Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Tatap-tatapan


__ADS_3

Astaga, Mas Dafa!” Meera terkejut bukan main ketika Dafa yang menjadi sandarannya saat itu.


“Nyonya tak apa? Arrrghh!!” Tangan Dafa terkena lantai lapangan dan terluka cukup parah di bagian sikunya. Ia saja masih sempat memperhatikan Meera dan takut ia kenapa-napa atau ada luka ditubuhnya. Ia brsyukur karena hanya telapak tangan Meera yang terluka bahkan masih bisa meraih dan meniupnya.


“Mas Dafa yang lebih parah, Meera ngga papa.” Meera berusaha melepas tangan itu dari genggaman tangan Dafa.


Dady yang saat itu mendengar suara Meera berteriak lantas berlari dan melihat keadaan di sumber suara. Ia berlari bahkan meloncati pagar tanaman hingga sampai ke tempat tujuan. Namun langkahnya terhenti dengan apa yang ia lihat saat itu.


“Tuan,” ucap Dafa memanggil namanya. Ia kemudian berdiri dan langsung membungkuk seolah tak berani menatap wajah dady saat itu, sementara Meera ikut berdiri dan langsung meraih lengan Dafa untuk memapahnya. Sepertinya juga terkilir.


“Saya hanya menolong Nyonya yang nyaris tertabrak mereka tadi,” tunjuk Dafa pada anak-anak yang ada disana, bahkan dady tak mempertanyakan semuanya.


“Mana Sean?”


“Duduk disana,” tunjuk Dafa para arah tempat ia istirahat tadi.


“Pulang, Mom. Ajak Sean bersamamu, Dafa masih bisa jalan sendiri. Luka seperti itu tak sbeerapa baginya.”


“Dady saja yang gendong Sean, Meera mau bantu Mas Dafa pulang.”


“Momy!” tegas Dady, namun saat itu Meera tak menghiraukan dan tetap membantu Dafa berjalan pulang menuju rumah mereka.


Dady langsung menjemput Sean, dan ikut membawanya pulang bersama. Sepanjang jalan ia hanya diam seribu bahsa, Sean hanya sesekali menatapnya dengan penuh tanda tanya namun ia juga bingung harus bertanya mengenai apa. Hingga akhinrya Sean hanya diam saja hingga tiba di rumah.


Tampak Meera tengah mengobati luka di siku Dafa dengan penuh perhatian. Sean yang saat itu melihat langsung turun dari gendongan Dady dan menghampiri mereka berdua disana dengan rasa penasaran.


“Tak bisa meminta Vira?”

__ADS_1


“Lagi sibuk,” judes Meera pada suaminya.


“Melakukan apa hingga jatuh berdua? Kau mencariku hingga dia ikut mencari dan mengkhawatirkanmu?” tanya dady, dan itu semua benar adanya hingga Meera langsung mengangkat kepala menatapnya.


“Meera hanya cemas, dady_”


“Aku bukan anak kecil yang perlu kau cari, Meera. Ketika aku minta kau duduk dan menunggu, tandanya kau harus patuh.” Dengan wajah datar dan rahangnya yang tegas itu dady menasehati istrinya.


Meera lantas menghentikan aktifitasnya saat itu, ditambah Dafa memintanya agar tak lagi merawatnya dan ia bisa melakukan semua itu sendiri. Meera dengan tenggorokannya yang tercektat dan perih langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mereka yang ada diatas.


“Kau terlalu keras,” ujar Dafa.


“Dia istriku, dan aku tahua bagaimana cara mengaturnya.” Dady berjalan dengan begitu santai menyusul sang istri di kamarnya saat itu. Ia membuka pintu dan melihat Meera duduk diam dengan wajah murung di ranjangnya, bahkan ia tak menatap Dady ketika masuk dan menghampirinya.


“Kau tak mengindahkan kata-kataku?”


“Apa yang kau temukan?” Meera menggelengkan kepala dan tetap menundukkan wajahnya. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes dipunggung tangan saat itu dan ia langsung menyekanya.


“Kau menangis, karenaku?” tanya Dady menyadari itu semua. Ia merasakan ketulusan dari istrinya saat itu. Namun, Meera tak menjawab dan langsung berdiri, meraih handuk menuju kamar mandi. Bahkan pintunya ia tutup dengan begitu kuat setelah itu.


Di kamar mandi saja Meera hanya seperlunya. Ia langsung keluar setelah selesai, mengganti baju dan sedikit berdandan agar tak tampak pucat. Ia tetap tak menatap dady yang sejak tadi memperhatikannya dibelakang, bahkan melirik sedikitpun tidak seolah dady tak ada disana sama sekali. Ia langsung keluar untuk mempersiapkan sarapan yang kesiangan untuk semua orang.


Dady hanya menghembuskan napasnya. Berat, lalu bersandar kasar di bahu sofa yang ia duduki saat ini. Entah kenapa degup jantungnya menguat hingga terasa sedikit nyeri karenanya. Dady hanya meraih sebuah obat dan langsung ia minum, kemudian membersihkan dirinya.


“Momy,” panggil Sean yang sudah rapi dan wangi. Sepertinya Dafa memandikan keponakannya barusan, dan ia sendiri sudah rapi saat ini dengan balutan perban disiku kirinya.


“Hey, sayang… Hmm, wanginya. Sarapan dulu? Ini ada ayam goreng kesukaan Sean,” bujuk Meera pada sang putra, dan ia juga melirik Dafa untuk mengajaknya makan bersama.

__ADS_1


Mereka duduk seperti biasa. Meera sempat ingin membantu Dafa dengan sarapan itu, namun Dafa menolaknya. Yang luka hanya tangan kiri, dan tangan kanannya masih bisa berfungsi dengan baik hingga ia tak perlu terlalu dimanja seperti ini.


Hingga dady turun, mereka semua diam dan menyambutnya di meja makan. Hanya Meera yang tetap diam meski masih melayani suaminya dengan baik. Menyendok nasi ke piring, menaruh lauk dan mengambil air untuknya seperti biasa. Tapi tatapan Meera datar, tetap pada peralatan dan tak beralih pada dady sama sekali.


Sean tak melirik keduanya bergantian penuh tanya, tapi Dafa mengode agar Sean tetap diam dan tak banyak bertanya. Sean hanya manut dan menganggukkan kepalanya saat itu juga. Mereka sarapan dalam keadaan yang cukup senyap setelahnya.


Hingga hari mnejelang siang. Dady duduk disofa dengan laptop ditangannya saat itu dan fokus bersama Dafa sembari mengawasi Sean dan Momynya bermain. Saat itu juga ada Dafa didekatnya, memegang laptopnya sendiri meski sulit dan sesekali merintih ketika tersenggol.


“Berhentilah, istirahat dan temani Sean bermain,” perintah dady padanya. karena Dafa memang merasa tak enak badan, hingga ia menuruti perintah dady dan menaruh laptopnya disana saat itu juga.


Mereka bertiga lantas bermain bersama. Meera mengajak Sean main tatap-tatapan saat itu, siapa yang berkedip terlebih dulu maka ia akan dijitak kepalanya. Jelas tak kuat, karena Sean yang selalu kalah dari Momynya. Yang kadang jitakan berubah menjadi gelitikan.


“Main juga?” tanya Meera ketika Dafa duduk didekatnya.


“Tatap-tatapan,” celetuk Sean pada keduanya.


Meera langsung menghadap Dafa untuk mengajaknya bermain dan Sean menjadi wasit antara keduanya. Dafa dan Meera saling bertatapan saat itu, saling menjaga kedipan agar tak mendapat hukuman.


“Dafa dengan Sean. Permainan seperti ini harusnya saling berpasangan, bukan?” Mendadak dady datang diantara mereka dan bergabung dalam permainan itu.


“Dady aja yang sama Sean. Tanggung ih,” kesal Meera pada suaminya, yang memang sudah kesal sejak awal.


“Saya bersama Sean saja,” lerai Dafa sebelum keributan terjadi antara keduanya. Dafa beralih dan duduk berhadapan dengan Sean saat ini, sementara dady dengan Meera.


Mereka saling bertatap satu sama lain dengan pasangannya. Yang jelas Meera dengan suaminya saat itu. Meera menatap tajam mata dady, begitu juga sebaliknya hingga beberapa lama. Mata Meera mulai perih, tapi entah kenapa dady begitu santai terus menatapnya sejak tadi bahkan tampak begitu tajam langsung menembus ke hati.


Meera mulai gelisah seakan terpanah oleh tatapan itu. Ia menelan saliva, dan wajahnya makin lama makin bersemu merah karenaya. Dady masih santai, seakan tanpa beban melihat wajah Meera yang semakin menggemaskan baginya saat ini.

__ADS_1


“Tak boleh kalah, tak boleh kalah.” Meera terus berusaha menguatkan dirinya sendiri saat itu meski sembari mengepalkan tangan di ujung kaos setelah yang ia pakai. Pertanda Meera sudah semakin tegang karenanya.


__ADS_2