
Kabar pastinya akan dengan cepat menyebar, terutama pada oma Vani dan Ane yang ada disebrang sana. Orang mereka didalam perusahaan itu cukup banyak hingga mereka dengan mudah bisa mengorek info apapun dari yang terjadi pada Dady dan Sean.
Bayangkan betapa gelisahnya mereka saat ini dengan kabar yang ada. Geram, marah dan tak terima karena sama sekali tak ada pemberitahuan sebelumnya meski dady Louis memang sempat memperkenalkan Meera sebelumnya.
“Ma… Ini gimana, Ma? Ane ngga terima kak Louis nikah sama perempuan lain.” Ane menangis tersedu-sedu sejak tadi, bahkan terhitung sudah setengah hari dan tak bisa berhenti.
“Diam Ane! Mama juga pusing sekarang mikirnya. Kamu sih, kurang usaha mendekati Louis.”
“Kalau kak Louis udah, Ma. Yang susah kan Sean, malah lari kalau Ane deketin.” Ane ngelesot dilantai sembari terus menarik ingus yang tanpa sadar keluar dari hidungnya. Ia seseukan bak anak kecil yang mainanya dirampas oleh temannya saat itu.
“Mama juga ngga akan rela Louis menikah dengan perempuan itu, Ane. Jatah kita nanti dipotongnya sesuka hati ketika dia sudah mengusai keuangan disana. Arrrghh… pusing!” Oma Vani mengacak rambutnya sendiri saat itu. Ia tampak frustasi takut kehilangan ATM berjalan yang selama ini menhidupi dan memberinya kemewahan. Ia tak akan bisa hidup hanya dengan sisa-sisa pensiunan sang suami yang seorang mantan pegawai negeri.
“Mana kamu kuliahnya ngga lulus-lulus lagi. Bodoh!!” racau oma pada putrinya yang terus saja menghabiskan biaya.
“Kan, kalau Ane belum lulus, tandanya kak Louis akan kasih bulanan terus, Ma. Itu perjanjiannya. Kalau Ane lulus, pasti semuanya di stop dari perusahaan itu dan dari kak Louis sendiri.” Ane mulai tenang ketika membahas akan uang.
“Benar juga,” angguk oma pada pernyataan putrinya. Bulanan mereka cukup besar karena biaya kuliah Ane yang juga tak main-main selama ini untuk jurusan dokter yang ia ambil. Mereka bahkan tak pernah punya laporan atau catatan jika suatu hari nanti Dady Louis memintanya.
Tapi semuanya kebanyakan habis hanya untuk mereka foya-foya menikmati hidup penuh gaya.
Dady Louis sebenarnya sudah beberapa kali memperingatkan hal itu dan memberi beberapa ancaman, tapi oma selalu bebal dan merasa ia memiliki hak atas semua yang dady miliki. Apalagi dengan nama Rose di belakang nama perusahaan itu saat ini. Bahkan oma beberapa kali membujuk dady mengalihkan beberapa saham untuk Ane sebagai adik satu-satunya dari sang kakak.
“Ngga bisa dibiarin begini. Mama ngga akan rela,”
“Tapi, mereka kan nikahnya terpaksa hanya demi Sean, ya?” tanya Ane.
__ADS_1
“Terpaksa juga akan lengket kalau terus sama-sama, bodoh!” Oma lagi lagi mencecar sang putri dengan ucapannya yang kasar, hingga Ane terdiam tak mampu lagi menjawabnya saat itu.
Oma lantas menuju kamarnya dan meraih sebuah dokumen yang ia simpan di lemari, kemudian ia pergi tanpa pamit dengan sang putri menggunakan mobil pribadinya. Ya, mobil yang ia ambil dan meminta agar Dady membayarnya sebagai mantan mertua yang masih merasa terikat olehnya. Padahal harusnya sejak momy Sean meninggal, maka hubungan itu putus sejak lama.
Oma rupanya menghampiri kantor itu dan mencari Dady langsung ke dalam ruangannya tanpa permisi. Bahkan sekretaris yang ada disana saja ia lewati, langsung saja menerobos kedalam tak perduli meski ada tamu disana.
“Louis, mama ada perlu.” Oma menatap nyalang padanya seolah tanpa rasa takut sama sekali dengan apa yang akan terjadi.
“Tuan, saya permisi dulu kalau begitu,”
“Baik Tuan Ray, terimakasih atas waktunya dan maaf dengan kejadian ini.” Dady berdiri dan menjabat tangan rekan bisnisnya itu , lalu ia pergi dari sana meninggalkan Dady dan oma.
Brak!! Oma menjatuhkan dokumen itu dimeja, dan dady sama sekali tak meraihnya. Ia sudah melihat dokumen itu beberapa kali, hingga sudah hafal denga nisi didalamnya. Dady juga seperti begitu enggan untuk bertanya apa tujuan oma datang padanya untuk yang kesekian kali.
“Seperti itukah? Lalu, kenapa mama kembali dengan dokumen yang Louis saja tak mau menandatanganinya sejak dulu?”
Dokumen itu berisi tentang tuntutan oma untuk putrinya akan saham yang ada. Disana ia bahkan meminta saham yang cukup besar, 25% dari semua saham yang ada sebagai warisan Rose pada adiknya. Bahkan sebenarnya tak mempunyai hak sama sekali dengan itu semua.
“Mama ngga akan rela, jika kerja keras kamu dan Rose akan dikuasai oleh wanita lain, Louis. Itu hak Rose, dan kami sebagai keluarganya.” Dady hanya tersenyum miring menanggapi itu semua.
“Bahkan mama menuntut lebih dari ini, agar yang seharusnya menjadi milik Sean tak dikuasai oleh anak baru kalian nanti. Sekarang boleh kalian menganggap dia seperti pangeran di rumah, memanjakannya dengan semua fasilitas yang ada. Tapi nanti ketika kamu punya anak dengan wanita itu, bisa jadi kamu akan jauh dengan Sean dan justru mengalihkannya pada kami.”
“Lebih baik menitipkannya di asrama daripada bersama kalian,” tenang dady pada semua ucapan yang oma lontarkan padanya.
“Tak akan mama biarkan!” Oma justru menggebrak meja tak ada takutnya, dan dady tak takut sama sekali.
__ADS_1
Tapi melihat itu, entah kenapa justru pandangan oma yang sedikit mereda dari sebelumnya, dan seperti ingin melunak seperti biasa. “Ayolah, Louis. Mama hanya ingin membantu menjaga hak Sean disini. Mama ngga mau jika nanti_”
“Tak akan terjadi apapun pada hak Sean disini, dan Meera akan punya hak tersendiri sebagai seorang istri. Mama masih menerima tanggung jawab dariku saja harusnya sudah lebih dari cukup. Dan lagi, tentang Ane yang tak kunjung selesai dari kuliahnya.” Dady mengeluarkan sebuah map berisi semua laporan keuangan Ane selama ini dan memperlihatkannya pada Oma disaa.
Gleek! Oma gugup dan menelan salivanya saat itu juga, bahkan tangannya gemetar meraih dan membuka laporan yang ada.
“Sudah baca?”
“Louis, kamu tahu kan, kuliah kedokteran itu sulit. Masih bisa bertahan saja sudah untuk bagi Ane,” ucapnya memanja.
“Sulit karena tak dipelajari, bahkan ada laporan rinci disana dimana saja club yang sering Ane datangi bersama temannya. Bahkan liburan dipulau dengan dana yang harusya ia bayarkan untuk kuliah selama ini.”
Oma Vani diam seribu Bahasa dan tak mampu lagi membela diri saat ini, pasalnya semua begitu lengkap disana.
“Mau lanjut, atau berhenti. Tapi jika berhenti, semua juga akan berhenti.”
Oma Vani galau dengan ancaman itu, ia bingung untuk menjawabnya saat ini dan memikirkan beribu cara untuk mengalihkan pembicaraan, namun itu tak mempan karena Dady Louis akan selalu membahas itu dengannya.
“Baik… Baik… Baik! Baiklah, Louis. Mama akan bujuk Ane untuk melanjutkan semuanya dan lulus kedokteran tahun ini. Tapi, Dokumen dan sahamnya?”
“Lima persen. Itu cukup tinggi karena kalian bahkan bukan saudara dan ibu kandung Rose,” imbuh Dady dengan wajah datarnya. Hal itu membuat oma begitu merasakan nyeri didada hingga terasa ambruk karenanya.
“Iya, atau tidak?”
“Iya, iya, iya. Mama menurut,” angguk oma padanya. Meski itu mungkin hanya sekedar kata, dan nantinya akan ada rencana lain dikepalanya.
__ADS_1