Di Culik Hot Dady

Di Culik Hot Dady
Semakin tak sabar.


__ADS_3

Seperti yang telah diperkirakan, jika hari ini adalah hari dimana meera menerima gaji. Meski ia tak tahu, itu gaji terakhirnya atau bukan. Yang jelas pasti sore nanti ayahnya akan pulang dan meminta hak seperti biasa.


"Bu meera, anaknya mana?" ledek mia ketika meera ada di kursinya saat ini. Baru saja tenang dengan gaji ditangan, tapi ada saja yang mengusiknya.


"Ocean? Dia lagi sakit, jadi belum bisa sekolah hari ini. Mungkin besok," jawabnya santai.


"HHH... Pede sekali," dengus mia, membuat meera langsung menoleh padanya saat itu juga.


"Maaf, ada apa?" tanya meera menelengkan kepala.


Mia pura-pura bodoh sejenak seolah tak tahu atau tak mengucap apapun barusan. Tapi, meera bukan gadis lugu pengalah yang bisa dibohongi begitu saja, apalagi dengan sikap mia yang sedikit aneh belakangan ini, terutama pada meera.


"Cuma mau bilang, Bu meera. Ibu itu jangan terlalu kepedean, apalagi hanya dengan panggilan dari sean buat anda. Hanya dengan panggilan momy, seolah berasa jadi momy beneran yang bertanggung jawab atas putranya," tawa mia dengan wajah menghina.


Ya, menurutnya mungkin saat ini meera memiliki tingkat percaya diri tinggi yang mungkin bahkan terlalu tinggi. Padahal sebutan momy dari anak kecil itu biasa, apalagi sean yang piatu dan rindu ibu kandungnya. Ia merasa meera terlalu lebay menganggap semua itu nyata hingga merasa bertanggung jawab padanya.


"Aaah... Itu tah, maksud bu mia? Astaga, saya kira apa. Jadi untuk panggilang momy itu memang sean sendiri yang mau. Dan, apa salahnya jika keluarga selalu memanggil saya terutama jika sean menginginkannya. Bu mia ngga pernah ya, begitu? Kasihan," balas meera membalas tawa mia disana.


"Hey! Haiisssh... Aawas aja nanti, ketika kamu udah terbang setinggi langit dan dihempaskan oleh mereka semua. Seperti takt ahu orang kaya bagaimana, habis manis sepah dibuang."


"Emang ngga tahu, ajarin dong." Meera justru meledek mia saat itu juga, si paling senior yang selalu gila hormat dari juniornya. Padahal selisih mereka masuk juga hanya beberapa bulan disana hingga tak terlalu jauh renggangnya.


"Kamu!!"


"Hey, kalian ini apaan? Kek bocah aja. Sana kerja lagi," tegur salah seorang dari mereka yang juga ada disana.


Tapi meera sudah habis jam, dan ia memutuskan segera berkemas dan pulang kerumahnya untuk menemui ibu disana. Ia tak tahu, ketika berpisah nanti apakah louis mengizinkan mereka bertemu atau tidak. Yang jelas janji louis adalah ketika ibu aman disana. Lama kelamaan pasti louis akan luluh dan memberinya waktu untuk bertemu sang ibu.


Meera juga tak meminta dijemput olah louis sendiri atau dafa, ia memilih naik bis seperti biasa dan mampir kepasar untuk berbelanja. Ia benar-benar akan memanfaatkan waktu untuk sang ibu hari ini. Memasak, memanjakannya denga napa yang meera bisa.

__ADS_1


"Momy," panggil sean lewat video callnya, dan saat itu meera tengah ada dipasar untuk berbelanja.


"Hey, sayang. Sean sedang apa, sudah makan?" tanya meera dan sean menganggukkan kepala. Sean mungkin sudah diberitahu dady atau dafa jika meera sebentar lagi akan tinggal bersamanya dirumah itu, hingga sean tampak begitu mengharapkannya segera datang kesana.


"Nanti momy kesana, dan momy akan bersama sean sebanyak yang sean mau. Okey?"


"Yeeey! Yess, Momy. I wait you," kecup sean pada layar tabnya saat itu.


Meera melanjutkan belanja, dan kemudian naik ojek untuk segera tiba di rumah. Saat itu ibu dengan ramah segera menyambutnya, bahkan melirik heran dengan semua bahan makanan yang ia bawa.


" Banyak sekali?"


"Sesekali, Bu. Masuk yuk, nanti meera masakin yang enak buat ibu. Pasti ibu suka," bujuk meera yang bahkan tak bisa menggandeng tangan ibunya saat itu.


Keduanya langsung masuk, meera lantas mengganti pakaian dan bersiap untuk memasak semua dengan begitu sedap. Bahkan meera tak membiarkan ibu untuk membantunya saat itu.


"Meera sudah gajian, ya?"


"I-iya, Bu. Makanya meera belanja. Sesekali kan, makan enak sebelum_" ucapan meera terhenti. Rasanya perih sekali ketika mengingat uang yang ia hasilkan susah payah akan kembali diambil ayahnya.


"Meera harus simpan sedikit untuk meera sendiri. Setidaknya untuk bulan ini." Ibu menghela napasnya lagi dengan begitu dalam. "Maaf," hanya itu yang terlontar dari mulut ibu saat ini.


"Oh iya, bagaiman hasil periksa ibu tadi? Meera penasaran," tanya meera mengalihkan pertanyaan.


"Ibu tak apa. Hanya magh biasa, kembung hingga perutnya begini." Meera tahu ibu bohong saat ini. Meera akan cari tahu sendiri ketika ibu lengah, dan menghubungi pegawai puskesmas yang ia kenal.


"Syukurlah kalau begitu. Ibu tungguin ini ya? Meera mau mandi dulu. Sebentar lagi matang kok," pinta meera pada ayam semur yang nikmat itu. Entah sudah berapa lama tak makan ayam potongan besar, biasanya kecil asal hemat dan bisa untuk beberapa hari persediaan.


Meera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Ia sempat melamun sebentar, tak menyangka jika setelah ini ia akan dinikahi pria kaya beranak satu yang bahkan tak ia kenal sama sekali. Ia akan diculik lagi nanti.

__ADS_1


Usai mandi dan segar, meera yang saat itu keluar dengan handuknya lantas berjalan menuju lemari. Saat itu juga louis memanggil, dan meera langsung menjawab dengan lounspeaker yang ia nyalakan disana.


"Ya, Tuan?"


"Kau sudah siap? Beberapa orang sudah ku perintahkan untuk berjaga disana beberapa hari ini. '


" Beberapa hari ini?" meera menelengkan kepala.


" Ya, kau tak ingat ketika itu dia sempat ingin mendobrak rumah dan masuk dengan paksa? "


Meera terkesiap. Ia baru sadar jika memang saat itu langsung diam, rupanya ada yang menghajarnya. "Pasti dia berfikir macam-macam," fikir meera akan ayahnya.


"Mereka yang akan menghubungiku nanti, jadi kau bersiap saja dan seprti biasanya. Aku akan datang dan_... Eheeemmm!"


"Apa?" tanya meera yang saat itu membuka handuk dan memakai daster mininya. Bahkan branya saja belum ia kancing hingga memperlihatkan sesuatu yang indah disana.


"Kau, kenapa memakai daster seperti itu?"


"Ya, ini nyaman.. Eh, bagaimana anda tahu jika saya memakai daster?" tanya meera dan membulatkan mata.


Ia meraih handuk dan menutup tubuhnya segera, takut jika ada mata-mata lain melihatnya. Namun bukan mata-mata, melain kan louis sendiri yang melihat meera saat ini, tepat di layar ponselnya.


" Aaarrgghh! Mesuuum! Kenapa anda tak bilang jika ini tadi video call?"


"Kau tak sadar? Apakah tak ada bedanya suara telepon dan video call?" tanya louis dan meera hanya menggelengkan kepala.


"Astaga, untung hanya aku yang melihatnya. Hhh... Aku semakin tak sabar,"


"Untuk?" tatap meera tajam hingga dahinya berkerut.

__ADS_1


__ADS_2