suami tampan, baik, dan kaya raya meski kadang suka menyebalkan dan membuat curiga karena ketampanannya yang paripurna.


Hingga bel berbunyi saat itu dan membuat Meera langsung menoleh kearah pintu. Ia ingin berdiri, tapi Vira segera mencegah karena ia yang akan membuka pintunya.


“Iya, siapa?” tanya Vira. Namun, seseorang saat itu langsung membekap mulutnya dengan obat bius yang ada di sapu tangan hingga ia pingsan.


Jarak antara ruang depan dan ruang tv cukup jauh hingga wajar Meera takt ahu kejadian apa disana, terlebih lagi Vira tak teriak memanggilnya saat itu. Meera yang masih santai, duduk dan terus mengagumi suaminya dari layer kaca hingga seseorang membekapnya saat itu.


“Empph… Siapa kalian?” tanya Meera, tapi ia terlanjur pingsan hingga tak bisa melihat siapa yang menyerangnya saat itu.


Mereka membawa Meera pergi dari rumah tanpa masuk atau menjelajah kedalam ruangan lain di rumah itu. Mereka membawa Meera menuju sebuah Gedung yang ramai dengan para tamu yang datang, dan ketika sampai mereka membangunkan Meera dengan kasar hingga matanya terbuka.

__ADS_1


“Ane? Mau apa kamu?” tanya Meera yang kaget melihatnya saat itu, apalagi ketika Meera melihat semua pakaiannya diganti dengan sebuah gaun pesta yang cukup bagus meski sederhana.


Apa yang kan Ane lakukan saat ini pada Meera, dan dibawa kemana Meera saat itu?


__ADS_2