
Seperti kuli tengah memanggul beras, begitulah cara dady memanggul istrinya naik ke tangga hingga sampai keatas dan masuk ke kamarnya. Dady lantas menurunkan tubuh mungil itu diatas ranjang mereka dan membungkuk menopang tubuh dengan kedua tangannya menghadap Meera dengan lekat.
Meera memejamkan mata, juga refleks mundur dengan tumpuan tangan dibelakangnya. “Apa?” tanya Meera dengan gugupnya mengedip-ngedipkan mata.
“Aku sudah mengurus surat resignmu dari sekolah, dan kau besok bisa fokus pada Sean.”
“Itu saja? Kenapa sampai seperti ini. Menyebalkan,”
“Ini sifat aslimu? Penggerutu,”
“Issshh!!” Meera mengepalkan tangan dan mengangkatnya pada Dady saat itu, tapi masih ia tahan. Dan saat itu dady Louis justru melihat ada luka di jari Meera, dan ia segera meraihnya.
“Apa yang melukaimu?” tanya dady, cukup tenang tapi ia juga memperlihatkan kecemasan dimatanya.
Meera menggeleng kepala dan mengatakan semuanya tak apa, dan lukanya tak parah saat itu. Ia juga menceritakan pengalaman hari ini yang ia lakukan bersama Sean, dan Dafa ikut bermain bersama mereka berdua di kamar. “Jadi, ini kena carter dikit.” Meera menunjukkan jarinya. Dan saat itu ia tak segan menceritakan bahkan memuji kesigapan Dafa padanya.
“Pasti dia adalah calon suami siaga yang diidamkan para wanita.” Meera lagi-lagi memujinya dengan tatapan yang berbunga-bunga, seolah ia salah seorang wanita yang memuja Dafa didepan mata suaminya.
“Seperti itu?” tanya datar dady menyipitkan matanya. Ia masih bertahan menunduk dihadapan Meera, menggenggam jari luka itu dan mengecupnya sesekali. Ia harusnya tak bertanya, karena sudah melihat semua kegiatan dari CCTV yang terhubung pada laptopnya dan ia bisa lihat kapan saja.
Cuupp!!
“Seperti ini?” goda Dady, yang membuat Meera gugup seketika. Topangan Meera dibelakang sana terasa melemah, hingga nyaris terhuyung jatuh kebelakang. Tapi untungnya Meera masih bisa menjaga diri agar tak jatuh dan membuat suasana semakin kacau diantara mereka berdua.
“Jangan pernah hiraukan jika salah satu dari mereka datang ke rumah ini. Tetap fokus menjaga Sean agar tak ada kesempatan mereka untuk membuatnya takut, atau bahkan membawanya.
“Siapa? Tante dan Omanya?” tanya Meera dan dady menganggukkan kepala. Dady tak mengatakan lebih rinci, tapi hanya memesankan itu pada Meera agar tak lengah dengan apapun yang ada.
Tapi, sembari bicara tangan dady seolah tak bisa diam pada Meera. Jemarinya menyentuh dan merayap menyusuri wajah Meera dengn tatapan tajamnya, semakin lama turun ke leher membuat Meera terpejam menahan sebuah gelenyar yang nyaris menyentrum disekujur tubuhnya.
__ADS_1
Greep! Tangan Meera cepat menangkap tangan Dady yang nyaris turun menuju dadanya yang terbuka. Dady nyaris saja menurunkan daster yang menutupinya.
“Kau menolakku?”
“Bukankah, Dady sendiri yang meminta saya agar tak berharap terlalu banyak dengan semuanya. Dan saat ini hanya berusaha agar tak membesarkan harapan itu agar tak berakhir dengan kekecewaan,” jawab Meera.
“Bahkan tak memperbolehkan aku menyentuhnya?”
“Tidak, jika itu tak pasti.” Meera menggelengkan kepalanya. Dady sendiri yang memberi peringatan dan meminta pengertian, tapi seolah Dady sendiri yang selalu menggoda dan menjebolkan benteng pertahanan yang ia buat.
Dady tersenyum miring pada Meera yang membenarkan dasternya saat itu, tak menyangka jika Meera benar-benar menolak dan mempertahankan diri didepan suaminya.
“Sampai kapan kau bertahan? Kau tak ingin merayuku?”
“Tidak, atau belum. Hanya saja saya tak ingin terlalu memaksa sesuatu, dengan seorang pria yang masih begitu dalam tenggelam dalam masa lalunya. Saya hanya ingin, benar-benar menjadi seorang istri.”
Meera berdiri dan membawa pria itu tegap saat ini dan membuka satu persatu dari dasi hingga kemeja yang ia pakai. Bukan ingin merayu, tapi ia hanya ingin melakukan tugasnya seperti biasa.
“Itu wajar, karena tugas saya sebagai istri Dady saat ini. Tapi… bagaimana jika saya yang akhirnya bisa meruntuhkan pertahanan Dady, atau Dady sendiri yang akhirnya menyerah dengan keadaan? Tapi sepertinya tidak, karena saya hanya mengikuti semua permainan yang Dady buat saat ini.” Meera menarik kerah kemeja yang suaminya pakai saat itu hingga tertunduk dan berbisik ditelinganya.
“Kau mengajakku taruhan?”
“Tapi saya sendiri tak memiliki apapun untuk dijadikan bayaran taruhan itu sendiri.” Meera tersenyum membalasnya.
“Tubuhmu,” jawab Dady meraih dagu itu dan mengeratkan bibir keduanya. “Dan aku akan memberimu Satu Milyar jika kau bisa membuatku menyerah padamu.”
“DEAL!” ucap Meera. Dalam hal ini, yang jadi taruhan adalah siapa yang lebih dulu menyerah untuk saling menginginkan satu sama lainnya.
“Satu milyaaar!” sorak Meera dalam hati.
__ADS_1
Ia mempersiapkan semua keperluan Dady saat ini, mandi dan turun kebawah setidaknya meluangkan waktu sedikit untuk sang putra. Meera juga sudah tak canggung lagi melihat tubuhh suaminya saat ini meski masih harus kuat menjaga iman didalam hatinya. Yang kadang gemas ingin menyentuh, mencubit dan menggigit bagian otot yang tercetak disana.
“Jangan Meera, ingat harga diri. Mahal loh ini,” racaunya dalam hati.
Sementara itu Dafa menemukan Sean tengah bermain sendiri didepan tv. Ia menghampiri Sean dan lantas menemaninya saat itu sembari menunggu Tuan dan Nyonya turun bersama. Dafa memaklumi jika ketika mereka berdua, maka waktu akan terasa lama untuk sekedar menunggu.
Hingga suara langkah kaki membuat tatapan Sean tertuju pada arah suara. “Momy!” panggil Sean, padahal Dady juga ada disana. Tapi bayangan Sean saat itu adalah, Dady akan segera pergi dan masuk keruang kerja seperti biasa hingga begitu lama.
Tapi Sean salah. Kali ini Dady dan Momy kompak berjalan menghampirinya untuk bermain bersama. Menelengkan kepala sedikit heran, tapi Sean cukup senang melihatnya. Apalagi paman Dafa juga ada hingga semakin ramai bermain bersamanya.
“Amazing,” ucap Sean dengan spontanitasnya. Meski, ia tak berharap banyak jika waktu itu akan terus ada untuknya.
Mereka bermain tumpuk gelas plastic disana. Dengan peraturan jika ada yang menjatuhkan tumpukan tinggi itu akan dijitak kepalanya kuat-kuat. Canda tawa, riang dan begitu gembira terlukis diwajah semua orang termasuk Sean yang tak segan terbahak-bahak saat ini.
“AAaah!!” pekik Momy yang akhirnya menjatuhkan tumpukan tinggi itu. Ia menoleh kanan kiri pada semua yang siap menjitak keningnya saat itu juga, bahkan sekaan megasah tulang yang ada di jari mereka masing-masing.
Tuk!! Sean menjitaknya dengan lembut diiringi pelukan hangat pada momynya. Yang kedua adalah Dafa, cukup keras sembari tertawa dengan begitu lepas dan puas. Dan yang ketiga, Momy membalik badan dan melihat Dady yang menatapnya tajam sembari bersedekap dengan senyum smirknya. Dady seakan sudah begitu siap menjitak sekuat tenaganya hingga benjol sebesar bola.
Meera mendekatkan kepala, Dady siap mengasak jentikan jemari besarnya disana. Sangking ngerinya, Meera sampai memejamkan mata.
“Jarinya, tangannya, semua yang ada padanya sangat besar.” Meera bahkan masih sempat meracau didalam hatinya.
“Kau siap?” tanya Dady, membuat Meera semakin tegang saat ini. Dan bahkan Sean ikut menutup mata dengan kedua telapak tangannya, dan Paman Dafa seolah sudah siap untuk meraih Meera untuk meniup keningnya yang pasti merah merona.
Tangan dady mulai naik, perlahan mulai ia dekatkan ke kening Meera dengan tatapan tajamnya. Betapa berdebar jantung Meera saat ini.
Dan Satu… Dua… Tiga.
Cupp!! Justru sebuah kecupan mendarat dikening Meera saat itu darinya.
__ADS_1
“Oh My God!” Sean memekik dengan pemandangan yang ada didepan mata, sementara Paman Dafa hanya diam cengo melihat keduanya.
“Apa-apaan!!”