
Suara hp berdering dan saat itu meera segera mencari tasnya. Ia meraih hp itu dan menjawab telepon dari sang ibu sembari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan muka.
“Ya, Bu?”
“Kamu kenapa belum pulang juga? Ini sudah hampir malam, Meera.” Ibu terdengar begitu khawatir, pasalnya sudah beberapa hari meera seperti ini. Apalagi kemarin ia justru membawa uang banyak didalam tasnya.
“Iya, sebentar lagi meera pulang. Meera lagi banyak pekerjaan, kan ibu tahu laptop meera dijual ayah. Jadi meera harus kerjain semua di sekolah,” jawabnya.
“Baiklah, tapi setelah ini kamu harus pulang. Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu,” pinta ibu padanya. Apalagi meera memang baru memberinya uang belanja hingga ibu semakin semangat memasak untuk putri tercinta.
Meera menaruh hp di wastafel dan mencuci wajahnya saat itu dengan sabun yang ada. Ia tak perduli sabun apa yang penting sedikit fresh untuknya. Dengan datar ia menghela napas panjang, tanpa menyadari Louis ada disebelahnya saat itu tengah buang air kecil dengan santainya.
Suara kucuran air terdengar, dan itu bukan toilet umum dengan pisahan antara wastafel dan toilet. Meera sedikit membulatkan mata lalu perlah menoleh kearah sumber suara yang ada. Louis pun menoleh membalas tatapan meera padanya, dan bahkan meera menundukkan kepala entah kenapa justru melihat miliknya.
“Aaaaa!!!” Meera memekik sekuat tenaga,”Ke-kenapa anda disini?”
“Apa ketika bangun, kau tak melihat kau ada dimana?” tanya louis yang langsung memasukkan kembali miliknya kedalam celanaa.
Meera dengan wajah merahnya lantas melirik kamar mandi itu, ia kemudian meraih hp dan keluar menuju kamar yang baru saja ia tiduri. “HA?” Meera terngana. Dia langsung meraih tas dan berusaha keluar dari sana hingga louis terlebih dulu menghampirinya.
“GILA!” gumam meera dengan segala emosinya.
“Kenapa aku? Kau yang masuk kamar mandi tanpa melihat keadaan terlebih dulu.” Louis mengoceh membalas tuduhan meera padanya.
Wanita yang memegang ta situ lantas memukulkan tasnya berkali-kali di tubuh Louis. Ia panik, dan saat itu langsung berusaha untuk keluar dari sana.
“Kenapa aku di kamarmu? Kau apakan aku barusan?” Meera melirik sekujur tubuhnya. Tapi saat itu dengan isengnya louis justru menarik tangan meera hingga jatuh dalam dekapannya.
__ADS_1
“Kau tanya aku melakukan apa barusan? Aku tak suka menyentuh wanita dengan matanya yang terlelap karena itu tak enak. Aku lebih suka seperti ini,” goda louis yang saat itu membelai wajah dan menyingkirkan anak rambut meera yang berantakan.
“Apaan?!!!” Meera lagi-lagi memukulkan tas ditubuh louis sekuat tenaganya, dan itu semakin membuatnya berantakan saat ini.
Keributan itu terdengar sampai kebawah. Dafa lantas menggendong Sean untuk naik dan melihat mereka berdua disana sedang apa. Hingga pintu dibuka, saat itu sean menutup mata melihat dady seolah akan mengecup bibir momynya. Tapi sean justru mengulurkan senyum pada mereka berdua.
“Sean,” lirih dafa menegur keponakannya. Ia lantas berusaha menjelaskan semuanya pada meera agar tak terjadi kesalah pahaman antara mereka berdua, bahwa semua sean yang meminta agar louis membawa meera ke kamarnya.
Meera lantas melirik louis, dan louis saat itu hanya mengedikkan bahu tanpa bajunya itu. Ia begitu santai membalas wajah meera yang takut padanya, seperti itu adalah sebuah pemandangan yang menggemaskan.
“Momy, Sorry.” Ucap sean.
“Ngga papa, sayang. Momy Cuma kaget aja kok. Momy pulang, ya?” pamitnya.
Meera lantas melangkahkan kakinya keluar, ia menuruni tangga rumah itu dengan langkah yang cepat seperti ingin keluar dari sana dengan segera. Hinga sebuah tangan besar meraihnya dan turun bersama menuju pintu utama.
“Kau tak akan bisa pulang dengan bis dari sini,”
“Kau bisa membayar taxi?” tanya louis yang membuat meera diam seketika. Fikirannya masih jernih hingga masih bisa mencerna apa yang Louis katakan padanya. Dan memang semua benar jika ia bahkan tak akan bisa membayar taxi yang akan lewat karena tak akan ada angkot di kompleks rumah mewah itu.
Meera menurut dan masuk kedalam mobil louis. Ia tetap diam hingga beberapa menit perjalanan, terutama meera yang tampak melamun dan tatapannya kosong menggigiti kukunya sendiri saat itu.
“Kau melamunkan apa? Atau melamunkan kejadian tadi?”
“Apa? Aku bersumpah tak melihat apapun tadi,” kilah meera, ucapan itu spontan keluar dari mulutnya meski louis belum jelas menanyakan apa. “Maaf,” imbuhnya menundukkan kepala.
Louis hanya tersenyum melihatnya. Senyumnya begitu tipis dan tampak mempesona, hanya saja kadang menakutkan bagi meera.
__ADS_1
“Tuan, Stop. Antar saya sampai disini saja, saya jalan kaki sampai ke rumah.” Meera meminta louis menghentikan mobilnya saat itu juga didepan gang yang ada.
“Aku tak perlu megantar? Aku, ingin bertemu dengan ibu.”
“Untuk?” tatap tegang meera.”Maaf… Jika anda ingin membicarakan mengenai itu, saya rasa belum waktunya.”
“Ah… Baiklah jika begitu. Pulanglah, dan besok lagi kita akan bertemu,” ucap louis, tapi hanya mendapat jawaban datar dari meera untuknya.
Meera memang belum bisa memikirkan apa-apa dengan tawaran louis saat itu. Menikah dadakan dengan seorang pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya, dengan alasan sang putra. Lebih lagi dengan caranya yang aneh karena louis harus menculiknya. Tapi meera akui, ia juga akan menolak jika mendadak diajak menikah meski dengan cara yang baik saat itu.
Louis pergi setelahnya dan meera mulai berjalan menyusuri gang menuju rumahnya yang tak jauh dari sana. HIngga ia tiba, membuka pintu dan disambut oleh ibunya dengan makanan diatas meja. Sedahana, tapi begitu nikmat sepertinya.
“Kamu sudah pulang akhirnya. Bersihkan diri dulu, kemudian makan ya,” pinta ibu dan meera menurutinya.
Meera masuk kedalam kamar dan membersihkan diri di kamar mandi yang amat sederhana itu. Tapi untunya kamar mandi itu ada didalam kamarnya hingga ia tak perlu jauh untuk keluar. Meera sejenak melamun memikirkan nasibnya, tapi entah kenapa justru sekelebat bayang tentang kejadian di kamar mandi louis kembali muncul dalam fikirannya.
Meera yang memaksa diri untuk sadar, lantas meraih air didalam gayung dan memercikan diwajahnya saat itu. “HAish… Apaan? Bodoh!!” geram meera pada dirinya sendiri.
“Benar ibu bilang, agar tak melamun ketika ada di kamar mandi.” Meera lantas meraih gayung lagi untuk menyelesaikan ritualnya dengan segera. Dan ia menghampiri ibu untuk makan malam bersama.
Hidupnya terasa begitu tenang setelah beberapa hari ini ayahnya tak ada. Dan bahkan ia meminta agar sang ayah tak datang lagi kesana bagaimanapun caranya. Bisakah?
“Bu, kabur lagi yuk? Meera udah ngga tahan terus begini. Meera capek,”
“Meera sudah berapa kali ajak ibu kabur dan gagal? Ayah selalu bisa menangkap kita dengan begitu mudah. Jika meera ingin pergi, maka pergilah sendiri. Cari kehidupan meera agar lebih tenang ditempat lainnya.”
“Tapi meera tak akan mungkin meninggalkan ibu disini bersama ayah. Ibu bisa_” Bayangan meera sudah tak karuan entah kemana. Ia bahkan mulai menitikan air mata meski makanan terisi penuh kedalam mulut hingga pipinya mengembang.
__ADS_1
“Ibu tahu meera capek. Maaf jika ibu jadi beban untuk meera hingga saat ini,”
“Ngga gitu,” ucap meera dalam tangisnya, hingga akhirnya diam tak mampu mengucapkan apa-apa. Mulutnya bergetar sembari terus berusaha mengunyah dan menikmati makanannya.