
“Hari ini aku ada beberapa pertamuan, bisa pulang malam atau bahkan tak pulang dan menginap di hotel,” ujar Dady yang saat itu tengah mengenakan kemejanya. Meera yang saat itu baru selesai mandi dan masih mengenakan handuk kimononya langsung menghampiri dady dan membantu merapikan kemejanya saat itu.
“Kenapa harus menginap. Kenapa tak pulang saja, tidur di rumah? Meera tunggu hingga dady pulang,” balasnya dengan wajah cemberut. Jujur saja ia sedikit ngeri ketika mendengar dady akan menginap di hotel dan fikirannya menerawang jauh kemana-mana penuh rasa curiga.
Bagaimana tidak? Yang ia nikahi saat ini adalah seorang pengusaha sukses, tampan dan kaya raya. Amat mudah baginya jika hanya untuk mendapatkan seorang wanita dan bermalam bersama disana. Apalagi, yang semalam hampir terjadi itu gagal begitu saja, dan Meera amat paham bagaimana perasaan di dua kepala suaminya. Pasti sangat sakit dan butuh pelampiasan segera.
Melihat ekspresi Meera yang aneh, dady langsung meraih dagu itu dan mengangkat wajah Meera untuk menatapnya. Ia bertanya ada apa dengan Meera, tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
“YAsudah, aku tunggu kau dibawah untuk sarapan bersama Sean, okey?”
“Iya,” angguk Meera seakan kehilangan tenaga. Tapi Dady hanya diam dan berlalu meninggalkannya disana. Benar-benar tak peka!.
Meera meraih sebuh dress di dalam lemari dan segera memakainya. Dress selutut berwarna coksu itu begitu pas di tubuh mungil Meera yang mempesona dengan pinggangnya yang ramping dan kakinya yang jenjang. Rambut ia urai dan ia blow agar lebih bervolume, membuat pipinya sedikit berisi. Kemudian ia turun menghampiri mereka yang sudah menunggunya di meja makan saat ini.
“Hari ini aka nada beberapa rapat, tapi pekerjaan juga begitu banyak. Kau wakili aku pertemuan dengan Tuan Arnold pagi ini,” titah dady pada Dafa yang tengah sibuk menyuapi Sean disana.
“Baiklah, kebetulan Satu jalur dengan sekolah Sean. Jadi sekalian saja aku mampir kesana,” sanggup Dafa.
Memang pertemuannya pagi sekali, karena tuan Arnold sendiri mepet waktu harus kembali ke Negaranya siang ini. Sedangkan ia tak akan sempat lagi jika harus menunggu dady, lagipula semua orang sudah tahu jika keputusan Dafa adalah keputusan dady.
“Momy,” panggil Sean dengan senyum renyah ketika Momynya turun menghampiri.
__ADS_1
Sean ceria sekali sejak bangun tidur, apalagi melihat kanan kiri begi lengkap dengan adanya momy dan dady. Apa yang selama ini Sean khayalkan dan Sean inginkan bener-benar menjadi kenyataan, bahkan morning kiss langsung ia berikan pada mereka secara bergantian.
“Hey, sarapannya sama paman Dafa saja,” panggilnya pada sang keponakan. Tapi sama sekali tak perduli, karena bagi Sean momy Meera adalah segalanya. Dafa hanya bisa pasrah dan kembali meraih tabnya yang ada di meja untuk melihat segala jadwal yang ada.
Meera menyuapi Sean hingga nyaris tandas, sampai makanannya sendiri nyaris dingin dihadapannya. Dafa rasanya, yang ingin sekali mengulurkan tangan untuk menyuapi Meera, tapi suaminya sendiri ada didekatnya. Hingga akhirnya Dafa menginjak kaki dady yang sibuk memperhatikan Hpnya sejak tadi.
“Aaakhh!” pekik lirih dady merasakan ujung kakinya nyeri, dan ia langsung menatap nyalang Dafa karena tahu jika pria itu tersangkanya. “Kau ini kenapa?” omelnya. Tapi Dafa saat itu hanya membalas tatapan Dady, dan ia memberi isyarat dengan matanya yang menatap piring Meera dan Meera sendiri yang tengah sibuk menyuapi putranya.
Awalnya Dady tak paham hingga menelengkan kepala, hingga Dafa rasanya kesal dan ingin marah sampai ia mengepalkan tangannya saat itu juga. Barulah Dady mendekatkan piring sarapan Meera dan segera menyuapinya.
“Terimakasih,” ucap Meera padanya, meski ia tahu aslinya bukan dady sendiri yang tergerak melakukan itu semua.
Mereka siap, dady menggendong Sean masuk kedalam mobil sementara Meera membawakan tas dan menyusul keduanya.”Jagoan Dady, harus belajar dengan baik di Sekolah. Harus jadi anak yang hebat, dan tak perlu takut lagi karena ada momy yang menemani. Okey?”
“Dady, Momy kiss.” Sean menegur Dady ketika nyaris lupa mengecup kening momy nya. Saat itu dady langsung berbalik badan, ia langsung membungkuk dan masuk ke mobil hanya untuk mengecup kening sang istri dan bibirnya sebentar dengan kedipan mata nakalnya.
Meera hanya diam, dunia seakan dunia terhenti sejenak hanya gara-gara kejadian barusan. Hingga akhirnya teriakan girang Sean membangunkan lamunannya barusan.”Yipyyyyy!!!” soraknya, sedangkan wajah Meera langsung bersemu merah saat itu juga dan ia usap redamkan dengan telapak tangannya.
“Berangkatlah,” titah dady pada paman Dafa. Sementara dady juga bergegas naik kedalam mobilnya sendiri saat itu dan pergi menuju arah kantornya.
Dady menelpon pimpinan anak cabang yang ada di daerah untuk mengurus langsung kurirnya disana. Ia mengontrol bahkan mendtransfer sendiri sejumlah uang untuk hadiah atas dedikasinya dalam pekerjaan. Hal itu mengingatkan Ia pada dirinya sendiri, ketika bersama Momy Sean pertama kali membuka jasa titip untuk awal usaha merea bersama hingga berkembang seperti ini.
__ADS_1
“Aku sudah mentranfer Lima juta, berikan padanya.”
“Ya, Tuan. Kami juga sudah membelikan sebuah motor, dan akan kami berikan secara ceremonial nanti. Terimakasih atas keperdulian Tuan,” ucap kepala cabangnya. Dady hanya berdehem, mematikan hp dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Meera diam sepanjang jalan menuju sekolah putranya. Untung saja Sean saat itu tengah asyik bermain dan menatap pemandangan diluar jendela, dan sesekali Meera membalas ucapan sang putra seadanya. Ia memikirkan Dady saat itu, bahkan rasanya ingin bertanya pada Dafa mengenai kebiasaannya selama ini.
Perasaannya jadi simpang siur. Ia memang tak tenang sejak mengetahu Dady memiliki kamar khusus di hotel untuk dirinya sendiri, dan bahkan terasa mengganjal dihatinya saat itu. Seakan tak mungkin jika pria seperti Dady begitu betah sendiri tanpa pernah menjamah wanita sama sekali.
“Nyonya memikirkan apa?” tanya Dafa yang penasaran pada akhirnya.
“Ya, Mas Dafa?” kaget Meera. Dan sebenarnya ingin bertanya, tapi ia takut Sean mendengar dan justru berfikiran macam-macam nantinya.
“Hanya bertanya, kenapa Nyonya melamun pagi-pagi begini? Ada sesuatu?”
“Sesuatu?” Meera justru gamang dibuatnya. Hingga akhirnya ia kembali diam dan tak jadi berbicara pada Dafa.
Mobil berhenti. Suasana sekolah sudah begitu ramai dengan anak-anak yang ditemani orang tuanya masing-masing, dan Meera juga turun membawa Sean masuk kedalam kelasnya. Meera kemudian duduk di ruang tunggu, ia duduk diam menyendiri disana dengan segala isi fikirannya.
“Katakan jika ada yang ingin ditanyakan.” Dafa yang terjebak dengan rasa penasaran akhirnya memutar laju kendaraan hanya demi Meera. Ia tak tenang jika harus meninggalkan Meera begitu saja dengan keadaan yang aneh baginya.
“Mas Dafa ada rapat, nanti telat.”
__ADS_1
“Saya akan berangkat setelah Nyonya bicara. Masih ada setengah jam lagi dari waktu yang tersedia,” lirik Dafa pada jam tangan mahalnya. Jujur saja, Dafa begitu peka hingga Meera benar-benar merasakan semua perhatian dan spontanitas yang diberikan olehnya.