
“Katakan, siapa yang memberitahunya, Meera?” Dady bertanya lagi dengan lebih lembut saat ini, Ia sama sekali tak ingin Meera menangis karenanya.
Tapi Meera hanya tersneyum saat itu dan melanjutkan semua tugasnya untuk merapikan sang suami. Menyisir rambut dan mengoles minyak rambut kepala bahkan sempat menikmati aroma maskulinnya saat itu.
“Meera_” panggil dady, dan barulah saat itu Meera benar-benar menatapnya dengan cukup tajam.
“Dady selalu bilang, apapun itu karena Meera istri dady, bukan? Tapi kenapa hanya Dafa saja dady tak jujur dengan Meera? Apa yang dady sembunyikan saat ini. Bukankah tandanya kita adalah keluarga?” Meera dengan wajah sedih, dan dady langsung meraih tangan Meera dan mengecupnya saat itu.
“Tidak… Meera tak mau dibujuk lagi saat ini, Meera hanya ingin Dady jujur apapun itu. Awalnya Meera tak ambil pusing, Meera fikir hanya dengan kita bertiga dan… Dan Meera berusaha meraih cinta Dady sepenuhnya untuk Meera saat ini dan seterusnya. Tapi Meera salah.” Wanita itu tertunduk dengan suaranya yang mulai serak.
“Apalagi yang dia katakan padamu?” Dady tahu siapa yang Sudah menceritakan semuanya.
“Rose… Momy Sean. Bahkan kenapa Dady tak pernah memperlihatkan fotonya pada Meera, atau membawa Meera ke makamnya?”
“Ada lagi?”
“Engga… Meera hanya mau itu saat ini, tolong Dady jawab dengan jujur. Meera ngga mau dibohongi lagi,”
“Apa aku membohongimu selama ini?” tanya Dady, dan benar saja Meera menggelengkan kepalanya. Dady tak pernah berbohong, tapi Meera memang tak pernah mempertanyakan atau perduli akan itu semua.
“Tapi kenapa tak cerita? Meera istri Dady,” sedihnya mengusap air mata yang terpaksa tumpah. Ia bahkan kuat untuk tak mempertanyakan perihal ibunya saat ini karena dady menjamin semuanya, dan Meera percaya. Tapi dengan adanya sesuatu seperti ini, jelas membuat Meera mempertanyakan semuanya.
Tangan Meera yang masih digenggamnya saat itu ia Tarik agar semakin mendekat. Dady meraih pinggang Meera dan sedikit mengangkat tubuh mungil itu dan meraih bibirnya sebagai pelampiasan kekesalan. Meera meronta, ia sudah bilang jika ia tak mau ditenangkan dengan cara seperti ini karena ia hanya ingin penjelasan dari suaminya saat itu.
Tapi seperti apapun yang Meera lakukan saat itu maka dady akan semakin menghisap bibirnya dengan kuat hingga Meera kesulitan bernapas. Hukuman dan ketenangan macam apa yang dady berikan saat itu padanya.
Untung saja saat itu keduanya kompak mendengar suara Sean yang melangkah menuju kamar itu dan dady segera melepaskan pangutannya saat itu juga. “Mandilah, kita turun bersama. Di rumah saja jika kau lelah,”
“Ngga mau… Meera tetap antar Sean hingga ke sekolah. Buat apa Meera tunggu di rumah bersama Duo itu.” Meera yang kesal lantas meraih handuknya dan berjalan cepat ke kamar mandi.
“Aaaarrrghh!!” Lagi-lagi Meera merutuki dirinya sendiri yang masih saja tak berdaya saat ini. Andai ia bisa lebih tegas, pasti hatinya akan lebih lega. Tapi kenapa tak bisa.
__ADS_1
Meera lantas mandi cepat-cepat karena mendengar suara Sean yang sudah mencarinya, sebab sejak kemarin sore ia tak dapat menemani sang putra dalam setiap kegiatan yang ada. Lagi-lagi untung ada Dafa.
Meera kembali keluar dengan handuk sebatas lutut dan mengusap rambutnya yang basah. Ia fikir dady sudah keluar bersama putranya dan menunggu Meera di meja makan, namun rupanya ia tengah duduk dengan beberapa perlengkapan Meera disebelahnya saat itu. Ia dengan senyum tipisnya mengangkat kepala menatap Meera dan bahkan mengulurkan tangan dengan tatapannya yang cukup mesra.
Meski dengan helaan napas berat saat itu Meera tak dapat menolaknya, ia hanya tak ingin keributan terjadi pagi ini atau bahkan dady tak memperbolehkannya pergi dari rumah seharian dan menghukumnya di hotel. Tidak, itu mengerikan.
Meera berdiri dihadapan dady saat itu dan ia segera meraih pakaian dalam yang ada dan memakainya meski dengan sedikit canggung, tapi dady begitu santai menatapnya sat itu. Dan ketika Meera mengenakan Bra, dady yang mengambil alih dan memakaikannya agar tak semakin lama. Bahkan dady mengecup punggung Meera dengan begitu dalam ketika hendak memakaikan dress yang ia pilihkan.
“Dias ama sepertimu, yang masih harus ku sembunyikan hingga saat ini. Kau tahu, aku nyaris tak bisa mempercayai orang lain terhadap sebuah rahasia besar dalam hidupku. Ane dan mama, buktinya.”
“Aaaahh….” Meera memekik lirih ketika dady menggigit lembut dipundaknya saat itu. Bahkan ia segera menyingkir maju dari dady untuk menghindarinya. Ia tampak gugup dan wajahnya seketika pucat saat ini, apalagi memang belum terpoles make up sama sekali.
Meera menghindari semuanya dan langsung menggandeng dady untuk turun bersama menuju ruang makan untuk sarapan.
“Ocean, come on… Ini sudah siang,” bujuk Dafa yang tengah berusaha menyuapi keponakannya saat itu. Sementara Sean terus menggelengkan kepala dan menolak semua yang diberikan oleh pamannya.
“Momy… Momy mana?
“ Momy!” pekik Sean seketika melihat Momy dan Dady turun bersamaan. Tapi ia tak turun dan berlari, hanya menunggu Meera datang dan segera meraih makanan dari tangan Dafa dan segera menyuapinya saat itu juga.
Pemandangan seperti biasa yang luar biasa membosankan untuk duo gayung itu, namun ada satu pemandangan yang membuat oma Vani tertuju dan fokus pada Meera saat ini.
“Dia hamil? Jadi selama ini tak seperti dugaan kita kalau Louis hanya… Mereka sudah melakukannya,” geram oma ketika kenyataan bahwa dady seolah telah melupakan putrinya saat ini. Lebih geram lagi jika nanti ternyata isi fikirannya benar saat ini, bahwa Meera tengah hamil anak kedua Louis Alexander Damares.
“Iya, mana sepertinya tiap malem nonstop lagi, dan mereka sama-sama begitu menikmati.”
“Darimana kamu tahu??” tatap oma tajam pada putrinya saat itu. Dan Ane dengan jujur menceritakan pernah mendengar jika mereka berdua saling mendesaah panas dikamar atas, bahkan kadang Meera berteriak menggambarkan betapa nikmatnya permainan mereka berdua disana.
Tukk!! Oma menutuk jidat putrinya saat itu juga karena kesal. Pantas saja ia suka bersikap aneh ketika tengah malam, rupanya ada saja penemuannya saat itu.
“Pokoknya mama ngga rela, ngga akan rela kalau Meera hamil. Mama ngga mau kalau Sean punya saingan!” geram oma dengan sungutnya.
__ADS_1
Meera telah tiba di sekolah Sean diantar oleh Dafa, dan saat itu ia segera pergi untuk semua pekerjaannya. Banyak yang ingin Meera tanya, tapi akan tetap menunggu dady yang menjelaskan semua itu padanya dan ia segera masuk untuk kembali fokus pada sang putra.
Semua yang ada di Sekolah itu saat ini begitu ramah pada Meera usai berita bu Dona. Dan bahkan wanita itu tak pernah terlihat lagi sejak scandalnya beberapa waktu lalu, di grup pun sudah tak aktif lagi padahal ia yang biasanya paling ramai. Entah itu flexing memamerkan harta, kesehariannya yang mewah dan lain-lain. Mereka terasa lebih damai saat ini.
Meera hanya menyaksikan putranya itu dari luar dan mengamati semua yang terjadi didalam sana. Mia juga tak seperti dulu, saat ini ia tak judes lagi pada Meera. Mungkin karena Meera bisa memecatnya kapan saja ia mau dengan segala jabatan yang ia punya.
"Dia selalu memberikan apa saja yang aku mau, tapi kenapa sulit sekali hanya untuk jujur dan bercerita saat ini?" risau Meera yang masih terus memikirkan suaminya.
Hingga siang tiba, Meera dijemput kembali oleh Dafa dengan mobilnya setelah itu langsung diantarkan ke rumah besar mereka.
“Mas Dafa, apa hari ini begitu sibuk?” tanya Meera, apalagi ketika dady sama sekali menghubunginya.
“Ya, saya juga belum bertemu dengan beliau karena saya di cabang sejak tadi, Nyonya. Kenapa tak hubungi saja supaya lebih jelas?” tanya Dafa, padahal ia tahu jika Meera masih ngambek saat itu dengan suaminya.
“Ya, nanti.” Meera dengan datar meninggalkannya kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengurusi Sean dengan segala keperluannya.
“Sean main dulu ya, sama Kak Vira? Momy mau istirahat sebentar aja.”
Untungnya Sean mengerti, ditambah wajah pucat momy saat itu hingga ia menganggukkan kepala bahkan mengusap wajah Meera sebentar untuk mengecek suhunya. Meera cukup terharu dengan perhatian sang putra saat itu. Tak tega meninggalkan, tapi ia benar-benar lelah saat ini.
Hingga akhirnya Meera naik ke kamar dan merebahkan diri di ranjang besarnya saat itu.
Namun, entah perasaan apa yang terus saja menghantui Meera sekarang. Ia gelisah hanya sekedar belum mendengar suara suaminya seharian ini. Berbolak balik di ranjangnya hingga bosan, hingga pada akhirnya ia meraih hp dan memanggil dady meski ragu.
Cukup lama Meera menunggu, hingga akhirnya panggillan itu diangkat dan ia sedikit lega melihatnya.
“Hallo?” jawab seorang wanita dari sana dengan nomor suaminya.
“Suara ini bukan Shila_” kagetnya, karena memang belum pernah mendengar suara itu selama mereka bersama.
Sontak saja tubuh Meera langsung gemetar dibuatnya. Ia hanya bisa diam mematung saat ini dan seperti kebingungan harus berbuat apa. Ia tak memiliki pengalaman sama sekali dalam hal ini karena dady Louis benar-benar adalah yang pertama baginya.
__ADS_1