Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Meeraaaa!!!


__ADS_3

Dafa melihat kakaknya seperti itu langsung merasa takut. Ia mundur sejenak dari sana namun dady Louis terus berdiri dan maju menghampirinya saat itu, menelengkan kepala, meregangkan otot leher dan mengerutukkan jari jemarinya. Jujur ia juga lelah sebenarnya akibat berolahraga semalaman tadi dengan Meera.


Meera dan Sean ikut tegang melihatnya, bahkan Meera menutup mata sang putra dengan telapak tangan agar tak melihat kegaduhan yang ada didepan mata mereka. Tapi Sean penasaran, menurunkan sedikit sela dijari Meera agar terbuka dan ia bisa mengintip mereka berdua.


“Aku… Aku hanya menegur agar_”


“Kau ingin bermain?” tanya dady memotong ucapan adiknya.


“What?” Dafa memicingkan mata. NAmun belum sempat ia melanjutkan pertanyaanya saat itu, dady keburu menunduk seperti banteng dan menyeruduk perut Dafa dengan kuat, terdengar bunyi tabrakan diantara mereka berdua ditelinga Meera dan Sean.


Bugghh!! Dafa merintih, tapi dady tak menghiraukannya saat itu. Tangan besar dady melingkar dipinggang Dafa, dengan begitu mudah pria tinggi besar itu mengangkat adiknya seperti ketika ia membopong Meera.


“Sean! Bersiaplah menghadapi musuh kita!” panggil dady yang membawa tawanan itu pada putranya. Berjalan, kemudian menghempas tubuh Dafa diatas sofa agar Sean bisa menyerang musuh mereka saat itu sekuat tenaga.


Sean langsung bersemangat melepas tangan Meera dari wajahnya, kemudian ia menghampiri dady dan uncle untuk bertarung bersama sebagai pria sejati yang akan melindungi ratu mereka saat ini. Mereka menyerang Dafa bersama dengan membabi buta, hingga Dafa berteriak minta ampun memohon pada raja dan panglimanya itu agar mengampuninya saat itu juga.


Meera hanya menatap mereka berdua. Awalnya aneh, tapi lama kelamaan ia tertawa dengan semua permainan mereka disana. HIngga ia mendengar suara hp dady berdering dari meja kerja, Meera segera berjalan menghampiri dan mengangkatnya.


“Ya, Shinta?” sapa Meera saat itu, yang sudah mengatahui Shinta sebenarnya.


“Nyonya? Maaf saya mengganggu hari liburnya.”


“Ya, ada apa?”


“Ibu, mendadak mempertanyakan Nyonya saat ini. Beliau mempertanyakan juga, mengenai biaya pengobatannya selama disini. Ibu justru cemas jika terjadi sesuatu pada Nyonya,”


“Kamu ada bilang sesuatu?” tanya Meera.

__ADS_1


“Tidak, saya tak ada bilang apapun pada ibu. Tapi beliau terus memaksa, beliau tahu jika biaya pengobatan itu tidaklah murah dan tak sembarang Yayasan memberikan pelayanan dengan baik. Terutama, dengan perawat pribadi seperti saya untuknya.”


Agaknya Dafa menyadari kondisi Meera yang tampak bingung disana. Ia lantas mencolek sang kakak dan memberi kode untuknya memperhatikan sang istri dengan kegalauannya saat ini. Menoleh dan dady segera beranjak dari sana untuk menghampiri istrinya.


“Ada apa?” tanya dady mengusap bahu Meera saat itu dengan begitu lembut. Meera tak bicara, dan ia hanya memita Shinta untuk kembali menjelaskan semuanya pada dady.


“Baiklah, tenangkan dia dan kami akan segera kesana setelah ini.” Dady menutup panggilan itu dan kembali menatap mata Meera yang tampak berkaca-kaca.


“Kenapa janji kesana?” tanya Meera.


“Sudah waktunya, karena pada akhirnya juga kita harus jujur tentang semuanya pada ibu saat ini, bukan? Pernikahan, Sean, dan semuanya. Kau siap?”


“Tapi, bagaiamana jika ibu syok dan_”


“Kau lebih tahu bagaimana ibumu. Bersiap, sembari putuskan bagaimana yang kau inginkan,” ucap dady, dan ia memutuskan untuk meninggalkan Meera dan sejenak berfikir untuk memutuskan semuanya.


Tapi itu baru kemungkinan, dan Dady belum bisa menjanjikan apa-apa pada Sean dan mereka semua.


“Nenek?” tanya Sean sedikit penasaran.


“Iya, nenek adalah ibu dari Momy. Jika mau, beliau akan pulang dan menginap bersama kita di rumah.” Dady berusaha menjelaskan, dan Sean hanya menatapnya sayu masih dengan sejuta pertanyaan yang menggelanyut didalam fikiran kecilnya saat ini.


Dan akhirnya Meera keluar dengan wjaah tegangnya saat itu. Ia mengenakan dress yang tampak begitu pas ditubuh langsingnya dengan rambut yang ia biarkan terurai dengan begitu indah. Ia tampak sudah siap untuk bertemu ibunya untuk yang pertama kali setelah sekian lama berpisah dan tak bertemu sama sekali. Apalagi dengan kabar yang pasti akan sangat mengejutkan baginya.


Dafa pamit pergi terlebih dulu untuk melakukan apa yang kakaknya perintahkan saat itu.


Dady menggandeng tangan momy dan menggendong Sean dibagian yang lain tubuhnya. Mereka berjalan bersama turun dari lift dan menuju mobil yang terparkir dengan rapi ditempatnya. Dady memasukkan Sean di kursi belakang, dan Meera duduk di kursi bagian depan_disebelah kursi setirnya. Wajah tegang itu semakin tampak dari Meera dan dady kembali menggenggam tangannya erat dan mesra.

__ADS_1


“Apa yang kau takutkan?”


“Hanya canggung, karena datang dengan suami dan putra yang tampan.” Meera berusaha mengalihkan semua ketegangan saat itu. Dan terbukti berhasil ketika dady melengkungkan senyum dan mengecup keningnya dengan mesra. Sean menutup mata sendiri melihat kelakuan orang tuanya.


Dady mulai menyetir mobilnya saat itu, berjalan menuju Rumah sakit tempat ibu Meera dirawat. Agaknya memang sudah begitu ditunggu hingga Shinta bahkan berdiri di lobi untuk menyambut mereka semua.


Meera terlebih dulu berjalan digandeng Shinta masuk ke dalam sebuah ruangan, dimana ibu sudah enam bulan ini disana untuk segala aktifitasnya.


“Ibu,” panggil Meera dengan suara yang terbata. Ibu langsung menoleh dan memperhatikan wanita cantik yang mendekatinya saat itu, mulai menebak-nebak siapa dia sebenarnya.


“Meera? Astaga, kamu Meera anak ibu?” panggilnya dengan merentangkan tangan agar Meera jatuh kedalam pelukannya segera. Ia mengecup Meera dengan segala rasa rindu yang ada, menangis, tapi ia juga bahagia karena pada akhirnya Meera datang setelah sekian lama.


“Meera, kamu kemana saja? Ibu rindu sama kamu, Nak. Ibu brfikir terus, kamu dimana, dengan siapa dan… Kamu yang membayar semua biaya ibu selama ini?”


Meera masih diam dengan segala pertanyaan yang datang untuknya saat itu, ia terus mengecupi tangan keriput sang ibu yang memiliki bekas tanda pengobatan disana. Pasti sakit.


“Meera, jawab pertanyaan ibu. Kamu juga berubah, kamu dapat uang darimana untuk membiayai ibu hingga seperti ini?” desak ibu padanya.


Ibu mana yang tak penasaran dengan semua perubahan yang dialami putrinya saat ini, terutama diera gempuran berita saat banyak wanita rela menjual diri demi sesuatu. Ibu tak akan rela jika Meera melakukan itu semua demi dirinya. Ibu terus mendesak Meera agar segera jujur, bahkan mengancam Meera untuk menghentikan semua pengobatan jika jalan yang ia pilih tak benar saat ini.


Dalam semua keadaan tegang itu, seorang pria bertubuh tegap dan tinggi masuk ke dalam ruangan ibu, dan tangannya menggandeng seorang anak kecil yang kemudian memanggil Meera dengan sebutan Momy. Pria itu menundukkan wajah dihadapan ibu yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan yang begitu tajam.


“Perkenalkan, Ibu mertua… Saya Suami Meera, Louis Alexander Damares. Dan ini putra kami, Ocean alexander Damares.” Dady memperkenalkan diri pada ibu saat itu dengan penuh percaya diri.


“MEeraaaaa!!” pekik ibu sekuat tenaga, dan tatapannya langsung meremang hingga jatuh pingsan saat itu juga karena semua kenyataan mengejutkan datang padanya hari ini.


Semoga ibu tak kenapa-napa.

__ADS_1


__ADS_2