
Dady tiba di rumah dan langsung disambut Sean saat itu. Ia berlari dan memeluk Dady hingga meloncat dalam gendongannya, bahkan Oma dan Ane ikut keluar menyambut dengan senyum yang indah dan merekah.
“Dady, miss you.” Sean bahkan mencium pipi dadynya saat itu. Dan dady justru mencari seorang yang sama sekali tak ada diantara mereka semua.
“Mana Momy?” tanya dady pada putranya saat itu, tapi Sean menggeleng karena ia tak melihat momynya sejak beberapa jam belakangan. Ia mulai merengek pada Dafa, namun paman itu hanya berkata jika Momy tengah butuh istirahat di kamarnya.
“Dia daritadi di kamar terus, ngga mau ngapa-ngapain. Ngambek kali, Ane minta tolong buat masak sore ini, padahal mama lagi sakit gara-gara kecapean.” Ane maju dan melaporkan semuanya pada dady, apalagi oma memasang wajah dengan begitu meyakinkan. Bahkan sesekali mengeluarka batuk bautan.
Akan tetapi dady tak menggubrisnya saat itu, ia hanya kembali fokus pada sang istri dan menurunkan Sean pada Dafa. Ia kemudian berjalan melinting lengan kemeja naik keatas menuju kamarnya. Gelap, sunyi, dan nyaris tak tampak apapun didalam sana.
“Jangan hidupin lampunya!” ucap Meera yang betah sekali dalam kesunyian itu. Untung saja pandangan dady tetap tajam dan masih mampu berjalan mneghampiri Meera yang rebah di ranjang mereka, lalu duduk disana. Tangan besar itu terulur meraih wajah Meera, namun Meera langsung menepisnya.
“Ada apa?” tanya dady, karena pertama kalinya Meera seperti ini.
“Dady bertanya, atau sekedar ingin tahu Meera kenapa? Apakah pertanyaan itu hanya ada untuk dady, sementara Meera harus menahan semua pertanyaan yang ada?”
“Hey_”
“Meera capek. Maaf, tak bisa masak dan membantu Vira membereskan rumah saat ini. Meera ingin istirahat,” ucapnya singkat. Dady bahkan tahu jika Meera tengah pura-pura memejamkan mata dan menghindarinya saat ini.
Dady menyalakan lampu tidur yang redup agar ia bisa dapat bergerak bebas di kamar itu dan merapikan dirinya. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian keluar lagi hanya dengan handuk sepinggang dan rambutnya yang basah. Begitu harum, membuat Meera gelisah dan berusaha menahan dirinya lebih kuat lagi kali ini.
Meera bahkan mereemas bantal dan menyembunyikan wajahnya dibantal demi tak mencium aroma maskulin suaminya yang selalu bisa menggoda jiwa dan hasratnya yang tengah membara. “Tidak… harus bisa, harus bisa.” Meera menguatkan dirinya sendiri.
Hingga dady selesai dan duduk lagi disebelah Meera saat itu untuk mengecek kondisi kesehatannya, dahi dan leher. Ia merasakan memang suhunya sedikit tinggi dari biasanya.
“Kau belum mandi? Hmmmm?” Meera menggelengkan kepalanya saat itu. Rasanya siapa tahan jika sedang mode ngambek justru malah diberi perhatian semanis ini dari sang suami. Tubuhnya merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki
“Atau mau ku mandikan?”
__ADS_1
Degg!!! Debaran hati itu semakin menjadi-jadi dan tak karuan rasanya saat ini. Meera memejamkan mata getir dengan nasibnya sendiri. Kenapa harus ketika ngambek diperhatikan seperti ini? Andaikan dihari biasanya juga, pasti ia akan bahagia sekali.
“Udah sana, orang lagi males juga.” Meera mendorong tangan dady agar pergi darinya saat itu. Bahkan untuk ukuran orang sakit, tenaga Meera cukup kuat membuat suaminya nyaris jatuh dan tersungkur ke depan karenananya. Jujur saja Meera langsung menahan tawa karena tingkahnya sendiri.
“Mau makan apa?”
“Ngga selera,”
“Baik, akan kubawakan sekaligus membawa obat nanti. Aku urus Sean dulu di bawah,” jawabnya dengan terus memperhatikan Meera saat itu. Seperti tengah salah tingkah dengan kelakuan aneh masing-masing.
Dady akhirnya keluar dari kamar, dan ia langsung turun menuju ke meja makan. Dafa dan Vira tengah mempersiapkan semuanya dengan makanan yang mereka pesan barusan. Dady melirik semuanya, tampak nikmat namun tak menyelerakan untuknya.
“Louis mau makan? Sini, mama siapin. Atau mau sama Ane??” tanya oma yang kemudian memanggil putri cantiknya.
“Kakak mau apa, biar Ane_” Ucapan terhenti ketika dady mengulurkan tangannya saat itu, dan Ane langsung memanyunkan bibirnya seketika.
“Dady mau kemana?” tanya Sean yang mulai lancar bicaranya.
“Sebentar, Sayang.” Dady mengusap wajah Sean lalu pergi meninggalkan mereka semua saat itu.
Meera rupanya sempat keluar dan ingin bergabung makan malam bersama, namun ia mendapati suaminya pergi dan langsung kesal lagi. Ia memutar kedua bola matanya saat itu, memutar badan kembali masuk kedalam kamar dengan pintu yang ia tutup kasar. Untung tak ada yang mendengar.
“Momy sakit, jadi Sean sama paman Dafa dulu, ya? Nanti belajarnya juga sama paman Dafa,”
“Iya,” angguk anak kecil ramah itu ditempat sembari mengunyah makanan dimulutnya.
Hanya nampak Ane dan mamanya saling lempar senyum, tampak begitu puas dengan keadaan yang ada saat ini. Dafa hanya melenguh napas kesal dan berat saat itu.
Meera menyempatkan dirinya untuk mandi saat itu. Bukan demi apa-apa, hanya demi membuat dirinya lebih segar dan beristirahat mala mini. Bahkan ia bertekad akan tidur di kamar Sean dan tak mau bersama suaminya demi apapun agar dady Louis tahu bagaimana rasanya kehilangan Meera untuk sesaat. Atau malah Meera sendiri yang tak betah nanti, entah lah.
__ADS_1
Hingga Meera sudah mengganti dasternya dengan yang baru, dan tiba-tiba dady masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu. Sedikit kaget, tapi Meera masih bisa menetralisir semua perasaannya.
Ternyata dady membawa makanan kesukaan Meera yang ia beli ditempat biasa. Pecel lele dengan sambal yang pedas, baunya saja sudah membuat Meera mengecap lidah ingin menyantapnya dengan cepat.
Dady menarik tangan Meera saat itu untuk duduk di lantai, bahkan menyuapi istrinya makan dengan penuh perhatian. Bahkan sebutir nasi yang menempel saja langsung dibersihkan olehnya dengan cepat.
Bagaimana Meera tak meleleh dengan kondisi yang seperti ini?! Astaga, dady bisa saja melakukan hal tak terdua.
Ane yang mendengar mobil dady datang saat itu langsung keluar dari kamar dengan semangat, dan ia ingin menghampiri sang kakak ipar yang belum makan malam untuk melayaninya dengan baik sesuai anjuran sang mama.
“Mana, ngga ada?” tanya Ane yang mencari dady diseluruh ruangan yang besar itu.
“Apa ke kamar?” Ane langsung berjalan dengan riang menuju kamar dady untuk membujuknya makan segera, dan akan memberikan perhatian super saat itu. Ia Sudah membayangkan betapa bahagia seolah mereka akan dinner bersama meskia hanya di rumah tanpa gangguan siapapun.
Hingga langkah Ane terhenti, tangannya pun tak jadi mengetuk pintu kamar itu karena mendengar suara yang samar keluar dari sana.
“Ayo buka mulutnya, ditelen.”
“Engga Dady, Meera ngga suka sama bau dan rasanya. Aneh,” keluh Meera.
“Mau dipaksa? Jika ku bilang telan, maka telan. Nanti akan terbiasa,”
“Apaaan terbiasa? Begini masa disuruh biasa. Ngga enaklah,”
“Mom, nanti benar-benar ku paksa sampai masuk ke tenggorokan. Bagaimana?”
“Pemaksaan!” geram Meera dengan suara lantangnya.
“Katanya sakit, tapi kok? Aaaahhhh… Mereka!!” kesal Ane yang langsung pergi dari sana dengan perasaan yang luar biasa hancurnya.
__ADS_1